AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Kecelakaan


__ADS_3

Sudah memasuki bulan kedua ditahun ajaran baru ini, Sita sedikit kesal dengan kekasihnya yang begitu susah dibawa berkencan. Setiap Sita ingin mengajak Ambar pergi cowok itu selalu saja menolaknya. Alasan Ambar bermacam-macam, yang jelas alasan Ambar sebenarnya adalah selain kendaraannya tidak ada, Ambar juga malu jika setiap kencan Sita terus yang membayar makan mereka.


"Besok kemana?" Tanya Sita yang berniat kembali mengajak Ambarnya untuk pergi.


"Bobok ganteng, soalnya nanti malam aku mau begadang sampe pagi nonton Final UCL" jawab Ambar dengan santainya.


"Haaaah jadi pengen nyantet semua pemain bola didunia ini karna berhasil mencuri perhatian kamu" keluh Sita yang dari gerbang sekolah sampai mendekati jalan rumah mereka tangannya tidak lepas-lepas menggandeng Ambar.


"Kalo senin gimana sayang? Kan libur juga tuh? Mau ya?" Sita kembali berusaha membujuknya.


"Senin aku nya yang mau main bola, biar bisa jadi Alessandro Del Piero!" ujar Ambar memberi alasan yang kedua. Sita hanya bisa mengangguk mendengarnya kali ini.


Keesokannya di hari minggu, jam 12 siang Sita sudah anteng duduk didepan teras rumahnya menunggu sosok Ambar lewat. Tapi cowok ganteng itu tidak muncul-muncul, sepertinya dia masih nyenyak di alam mimpinya. Yang datang justru si Alif, cowok itu tersenyum saat memarkirkan sepeda motornya dipekarangan rumah Sita.


"Heiii... kenapa nih, tumben kamu kesini gak ngasi tau dulu" sapa Sita dengan ramah.


"Sengaja, kalo ngasi tau dulu ntar kamu nya malah nolak karna menjaga perasaan seseorang"


Sita hanya bisa tersenyum simpul mendengar perkataan Alif.


"Aku mau ngajakin kamu ke toko buku, kamu gak sibuk kan hari ini?" Ajak Alif yang langsung menyampaikan maksud dan tujuannya datang kerumah Sita.


"Aku gak sibuk sih, Tapi..... Aku minta izin Ambar dulu ya" jawab Sita ragu.


"Emang Ambar nyuruh kamu selalu minta izin sama dia kemana pun kamu pergi?" tanya Alif yang wajahnya mulai berubah jutek.


"Bukan gitu lif, aku cuma gak mau dia nanti salah_______"


"Bukannya dia tau aku ini temannya kamu? Aku juga berteman sama dia sekarang, jadi kenapa Ambar harus salah paham kalo aku ajakin kamu pergi, apa dia tipe pacar yang posesif?" Tanya Alif yang kali ini nada bicaranya juga berubah ketus. Sita dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Aku merasa semenjak kamu pacaran sama Ambar kamu jadi gak ada waktu lagi buat aku. Hubungan kita juga merenggang, bahkan kamu gak mau lagi aku antar atau jemput kesekolah, aku merasa dicampakkan" kali ini Alif bicara lebih blak-blakan dengan gadis itu.


Sita menjadi semakin tidak enak dengan Alif, dia berusaha memperlihatkan senyum terbaiknya kepada Alif.


"Ambar gak pernah larang kok lif, akunya aja yang terlalu khawatiran. Yaudah kamu mau aku temani ke toko buku? Bentar ya aku ganti baju dulu" ujar Sita mengalah, meskipun hatinya tidak ingin pergi tapi jika dia menolak maka Alif akan berpikir Ambar memang pacar yang posesif untuk Sita.



Keduanya kemudian pergi ke toko buku yang ada di Mandau. Alif menyodorkan buku persiapan ujian nasional dan buku persiapan untuk ujian masuk perguruan tinggi kepada Sita.


"Aku cuma butuh persiapan untuk ujian nasional aja lif"


Teman cowok nya itu sempat bingung mendengar jawaban Sita.


"Oh iya, kamu kuliah nanti mau di Malaysia? Kalo boleh jujur aku pengen kita kuliah tetap bareng juga"


Sita hanya diam mendengar perkataan Alif dan langsung membayar ke kasir buku yang akan dibelinya.


"Kita makan dulu yuk?" ajaknya lagi sebelum mereka kembali lagi ke Peringi. Sepertinya Alif masih belum puas menghabiskan harinya bersama gadis yang begitu dicintainya itu. Sita hanya bisa mengangguk untuk menuruti kemauan Alif.


Keduanya masuk kesebuah resto, memesan makan dan minuman. Saat menunggu pesanan mereka datang, Alif tidak henti-hentinya menatap wajah Sita lekat. Sedangkan gadis yang dipandangnya malah sibuk membalas chatt temannya Rio yang ada di Qatar.


"Ambar udah punya handphone?" tanya Alif penasaran.


"Belum, ini aku chatt sama teman kecil aku dulu yang ada di Qatar. Namanya Rio, kemarin waktu liburan di Malaysia kami ketemu lagi"


"Teman kecil kamu? Sebelum kamu pindah ke Peringi?"


"Iya, teman aku ini pindah ke Qatar, ayahnya kerja disana. Jadi kemarin ketemuan"


Alif langsung terperangah mendengar cerita Sita tersebut.


"Rio? Tinggal di Qatar, kayanya dia bukan orang biasa ya?" Tanya Alif sedikit ragu.


"Maksudnya?" tanya Sita balik.


"Orangtuanya kerja di Qatar? Bagian Migas juga? Yaaa soal kehidupannya yang aku maksud, sepertinya dia cowok tajir" ujar Alif lagi.


"Oh, enggak juga sih kalo menurut aku. Tahu gak sifat kami sama loh, pendiam dan pemalu" kata Sita sambil tersenyum dan menyimpan Hpnya kedalam tas.

__ADS_1


Alif hanya tersenyum simpul merespon perkataan Sita tadi.


"Soal kuliah nanti, aku boleh kan masuk ke Universitas yang sama juga bareng kamu?"


"Aku belum kepikiran kesana lif" jawab Sita seadanya. Kemudian handphonenya kembali berbunyi lagi, dengan cepat Sita mengambilnya dan membaca chatt masuk didalamnya.


"Kenapa? kelas tiga itu waktunya singkat loh, belajarnya udah gak full satu semester lagi. Kamu mau kuliah di dekat ayah kamu? Aku udah bilang sama ibuk, katanya terserah aku mau kuliah dimananya"


Alif kemudian memperhatikan tangan dan mata Sita yang begitu fokus membalas pesan temannya. Bahkan obrolan yang sedang dibahasnya seperti tidak menarik sama sekali untuk gadis di hadapannya tersebut.


"Aku ganggu kamu ya ta?" tanya Alif dengan nada ketus, karna ucapannya tidak kunjung dijawab dengan Sita "Rio itu spesial banget ya untuk kamu sampe aku ngomong pun dicuekin?"


"Aduh sorry ya lif, aku cuma gak enak aja sama dia. Soalnya kami hampir 10 tahun lamanya berpisah, jadi saat ketemu banyak cerita yang di obrolin. Lagi pula aku kasian sama Rio ini lif, dia bilang kesepian selama ini, setelah kami pisah Rio gak punya teman baru lagi. Anaknya benar-benar tertutup lif, karna itu aku coba buat hibur dia" kata Sita sambil memberikan senyumnya untuk Alif agar cowok bisa mengerti alasan kenapa dia sibuk bermain hp.


"Apa bedanya sama kamu dulu, kamu juga susah banget buat ngomong pertama kali kita kenal. Tapi sekarang karakter kamu jadi berubah dengan sendirinya, mulai berani juga" kata Alif kemudian dia menyebutkan perubahan karakter Sita dari awal mereka berkenalan hingga sekarang.


"Hahaahha masa sih? Kaya nya karena Ambar yang udah berhasil mengubah karakter aku lif" jawab Sita sambil tersipu malu. Sita pun menyadari jika dirinya memang benar-benar sudah berubah semenjak mengenal Ambar.


"Jadi gimana ta? Kita bakal kuliah dimana?" Tanya Alif lagi yang terlihat semakin kesal mendengar nama Ambar.


"Gimana ya lif, Rio ini juga ingin masuk Universitas yang sama dengan aku kaya kamu hahaha. Bapak juga nyuruhnya gitu, padahal aku gak ada niat buat kuliah loh" jawab Sita blak-blakkan. Alif sampai membelalakkan mata mendengar pengakuan Sita tersebut.


"Loh kenapa? Ibuk bapak gak nyuruh? Lagi pula kamu anak satu-satunya masa______"


"Aku gak mau ninggalin Ambar" ujar Sita mantap "Nanti kalo Ambarnya kuliah baru deh aku kuliah, aku gak mau pisah dari dia"


"Ya tapi tuh anak! Kamu harus nunggu dua tahun buat dia lulus SMA. Itupun kalo dia kuliah Ta! Emang ayahnya punya duit buat nguliahin Ambar?" kata Alif sambil tersenyum meledek.


Wajah Sita langsung berubah mendengar perkataan Alif, hatinya jadi panas mendengar hal itu.


"Kalo Ambar gak kuliah ya kami nikah, lagian pendidikan bukan jaminan kesuksesan seseorang. Bill gates aja berhenti kuliah, malah jadi miliader tuh sekarang!" Jawab Sita dengan kesal.


"Bukan gitu maksud aku ta, tapi_____" Alif tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya melihat raut wajah Sita yang begitu kesal dengan perkataannya tadi, apalagi pelayan pun juga datang mengantarkan makanan ke meja mereka.


Sita berusaha mencicipi makanan yang sudah dipesannya kemudian kembali sibuk memainkan handphonenya. Alif jadi merasa tidak enak karna membuat gadis yang dicintainya itu marah. Keduanya jadi tidak berselera lagi menghabiskan makanan yang ada dihadapan mereka masing-masing. Sita melihat kearah jam ditangannya, sudah hampir memasuki jam 3 sore. Dia yakin Ambar sudah bangun dan nongkrong dengan teman-temannya dibalai desa saat ini.


"Kita pulang yuk lif" ajak Sita pelan.


"Kamu marah ya karna perkataan aku tadi?" tanya Alif begitu berhati-hati. Sita hanya menggelengkan kepala tanpa melihat kearah Alif sama sekali.


"Aku minta maaf ta kalo sampai menyakiti perasaan kamu, aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu aja" kata Alif dengan memohon.


"Iya gak apa-apa kok lif, aku nya aja yang sensian. Yaudah pulang yuk, ntar lagi mau jam 3 nih" kata Sita berusaha mencairkan suasana tegang diantara mereka tadi.


"Mendung ta, apa kita tunggu_____"


"Karna mendung itu aku ngajakin pulang Lif, semoga aja hujannya ngasi ijin kita sampe rumah dulu baru dia turun" sanggah Sita cepat.


"Kamu benar gak marah kan sama aku?" tanya Alif meyakinkan hatinya lagi.


"Enggak Alif, udah yuk pulang" jawab Sita lembut dan menggandeng tangan temannya itu untuk keluar dari resto.


Didalam perjalanan ternyata perkataan Alif tadi benar. Tiba-tiba hujan lebat turun membasahi kota Mandau.


"Kita berhenti dulu yaaa" teriak Alif agar Sita bisa mendengarkannya.


"Gak usah lif, lagian kita udah terlanjur basah, lanjut aja" elak Sita, dia begitu ingin pulang kerumah secepatnya untuk bertemu dengan Ambar.


Alif terpaksa menurut dan melajukan motornya dengan pelan karena jalanan menjadi cukup licin terkena air hujan. Namun naasnya justru diarah berlawanan sebuah sepeda motor yang melaju begitu kencang dan mengalami selip ban motor kemudian kehilangan arah dan menghantam motor yang dikendarai Alif dengan keras.


Keduanya langsung terhempas dari sepeda motor, Alif masih bersyukur jatuh ke pinggir jalan sehingga hanya pakaiannya yang kotor terkena tanah. Sedangkan Sita badannya sempat terseret dua sepeda motor yang saling bertabrakan tersebut. Semua orang yang ada lokasi kejadian langsung membantu dan membawa keduanya kerumah sakit terdekat. Alif begitu cemas melihat kaki Sita yang lecet karna menyapu aspal jalanan. Gadis itu juga sempat pingsan saat kecelakaan tadi.


Alif segera memberitahu keluarganya dan keluarga Sita. Kedua orangtua mereka langsung menyusul kerumah sakit. Syukurlah keduanya masih selamat dan Sita pun tidak mengalami patah tulang apapun meski tubuhnya terhempas dan diseret sepeda motor saat jatuh. Alif hanya perlu beristirahat dan dizinkan untuk pulang hari itu juga. Tapi Sita harus menginap dirumah sakit dulu untuk mengobati semua luka di bagian kakinya yang paling parah terkena goresan aspal.


 



 

__ADS_1



Dilain tempat setelah sholat Ashar ambar baru bangun dari tidur panjangnya. Pak Bahrun memukul kepala anak laki\-lakinya saat melihat Ambar masuk kedalam kamar mandi.



"Ya Allah!! Baru bangun jam empat ini!! gak sholat Zuhur juga kamu berarti tadi!" bentak pria tua itu keras.



"Sholat pak, tapi tidur lagi" jawab Ambar ketakutan.



Pak Bahrun belum puas dan kembali memukul pundak Ambar "Trus sekarang udah sholat ashar kamu?!" hardiknya lagi.



"Iyaaa ganteeeeeeng, ini mau mandi trus sholaaaaat"



Setelah Ambar mandi, menjalankan kewajibannya dan mengisi perut. Putra sulung pak Bahrun itu kemudian pergi menemui teman\-temannya dibalai desa. Dilihatnya semua wajah teman\-temannya terlihat begitu serius, Arul pun langsung memukul bahu Ambar.



"Si Alif jatuh noh dari motor" ujarnya memberitahu.



"Haaa? Serius? trus motornya gak kenapa\-napa kan?" tanya Ambar dengan raut wajah tak kalah lebih serius dari teman\-temannya.



"Asem kamu ini! Dia jatuh dengan Sita tuh mereka lagi dirumah sakit sekarang. Khaidir sama Thalib lagi nyusul kesana, katanya Sita mesti dirawat dulu"



"Oh... Yang penting masih idup kan?" ujar Ambar yang kali ini berubah santai dan duduk disamping Ismet.



"Loh mbar, pacar kamu loh jatuh dari motor dengan si Alif. Dia dirawat kok kamu masih bisa ngomongnya anteng gitu? Kamu gak khawatir?" Tanya Abdul kesal.



"Khawatir sih, tapi gak perlu teriak\-teriak histeris kan! Pantesan pas aku lewat dia gak gentanyangan ditempat biasa dia berdiri" jawab Ambar sambil berusaha mengontrol perasaannya sendiri saat ini.



"Kasiannya Sita punya pacar kaya kamu. Kalo aku mah langsung aku susul ke rumah sakit, ini aja kami lagi nunggu mobil pak handsome lewat minta dianterin ke tempat Sita" kata Abdul geleng\-geleng kepala melihat sikap Ambar.



"Yaaa gimana lagi, namanya juga musibah loh. Aku langsung kesana pun Sita nya gak bakal sembuh, ntar kalo emang ada tebengan aku ngikut kok" jawab Ambar cuek.



"Halaaah, kamu cuma berusaha menutupi sakit hati kamu aja kan sekarang? Kamu sebenarnya cemburu karna tahu ternyata Sita pergi bareng Alif!" ledek Ismet sambil memukul kepala Ambar.



"Kok kamu kalo ngomong suka bener gitu, anjing! hahaha" umpat Ambar sambil tersenyum dengan teman akrabnya tersebut.



![](contribute/fiction/64817/markdown/5187474/1572663065437.jpg)


__ADS_1


~♡AmbarSita♡~


__ADS_2