AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Namanya Sita


__ADS_3

 



 



Keesokan harinya, Ambar yang selalu datang pukul 7.45 kesekolah terkejut melihat anak baru yang sudah duduk dibelakang bangkunya. Karena hari Rabu seragam yang digunakan gadis itu berbeda dari murid\-murid lainnya, memang sama\-sama batik nasional yang biasa digunakan, hanya saja warna batik sekolah mereka berwarna abu\-abu hitam, sedangkan gadis itu berwarna merah muda dan putih yang membuatnya terlihat lebih mencolok dari murid\-murid lainnya.



"Siapa?" bisik Ambar dengan teman sebangkunya, Ismet.



"Anak baru, kata Ana sih cucunya nek Lasa"



Ambar hanya diam kemudian melirik kearah anak baru yang duduk dibelakang mereka, gadis itu langsung menundukkan kepala saat melihat Ambar memandanginya.



"Kenapa dia duduk dibelakang? kan kita jadi gak bisa main\-main lagi" bisik Ambar pelan.



"Gak tahu tuh, bangkunya si Imay masih diambil alih sama Khaidir dengan Ujang"



Guru kelas mereka pun masuk kedalam "Udah masuk hari ini ya murid barunya?" Semua hanya diam, kelas mereka memang sepi, yang membuat keributan pun sepertinya sedang ogah untuk meramikan kelas saat ini "Coba sini dulu, perkenalkan diri" pinta buk Mun kepada anak baru tersebut.



Murid yang berjumlah 15 orang itu tetap diam menunggu gadis itu berjalan kedepan. Dengan perasaan takut gadis itu berdiri dari bangkunya, sepertinya si anak baru sudah memberikan kesan yang kurang menyenangkan dengan mereka.



Gadis itu berdiri didepan kelas, pandangannya tetap tertunduk tidak berani menatap anak\-anak yang akan menjadi temannya. Karena tidak kunjung mengeluarkan suara, buk Mun yang akhirnya menyebutkan nama si anak baru dan menceritakan alasan kenapa dia pindah ke desa Peringi hilir.



Melihat hal itu Ambar tersenyum cengengesan, ada korban baru yang dia dapatkan selain Khaidir dan Ana setelah ini. Ismet menyikut tangan Ambar karena tahu apa yang sudah dipikirkan oleh temannya.



 


~~~\*\*♡♡♡\*\*~~~


 



Di jam istirahat Ana mendekati teman barunya, tapi gadis cantik itu masih tidak merespon, dia sibuk dengan buku pelajaran seolah\-olah Ana yang berdiri dihadapannya itu hanya seekor lalat terbang.



"Namanya sita kan?"



Sita mengangkat kepala dan tersenyum, dia mengangguk menjawab pertanyaan Ana.



"keluar yuk, main" Sita kembali menjawab dengan menggelengkan kepala.



"Oh yaudah aku keluar ya" pamit Ana dan ikut bergabung dengan anak\-anak lain yang tengah asyik melihat Ambar dan Khaidir ribut dan saling ejek.



"Gigi kamu tuuh mundurin dulu baru ngomong!!" bentak Ambar dan melempar Khaidir dengan kerikil yang selalu dikantonginya.



"Dasar Bahruuuun!!" balas Khaidir dan masuk kedalam kelas menyelamatkan diri.



Ambar mengejarnya karena tidak terima nama ayahnya disebut. "Plaaaaak" tendangan keras melayang tepat dipantat Khaidir, dia segera kabur kebelakang untuk menghindari amukan Ambar.



"Mentang\-mentang bapak kamu polisi kamu pikir aku gak berani nyebut nama dia!! dasar Japriii....Japri bau jigong" bentak Ambar sambil terus menendangkan kakinya.



"Bilang buk Mun kamu nanti, kan kamu duluan yang ngusilin aku" kata Khaidir yang ingin menangis karena Ambar terus menendang kakinya.



"Aku lempar ke sungai kamu kalo berani ngadu ya, dasar banci, Japri banci!!!" teriak Ambar dengan begitu kuat dan keluar dari kelas.



"Bahrun" kata Khaidir lagi dengan suara yang pelan. Ambar kembali menoleh, meskipun jarak mereka cukup jauh tapi telinga anak itu memang patut diacungi jempol. Ambar kembali mengejarnya, Khaidir menyelamatkan diri dibelakang bangku Sita, dia begitu ketakutan melihat wajah Ambar yang marah dan siap meninjunya.



"Ampuuun......Ampuuun..... Telinga kamu nyaring banget sih" Khaidir memohon sambil melindungi diri dibelakang Sita. Gadis itu kebingungan, ini hari pertamanya masuk sekolah, tapi dia sudah menjadi wasit ditengah\-tengah kedua anak laki\-laki yang sedang bertarung.



"Kamu nyebut nama bapak ku lagi kan!!"



"Enggak sumpah! Tanya aja sama anak baru ini, enggak kan!!?"



Sita mengangguk untuk menghentikan pertengkaran mereka.



"Bohong kamu!!!" Ambar malah balik membentak Sita



Satu, dua, tiga!! Sita menangis karena dimarahi oleh Ambar.


__ADS_1


"Hayo kamu, nangis dia loh"



"Gitu aja nangis!! Dasar cengeng!" ujar Ambar dan segera keluar dari kelas.



"Waah Ambar anak baru udah dibikin mewek, kena marah buk Mun baru tau rasa kamu" kata Ana yang kemudian masuk kekelas untuk menenangkan Sita.



Gadis itu semakin merengek dengan kencang sampai\-sampai anak\-anak yang tengah asyik bermain diluar berlarian masuk kedalam kelas melihat ketiga orang tersebut.



"Ayoo kamu mbar, gak bisa diam dia ini" ujar Ana menakuti temannya.



"Tekan aja tombol off nya dibelakang, ntar dia diam sendiri!" jawab Ambar ngasal dan mengambil tas sekolahnya.



"Kamu pikir dia mobil Tamiya" kata Ismet yang ikut masuk kedalam dan mengambil tas sekolahnya juga.



"Kaduin ke guru kalian ya!!" ancam Iput.



"Eeh jangan" Khaidir mencegahnya untuk pergi keruang guru.



Iput tidak menghiraukan, dia langsung kabur keruang guru memanggil buk Mun yang tengah lahap memakan lontong sayurnya.



"Ambar sama Khaidir buk yang buat nangis" Ana menyebutkan nama kedua pelakunya dengan buk Mun.



"Ambar ini!!!" hardik buk Mun.



"Khaidir! bukan Ambar"



"Kalian berdua sama aja, udah jangan berantem!! Berteman yang baik, Sita itu kan anak baru, harusnya kalian senang kelas kita jadi nambah muridnya, nanti ibuk akan lapor dengan orang tua kalian ya kalo masih jahil"



"Udah dibilang bukan Ambar! tanya aja sama cewek itu"



Sita terus saja menangis, seisi kelas jadi tahu kalo dia begitu cengeng.



"Trus ini kenapa kalian berdua nyandang\-nyandang tas, kan belum pulang"




"Mau bolos ya, kecil\-kecil udah tau cara bolos" marah buk Mun lagi "Kalo sampe jam terakhir kalian udah pulang duluan, ibuk lapor sama pak Bahrun dan pak Pandi!!" Keduanya mengangguk dan kompak kembali duduk dibangku mereka yang ada didepan Sita.



 


~~~\*\*♡♡♡\*\*~~~


 



Sepulang sekolah, pak Bahrun yang namanya jadi bahan ledekan disekolah tadi tengah asyik memancing disungai. Buk Mun guru kelas ambar lewat dan menyapa pria tersebut.



"Buk khadijah mana pak?"



"Kepasar di desa seberang buk, udah pulang sekolah buk?"



"Udah pak, Ambar tadi disekolah anak baru udah dibikin nangis sama dia"



"Ouh iya ya buk, ntar dirumah saya marahi tu buk, mohon maaf ya buk"



"Nasehati aja ya pak, jangan di pukul"



"Iyaaa buk Mun"



Ambar yang sedang bersembunyi dibalik semak\-semak bersama Ismet langsung emosi mendengar laporan guru berbadan besar itu.



"Ah buk mun mah, udah dibilang si khaidir juga!"



"Ntar kalo kamu dimarah pak Bahrun kita hajar si Khaidir"



"Pasti dimarah lah"



"Sembunyiin aja rotannya mbar"

__ADS_1



"Udah tahu pak Bahrun kalo aku yang buang rotan dia, kemarin ibuk aku disuruh beli rotan tiga sama dia"



"Idih gak kebayang aku kalo dipake semua buat mukul kamu"



"Iya! Yaudah yuk cabut, sebelum dilihat pak Bahrun" ajak Ambar dengan temannya itu.



Keduanya pun kembali ke sekolah, siang bolong ambar dan teman\-temannya asyik bermain bola dilapangan. Meskipun jam 12 siang rasanya matahari tidak akan membakar kulit bocah\-bocah yang masih berusia rata\-rata 7\-8 tahun itu karena pohon\-pohon di desa Peringi hilir seperti melindungi mereka dari sengatan matahari. Nek Lasa baru pulang dari sawah menyapa anak\-anak tersebut



"Ujaang......." panggil wanita tua yang sudah bungkuk saat berjalan.



"Iya nek"



"Temani nenek lewat sungai dulu nak, nanti nenek kasi uang ya"



Yang dipanggil hanya Ujang, tapi semua datang mendekat karena mendengar perkataan nek Lasa tadi. Apalagi Ambar yang paling berani diantara semua teman\-temannya, dia sudah berdiri disamping nek Lasa dan menggenggam tangannya.



"Sama Ambar aja" ujarnya cengengesan.



"Eeh Ambar kan kemarin udah, Ujang aja tadi nenek kan panggil Ujang"



Ambar membelalakkan matanya pada Ujang, matanya seperti mengatakan: 'Awas kalo kamu terima, bisa mati kamu!'



"Sama Ambar aja nek" kata Ujang pasrah.



"Iya deh" jawab nek Lasa kemudian mengikuti Ambar yang menuntunnya berjalan.



Ambar menggandeng tangan nek Lasa untuk melewati sungai menuju kerumahnya, entah kenapa nek Lasa tidak pernah mau melewati sungai seorang diri saat jam 12 sampai jam 2 siang, meskipun banyak orang yang sedang memancing atau sekedar mencuci pakaian disepanjang sungai.



"Kok nenek takut terus sih nek lewat sini" tanya Ambar sambil berjalan pelan menyesuaikan langkahnya dengan nek Lasa.



"Iyaah... dulu orang tua nenek pernah cerita kalau anak\-anak lewat ditepi sungai siang bolong akan di culik sama penunggu sungai"



"Aah hahaha yang diculikkan anak\-anak, nenek..." Ambar menghentikan perkataannya. Hampir saja dia keceplosan mengatakan soal umur nek Lasa, karena selama ini Ambar selalu memuji nek Lasa dengan mengatakan 'muda dan cantik' ketika dia dan Ismet minta makan kerumah perempuan tua itu.



Sesampainya dirumah nek Lasa, Sita melihat anak laki\-laki yang membentaknya disekolah tadi, dia kemudian masuk kedalam dan mengintip dari jendela. Dilihatnya Ambar mengadahkan tangan seperti meminta sesuatu dengan neneknya tersebut setelah itu pergi.



 


~~~\*\*♡AmbarSita♡\*\*~~~ 


 



\*QS : Menurut kalian Ambar itu seperti apa? 👨‍🏫🎤



Khaidir : "Ambar itu \= Jahat"



Ana : "Suka malakin uang orang!"



Thalib: "Rakus!"



Abdul : "Tukang Ribut di kelas?"



Ujang : "Jahil orangnya"



Arul : "Ultrament!"



Ismet : "Udah lama saya kenal dia"



Pak Bahrun : "Ambar? Siapa tuh?"



Sita "Calon suami saya!"



Guru\-guru SDN 1 Peringi Hilir :


"Yaa... kira\-kira begitulah, hahaha baca saja kisahnya biar tau gimana Ambar itu!"


__ADS_1


![](contribute/fiction/64817/markdown/13ae2843/1570581118471.jpg)


__ADS_2