AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Aku Mengabulkannya


__ADS_3

Hari sabtu sekolah SMPN 1 Peringi beberapa menit lagi akan mengadakan perpisahan untuk murid-murid kelas tiga. Ujang meremas-remas jarinya yang basah karna keringat dingin. Ternyata kemarin saat Ambar menemui Sita di sungai indah tersebut, semua teman-teman Ambar mempunyai ide yang begitu buruk untuk membantu Ujang menyatakan perasaannya pada Ana. Ide buruk itu dicetuskan oleh Arul yang sebenarnya hanya ingin terlihat eksis didepan cewek-cewek kelas tiga.


"Kita nyanyi jang, lagu Sheila on 7 pemuja rahasia, biar Ana tahu perasaan kamu buat dia"


"Ide bagus tuh, aku main gitar" Ismet langsung mengajukan posisinya.


"Aku juga gitar" kata Khaidir.


"Aku juga gitar" Thalib pun memilih posisi yang sama.


"Kalo kalian semua gitar, trus yang main drum sama bass nya siapa!" umpat Arul kesal.


"Yaudah aku Pionika kalo gitu" dengan polosnya Khaidir langsung mengganti posisinya.


Tangan Ismet melayang mulus kekepala Khaidir "Kamu pikir kita lagi ambil nilai kesenian!"


"Ya trus apa dong? Seruling?"


"Akustik aja, biar Ujang yang nyanyi. Kan dia yang mau ungkapin perasaannya sama Ana" usul Thalib memecah kebuntuan teman-temannya yang hanya bisa bermain gitar.


"Aku bisa kok main drum, kenapa kalian gak nawari? Yudi juga bisa main bass, kenapa kalian gak ngajak kami?!" tanya Abdul dengan wajah cemberut.


"Memangnya bisa Abdul dan Yudi ikut berpartisipasi meski bukan murid disekolah kita?"


"Mungkin bisa" kata Khaidir sok meyakinkan.


"Yaudah kasi tahu Rizka Dir, kalo kita mau ngisi acara diperpisahan"


Selesai sholat jumat Khadir dan Thalib dengan percaya diri menemui Rizka si panitia acara dan membuat laporan jika Ujang akan manggung menyanyikan lagu Sheila on 7. Tanpa latihan, tanpa persiapan, hanya bermodal nekat dan ide mendadak Arul yang otaknya hanya setengah, semua setuju dan percaya diri untuk tampil.


Naasnya di hari H si pembuat ide yang duluan gugup seketika saat melihat banyaknya tamu undangan yang duduk ditengah lapangan. Ismet, Khaidir, dan Thalib pun juga sama, perasaan mereka tidak tenang dan jantung sudah berdetak tak berirama.


"Kenapa kalian?!" tanya Ambar penasaran melihat semua raut wajah temannya yang pucat.


"Mbar... Doakan aku ya, aku mau nyanyi untuk Ana" kata Ujang dengan percaya diri.


Ambar membelalakkan matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan cowok tinggi kurus barusan.


"Nyanyi apaan? Jailangkung ya? Jangan! Nanti kamu dilempar sepatu!"


"Bukan Mbar! Lagu Sheila on 7 pemuja rahasia"


"Ha? Ouh ya udah, semangat deh. Semoga berhasil ya" kata Ambar tidak mau meledek lagi karna melihat Sita yang baru saja lewat bersama Alif.


Saat nama Ujang disebutkan, semua teman-temannya saling dorong-dorongan untuk naik keatas panggung. Padahal Ujang begitu semangat, tekadnya bulat untuk menyatakan perasaannya pada Ana. Arul dan Ismet lari ke toilet sekolah saat Ujang memaksanya naik keatas panggung. Hanya Abdul dan Yudi yang begitu percaya diri untuk mengiringi Ujang bernyanyi.


"Yaudah aku main gitarnya" kata Ambar menawarkan diri.


Semua bernafas lega, syukurlah formasinya masih lengkap. Mereka akhirnya naik keatas panggung. Ambar bisa melihat kaki Ujang sudah bergetar berdiri disampingnya. Ambar pikir harusnya dia juga bisa seperti Ujang yang mampu dan berjuang untuk menyampaikan perasaan cintanya meski tulang-tulang kaki menggigil sekalipun!


"Baiklah... Lagu yang akan kami bawakan ini khusus saya berikan kepada pujaan hati saya, setelah ini saya akan menyebutkan namanya jadi...." Ujang terdiam, dia melirik kearah Ambar yang bengong menatapnya.


"Udah nyanyi aja, banyak omong kamu!" teriak Abdul yang sudah tidak sabar bermain drum.


Na, Na, Na, Na, Na, Na, Na, ...(4x).


Baru lirik pertama suara Ujang sudah terdengar false, dan semua penonton mulai menyengir mendengarnya. Untung saja Yudi, Abdul dan Ambar memang bisa memainkan alat musik yang mereka pegang saat ini.


Kuawali hariku dengan mendoakanmu,


Agar kau selalu sihat dan bahagia disana,


Sebelum kau melupakanku lebih jauh,


Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh,


Ku tak pernah berharap kau kanmerindukan keberadaanku,


Yang menyedihkan ini,


Ku hanya ingin bila kau melihatku,


Kapanpun, dimanapun, hatimukan berkata seperti ini,


Pria inilah yang jatuh hati padamu,


Pria inilah yang kan slalu memujamu,


Aha', yeah, ...(2x)


Begitu para rapper coba menghiburku,


Semua penonton tertawa terbahak-bahak melihat aksi Ujang. Entah kenapa Ujang bisa begitu percaya diri untuk terus bernyanyi meskipun semua mentertawai suara cemprengnya. Saat dibagian reff mulut Ujang tidak bisa bergerak, tubuhnya serasa lemah melihat Ana yang duduk dibangku penonton ikut mentertawai Ujang. Tangan gadis itu digandeng mesra oleh seorang cowok yang gantengnya melebihi Ujang sendiri.

__ADS_1


Ambar juga melihat hal itu karna dari tadi matanya juga fokus memperhatikan Sita yang duduk disamping Alif. Padahal cowok tinggi itu duduk begitu menempel pada Sita tapi mental patah hati Ambar memang lebih kuat dari pada Ujang.


Musik terus berjalan tapi Ujang tidak kunjung melanjutkan nyanyiannya. Ambar langsung mengambil alih mic dan melanjutkan peforme mereka. Semua yang tertawa terbahak-bahak hening seketika mendengar suara Ambar yang tak kalah merdunya dari suara si penyanyi asli.


Mungkin kau takkan pernah tahu


Betapa mudahnya kau untuk dikagumi


Mungkin kau takkan pernah sadar


Betapa mudahnya kau untuk dicintai


Akulah orang yang akan slalu memujamu


Akulah orang yang akan selalu mengintaimu


Ambar menyelesaikannya dengan cukup apik, dia juga menghayati setiap kata yang dinyanyikan. Semua memberi tepuk tangan untuk penampilan dadakan mereka. Untung saja Ambar juga salah satu orang yang menyukai lagu tersebut, bahkan dia pernah membuat penggalan lirik lagu itu pada postingan di media sosialnya.


Tujuan lagunya untuk Ana, tapi justru Sita yang baper. Karna yang melanjutkan nyanyian saat hati Ujang patah jadi dua itu adalah Ambar. Sita tersipu malu dibangkunya. Setelah itu semua penonton bersorak memaksa Ujang menyebutkan nama gadis yang dijanjikannya tadi.


"GAK JADI!!" jawab Ujang tegas dan turun dari panggung.


Semua penonton masih tertawa dengan tingkah Ujang yang sungguh memalukan. Keempat teman-teman mereka menepuk-nepuk pundak Ambar bangga dan mengabaikan Ujang yang murung dibelakang panggung.


"Keren kamu mbar, untung ada kamu" ujar semuanya kompak.


"DIAM KALIAN!!" bentak Ujang kuat, dia masih emosi dengan hal yang dilihatnya tadi.


Setelah acara perpisahan Khaidir dan Thalib langsung mengajak teman-temannya menemui Sita yang sedang berjalan bersama Alif.


"Sitaaa...." Panggil kedua makhluk itu dengan berani, mereka lupa jika Alif tidak suka jika ada yang mendekati Sita selama ini.


Awalnya Sita ogah untuk berhenti, tapi saat melihat Ambar yang berjalan dibelakang Yudi dan Abdul Sita langsung meminta Alif untuk mau menemui teman-teman SD mereka dulu.


"Sita jadi juga ya pindah ke luar negrinya?" tanya Abdul yang mewakili rasa penasaran semua cowok-cowok tersebut, termasuk Ambar juga.


"Enggak" jawab sita sambil tersenyum "Aku mengabulkannya" kata Sita lagi. Maksud perkataan Sita ditujukan pada Ambar, tapi semua bersorak bahagia mengira jika Sita mengabulkan permintaan mereka. Ambar ikut tersenyum sama dengan teman-temannya, hanya saja dia tidak berteriak-teriak bahagia seperti cowok-cowok alay itu.


"Habis ini Sita mau kemana?" tanya Ismet.


Namun Alif langsung mengajak gadisnya pergi sebelum dia menjawab pertanyaan Ismet. Sita pun menuruti ajakan Alif, karna Sita tidak pernah nyaman berada lebih lama dengan teman-teman Ambar selama ini.


"Asem itu tiang listrik!! Huuu ****** kamu sana, tak sumpahi disengat petir kalo hujan!!" umpat semuanya dengan kesal.


 


~**♡AmbarSita♡**~


 


Setelah masuk SMA, Sita jadi tidak bisa lagi menunggu Ambar untuk berangkat kesekolah, karna jalan dan tujuan mereka sudah berbeda. Selain itu jam masuk SMP pukul 7.45 dan SMA 7.30.


Gadis itu jadi harus berangkat bersama Alif setiap harinya. Tapi walaupun begitu kebiasaannya mengintai Ambar tidak akan pernah hilang. Sita terus menunggu cowok itu setelah pulang sekolah.


Siang ini, Sita dengan sabar menunggu Ambar lewat meski perutnya sudah keroncongan sekalipun. Orang yang di tunggu-tunggu Sita dengan santainya berjalan sambil mengunyah beng-beng yang ada ditangannya. Ambar berusaha menutupi rasa bahagianya saat melihat Sita dari kejauhan. Saat akan mendekati Sita, ambar tetap berjalan lurus kedepan.


"Ambaaaaar" gumam Sita dengan pelan. Gadis itu syok melihat Ambar ternyata masih mengacuhkannya meski dirinya sudah mengabulkan keinginan Ambar. Hati Sita hancur, sehancur-hancurnya. Mau menangis dan menyesal kenapa dia mau di bohongi oleh Ambar.


Entah bagaimana tiba-tiba cowok ganteng itu sudah berdiri saja tepat dibelakang Sita. Tangannya dengan cepat membuka tas sekolah Sita dan memasukkan sampah plastik beng-beng yang dimakannya tadi. Sita terkejut bukan main. Hatinya yang sakit kini berlipat ganda menjadi kesal juga.


"Iiiihhhh.... Jahat banget kamu!" geram Sita dan mengeluarkan sampah yang dimasukkan Ambar tadi.


"Hahahaha, Loh dimarah pak Handsome aku gak tanggung jawab ya! Disini setiap warga yang kedapatan membuang sampah sembarangan bakal dihukum. Kalo cewek wajib nikah sama pak Handsome. Hayooo kamu bakal saingan deh sama buk Eli!"


Sita tetap cemberut, dia kemudian merapikan rambutnya dan menatap wajah Ambar. Saat matanya dan mata Ambar saling bertemu justru Sita nya yang gugup dan tersipu malu. Ambar ikut tersenyum melihat raut wajah gadis yang mengeluarkan rona merah dipipinya itu.


"Pengen ya dinikahi pak Handsome?" goda Ambar lagi. Sita makin cemberut dan mencubit lengan Ambar "Aduuuuh.... mak tiri banget sih kamu, kemarin aku di tinju, sekarang di cubit, untung kamu cewek kalo enggak____"


"Kalo enggak kenapa?" tanya Sita cepat yang balik menantang Ambar.


"Kalo gak ya udah aku cium!" Sita yang tadinya berusaha memasang wajah jutek langsung tersenyum sumringah dengan perkataan Ambar.


"Aku cium pake tinju maksudnya!"


"Aku lapot komnas perempuan kamu ntar"


"Bodo amat! Aku orang yang menganut kesetaraan gender, hahahaha. Aduh lapar kalo ketawa terus, udah ya, byeee....."


Sita langsung menarik tangan Ambar cepat "Nanti kita ke sungai itu lagi yuk" ajak Sita dengan lembut, berusaha merayu Ambar untuk mau memberi waktunya pada Sita hari ini.


"Nanti gak bisa, aku mau main bola sama sama manusia-manusia berotak saparuh itu" ujar Ambar dan berlalu meninggalkan Sita. Dari dulu dan sampai kapan pun Ambar memang tidak bisa dipaksa jika masalah waktu yang dimilikinya.


 

__ADS_1


~**♡AmbarSita♡**~


 


Setiap pulang sekolah Sita terus menunggu Ambar, meski terkadang dia menunggu hanya untuk sekedar menyapa Ambar saja setelah itu masuk kedalam rumah. Terdengar seperti kegiatan yang tidak bermakna. Tapi yaaa begitulah, hal yang tidak penting dilakukan! Akan tetap dikerjakan bagi orang yang sedang terkena racunnya cinta.


Hubungan Ambar dan Sita kembali dekat bahkan sesekali keduanya menghabiskan waktu yang cukup lama ditepi sungai indah yang kini sudah mereka klaim menjadi milik mereka berdua.


"Pulang yuk" ajak Ambar saat menatap langit yang mulai berubah warna menjadi jingga.


"Besok minggu kita ke Mandau gimana, katanya ada Mall baru"


"Aku emang ke Mandau sih besok, tapi bareng Ismet sama Arul buat main futsal. Memangnya kamu mau ikut?"


Sita hanya tersenyum dengan ajakan Ambar. Cowok itupun turut menyesal sudah mengajak Sita pergi. Dalam pikiran Ambar tetap sama, Sita selalu menolak untuk mau menunjukkan kedekatan mereka karna status ekonominya. Ambar berusaha tersenyum, tapi senyuman yang begitu terpaksa, lesung pipinya yang manis tidak terlihat sama sekali.


"Yaudah yuk pulang" ajak Ambar lagi untuk melepaskan rasa gundahnya.


Sita mengikuti langkah Ambar, saat sudah dijalanan yang cukup ramai Ambar akan mundur beberapa langkah membiarkan Sita berjalan duluan. Didepan rumah Sita ternyata Alif sudah dari tadi menunggunya.


"Aku baru aja mau pulang" kata Alif sumringah saat melihat Sita. Gadis cantik itu tersenyum mendekati Alif yang duduk diatas sepeda motor dan mengajaknya kembali masuk kedalam rumah.


Sedangkan Ambar, padahal hatinya sakit setiap melihat Alif bisa terang-terangan menjalin hubungan dengan Sita. Ambar merasa seperti cowok bodoh saat ini.


"Aduuh mbaaar! Ya wajar sih dia bisa terang-terangan ngobrol ditempat keramian, karna si tiang listrik itu kan pacarnya! Lah kamu? Buat ngakuin kamu temannya aja dia malu mbar. Ya Tuhan nasib pak Bahrun malang banget sih!" gumam Ambar pada kerupuk buk Eli yang tergantung-gantung didepan warungnya.


Kembaran buk Mun itu bengong melihat Ambar mengoceh dengan dagangannya. Buk Eli keluar dari warung dan meletakkan tangannya keatas kening Ambar.


"Emang panas sih" ujar buk Eli yang masih kebingungan dengan sikap Ambar.


"APA!!! Ambil kesempatan kan buat megang-megang Ambar disaat hati Ambar patah gini!" bentak Ambar melampiaskan kekeselannya pada wanita tersebut.


"Eh asem!! Kamu kenapa datang-datang ngomong gak jelas sama kerupuk, kenapa pak Bahrun malang? Ayah kamu itu emang udah malang dari 15 tahun yang lalu semenjak kamu dilahirkan kemalangan selalu menyelimuti hidup dia, tau gak!"


"Berisik! Ambar lapar nih, ada makanan gak?"


"Makanan? Mau mie goreng, ibuk buat mie goreng tuh, ambil sendiri"


"Bungkus boleh? Bentar lagi magrib, ntar pak Bahrun marahin Ambar kalo belum pulang"


Buk Eli memasang wajah cemberut, sudah syukur ditawari malah ngerepotin orang yang menawari. Mungkin itu yang ada dipikiran buk Eli, tapi walaupun cemberut dia tetap melenggang ke dalam rumahnya dan menuruti permintaan Ambar.


"Makasih ya buk" kata Ambar yang tidak bersemangat seperti biasanya saat diberi makanan.


"Kenapa sih kamu, habis dimarahi pak Bahrun ya? Makanya sedih gitu?"


"Kalo dimarahi pak Bahrun Ambar nggak akan berekspresi buk. Soalnya udah tiap hari lelaki tua bangka itu marahin Ambar. Udah kaya makanan pokok dalam kehidupan Ambar"


"Hahaha nah tuh tau tapi masih aja nyari ribut sama ayah kamu itu!"


"Ayah? Engak tuh! Buk Khadijah pernah cerita, dulunya pak Bahrun itu cuma numpang dirumah buk Khadijah. Ibuknya Ambar kasian, pak Bahrun gak punya keluarga di dunia ini makanya ditampung. Eeh udah ditampung malah ngajakin buk Khadijah berkembang biak"


"Siapa yang berkembang biak?" tanya pak Bahrun yang tiba-tiba nongol diwarung buk Eli.


"Bapak dibilang ambar berkembang biak pak!" jawab buk Eli memprovokasi.


"Saya pun kalo tau benihnya jadi ini, mungkin udah saya sirami pestisida dari awal buk!" Ambar dan buk Eli langsung menahan tawa mereka dengan jawaban polos pak Bahrun.


"Buk Allah itu adil ya buk, Ambar ini sholeh, ganteng, pintar, tapi dititipin sama orangtua miskin biar Ambar gak jumawa hidupnya buk. Coba kalo Ambar dititipi sama pak Awan atau pak Adam, aduuuh betapa sempurnanya hidup Ambar ini buk"


"Iya Allah adilnya ke kamu, tapi ke bapak enggak! Udah jelas bapak ini miskin, susah dan jantungan, malah dikasi anak kayak kamu, gimana gak sial itu namanya!"


Buk Eli tertawa cekikikan mendengar perdebatan antara ayah dan anak tersebut. Ambar menelan ludah, mau melawan perkataan pak Bahrun lagi tapi dia yakin ayahnya itu tidak akan pernah mau kalah.


Kalau pun Ambar berhasil membungkam mulut ayahnya. Maka pak Bahrun akan menggunakan sifat otoriternya sebagai orang tua. Rotan, kayu, dan ikat pinggang akan melayang demi melampiaskan kekalahannya dari Ambar!


"Pulang pak! Mau magrib ini, masih aja diwarung buk Eli, bapak mau godain buk Eli ya? emang siap saingan sama pak Handsome?" tanya Embar sinis dan kabur pulang kerumahnya.


"Astagfirullah! Seandainya nabi Ibrahim jadi menyembelih anaknya Ismail waktu itu. Mungkin sekarang saya bisa sembelih dia ya buk!!"


"Hahaha.... Astaga gak kebayang saya pak" tawa buk Eli makin pecah mendengar keluhan pak Bahrun.


"Tadi dia bawa bungkusan, udah di bayar buk?"


"Itu mie goreng yang saya kasi pak"


"Oh makasih ya buk. Apa Ambar ada catatan bon buk?"


Buk Eli langsung melihat buku kas warungnya.


"Ada nih pak, beng-beng 4"


Pak Bahrun meronggoh saku celananya dan membayar hutang Ambar setelah itu berlalu pulang.

__ADS_1


Note : Kebiasaan Ambar adalah selalu berbelanja diwarung buk Eli dengan mengatakan 'Buk pak Bahrun suruh ambil beng-beng dulu, ntar dia yang bayar' padahal ayahnya tidak pernah mengatakan hal itu sama sekali. Nanti saat ayahnya datang kewarung, maka dengan terpaksa pak Bahrun membayarkan hutang Ambar tersebut. 🤦‍♂️



__ADS_2