![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Dan esoknya benar saja, sebelum jam istirahat Ambar membalikkan badan melihat kearah Sita yang duduk sendirian dibelakang.
"Bagi duit dong" kata Ambar pelan. Sita hanya diam dan terus mengerjakan tugas PPKN yang diberikan buk Mun barusan. Ambar menarik pensil 2B sita dan membuangnya kelantai.
Ismet tersenyum melihat kekesalan Ambar karena dicuekin oleh anak baru tersebut. Sita mengambil pensilnya yang sudah dibuang kelantai. Saat akan duduk Ambar malah membuang lagi buku cetak dan buku tulisnya. Semua anak-anak dikelas menatap Sita yang terperangah melihat kelakuan kasar Ambar.
"Satu.... dua....." belum sampai hitungan ketiga Ismet, Sita kembali mengeak seperti bayi.
"Nah kan udah jelas dia bayi gede masih aja diganggu" bisik Ismet dengan Ambar.
"Hayooo kamu mbar, dua hari Sita disekolah ini selama dua hari itu juga kamu bikin dia nangis terus" ujar Abdul sambil mendekati Ambar.
"Cengeng banget nih anak!! adik aku aja gak begini-begini amat kalo aku gangguin"
"Ya maklumlah, Sita kan anak manja" kata Ana yang sudah tahu karakter Sita dari ibunya.
Ambar mengambil buku yang sudah dibuangnya dan meletakkan kembali keatas meja Sita, tapi gadis itu tetap menangis. Dengan kesal Ambar menutup mulut Sita lagi dengan tangan. Kali ini semua murid dikelas kompak mengatakan "Ciiiieeeeee" kearah mereka.
"Pantesan Sita dibuat nangis terus karena ambar mau pegang mulut Sita ya" ledek Khaidir.
"Diam kamu tonggos, aku pagarin juga tuh gigi kamu ntar" bentak Ambar kesal.
Kali ini usahanya untuk meredam tangis Sita kedalam mode silence tidak membuahkan hasil karena ibuk Doraemon mereka kembali masuk kekelas. Dilihatnya Ambar sudah duduk disamping Sita sambil menutup mulut gadis itu.
"Heeee.... ngapain kamu tutup-tutup mulut Sita?" kaget buk Mun dan mendekati kedua muridnya.
"Anuuu, dia lagi flu buk" jawab Ambar memberi alasan.
"Ambar! kamu gak boleh megang lawan jenis kamu seenaknya. Kan ibuk udah pernah ngasi tahu, lepas tangannya, kalo flu biar Sita sendiri yang menutup mulutnya" nasihat buk Mun dan mengelus kepala Sita.
Buk mun menatap wajah Sita, air mata gadis itu masih tersisa sedikit dipelipis bawah.
"Sita nangis, ini kamu jahili ya? makanya kamu juga duduk disamping dia?!"
"Enggak buk, dia lagi flu trus ingusnya keluar dari mata"
Seisi kelas langsung tertawa dengan jawaban Ambar. Buk Mun tidak puas dan langsung meminta Ambar untuk datang kekantor menemuinya.
Didalam kantor Ambar ditatar habis-habisan oleh ibuk Doraemon dan guru-guru lainnya. Bahkan buk Mun mengancam akan melaporkan kenakalan Ambar dengan pak Bahrun lagi. Rasa benci ambar pada Sita tiba-tiba berubah menjadi 100% bahkan mengalahkan rasa bencinya terhadap Thalib dan Khaidir.
Selesai diceramahi, Ambar akhirnya di izinkan keluar dari ruang guru. Saat kembali kekelas seperti biasa orang-orang yang tetap mengisi kelas dijam istirahat adalah Thalib and The Geng termasuk Sita yang terus asyik dengan buku bacaannya. Ambar duduk dikursi. Ingin menyusul teman-temannya yang ada diwarung percuma, toh Ambar tidak bisa ikut belanja karena uang jajan yang diberi buk Khadijah sudah dia habiskan tadi pagi.
Sita menyodorkan uang 1000 kebahu anak nakal itu. Ambar yang tengah dongkol terkejut melihat uang lembaran yang berwarna biru tua memukul-mukul pelan bahunya. Tanpa menoleh kearah orang yang sudah mengayunkannya Ambar langsung menarik uang tersebut dengan begitu kasar. Dia kemudian berlalu keluar menyusul teman-temannya tanpa mengucapkan kata terima kasih sama sekali dengan orang yang sudah memberinya uang.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Keesokan paginya, Ambar kembali ditunggu Ismet untuk berangkat kesekolah bersama. Ismet melihat temannya pagi-pagi sudah mengunyah permen karet, dia juga membagikannya satu untuk Ismet.
"Kamu pagi-pagi udah belanja, nanti pas istirahat malakin anak orang"
"Soalnya aku gak tahan kalau lewat diwarung buk Eli, makanannya suka manggil-manggil 'beli aku beli aku' gitu"
__ADS_1
Ismet tertawa mendengar jawaban Ambar, mereka kemudian berjalan menyusuri sawah untuk berangkat kesekolah. Ambar menoleh kebelakang saat mendengar ada langkah kaki juga yang sedang berjalan sama dengan mereka saat ini. Kedua anak laki-laki itu kompak berhenti dan membuka jalan untuk Sita duluan. Setelah Sita lewat Ambar langsung tersenyum sinis.
"Kenapa?" tanya Ismet heran.
"Ntar aku palakin dia gak ya?"
"Jangan lah, dia cengeng, bisa abis kamu sama buk Mun"
"Tapi kemarin aku dikasi uang lagi"
"Mungkin takut makanya ngasi kamu uang, lagian aku gak suka liat wajah dia kalo nangis"
"Iya, wajahnya nyebelin!"
"Bukan! Cantiknya jadi ilang kalo dia mangap"
Ambar terdiam mendengar perkataan Ismet sambil menggarukkan kepala "Kalo manisnya udah abis, karetnya jangan kamu buang" kata Ambar memperingati temannya.
"Kenapa?"
"Aku mau balas kebaikan Sita yang kemarin"
Ismet sudah mengerti dengan apa yang dimaksud temannnya. Sesampai dikelas Ambar meletakkan kembali permen karet yang sudah dikunyahnya kedalam bungkusannya. Dia menunggu giliran Ismet mengeluarkan yang dimulutnya juga, setelah itu Ambar menoleh ke belakang.
"Kamu di panggil buk Mun" kata Ambar berbohong, Sita hanya diam dan menundukkan kepala tidak mau menatap wajah Ambar "Hee kamu dipanggil itu" katanya lagi.
Sita tetap diam, kalau Ambar memarahinya maka dia pasti akan menangis. Bocah nakal itu akhirnya mengganti rencananya yang akan meletakkan permen karet kebangku Sita jika dia mau pergi menemui buk Mun. Ambar berjalan kebelakang, kemudian dengan sengaja menjatuhkan diri kebangku Sita sambil menempelkan permen karet yang ditangannya kerambut gadis itu.
Sita langsung memegang kepalanya, tangannya merasakan ada yang menempel diatas rambutnya yang panjang. Sita menyisir dengan tangan memastikan benda apa yang menempel tersebut. Dilihatnya ke arah Ambar dan Ismet yang sedang menahan ketawa, dia langsung tahu ini perbuatan si anak nakal.
Sita menarik permen karet yang begitu banyak melekat dirambutnya. Kemudian satu...dua...tigaa.... Sita menangis dibangku belakang. Kali ini tidak merengek seperti biasanya karena dia malu nanti teman-temannya yang lain tahu rambutnya tertempel permen karet.
"Kok dia gak nangis?" bisik Ismet heran karena tidak mendengar rengekan Sita.
Ambar melirik kebelakang, dilihatnya Sita menghapus air mata dan berusaha membersihkan rambutnya. Sadar jika Ambar sedang menatapnya, Sita langsung menangis ketakutan, sampe-sampe si isi kelas yang tengah asyik dengan obrolan mereka masing-masing kaget mendengar suara tangis Sita yang begitu keras seperti bunyi sirine ketika perang dunia ke II.
"Kenapa lagi dia mbar?" tanya Abdul yang memang berprofesi sebagai ketua kelas.
Ambar menggelengkan kepala, Ismet juga ikut-ikutan menggelengkan kepala.
"Sita kenapa? udah jangan nangis ya anak cantik gak boleh nangis" bujuk Thalib sambil mendekati Sita.
"Cieeeeee" ledekan itu kembali terdengar di dalam kelas.
"Hahaha sana kamu banci, sok-sok deketin dia" teriak Ujang menarik tangan Thalib.
Thalib melepaskan tangan temannya dan tetap mendekati Sita, dilihatnya permen karet yang tertempel sangat banyak dirambut gadis tersebut.
"Kamu nempelin permen karet ya dirambut Sita?"
"Kamu nuduh aku!!!" bentakan Ambar yang langsung menciutkan nyali Thalib.
__ADS_1
Semua murid langsung melihat kerambut Sita, benar saja karena Sita membersihkannya dengan tangan yang ada malah makin memperbanyak rambutnya yang terkena permen karet.
"Banyak lagi, gimana mau bersihinnya itu" kata Imay ketakutan karena membayangkan jika rambut keritingnya yang terkena permen karet.
Buk Mun masuk kekelas untuk memulai pelajaran, dilihatnya Sita sudah menangis lagi "Kenapa Sita nangis?"
"Rambutnya kena permen karet buk" jawab Khaidir dengan cepat.
"Kok bisa? Ada yang sengaja nempelin?" buk Mun berjalan mendekati Sita, dilihatnya memang rambut gadis itu sudah berantakan dan hampir semuanya terkena getah.
"Siapa yang usil ngasi permen ke rambut temannya ini?!" tanya buk Mun dengan tegas.
"Ambar mungkin buk" sahut Ana yang sudah yakin siapa pelakunya.
"Enak banget kamu ngomong! bukan Ambar buk"
"Soalnya kamu yang sering buat dia nangis"
"Iya Ambar?"
"Bukaan!!"
"Siapa Sita pelakunya?" buk Mun akhirnya menanyakan langsung pelakunya dengan si korban.
Sita hanya menggelengkan kepala sambil terisak-isak "Trus kenapa Sita nangis?"
"Si___sita___ta___takut diliatin Ambar buuuuuk" tangis gadis itu pecah seketika setelah berhasil mengungkapkan kenapa alasan dia sampai menangis.
Se isi kelas terdiam dengan jawabannya dan beberapa saat kemudian semua kompak tertawa.
"Kenapa kamu liatin dia?!" bentak buk Mun dengan Ambar.
"Karena dia nangis makanya Ambar liatin kebelakang" jawab Ambar pelan.
Semua anak dikelas masih saja mentertawainya, rasanya Ambar semakin dongkol dengan anak baru itu.
"Wajah Ambar nyeremin buk, makanya Sita takut" sahut Abdul "Hahahah" tawa Abdul begitu kuat dan dalam seketika dia menutup mulut dengan rapat karena takut Ambar tengah metatapnya dengan tatapan sinis.
Buk Mun pergi untuk mencari karet diluar dan mengikat rambut Sita.
"Nanti aja dirumah dibersihkannya sama minyak ya" bujuk buk Mun sambil membelai kepala Sita agar dia kembali tenang. Buk Mun memukul punggung Ambar dan Ismet dengan buku LKS.
"Kalian berdua pindah kebelakang, biar Sita yang duduk disini!" perintahnya dengan kedua murid yang suka membuat keributan tersebut. Ambar dan Ismet dengan terpaksa menyerahkan bangkunya untuk diberikan dengan Sita.
"Sita jangan menoleh kebelakang lagi ya, kamu juga jauh-jauhin wajah kamu dari Sita" Ambar menganggukkan kepala menuruti perintah aneh wali kelasnya.
~~~**♡♡♡**~~~
__ADS_1