AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Pengganggu


__ADS_3

Setelah liburan sekolah mereka selesai. Seluruh anak-anak sekolah didesa Peringi hilir kembali melanjutkan rutinitas mereka sebagai pelajar. Kelas Sita kali ini berjumlah 16 orang karena penambahan murid yang tinggal, namanya Alif dan Fion. Mereka tinggal karena sama nakalnya dengan Ambar. Bahkan Alif memiliki karakter dan sifat yang begitu mirip dengan Ambar, Jahil dan Usil dengan teman-teman sekelasnya dulu.


Tapi dibanding kedua anak tersebut, masih ada yang bisa disyukuri dari Ambar selain keimutannya. Ambar juga pintar, gimana gak pintar meski disekolah sering bolos tapi saat malam hari matanya tidak boleh jauh dari buku oleh buk Khadijah dan pak Bahrun. Karena ada orang asing dikelasnya Sita jadi gugup untuk masuk. Dilihatnya Ambar, Khaidir dan Ujang sedang asyik mengobrol didepan kelas 3. Sepertinya mereka tengah membicarakan tentang sunatnya Khaidir saat liburan kemarin. Melihat Sita masih berdiri didepan pintu Ana langsung menyusulnya.


"Sita kenapa gak masuk?" tanya Ana sambil menepuk pundak Sita.


"Ada anak baru ya dikelas kita?"


"Bukan, mereka tinggal. ati-ati loh, mereka juga nakal kaya Ambar. Tadi pagi aja Imay udah dibuat nangis sama yang itu" tunjuk Ana pada anak yang badannya lebih tinggi.


"Kenapa?"


"Gak tahu, katanya sih wajah Imay nyebelin. Padahal Imay gak ngapa-ngapain loh" Sita hanya mengangguk "Sita duduk ama siapa? Ana sebenarnya mau duduk sama Sita. Tapi kasian Imay, dia jadi gak punya teman deh. Soalnya Iput udah sama Thalib dari dulu"


"Sita sama Ambar" jawab Sita cepat.


Ana sampai membelalakkan mata mendengar jawaban Sita. Terkejut sekaligus heran kenapa Sita sekarang malah betah duduk dengan Ambar?!


Wali kelas baru mereka datang. Wanita kurus yang masih berumur 40 tahun tapi wajah keriputnya sudah pacu-pacuan dengan nek Lasa. Guru yang suaranya begitu lembut tapi kalo nyubit sakitnya kaya disengat listrik, namanya buk Ita, mirip dengan nama ibunya Sita.


"Ayo masuk, kenapa malah berdiri didepan kelas" ajak buk Ita dengan Ambar dan Khaidir.


Buk Ita sudah kenal betul dengan Ambar dan kali ini murid nakalnya jadi 3 orang. Keriputnya bakal makin nambah dan mengalahkan nek Lasa mungkin setelah ini.


Ambar dan Khaidir masuk, Khadir sudah tentu duduk kembali dengan Ujang teman sebangku sebelumnya. Ambar melihat dibangku sebelah Sita yang masih kosong. Gadis itu ikut-ikutan memandanginya, menunggu Ambar datang, tapi Alif malah nyosor duluan.


"Aku duduk disini ya?" izin Alif dengan lembut padahal sebelumnya nadanya kasar saat bicara dengan Imay, Iput dan Ana.


Sita diam tidak merespon, setelah Alif duduk. Sita kembali melihat kearah Ambar


"Aku kemarin jadi teman sebangkunya Sita!" kata Ambar kesal.


"Kan kemarin, sekarang enggak lagi. Kamu sama Fion aja!"


"Tapi aku mau ama Sita!" Ambar ngotot tidak mau melepaskan bank berjalannya begitu saja.


Sita yang sedang jadi bahan rebutan hanya bisa menundukkan kepala. Gugup karena semua sedang memperhatikan kearah mereka.


"Udah Ambar duduknya sama Fion aja ya" buk Ita akhirnya menengahi dua murid bandelnya yang sedang memperebutkan posisi untuk mendampingi sang tuan putri.


"Ama Sita dong buk. Kemarin Ambar duduk sama Sita kok" rengeknya lagi.


"Kalo gitu Alif balik lagi kebangkunya"


"Enggak lah, kalo sama Fion ntar saya gak belajar lagi buk, saya kan mau berubah"


"Nah Ambar sama Fion"


"Emang Sita mau duduk sama kamu?"


"Sita diam, berarti mau dong"


"Sita mau duduk sama Ambar lagi kok" Ana ikut menyampaikan isi hati Sita yang tadi.


"Sok tahu kamu!" ujar Alif mulai ngegas.


Ambar mengambil bangku kosong yang disamping Fion dan memindahkannya tepat disamping bangku Sita, kemudian dia duduk.


"Heee mana bisa duduk bertiga gitu, Sita jadi sulit belajar nanti" kata buk Ita heran.


Sita ikutan heran, kini posisinya ditengah-tengah dua calon berandalan dimasa depan. Terlebih lagi Ambar terlalu menempel dengannya. Mereka juga harus berbagi meja jika buk Ita membiarkan Ambar dengan kengototannya.


"Bisa! Bisa kan?" tanya Ambar meyakinkan buk Ita sambil meminta jawaban Sita. Dengan cepat Sita menganggukkan kepala.


"Nah tu Sita aja bilang bisa, kalo tiang listrik ini gak mau pindah Ambar gak akan mau biarin dia duduk sama Sita"


Dua-duanya tidak ada yang mengalah, justru buk Ita yang mengalah meninggalkan keduanya. Hari pertamanya sudah harus menghadapi dua bocah yang namanya sering disebut teman-teman kerjanya didalam kantor.


Pelajaran pertama langsung ia mulai, tanpa basa-basi perkenalan atau ***** bengek lainnya. Buk Ita menerangkan pelajaran IPS tentang keanekaragaman suku.


Meskipun hati Ambar dan Alif masih memanas seperti larva tapi mereka mendengarkan dengan baik penjelasan buk Ita didepan kelas. Justru Sita yang tidak bisa berkonsentrasi, hatinya terlalu girang entah kenapa. Apalagi setiap dia melirik kearah anak yang sedang berbagi meja dengannya.


 



 



Dijam istirahat Alif mengambil tas Ambar yang baru dipindahkannya keatas meja dan melemparkannya kelantai.



"Kamu nyempitin Sita tahu gak!" bentaknya pada Ambar.



Se isi kelas memandangi, apalagi mereka lebih mengetahui siapa orang yang sedang dimarahi Alif barusan.



Dengan cepat tinju Ambar melayang ke kepala bocah yang lebih tinggi darinya tersebut. Meski belum pernah bertemu dan saling adu jontos. Tapi kalau dilihat dari segi fisik harusnya Alif yang menang. Sita terpaku melihat keduanya. Dulu dia pernah menjadi wasit untuk Ambar dan Khaidir dan sekarang posisinya sama seperti waktu itu.



"Awas dulu, biar aku kasih pelajaran sama tiang listrik ini" pinta Ambar dengan Sita.

__ADS_1



Sekali lagi tangan Ambar melayang kearah kepala Alif. Anak\-anak perempuan lainnya berteriak ketakutan, karena selama ini Ambar memang hobi menjahili teman\-temannya tapi dia tidak pernah sekasar itu dalam memukul.



"Ambil tas aku!!" teriaknya tepat diwajah Alif



Alif tidak terima dan langsung membalas, dua\-duanya saling adu jontos. Meski Alif lebih tinggi dan lebih besar tapi tinju Ambar bisa membuat air matanya keluar menahan sakit. Khaidir, Ujang, dan Yudi berusaha melerai, memegangi kedua tangan bocah\-bocah yang kepalanya masih berasap.



"Kamu pikir aku takut! Rotan pak Bahrun belum ada apa\-apanya sama tinju kamu, tahu gak!"



Alif hanya diam dan memilih duduk dibangkunya lagi. Kepalanya tiba\-tiba jadi pusing karena bogem mentah Ambar. Buk Ita sambil berlari\-lari kecil masuk kedalam kelasnya karena panggilan mendadak dari Thalib. Dilihatnya dua murid yang dilaporkan sedang ribut oleh Thalib tadi, yang satu terduduk lesu yang satunya berdiri dengan nafas ngos\-ngosan menahan emosi.



"Kenapa kalian!!" bentak buk Ita "Ayo ke kantor!!" keputusan singkat buk Ita untuk menyelesaikan masalah yang baru dibuat murid\-muridnya.



Dua\-duanya mengekor dari belakang, yang jelas Alif mulai tahu kekuatan lawannya dikelas empat ini. Jika dulu semua patuh dan tunduk dengan perkataannya maka tidak untuk si anak yang memiliki lesung pipi tersebut.



Mungkin malaikat keberuntungan sedang memihak pada Ambar. Buk Mun dan pak Iyan sedikit membelanya, keduanya kompak mengatakan


'***Ambar memang nakal tapi gak pernah sampe jontos\-jontosan dengan teman sekelasnya, sifatnya lebih kearah usil dan mengolok\-ngolok saja***'.



Buk Ita manggut\-manggut mendengar perkataan dua mantan wali kelas Ambar. Apalagi buk Mun dan pak Iyan kan pernah jadi wali kelas Alif juga.



"Alif, kamu itu lebih tua dari Ambar jadi harusnya bisa lebih mengalah dari yang lebih kecil dan memberikan contoh yang baik untuk teman\-teman kamu yang sekarang. Ambar juga gitu, Ambar kan usil nih biasanya. Sekarang Ambar malah balik di usili, gimana rasanya? Gak enak kan! Nah ini jadi pelajaran juga sebenarnya untuk Ambar \(bla..bal...bla..\)" nasihat buk Ita dengan lembut.



"Lagian Ambar juga kenapa duduk disamping Sita, ingat gak dulu kan Sita takut liat wajah Ambar" buk Mun ikut nyahut "Jadi sekarang biarin aja Alif duduk sama Sita ya"



"Enggak lah, Ambar kan suka sama Sita buk!"




"Hahaha kamu ini, belum boleh ngomong gitu!" ujar buk Mun kikuk dan memukul pelan pundak Ambar. Dia malu sendiri dengan pengakuan muridnya tadi.



"Ambar ngomong jujur. Ambar suka sama Sita buk, Sita itu baik. Suka ngasi Ambar uang juga, dia kasihan sama Ambar. Soalnya Ambar ini jajannya cuma sedikit dikasi pak Bahrun!"



"Haaaaaaaah" semua guru kompak menghembuskan nafas lega. Ternyata bukan 'suka' dalam artian cinta, tapi si bocah nakal suka karena Sita korban pemerasan untuknya.



Setelah ceramah panjang lebar, keduanya diizinkan kembali kekelas. Ismet, Abdul dan Arul menunggu Ambar didepan kelasnya.



"Wuiih kamu tadi bertarung ya sama anak baru dikelas kamu mbar?" tanya Ismet.



"Iyaa! Kamu malah gak ikut nolong!"



"Gimana mau nolong, kan kita beda kelas. Coba aja kalo ada kami, udah aku bantu narik rambutnya itu" ujar Ismet menunjukkan sifat bar\-barnya.



"Udah makan kamu mbar. Warung sana, sebelum masuk. Ntar kalian ribut lagi kamu jadi kalah karena kurang tenaga" Abdul sepertinya begitu menunggu adegan jontos Ambar selanjutnya.



Lonceng besi sudah dibunyikan oleh guru, semua terpaksa kembali ke kelas masing\-masing. Ambar juga kembali duduk dibangkunya yang tadi. Begitu juga dengan Alif.



Sita tetap diapit oleh dua bocah yang memang sudah panas dari tadi pagi, habis bertarung semakin panas lagi pastinya. Buk Ita belum juga masuk kedalam kelas, sepertinya dia masih asyik menggosip ria soal kenakalan muridnya tadi dengan rekan\-rekan kerja. Anak\-anak dikelas empat juga kompak tenang dibangku masing\-masing. Takut dua\-duanya terpancing emosi jika mereka gerak sedikit saja.



Sita melirik kearah Ambar yang tengah asyik melukis diatas mejanya. Gadis cantik itu merapikan rambutnya yang terikat kemudian mengeluarkan satu bungkus beng\-beng dari saku rok, Sita meletakkan beng\-beng ketangan sebelah kiri Ambar yang ada didalam laci. Ambar menoleh karena tangan kirinya memegang sesuatu saat ini. Kemudian melirik kearah Sita yang sudah memandangi buku LKS. Ambar kemudian bangkit dari bangkunya. Suara geseran bangkunya berhasil membuat anak\-anak menoleh kearah mereka lagi.


__ADS_1


"Hari ini kamu boleh duduk disamping Sita, tapi besok aku gak akan kasi izin!" ujarnya ketus dan pindah duduk disamping Fion.



Dengan memberanikan diri, Khaidir dan Ujang berjalan mendekati Ambar yang sedang menikmati beng\-beng sumbangan Sita.



"Kamu gak apa\-apa mbar?" bisik Khaidir.



Meskipun Ambar sering menjahilinya tapi tetap saja dia mendukung Ambar dari pada Alif, karena mereka itu berteman.



"Burung kamu gak sakit lagi?" tanya Ambar ngasal. Ujang bahkan semua teman\-temannya yang mendengar tertawa dengan pertanyaan Ambar.



"Kok kamu mau ngalah biarin dia duduk sama Sita?" bisik Khaidir lagi



"Kan udah dapat ini" ujar Ambar sambil menunjukkan beng\-beng ditangannya.



Dua teman\-temannya langsung geleng\-geleng kepala. Padahal mereka sudah sempat berpikir jika Ambar meyukai Sita. Buk Ita tidak kunjung datang, sepertinya dia benar\-benar wanita sejati, yang jika sudah bergosip sampai lupa dengan semuanya.



Setelah Ambar pindah, Sita jadi kecewa dengan sendirinya '*harusnya gak usah dikasi beng\-beng*' ujarnya didalam hati.



Lonceng pulang dibunyikan, buk Ita memang benar\-benar lupa dengan tugasnya. Semua muridnya pada langsung pulang kerumah masing\-masing, kecuali Sita. Seperti biasa dia akan menunggu kosong. Tapi kali ini dia tidak menunggu sendirian, karena Alif juga tetap duduk disampingnya.



"Sita gak pulang?" tanya Alif dengan ramah, Sita menggelengkan kepala.



"Kenapa?" tanya alif lagi.



"Sita ayo kita pulang barengan lagi" ajak Ambar yang tiba\-tiba kembali nongol didepan pintu kelas bersama geng berandalannya.



Gadis itu kebingungan '***sejak kapan mereka pulang bersama***?!' tapi pertanyaan itu tidak perlu dipikirkannya. Sita dengan cepat menyusul Ambar keluar, meninggalkan Alif dengan kemarahannya.



"Sita besok kamu jangan mau duduk sama Alif lagi" Ismet berusaha memprovokasi.



"Iya, dia itu bego loh, ati\-ati kamu bisa ketularan" ujar Abdul. Padahal yang berbicara tidak ada bedanya dengan Alif, bahkan Abdul masih mengeja dikelas tiga ini.



Sita hanya bisa diam mendengar ocehan dua teman Ambar. Pandangannya sesekali beralih kearah si bocah nakal. Apa dia masih emosi? Karena mulut cerewetnya tidak terdengar sepanjang perjalanan.



"Mbar, Kamu masih marah?" tanya Abdul mewakilkan pertanyaan dipikiran Sita.



"Enggak loh, aku tu dari tadi nahan eek"



Ismet reflex memukul kepalanya, jijik sekaligus kesal, ternyata Ambar diam menahan sakit perutnya.



"Kerikil kamu mana?" tanya Ismet yang sudah begitu hapal dengan kebiasaan temannya itu.



"Lupa nyari tadi pagi aku, saking semangatnya memulai kelas 4. Eeeh malah ada pengganggunya setelah ini"



Sita kembali melihat kearah Ambar "Sita kalo seandainya si tiang listrik itu tetap ngotot mau duduk sama kamu, sumbangan kamu jangan sampai teralihkan juga ya" kata Ambar memelas.



Rasanya emosi Ambar sudah pindah ke tubuh Sita, yang semua orang pikirkan '\*\*\*kenapa Ambar begitu mempertahankan untuk duduk berdua dengan Sita karena gadis itu cantik dan dia suka' tapi asli nya? fakta nya? memang sungguh kejam. Ambar hanya takut tidak bisa membeli beng\-beng kesukaannya lagi'



![](contribute/fiction/64817/markdown/13ae2843/1570585280244.jpg)

__ADS_1



 


__ADS_2