![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Selesai mengisi perut Ambar dan Ismet memutuskan pulang kerumah masing-masing untuk mengganti seragam kemudian berjanji untuk berkumpul lagi dibalai dengan teman mereka yang lainnya.
Saat Ambar hampir mendekati jalan menuju kerumahnya. Cowok itu langsung kaget melihat Sita duduk menjongkok sambil menyandarkan punggung di dinding pagar pembatas halaman rumahnya. Gadis itu terlihat begitu lesu, kepalanya tertunduk menatap tanah.
"Kamu ngapain disini?" tanya Ambar sambil berjalan mendekatinya.
Sita langsung mengangkat kepala mendengar suara Ambar. Wajah dan bibir gadis itu terlihat begitu pucat. Dia menangis sambil memegangi kaki Ambar yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Kamu kemana aja? Aku nungguin kamu pulang dari tadi" rengek Sita sambil menopang tubuhnya dikaki kekasihnya itu.
Ambar terperangah dengan jawaban Sita. Dia langsung membawa Sita untuk masuk kedalam rumah. Sita pun terus merengek memeluk Ambarnya yang begitu lama pulang dari sekolah hari ini.
"Buk Ita kemana?" Tanya Ambar saat akan membuka pintu kamar.
Sita hanya diam, dia masih menangis jadi tidak bisa menjawab pertanyaannya. Ambar kemudian pergi kedapur untuk mengambilkannya minum. Setelah memberi Sita minum, Ambar membelai rambutnya berusaha menenangkan gadis itu.
Suhu badan Sita begitu panas saat ini, sepertinya dia sedang terkena demam tinggi. Ambar sebenarnya tidak suka mendengar suara tangis Sita tapi untuk marah seperti biasanya dia benar-benar tidak tega. Sudah hampir 10 menit lamanya Sita menangis, Ambar jadi lelah juga menunggu.
"Kalo masih nangis aku pergi!" Ancam Ambar dengan pelan.
Sita langsung diam seketika sambil menggenggam tangan Ambar erat, takut cowok itu benar-benar melakukan ancamannya.
__ADS_1
"Buk Ita kemana? Kan kamu lagi sakit kenapa malah ditinggal?" tanya Ambar setelah suara tangis Sita hilang.
"Aku yang nyuruh ibuk buat pergi ke seberang. Tadi aku gak apa-apa, tapi karna kelamaan nunggu kamu di pinggir jalan kepala aku jadi pusing" jawabnya dengan sedikit merengek.
"Lagian kamu kenapa harus nunggu aku. Kan tadi pagi udah dibilang jangan tunggu! luka di kaki kamu gak baik kena udara diluar!"
Sita hanya diam mendengar perkataan Ambar yang terdengar begitu tegas. Kebiasaannya untuk menunggu Ambar tidak akan pernah hilang meski dia dalam keadaan sakit sekalipun.
"Udah makan siang?" Tanya Ambar lagi. Sita hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Lah terus kamu mau nambah penyakit? Kalo belum makan, obat yang dari rumah sakit kemarin gimana cara minumnya?!" bentak Ambar dengan keras.
Sita sampai memejamkan mata mendengar kemarahan Ambar yang sepertinya benar-benar sudah tidak terkendali olehnya. Melihat Sita ketakutan Ambar langsung terdiam. Dia jadi merasa bersalah kembali, karna disaat pacarnya sakit dan butuh perhatian tapi dirinya malah membentak-bentak gadis itu.
Dengan sabar Ambar menyuapi nasi kemulut Sita meski gadis itu begitu lama mengunyah makanannya. Sita juga sebenarnya tidak bernafsu untuk makan karna demam yang baru menghinggapi tubuhnya siang ini. Tapi kalau tidak menerima suapan Ambar bisa-bisa cowok itu marah lagi. Selesai makan dan memberikan Sita obat, Ambar menyuruh kekasihnya itu untuk tidur.
"Jangan pergiiiiii" rengek Sita yang menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku ganti baju dulu ya, ntar kesini lagi" kata Ambar meyakinkan Sita untuk membiarkannya pulang sebentar.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
__ADS_1
Setelah ganti baju dan mengisi perutnya lagi dengan masakan buk Khadijah, Ambar kembali kerumah buk Ita. Dia memilih untuk duduk diruang tamu saja saat ini karna di pikiran Ambar Sita sudah tidur didalam kamarnya.
Tapi tidak, gadis itu justru keluar dari kamarnya karna Ambar tidak kunjung datang menemuinya. Ambar sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah Sita. Dia tersenyum kecut melihat Sita ikut duduk disampingnya dan beberapa detik kemudian gadis itu sudah merebahkan kepalanya di paha Ambar. Kemudian tertidur pulas begitu saja diatas bantal hidupnya tersebut.
Ambar tidak berhenti-henti membelai rambut Sita yang semenjak sakit terpaksa digerai begitu saja. Rambut lurusnya begitu bebas bermain diantara sela-sela jari tangan Ambar. Jam 4 sore buk Ita baru pulang dari rumah adiknya, dia terkejut melihat anak gadisnya tidur dengan nyenyak dipangkuan Ambar.
"Tidur ya?" bisik buk Ita pelan dan berjalan mendekati anaknya.
Ambar hanya menganggukkan kepalanya agar suaranya tidak mengganggu tidur Sita.
"Maaf ya mbar ngerepotin, tadi sebelum pergi ibuk pastiin kondisi Sita, katanya dia gak apa-apa. Trus kenapa jadi manja lagi nih sama Ambar" ujar buk Ita dengan suara yang begitu pelan dan tersenyum cengengesan melihat tingkah anaknya.
"Iya gak apa-apa kok buk, suhu badan Sita panas buk" kata Ambar memberitahu buk Ita.
"Haaa? Masa? Tadi masih normal" kaget buk Ita dan meletakkan telapak tangannya dikening Sita.
"Oh iya, kenapa ya? Apa karna efek jatuh kemarin, tubuhnya masih syok"
'Bukan buk, anak ibuk merepotkan dirinya sendiri berdiri dipinggir jalan menunggu kekasih hatinya pulang!'
Sebenarnya itu yang ingin diucapkan Ambar, tapi dia takut buk Ita akan marah jadi Ambar memilih untuk menggelengkan kepalanya saja.
__ADS_1