![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sepulang sekolah Sita berdiri didepan jalan rumahnya, saat Ambar lewat Sita berusaha tersenyum manis kearah Ambar. Sebelum dipanggil Ambar menghentikan langkah kakinya dihadapan Sita tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sita jadi gugup dipandangi Ambar, pipinya merona merah dengan sendirinya.
"Ak.....aku....Kemarin....maksud aku oleh-oleh kamu aku antar kerumah" ujar Sita gelagapan.
Ambar memajukan bibirnya dan menatap Sita tajam, rasanya Sita gemas sendiri dipandangi Ambar seperti itu. Tapi mau menatapnya balik mental Sita tidak seberani Ambar.
"Ngapain kamu kok jadi malu-malu landak gitu?" tanya Ambar ketus.
"Haa? Malu-malu landak? Malu-malu kucing maksudnya" ujar Sita polos membenarkan peribahasa Ambar.
"Kalo kamu gak pantes disamakan sama kucing, cocoknya landak, imut tapi nyakitin kalo dideketin! Didekatin aja udah sakit apalagi kalo dipegang!" ujar Ambar dengan tegas.
Sita langsung terperangah mendengar sindiran Ambar untuknya. Mau menjawab juga percuma, cowok ini sama dengan ayahnya tidak akan pernah mau kalah. Melihat wajah Sita yang pucat dan lesu Ambar memaksa senyumnya keluar untuk Sita.
"Oh ya makasih ya oleh-olehnya" ujar Ambar lagi dengan nada yang lembut. Sita hanya mengangguk, mulutnya masih sulit mengeluarkan suara meski banyak kata yang sudah dirangkainya untuk diucapkan kepada Ambar "Yaudah aku pulang dulu nih, mau belajar eh mau makan maksudnya haha"
Sita langsung menarik tangan Ambar untuk mencegahnya pergi "Makan dirumah aku aja yuk" ajak Sita dengan suara bergetar.
"Ogah! Ntar pacar kamu marah!" jawab Ambar dan memaksa Sita melepaskan tangannya kemudian kabur pulang kerumah.
~**♡AmbarSita♡**~~
Sampai ujian kenaikan kelas, Sita tetap menunggu Ambar sepulang sekolah. Meskipun hanya sekedar untuk menyapa cowok itu. Ambar pun demikian saat berpapasan dengan Sita dipinggir jalan rumahnya dia hanya tersenyum memandangi Sita setelah itu pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah ujian selesai Ambar kembali ikut dengan abangnya Arul pergi mendaki gunung. Ambar benar-benar sudah jatuh cinta pada alam. Sita pun juga akan berangkat ke tempat ayahnya, menghabiskan masa liburannya disana.
"Kenapa sih kamu manyun aja? Gak senang? Padahal kamu mau ketemu bapak loh?" tanya buk Ita sambil mencubit dagu anaknya.
"Ambar kemana ya buk? Habis ujian dia ngilang, gak pernah lewat lagi"
"Aduuh apa perlu ibuk tanya nih sama ibuknya?"
Sita menganggukkan kepalanya lemah, saat buk Ita ingin keluar terdengar suara sahabat kecilnya memanggil-manggil dari luar. Buk Khadijah datang sambil membawa katung plastic yang berisi keripik buatannya.
"Hee buat apaan?"
"Kata kamu pak Adam suka, jadi aku bungkusin buat dia, kalian kapan berangkat?" tanya buk Khadijah sambil menyerahkan oleh-olehnya kepada buk Ita.
"Ni bentar lagi berangkat, nunggu mobil travel yang nganterin ke bandara nya aja"
"Sita cantik bakal ketemu deh sama ayahnya, Ambar juga sekarang pergi liburan sama si Jefri, mendaki lagi katanya. Gak tau aku kemana dia itu, padahal uang yang aku kasi cuma 400rb aja loh ta, gimana dia bertahan dengan uang segitu aku gak ngerti deh"
"Kamu tega banget ngasi pegangan cuma segitu"
Sita ikut manggut-manggut dengan perkataan ibunya, dia juga tidak tega membayangkan Ambarnya kelaparan saat liburan.
"Dia yang minta, katanya cukup kok uang segitu, ya aku senang dong dengarnya hahaha katanya 'liburan digunung itu enak buk, cuma bayar uang simaksi 15rb aja trus selebihnya mental dan tenaga, kepuasaan dan pemandangan yang kita dapat gak ada yang bisa ngalahin' gitu katanya ya aku cuma lebihin ke doa yang terbaik aja"
"Hah... Anak kamu emang petualang sejati Jah" puji buk Ita bangga.
"Kapan Ambar balik buk?" tanya Sita penasaran.
"Minggu depan kayanya, kalian kapan balik kesini lagi?"
"Sehari sebelum Sita masuk sekolah"
"Dua minggu ya? Lama juga tuh"
Suara klakson mobil memberi kode pada sipemilik rumah, jika mereka sudah siap mengantarkan buk Ita untuk berangkat ke bandara. Buk Khadijah turut membantu temannya mengeluarkan barang-barang yang akan mereka bawa, setelah itu berpamitan.
__ADS_1
~**♡AmbarSita♡**~
Selama di Malaysia tidak ada yang membuat Sita bisa tertawa lepas seperti saat dia menghabiskan hari bersama Ambar. Pak Adam dan buk Ita tidak berhenti-henti memberikan liburan terbaik untuk putri mereka satu-satunya. Semua tempat wisata mereka kunjungi, restoran-restoran mahal juga mereka datangi, tapi tetap saja hatinya tidak girang.
Agar tidak mengecewakan perasaan ayah dan ibunya Sita selalu merespon dengan kata 'wah bagus ya pak, wah enak ya pak, wah disini rami ya pak' hanya kata-kata itu yang diucapkannya berulang-ulang. Setelah itu pikirannya melayang pada sosok Ambar. Tidur Sita bahkan juga ikutan tidak nyenyak, setiap malam Sita berdiri dibalkon apartment ayahnya, menatap sorot lampu gedung-gedung tinggi di Kuala Lumpur.
"Ambar sedang apa? Ambar sudah tidurkah? Ambar sudah makan? Ambar kedinginankah diatas gunung? Apa disana ada cewek? Atau adakah rombongan Ambar yang ceweknya memiliki rambut pendek sebahu? Ambar Sita rindu! Apa ambar rindu juga dengan Sita?" gumamnya pelan dan memeluk lututnya yang basah terkena airmata.
Setiap pagi kerjaannya mengitung sisa hari yang harus dihabiskannya tanpa melihat wajah Ambar. Sesekali Sita juga membuka facebook dan Twitter, menstalking media sosial cowok itu yang sampai detik ini belum menerima permintaan pertemanan dari Sita.
Diinggu keduanya berada di Malaysia, Sita sudah bersiap-siap menyusun semua barangnya untuk pulang ke Indonesia. Meskipun dia akan berangkat dihari Sabtu tapi Sita berharap Jumat ini berlalu dengan singkat. Tidak perlu siang dan sorenya langsung saja pada malam, tidur dan setelah itu sabtu pagi waktunya dia pulang ke Peringi. Sita sudah begitu rindu, liburnya terasa hambar karna merindukan Ambar.
Pak Adam menitikkan air mata melepas kepergian anak dan istrinya yang kembali meninggalkan nya sendirian di negri orang, Sita juga ikut menangis.
"Maaf ya pak, kalo Sita gak bisa memberikan quality time terbaik sama bapak" rengek gadis itu sambil memeluk ayahnya.
"Iyaaa, Rajin-rajin telfon bapak ya, Sita sekolah yang baik, jangan ngelawan apa kata ibuk"
Setelah waktunya pulang, hati Sita jadi kacau. Disatu sisi dia tidak ingin meninggalkan ayah yang paling menyayanginya. Tapi disisi lain ada yang begitu memanggil-manggil untuk mengajaknya segera bertemu.
~**♡AmbarSita♡**~
Sesampainya diperingi, buk Ita dan anak gadisnya kompak menghirup udara segar Peringi secara bersamaan. Lalu keduanya tersenyum satu sama lain.
"Memang tempat ini yang paling terbaik ya nak" kata buk Ita sambil menarik kopernya menuju kerumah.
"Assalamualaikum" panggil Sita didepan pintu rumah kayu milik pak Bahrun. Sang pencipta memang langsung mengabulkan doa gadis cantik itu.
Ambar keluar dengan wajah sembab, pipinya bengkak seperti orang yang baru bangun tidur, rambut nya juga acak-acakan. Sita jadi gemes sendiri melihat pujaan hatinya yang tetap saja tampan meski dalam bentuk berantakan. Ambar membuka matanya lebar memperhatikan gadis didepannya, sepertinya arwahnya belum terkumpul semua. Beberapa detik kemudian dia baru sadar dan tersenyum kearah Sita.
"Kenapa?" tanya Ambar dengan suara yang begitu berat efek dari bangun tidurnya tadi.
"Ini, Oleh-oleh dari kami" kata Sita dan menyerahkan kantong plastik ketangan Ambar.
"Oh Makasih ya" kata Ambar dengan ramah. Sita masih berdiri didepan pintu. Tidak mungkin dia segera pergi meninggalkan Ambar secepat itu karna dua minggu dia absen memperhatikan wajah ganteng cowok tersebut. Ambar membuka bola matanya lebih besar dan menatap Sita heran.
"Pak Bahrun lagi dikebun, Hening juga sama kak Dian pergi ke Mandau, buk Khadijah pengajian" ujar Ambar memberi tahu kemana anggota keluarganya. Sita makin semangat berdiri lebih lama didepan pintu rumah Ambar.
"Aku juga baru pulang mendaki jam tiga subuh tadi, tau gak kami mendaki dua___"
"Kesungai indah yuk" ajak Sita cepat agar Ambar menceritakan pengalaman liburnya disana.
"Haa?" tanya Ambar memastikan apa yang baru didengarnya tadi
"Aku mau dengar pengalaman kamu mendaki gunung"
Ambar mengangkat kedua tangannya keatas, meregangkan otot-ototnya yang masih kelelahan. Kemudian tertawa kecil menatap Sita. Ambar terlihat tengah berpikir, dia baru pulang tadi subuh dan masih harus beristirahat meregangkan semua otot-ototnya yang masih keram. Tapi karna melihat wajah Sita yang begitu ingin mengajaknya pergi dengan terpaksa Ambar mengabulkannya.
"Yaudah kamu jalan duluan, ntar aku susul dari belakang" pinta Ambar dan menutup pintu rumahnya.
Saat ditempat yang sudah cukup sepi, Sita berhenti untuk menunggu Ambar yang berjalan begitu pelan. Wajar saja otot kakinya benar-benar masih lelah dan butuh istrirahat. Keduanya langsung duduk dibatu besar dan memandangi aliran sungai yang begitu tenang. Sita begitu senang, hatinya berada dipuncak kebahagiaan yang paling tertinggi. Sambil tersipu malu dia menatap wajah Ambar, menunggu cowok itu melanjutkan cerita pengalaman liburnya.
"Gimana Malaysia? Enak liburannya? Pak adam sehat kan?"
"Biasa, Enak, Alhamdulilah sehat" jawab Sita singkat dan cepat.
__ADS_1
Ambar tersenyum mendengar jawaban Sita, dia tahu gadis itu tengah menunggu ceritanya lagi.
"Kemarin aku mendaki gunung Merapi. Tapi disana kereen banget, sejuk kaya di Peringi hilir juga. Aku jadi kagum sama daerah itu, orangnya ramah-ramah juga"
"Kalian pake apa kesana? kata buk Khadijah kamu cuma dikasi uang 400rb jadi tiket pesawat kesananya gimana?"
"Gak naik pesawat, kami pake jalur darat. Numpang kendaraan orang-orang yang lewat. Naik truk sayur, truk ayam, Hahaha enak banget pokoknya. Truk pasir juga malahan"
Sita terpaku dengan cerita Ambar, Enak? dirinya saja langsung merasa ogah untuk melakukan hal yang melelahkan seperti itu.
"Kenapa? Kamu pasti ngerasa itu hal yang melelahkan ya? Emang gitu, tapi kebersamaannya, menikmati setiap perjalanannya, sensasinya beda tau gak sih. Mungkin sebagian orang berpikir sama kaya kamu, tapi orang yang anteng seperti aku, justru itu adalah puncak kenikmatannya. Dan uang 400 ribu dari buk Khadijah malah masih sisa 20rb dikantong aku pas balik ke Peringi, keren gak tuh?"
"Terus kamu gak makan selama disana? Gak jajan?"
"Makan dong, teman-teman bang Jefri baik-baik semua. Bawa makanan, bawa beras, sama ayam balado hahaha gimana gak puas tuh aku pergi dengan mereka, teman-teman bang Jefri yang kuliah itu memang pecinta alam sejati, mereka bahkan masuk organisasi MAPALA"
"Mapala?"
"Mahasiswa Paling Lama" kata Ambar memplesetkan arti kata Mapala yang sebenarnya. Sita malah mengangguk percaya dengan perkataan Ambar barusan.
"Hahaha Bukan!! Mapala itu Mahasiswa pecinta alam, ada satu teman bang Jefri namanya Rian, dia udah hampir mendaki semua gunung di indonesia, keren gak tuh? Aku juga pengen kaya dia"
"Terus digunung ngapain?" tanya Sita meminta ambar melanjutkan ceritanya.
"Nonton bioskop!! Ya mandangin alam lah, pake nanya ngapain!"
"Hahaha aku kan gak tau" ujar Sita gemas melihat raut wajah Ambar yang berubah kesal "Diatas gunung ada cewek juga?" tanya Sita lagi.
"Cewek? Ada dong, banci juga ada, hantu, genduruwo, semua ada!"
"Kamu gak takut?"
"Kenapa takut? Kan kita gak ganggu, makanya niatkan hati yang lurus, bersih, tanpa noda semata-mata untuk menikati alam, Insyaallah selamat"
"Wuiih keren kamu, jadi relegius semenjak pulang dari gunung"
"Hahaha iya, semenjak mendaki gunung Iman aku emang makin kuat rasanya. Melihat kekuasaan Tuhan menciptakan alam ini, aku takjub dan salut sama Sang Pencipta"
Sita makin tersenyum lebar dan mengangkat kedua jempolnya untuk Ambar.
"Trus disana ceweknya tidur dimana?"
"Ada tenda untuk cewek juga dong"
"Loh kalian tidur ditenda?"
"Terus kamu pikir? Di hotel?"
"Hahaha Rombongan kamu ada ceweknya?"
"Ada, pacarnya bang Rian sama teman pacarnya bang Rian. Haaaaaah rasanya enak juga mendaki bawa pasangan. Ya walau kebanyakan jadi beban sih, tapi aku pengen juga nawa pacar aku suatu hari nanti" kata Ambar tersipu malu dengan ucapannya sendiri.
"Teman pacar bang Rian itu cantik?"
Ambar langsung menatap Sita mendengar pertanyaannya barusan.
"Cantikan kamu" jawab Ambar pelan dan tersenyum sangat manis kepada Sita. Lesung pipinya dipameri lagi agar Sita ikut tersipu malu menatapnya.
Keduanya asyik bercerita tentang pengalaman mereka liburan, hubungan Ambar Sita yang sebelumnya sempat renggang kini kembali membaik. Sita berhasil membuat Ambarnya bisa kembali duduk disampingnya dan mengobrol banyak dengannya untuk waktu yang lama.
__ADS_1