AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Ambar : Sita Itu Barang Berharga Aku !


__ADS_3

Keduanya begitu menikmati kebersamaan mereka. Sampai-sampai waktu berjalan begitu cepat jika kita melewatinya dengan bahagia. Azan ashar sudah kembali terdengar. Ambar dan Sita memutuskan kembali lagi ke mesjid menjalankan kewajiban masing-masing. Setelah itu Ambar berencana memaksa Sita untuk pulang, bukan bosan tapi dia mulai khawatir si pemilik sepeda sudah lapor polisi.


"Pulang yaa?" bujuk Ambar pelan, takut gadis yang dari tadi tidak berhenti tersenyum itu mewek bilang 'nggak mau'.


"Nggak maaauuuu" benar saja Sita masih saja mengatakan hal yang sama.


"Buk Eli loh" kata Ambar menahan ketawanya, membayangkan perempuan bertubuh gempal itu kesana kemari mencari harta benda pusakanya yang berharga dicuri Ambar.


"Ntar aku yang minta maaf sama buk Eli nya"


"Enggak lah! Kan aku yang nyuri, udah ayok lagian aku lapar lagi nii"


Sita langsung mengelus perut Ambar "YaTuhaaan... Gimana ini kalo nikah, mesti masak banyak setiap harinya aku" Melihat ekspresi kaget Sita.


Ambar memukul kepala gadis itu "Kaya kamu aja istri aku nanti"


"Emang kamu gak mau punya istri nya, aku?" tanya Sita sambil cemberut.


"Hahaha mikir nanti deh, sekarang yang jelas gak mau lah! Kerjaan kamu mewek terus, ntar aku kepengen kamu gak mau. Dipaksa malah nangis, nangis nya kenceng lagi, tetangga pasti mikir aku KDRT"


"Aku mau terus kok kalo kamu minta, aku bakal nurut kok, Janji!! Aku bakal jadi istri yang baik, siap siaga selalu buat kamu, Beneran" ujar Sita meyakinkan.


"Ngaur! Udah ayo pulang yaaa?"


"Ambar.... Yaaa?" Sita menuruti langkahnya sambil terus meminta jawabannya.


"Enggak!" jawab Ambar cepat, padahal didalam hatinya jangan ditanya. Udah kaya konser rock and roll jingkrak-jingkrak tidak jelas saking bahagianya.


Selama perjalanan pulang, Ambar sengaja memperlambat kayuhan sepedanya. Sesuai dengan perintah si tuan putri yang anteng duduk dibelakang. Bahkan saat mereka sudah kembali masuk kedalam indahnya desa Peringi hilir, Sita masih juga belum mau diantar pulang.


"Kan aku bilang sebelum magrib, ini masih jam lima, ada satu jam lewat lagi mbar"


"Kemana lagi ya? ke balai yuk kumpul sama teman-teman"


"Enggak" Sita menjawab dengan mantap.


Dari dulu sampai sekarang sifatnya tidak berubah jika bersama teman-temannya. Masih pendiam dan tidak suka keramaian. Tapi jika berduan dengan Ambar?


Hah mungkin begitulah permainan cinta, bisa membuat seseorang menjadi gila dengan sendirinya. Ambar kemudian mengajak Sita untuk duduk ditepian sungai tempat favorite mereka. telfon sita yang ada disaku celana Ambar kembali berbunyi, ambar menyerahkannya dengan Sita.


"Angkat deh, kasian dari tadi pagi ampe sore ini dia nelfon terus" Sita mengambil handphonenya dan langsung mematikan panggilan tersebut.


"Aku sih gak tanggung jawab ya kalo hubungan kalian berantakan".


"Hubungan apaan coba!!" Sita menyulut saking kesalnya.


"Jangan keras-keras, kamu lagi dipinggiran sungai, kesambet penunggunya aku kabur"


"Jahat kamu!!" ucap Sita sambil cemberut.


Mereka asyik berdua sampai waktu yang diminta. Gadis itu tidak berhenti tertawa dengan setiap ocehan ngasal Ambar. Sita terus menatap wajah cowok tampan yang ada disampingnya.


"Saking bahagianya bersama kamu, aku sampai lupa status kita hanya sebatas teman sampai detik ini" gumam Sita pelan didalam hatinya.


Setelah jam 6 Ambar akhirnya bisa bebas, Sita mau diajak pulang.


"Sini aku yang bawa sepedanya" pinta Sita saat akan mendekati warung buk Eli.


"Enggak usah aku aja"


"Aku gak mau kamu dipukul pak Bahrun, udah sini!"


"Hahaha aku gak mau juga kamu dimarahi buk Ita"


"Tapi buk Ita kalo marah gak pake rotan! Gak sama kaya pak Bahrun, udah sini" Sita terus memaksa Ambar menyerahkan sepeda buk Eli.


"Iyaa tuh orangtua, lama-lama rambutnya udah kaya Albert Einsent aku liat"


Sita tidak mendengarkan ocehan cowok tersebut dan langsung mengambil kesempatan merebut sepeda ditangan Ambar dan kabur meninggalkannya. Didepan warung buk Eli sudah rami bapak-bapak yang lagi nongkrong membicarakan tentang kehilangannya buk Eli. Sita memasang jurus andalannya, wajahmya berubah memelas saat mengembalikan sepeda tersebut kepada pemiliknya. Untung buk Eli hatinya juga lebar sama kaya bandannya. Melihat raut wajah Sita yang cantik dia tidak jadi marah, tapi justru buk Ita yang nyinyir sesampainya dirumah. Karena Alif sudah dari tadi siang menunggu kepulangan Sita, dan itu tandanya buk Ita tau Sita bolos sekolah hari ini.


 



 



Selesai sholat magrib, pintu rumah pak Bahrun diketuk dari luar. Buk Khadijah yang membukakan pintu, wanita itu tersenyum menyambut kedatangan tamu yang sudah pasti ingin menemui anaknya.



"Tunggu ya, Ambar ni ada teman nya" teriak buk Khadijah dan kembali masuk kedalam. Ambar keluar menemui orang yang baru disebutkan ibunya tadi


.Dia langsung menarik nafas panjang melihat orang yang sedang berdiri didepannya.



"Kenapa?" tanya Ambar dengan pelan.



"Lo tadi yang ngajakin sita bolos?" Mendengar pertanyaan Alif yang begitu kuat. Ambar langsung menutup pintu rumahnya dan membawa pria tersebut menjauh. Takut\-takut pak Bahrun dengar, bisa dirotan lagi dia.



"Gua udah yakin, gua juga udah lapor ke buk Ita kalo lo yang ngajakin anak dia bolos".

__ADS_1



"Heeeh semenjak kapan kamu ngomong Lu\-Gua Lu\-Gua?" tanya Ambar kaget "Trus kamu itu tahu darimana aku yang ngajakin dia bolos, coba tanya Sita sana!"



"Halah jangan boong lu, tadi Thalib ngasi tahu kalo lu juga bolos sekolah hari ini!"



"Apaan Sih orang gila! Ya kalo aku bolos kan belum pergi dengan pacar kamu!"



"Karna elu terus berusaha ngedekatin dia selama ini!!"



Ambar menarik nafas panjang mendengar perkataan Alif, mau tinju tapi males. Ntar pak Bahrun datang, warga juga datang, heboh sudah! Yang jelas si Ambar yang dirugikan, selain malu, pak Bahrun juga ngamuk dengannya.



"Udah ah, aku laper nih! Tanya aja ama si Sita nya bener gak aku ajakin dia bolos"



"Gua cuma mau ingetin lu ya Sita itu pacarnya gua, jadi jauh\-jauh lu dari dia"



"Oh Sita pacar kamu? Yaudah ambil sana!"



"Ambil?!! Lo pikir cewek gua barang apa?!"



"Emang dia barang" jawab Ambar dengan santainya.



"Kurang ajar banget lu! jangan berani\-beraninya ngomongin yang buruk tentang pacar gue" Alif yang memang sudah emosi semakin emosi lagi melihat respon Ambar, dia bahkan menarik baju Ambar.



"Sita emang barang! Barang berharga aku!"



"Jangan sok ngomong\_\_\_"




"Heeeh kenape nih si tiang listrik?" bentak Arul dan melepaskan tangan Alif di krah baju Ambar.



"Lo sama temen lo sama aja, dasar bocah kampung!" ujar Alif kemudian pergi.



"Wuiidiih mulutnya, dasar bocah kampung? Kagak sadar tu orang tinggal dimane selama ini anjing!" Ismet jadi emosian dengan perkataan Alif barusan.



"Hahaha si tiang listrik sudah berevolusi jadi anak betawi guys" ledek Ambar.



"Kenapa tu babi hutan ngomong pake lu gua\-lu gua sekarang ya!" kata Arul kebingungan.



"Udah cah mpung \(bocah kampung\) mending kita senang\-senang di balai, Khaidir mau traktir" ajak Ismet dan merangkul teman\-temannya pergi ketempat mereka biasa berkumpul.



Ditengah perjalanan Ambar melihat Sita sedang berbelanja diwarung buk Eli. Ambar langsung memutar otak untuk mengajaknya bicara. Tapi dua teman\-temannya ini....?



"Eh tunggu bentar, aku lupa ngasi tahu pak Bahrun. Kalian duluan aja ntar aku susul"



"Ngasi tahu apa?" tanya Arul.



"Ngasi tahu kalo aku ini anaknya"



"Halah, anjrit udah cepetan. Ntar kamu gak dikasi ijin keluar lagi sama dia"

__ADS_1



"Duluan aja, percayah ama gueh brooh! Gueh pasti balik demih kalian semuah broooh" kata Ambar memastikan.



"Hahaha nah kan nular virus si tiang listrik nih! Awas kamu gak datang ya!" ancam Ismet dan kembali melanjutkan perjalan mereka menuju kebalai desa.



Ambar juga balik lagi, menunggu Sita yang masih berada diwarung buk Eli.



"Astgafirullah" kaget Sita saat pulang kerumahnya "Ngapain kamu duduk disitu?"



"Eek !" jawab Ambar cepat.



"Apaan sih, jorok! Kamu mau kebalai ya?!"



"Enggak! Aku mau ketemu kamu"



Sita langsung tersipu malu mendengar perkataan Ambar "Jangan senyum\-senyum, ntar pocong jadi naksir!"



"Apaan sih Ambaaar!!" ujar Sita sok ketakutan dan merangkul lengannya.



"Eh tadi pacar kamu marah\-marah sama aku, dia bilang 'gueh ngaduin eluh samah buk Ita' makanya aku mau tanya"



"Hahaha Alif gak pernah deh kayanya ngomong gitu"



"Idih sampe tahu kalo pacarnya gak begitu. Ngomong\-ngomong kamu di marah ya sama buk Ita?"



"Aku gak pacar Alif" rengek Sita sambil memukul lengan Ambar.



"Kamu dimarah gak sama buk Ita?" Ambar kembali mengulangi pertanyaannya.



"Dimarah sih, cuma gak lama"



"Ouh syukur deh, yaudah aku pergi dulu ya" Meski sudah pamit, Sita tidak melepaskan genggamannya dilengan Ambar, ditambah lagi cowok itu menakutinya tadi, jadi ada alasan minta dianterin pulang "Udaah, diliat buk Ita dipikir aku ngapa\-ngapain kamu lagi"



"Anterin!"



"Yaelah manja banget, jarak rumah kamu 20 meter doang! Aku tendang aja nyampe kamu"



Sita tetap diam dan terus merangkul tangan Ambar. dengan terpaksa Ambar menuruti keinginannya.



"Kamu juga pulang, jangan keluyuran. Ntar dimarah pak Bahrun" nasihat Sita saat sudah sampai didepan rumahnya.



"Pak Bahrun yang nyuruh kok"



"Boong! Semenjak kapan pak Bahrun ngasi ijin kamu keluyuran"



"Dia mah baik sekarang, soalnya ini malam jumat"



Sita langsung tertawa mendengar ucapan Ambar, dengan cepat Ambar mengambil kesempatan kabur sebelum buk Ita keluar karena mendengar tawa anaknya yang begitu kuat.


__ADS_1


![](contribute/fiction/64817/markdown/13ae2843/1570592762948.jpg)


__ADS_2