AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Penampung Makanan


__ADS_3

 


~♡AmbarSita♡~


 


Keesokannya ambar memang datang lagi kerumah Sita. Rasanya Ambar memang belum memiliki rasa malu saat itu. Hubungannya dengan Sita pun semakin dekat, Sita sudah berani bicara dengan Ambar dan selalu meminta Ambar untuk main kerumahnya dan pastinya harus di iming-imingi makanan dulu.


Pak Adam dan buk Ita sampe bingung stok cemilan mereka sering habis dengan cepat. Keduanya tidak tahu jika anak mereka lah yang diam-diam menyogok si bocah nakal agar mau bermain dengannya.


"Mau ke Mandau lagi?" tanya pak Adam yang melihat istrinya sudah berdandan dengan rapi.


"Iyaah, ibuk minta dibeliin biskuit lagi loh. Kemarin rasanya Ita beli dua kotak besar sekalian buat stok. Eeh udah habis aja, apa ibuk terlalu suka ya sampe habis dalam sehari biskuitnya" ujar buk Ita kebingungan.


Dan.... Nek Lasa yang tidak tahu apa-apa menjadi korbannya.


 


~♡AmbarSita♡~


Ambar dengan teman-temannya tengah asyik berenang gratis di sungai mereka yang jernih. Hari ini dalam formasi yang lengkap, semua teman-teman sekolahnya yang dulu hadir. Meskipun mereka tidak satu sekolah lagi. Khaidir, Thalib, ataupun Ujang juga masih menjadi korban bullyan Ambar. Namun anehnya tiga bocah itu tetap gak mau menjauh. Mungkin begitulah anak laki-laki, mainnya jarang pake perasaan 😝


"Kalian gimana di SD dekat sana, kan jauh berangkat sekolahnya" tanya Thalib.


"Iya, aku kadang jadi malas berangkat, capek! Dekat aja aku malas apalagi di pindahin ke tempat yang jauh" keluh Ismet dengan sekolah barunya.


"Tapi sekolah disana enak, gurunya jarang masuk" Ambar masih berusaha membanggakan sekolahnya yang sekarang.


"Kalo SMP kalian mau didesa itu juga?" tanya Khaidir.


"Kami kan tinggal kelas, enggak masuk SMP Hahaha" jawab Ambar dengan bahagianya.


"Bentar lagi kami mau ujian Nasional. Padahal aku gak mau masuk SMP"


"Kenapa?" tanya semua teman-temannya pada Khaidir.


"Soalnya masih ada Alif"


"Makanya aku tinggal kelas, biar gak sekelas dengan si tiang listrik. Kemarin aku minta kue sama Sita di hina-hina terus sama si tiang listrik. Semantang pak Bahrun miskin, padahal kan Sita yang nawari makanya aku datang kerumah dia"


"Ah aku cemburu tahu gak, Sita baik banget sama Alif" Thalib mulai curhat. Soalnya dia sudah mengerti soal cinta akhir-akhir ini.


"Kamu naksir Sita ya?" tanya Abdul cepat "aku juga" sambungnya lagi.


"Dia pacarnya Alif!" sahut Khaidir "soalnya mereka itu kemana-mana berdua.

__ADS_1


"Sita juga maunya ngomong sama Alif aja, senyumnya sama Alif, baiknya sama Alif. Kita mana bisa ngalahin Alif!" ujar Khaidir yang bahkan sudah mengerti problema dalam percintaan.


"Tapi Sita juga baik sama aku, tiap hari disuruh datang kerumah dia terus. Berarti aku pacar Sita juga dong" kata Ambar dengan wajah bangganya.


Semua teman-temannya langsung memandangi Ambar dengan ekspresi tidak percaya.


"Pasti kamu yang minta" ledek Abdul.


"Pasti kamu cari makanan kesana" ledek Ismet.


"Pasti kamu minta cari makanan dirumah sita" ledek Khaidir.


Tangan Ambar langsung melayang dikepala Khaidir "Giliran aku baru dipukul!!" rengek Khaidir kesakitan.


"Iya sih, dia nyuruh main kerumahnya karna dia punya makanan"


"Naaah kan!!!" teriak semua temannya kompak.


"Sita cuma kasihan sama kamu, itu bukan cinta!" ujar Thalib bersemangat.


"Mungkin karna pak Bahrun miskin kali mbar. Sita jadi menyumbangkan semua makanannya untuk kamu, makanya kamu jangan kaya orang kelaparan!!" nasihat Ismet yang sungguh menyakitkan.


"Padahal aku gak minta tuh. Dia aja yang tiba-tiba nongol pas aku lewat, trus bilang 'dirumah aku ada makanan' ya aku kan langsung ngikut dari belakang"


"Dibilang gitu kamu langsung ngikut? Udah kaya anjing peliharaan Sita aja kamu!" bentak Ismet lagi.


"Kasian kamu mbar, Sita gak akan mungkin mau sama orang kaya kamu" kata Khaidir mengasihi.


Ambar langsung terdiam mendengar perkataan Khaidir kemudian bocah itu tertawa tidak jelas dalam hal apa.


  ~♡AmbarSita♡~


Saat pulang kerumahnya, Ambar langsung mengambil buku gambar dan pensilnya. Dia kembali melukis, tidak jelas yang digambarnya hanya apa terlintas dibenaknya saja.


"Kenapa kamu? Kalo kamu diam, bapak jadi takut tahu gak" ledek pak Bahrun sambil duduk disamping anaknya.


"Pak kalo ada cewek yang suka ngasih Ambar kue, apa karna bapak miskin ya pak?"


Pak bahrun merapatkan gigi mendengar pertanyaan Ambar yang salah pengucapan.


"Cewek bodoh mana yang mau baik hati ngasi kamu kue, paling kamu palakin!"


"Ada pak, tetangga kita. Dia suka ngasi ambar kue, kata teman-teman Ambar mungkin karna bapak miskin!"


Sekali lagi pak Bahrun sampai memicingkan mata mendengar kata-kata yang kembali diucapkan anaknya.

__ADS_1


"Lagian dia ngasi kamu kue bukan karna bapak yang miskin. Emang kamu nya terlihat rakus, kan perut kamu penampungan! Jadi karna dia udah kenyang, makanannya dikasi deh sama kamu!"


"Jadi Ambar penampungan ya pak?" Pak Bahrun mantap menganggukkan kepalanya.


"Ah ambar pikir karna dia suka sama Ambar pak!"


"Sekolah aja tinggal mulu, mana ada cewek yang mau sama kamu! Tinggal sekali lagi jadi satu kelas kamu sama Hening!"


"Enggak!! Kan sekolah kami beda pak, jadi kalo Ambar tinggal kelas pun kami gak akan satu kelas tuh!"


Tangan pak Bahrun mantap melesat kuat kepundak anaknya "Oh jadi ada niat kamu tinggal kelas sekali lagi?!" tanya pak Bahrun dengan tegas.


"Boleh emang nya pak?" Ambar malah balik nanya sambil tersenyum cengengesan.


"Kalo tinggal sekali lagi bapak kembalikan kamu sama Tuhan!!"


"Gak apa-apa deh pak. Soalnya Ambar emang mau nuntut Tuhan, masa Ambar dikasih bapak yang miskin!" balas Ambar dan langsung kabur dengan buku gambarnya.


 


**~AmbarSita~**


 


Sepulang sekolah Sita tidak langsung masuk kedalam rumahnya. Gadis itu berdiri didepan halaman untuk menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan si bocah nakal. Soalnya kalo Ambar sudah pergi bermain dengan teman-temannya bisa lama. Ambar suka lupa untuk pulang. Karena itu sebelum Ambar hilang Sita berusaha mencegatnya. Beberapa menit kemudian orang yang ditunggu Sita pun lewat.


"Ambar" panggil Sita dengan cepat.


Anak laki-laki itu menoleh, menatap Sita cukup lama kemudian tersenyum.


"Kenapa?" tanya Ambar menemuinya.


"Ibuk aku kemarin udah beli lagi biskuitnya"


"Waah banyak lagi dong biskuit kamu"


"Ayo kerumah" ajak Sita langsung.


Ambar hanya diam memantung memandangi Sita yang sudah berjalan duluan. Gadis itu sebenarnya tidak betah berlama-lama diluar, tapi demi menunggu Ambar dia terpaksa melakukannya.


"Kenapa?" tanya Sita kembali menoleh kebelakang.


"Sitaa.... Aku suka sama kamu, tapi bukan sebagai penampung makanan sumbangan kamu" kata Ambar sambil tersenyum.


Jantung Sita langsung tersentak kaget mendengar pengakuan Ambar barusan. Dia jadi tidak berani menatap mata sorot Ambar.

__ADS_1


"Udah dulu ya Ismet nungguin aku, tadi katanya orang-orang lagi bangun balai desa" pamit Ambar kemudian pergi meninggalkan Sita.



__ADS_2