AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
28. Ambar Menghilang


__ADS_3

Sebelum magrib Ambar dan semua teman-temannya membubarkan diri pulang kerumah masing-masing. Saat dijalan menuju kerumahnya Ambar berpapasan dengan Alif dan Sita, keduanya tengah asyik mengobrol.


"Baru pulang kamu tiang listrik?" sapa Ambar dengan orang yang berdiri disamping Sita tersebut. Alif hanya diam, Sita pun demikian.


"Sombong banget! baru jadi tiang listrik aja belagu, apalagi kalau jadi tower!" lanjut Ambar lagi meledek Alif.


Alif mulai terpancing emosi, tapi Sita langsung menarik tangan temannya sebelum baku hantam diantara keduanya kembali terjadi.


"Udah gak usah didengerin" kata Sita pelan.


Meskipun pelan tapi telinga Ambar bisa mendengar apa yang dikatakan oleh gadis tersebut. Telinganya dari dulu memang nyaring, Ambar kemudian tersenyum.


"Sita besok aku makan dirumah kamu ya. Suruh ibuk kamu masak ayam balado lagi" kata Ambar berusaha untuk pamer dengan Alif jika dia dan Sita itu juga teman akrab. Bahkan dia sering diajak Sita makan dirumahnya.


Namun sayang niat pamer Ambar tidak direspon baik oleh Sita. Gadis itu hanya diam, dia juga tidak menatap Ambar. Keberaniannya mengobrol dan memandangi Ambar seperti beberapa hari yang lalu hilang seketika.


"Jangan keseringan ngasi makan orang miskin kaya dia!" ujar Alif ketus. Entah kenapa Sita justru merespon perkataan Alif dengan anggukan kepala.


"Oh Hahaahah" Ambar tertawa, tidak jelas karna hal apa. Kemudian pergi meninggalkan kedua orang tersebut.


"Kamu gak boleh ngomong gitu, kan aku udah bilang Ambar gak usah dilawan!" bentak Sita dengan Alif saat Ambar sudah pergi. Alif hanya bisa diam, rasanya baru kali ini dia dimarahi oleh Sita.


  ~♡AmnarSita♡~

__ADS_1


Sepulang sekolah Sita kembali menunggu Ambar dipinggir jalan rumah mereka. Kali ini Sita berpikir dia tidak perlu berbohong untuk mengajak Ambar kerumahnya karna kemarin Ambar sendiri yang minta dibuatkan ayam balado dan Sita sudah menyuruh ibunya memasakannya. Saat melihat Ambar pulang Sita langsung memanggilnya.


"Ambar.... Ibuk aku udah masakin yang kamu minta kemarin" kata Sita sambil berjalan mendekatinya.


"Haaa? Yang mana nih?" tanya Ambar pura-pura lupa.


"Ayam balado, kan kemarin sore kamu minta itu"


"Oh itu, bener dibuatin? Waah buk Ita baik banget sih, tunggu ya aku ganti baju dulu" ujar Ambar cepat dan berlari pulang kerumahnya.


Biasanya Sita juga ikutan pulang untuk mengganti pakaiannnya setelah itu menunggu Ambar diruang tamu. Tapi kali ini tidak, Sita memang menunggu Ambar ditempat mereka bicara tadi. Soalnya Sita ingin meminta maaf atas sikapnya yang kemarin sore.


Entah kenapa Ambar datang cukup lama kali ini. Sita melihat jam tangannya, tidak terasa sudah hampir ½ jam gadis itu berdiri dipinggir jalan. Buk Ita pun memanggil Sita untuk masuk kedalam rumah. Tapi Sita masih ingin menunggu, Sita begitu menyesali sikapnya kemarin, berkali-kali dia mengabaikan Ambar setiap mereka didekat Alif.


"Kenapa kamu ngos-ngosan?" tanya Ismet heran.


"Haaah.... Aku mutar jalan noh, capek banget, karna Sita!!"


"Emangnya kenapa Sita, kamu palakin lagi?"


"Enggak!! Aku muak, sementang pak Bahrun miskin dia jadi ketagihan ngasi aku makan. Padahal pacarnya udah ngelarang!"


"Halaah lagkan pasti kamu yang minta tuh, gak mungkin Sita nawarin terus-terusan gitu!" ujar Abdul meledek.

__ADS_1


"Iya juga sih hahaha" kata Ambar lagi sambil mentertawai kebodohannya sendiri.


Sita masih awet menunggu, sesekali dia berjalan kerumahnya Ambar untuk melihat dari kejauhan. Tidak ada orang sama sekali didepan rumah kayu tersebut. Buk Khadijah dan suaminya sudah pasti disawah saat ini. Hening juga sedang bermain dirumah Suci, adiknya Khaidir.


Tiba-tiba Sita menangis dengan sendirinya, kecewa, sekaligus marah ternyata dia dibohongi oleh Ambar. Sampai kapan pun Sita menunggu yang namanya Ambar tidak akan pernah muncul.


Setelah kejadian itu, Ambar kembali menghilang dari hadapan Sita. Kali ini memang Ambar yang sengaja tidak memperlihatkan dirinya. Ambar berusaha untuk terus menghindar, bahkan dia rela memutar setiap jalan yang biasa dilaluinya agar tidak bertemu dengan gadis cantik itu. Kesal soalnya, malu juga, dikatain miskin itu tidak pernah terdengar menyenangkan!


  ~♡AmbarSita♡~


Sudah hampir dua minggu, suara Ambar dan wajahnya begitu dirindukan oleh Sita. Gadis itu duduk diteras rumahnya sambil menunggu, berharap semoga saja orang yang paling dirindunya itu bisa muncul meskipun hanya sekedar lewat.


"Heee... Kenapa kamu duduk diluar, ibuk kalo liat kamu duduk lama di depan sini jadi agak gimana gituuu.... kenapa? nungguin Alif?" tanya buk Ita sambil ikut duduk disamping putrinya.


"Ibuk ada liat Ambar gak? Udah dua minggu Ambar menghilang, kaya dulu lagi"


"Ambar? Emang kenapa sih, hobbi banget kamu liatin dia. Ambar masih ada, main sama teman-temannya di balai desa. Kan sudah ibuk bilang makanya kamu itu keluar! Ikut gabung sama anak-anak disini. Ini enggak kerjaan kamu didalam rumaaaaaah mulu, kalo ada Alif baru deh keluar itu pun cuma didepan teras. Tahu gak sih, bahkan warga disini masih banyak yang gak tahu anak gadis ibuk yang mana karena....."


Sita langsung kabur meninggalkan ibunya. Hatinya sedang risau memikirkan Ambar tapi buk Ita malah nyinyirin tentang sosialisasinya.


"Apa harus kebalai desa ya?" gumam Sita pelan sambil duduk diatas kasur. Memperhatikan lukisan yang masih tertempel dengan baik didinding kamarnya.


__ADS_1


__ADS_2