AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Jual Diri


__ADS_3

 


AmbarSita


*****


 


Ambar dan ketiga teman-temannya berjalan sambil melompat-lompat sampai kesekolah mereka. Saat Ambar akan masuk kekelas, dilihatnya Alif masih duduk dibangku tempat Sita. Tapi Sita nya gak ada, Ambar langsung mengedarkan pandangannya kesemua sudut kelas.


"Heeeh mana tuh bank berjalan" gumam Ambar kesal. dia jadi malas untuk masuk kedalam kelas. Saat akan balik badan mulut Ambar langsung berteriak kaget "Huaaaaaaa!!!!" teriaknya keras.


Semua orang yang ada di dalam kelas maupun luar kelas melirik kearah Ambar yang sedang memegang dada.


"Dasar jailangkung kamu, datang-datang ngagetin!!" bentak Ambar pada orang yang dicarinya ternyata sedari tadi berdiri dibelakangnya juga.


Sita ikutan cemas memandangi Ambar, sebenarnya dia juga malu. Karena suara berisik Ambar semua orang jadi memandangi mereka.


"Maaf" kata Sita pelan, saking pelannya sampai-sampai Ambar mendekatkan telinganya kemulut Sita.


"Haaa Ujang?!" teriak Ambar lagi berusaha menebak apa yang dikatakan Sita barusan.


Mendengar namanya disebut, Ujang langsung keluar mendekati mereka. Khaidir juga ikut-ikutan.


"Kenapa?" tanya Ujang dengan polosnya.


"Kamu ya yang nyuruh dia ngagetin aku pagi-pagi!!" kata Ambar sambil memukul-mukul kepala Ujang .


"Enggak, ngapain aku suruh Sita ngagetin kamu" Ujang membela diri karena merasa memang tidak bersalah saat ini.


"Boong kamu!! Kurang ajar!!" umpat Ambar lagi dan masuk kedalam kelas.


Sita juga ikutan masuk, dilihatnya Ambar tidak duduk dibangkunya. Ambar memilih duduk disamping Fion, Sita sampai termenung lama di depan mejanya.


"Kenapa Sita?" tanya Alif heran.


Sita hanya diam kemudian duduk dibangkunya yang ada disamping Alif. Saat jam pelajaran Sita tidak berkonsentrasi sama sekali dengan materi yang dijelaskan oleh buk Ita. Padahal Matematika adalah pelajaran kesukaannya, tapi hari ini sepertinya tidak, semangatnya sudah hilang.


Sesekali dia melirik kearah bangku belakang yang ada disamping bangkunya. Memperhatikan Ambar, anak nakal itu merebahkan tubuhnya keatas meja, memejamkan mata dan sepertinya dia sudah berada dialam mimpi.

__ADS_1


Tujuan Ambar datang kesekolah \= tidur!


Soalnya mau tidur dirumah bisa-bisa dirotan pak Bahrun. Jam istirahat Ambar yang justru kabur duluan dari teman-temannya yang lain, bahkan sebelum buk Ita meninggalkan kelas.


Sita berpikir 'Aah nanti Ambar pasti kembali lagi, minta uang'. Gadis kecil itu terus menunggu-nunggu sambil mengerjakan latihan-latihan yang ada didalam buku Lks.


Alif semenjak satu kelas dengan Sita tidak pernah keluar saat jam istirahat. Dia terus duduk dibangkunya, melakukan hal yang sama dengan Sita. Rasanya Alif mengcopy paste apapun yang dilakukan Sita.


Terdengar diluar kelas suara Ambar yang tertawa cekikikan dengan teman-temannya kemudian anak itu masuk kedalam kelas sambil membawa satu bungkusan snack.


"Ambar kemarin kamu kemana?" tanya Thalib yang baru selesai memakan bekalnya.


"Kamu makan apa itu Thalib?" tanya Ambar dengan suara yang begitu lembut.


"Udah abiiis, aku bawa mie goreng, tapi telor dadarnya masih ada nih, kamu mau?"


"Mau lah!!" jawab Ambar cepat dan menyergap telur yang baru disodorkan Thalib kearahnya.


"Kemarin aku kerumah kak Dian lagi, belajar main komputer"


"Oh komputer, aku juga ada tuh dirumah" sahut Alif. Padahal semua orang dikelas sedang membencinya saat ini. Bocah tinggi itu hanya ingin menyombongkan diri.


"Aku udah gak butuh uang Sita, soalnya aku udah ada bank berjalan yang baru"


"Siapa lagi korban baru kamu mbar?" tanya semua teman-temannya.


"Pak Toni. Dia suka nyiumin aku, katanya pipi aku gemesin, imut gitu. Jadi tiap pak Toni mau nyium harus bayar dulu 1000" jelas Ambar dengan begitu bangganya.


"Ambar!!" teriak khaidir sambil menutup mulutnya sendiri.


Semua langsung menoleh kearah Khaidir, sampai-sampai Sita yang tengah asyik dengan bukunya ikutan melihat.


"Kamu gak suci lagi dong mbar, kamu hina Ambar!!"


"Hina apaan!! Kurang ajar kamu!" bentak Ambar kesal. Apalagi semua teman-temannya tertawa dengan ucapan Khadir barusan.


"Iya habis kenapa kamu mau menjual diri kamu demi beng-beng yang tidak seberapa itu!" Khaidir semakin mendramatis ucapannya.


Ambar terdiam sambil memiringkan kepala, dia tengah berpikir dengan apa yang dikatakan temannya itu.

__ADS_1


"Iya ya?" tanya Ambar pelan.


"Iya Ambar, kenapa kamu ini. Demi bisa membeli beng-beng kamu rela pipi kamu dicium-cium sama om-om gitu!"


Ambar bergidik ngeri, padahal bukan hanya pak Toni. Tapi semua warga desa rata-rata gemas dengan ketampanan anak pak Bahrun yang satu itu.


"Aduh, besok aku gak mau jual diri lagi deh, trus mau minta ama siapa dong. Kan pak Bahrun miskin! Mana sanggup naikin jajan aku" keluh Ambar meratapi nasibnya.


Seisi kelas kompak terdiam, mereka melirik kearah Sita. Pandangan mereka seolah-olah menyiratkan 'tolong selamatkan teman kami Sita'!


Si anak yang dikasihani justru mengeluarkan permen tangkai dari saku celananya.


"Imaaay! Nih ada permen baru, JAGOOOOAN NEON!! Kalo makan ini kamu bisa berubah, dari Garamon menjadi Jagoan" ujar Ambar begitu tulus dengan temannya yang memiliki rambut keriting nan lebat itu.


"Ih berapaan mbar, aku juga mau?" tanya Khaidir.


"Ah kamu jangan, mana ada jagoan giginya di behel. Ntar musuh nya Ultramen bukan ngajakin bertarung tapi malah ngeledekin gigi kamu!"


"Aku juga mau dong mbar" Iput ikut-ikutan memelas.


"Mau? satunya 1000" jawab Ambar, jiwa dagang bocah itu juga langsung aktif kembali.


"Mahalnya! Permen segitu juga. Mending beli permen kaki deh"


"Ini kalo dimakan lidah kamu jadi biru, trus jadi jagoan juga!"


"Emang kamu beli dimana sih? Aku gak percaya permen kecil gitu seribu"


"Ditempat ibu Eli ini cuma seratus!!! Tapi kalo aku jual jadi 1000. Upah jalan sama bawanya kan berat!" kata Ambar kesal.


Semua teman-temannya langsung duduk dibangku mereka masing-masing. Dari pada meladeni Ambar lebih baik semua menghanyutkan diri kesungai.


"Sitaaaa" panggil Ambar dengan gadis yang terus memperhatikan Ambar dari bangkunya.


Sita dipanggil bukannya mengangkat kepala, tapi dia malah menundukkan kepala. Takut, grogi juga, ketahuan lagi kah dirinya diam-diam memandangi Ambar?


"Kamu mau beli permen aku?" tanya Ambar dengan raut wajah polosnya.


Sita langsung merebahkan badannya keatas meja. Hatinya jadi sama kesalnya dengan teman-temannya saat ini.

__ADS_1



__ADS_2