AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Turut Berduka Cita


__ADS_3

Selesai ujian Ambar memutuskan kembali ikut dengan abangnya Arul untuk pergi mendaki salah satu gunung yang cukup terkenal di Indonesia bagi pecandu alam. Dua temannya Arul dan Ismet menolak ikut, karna keduanya cukup pemalas bergerak dan lebih suka liburan yang santai alias tidur diatas kasur. Ambar itu berbeda, dia begitu menyukai tantangan dan termasuk salah satu manusia yang ingin bebas sambil menikmati alam.


"Ambar mana?" tanya Khadir yang baru datang ke dibalai desa setelah liburan di Mandau.


"Pergi sama bang Jefri" jawab Arul tidak bersemangat.


"Pantesan sepi, Haaah, Jantung aku dag dig dug nunggu pengumuman kelulusan nih"


Tiba-tiba Thalib dengan nafas ngos-ngosan menemui teman-temannya, semua kompak memandanginya heran "Kenapa kamu?" tanya Abdul kebingungan melihat teman kemayunya itu.


"Nek Lasa meninggal" jawab Thalib dan memegang dadanya yang sesak. Semua kompak berdiri dari duduk mereka yang tadinya begitu santai.


"Innalililahi wa'inna ilahi roji'un, serius kamu?" tanya Abdul tidak percaya.


"Serius lah! Masa meninggal dijadiin becandaan! Barusan meninggalnya pas Azan Ashar"


"YaAllah, bukannya nek Lasa di Malaysia sama Sita?" kata Arul dan Ismet bersamaan.


"Udah pulang dia empat hari yang lalu sama adiknya buk Ita, pak Alip! mereka pulang duluan karna pak Alip kan harus kerja lagi"


Semua cowok-cowok itu langsung pergi kerumah buk Ita yang begitu rami oleh kerabat dan warga Peringi. Jenazah perempuan yang menutup usianya pada umur 90 tahun itu akan dimakamkan besok siang sambil menunggu kepulangan anak pertamanya yang masih diluar negri.


Keesokannya sehabis sholat zuhur, semua mengantarkan nek Lasa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Hampir semua menangis dan kehilangan sosok wanita tua yang begitu ramah dan mudah tersenyum tersebut. Apalagi teman-teman SD Sita yang begitu mengenal baik nek Lasa, dulu sebelum buk Ita pulang, rumah nek Lasa menjadi salah satu markas tempat mereka bermain.


Ujang bahkan sesegukan menangis melepaskan jenazah nek Lasa masuk kedalam makam, paman Sita yang paling manja dengan ibunya juga sampai histeris melihat ibunya dikuburkan. Alif memeluk Sita yang ikut menangis disamping pamannya.


"Sabar, Kita semua juga bakal menyusul kesana" ujar Alif pelan.


Hanya Ambar, anak yang dulunya paling sering minta uang dengan nek Lasa tidak hadir, karna posisinya saat ini masih diatas gunung menikmati alam yang tenang dan indah. Seandainya Ambar tahu wanita tua yang selalu digandengnya melewati sungai saat siang hari itu sudah tiada, mungkin tangis Ambar juga histeris sama dengan anak laki-laki nek Lasa. Sita sempat berpikir marah Ambar terhadapnya begitu keterlaluan bahkan saat neneknya sudah meninggal pun cowok itu tidak mau datang, karna Sita tahu Ambar dan neneknya begitu dekat.


 



 



Empat hari setelah kepergian nek Lasa, Ambar baru kembali dari liburnya. Dia terdiam saat melewati rumah buk Ita yang masih dipasangi tenda dan bendera putih.



"Kenapa kamu?" tanya pak Bahrun mengintip anaknya didalam kamar.



"Kapan nek Lasa meninggal pak?" tanya Ambar dengan suara serak.



"Empat hari yang lalu, udah kerumah buk Ita ngucapin belasungkawa?" Ambar hanya menggeleng. Lelahnya dari pulang mendaki belum hilang tapi hatinya malah dibuat hancur saat sampai dirumah, yang membuat tubuhnya semakin sulit bergerak.



"Kita semua bakal menyusul beliau juga, sekarang doakan saja almarhumah semoga tenang dan ditempatkan disurga. Nanti kalo udah kuat kerumah buk Ita ya, yaudah bapak mau kekebun dulu" pamit pak Bahrun menyemangati anaknya yang terpukul dengan berita duka tersebut.



Keesokannya setelah mengumpulkan semua tenaganya Ambar pergi kerumah buk Ita. Ambar menyampaikan belasungkawa dengan wanita yang sedang mengobrol dengan ibunya itu. Buk Ita tersenyum saat Ambar menyalami dan mencium tangannya. Ambar kemudian duduk dihalaman rumah buk Ita, mencari sosok Sita, Ambar berpikir ini saatnya menyapa gadis itu kembali dan memberinya semangat. Tapi orang yang dicari Ambar tidak terlihat sama sekali. Hanya ada Alif yang sedang mengobrol dengan pamannya Sita. Gadis cengeng itu tidak ada diluar karna setelah kepergian neneknya Sita mengurung diri didalam kamar. Sedihnya Sita menjadi dua kali lipat, selain kehilangan neneknya dia juga kecewa Ambar tidak ikut mengantarkan neneknya kepemakaman hanya karna 'menutup mata' untuk dirinya.



 


~~~\*\*♡AmbarSita♡\*\*~~~


 



Seminggu kemudian, semua murid kembali kesekolah dan siap menerima lapor mereka. Sebelum pembagian lapor mereka harus berkumpul dilapangan untuk memberi tepuk tangan dan penghargaan kepada siswa kelas satu dan dua yang mendapatkan juara. Ambar begitu santai duduk dibelakang barisan teman\-teman sekelasnya.



"Juara ketiga dari kelas 7\-3 Ambar" panggil wakil kepala sekolah di depan lapangan.



Orang yang baru disebutkan namanya tetap duduk meski semua murid kelas 7\-3 menoleh kebelakang memandanginya.



"Ambar tuuuh, maju sana!!" ujar Ismet menendang kaki Ambar karna temannya terlihat seperti orang yang antara sadar dan tidak.



"Wuiiih juara tiga kamu mbar? Gak salah itu?" kaget Arul dan menepuk\-nepuk pundaknya.



"Kamu di panggil itu Ambar" kata wali kelas 7\-3 sambil merapatkan giginya menahan emosi karna murid nakalnya masih duduk diam dibelakang.



"Haa? Ambar buk? Gak salah itu?" jawabnya menirukan perkataan Arul tadi.



"Mau ibuk jewer kuping kamu?! Udah sana!"



Ambar langsung menggaruk kepala dan maju ketengah lapangan. Saat berdiri didepan dia akhirnya bisa melihat Sita yang berbaris disamping Alif. Ambar berusaha memberikan senyum manisnya pada Sita, tapi gadis itu memalingkah wajah. Senyum Ambar hilang seketika, melihat sikap Sita dan sorot matanya yang terlihat marah.



"2 minggu lagi pengumuman kelulusan murid kelas 3 akan diberikan, semoga sekolah kita mendapatkan hasil yang baik dan semua murid kelas 3 lulus" ujar kepala sekolah mengakhiri pidato panjang lebarnya "Amiiiiiin" teriak semua murid dan mulai meninggalkan lapangan.



Ambar kemudian berjalan mendekati Sita, tapi gadis itu menggandeng tangan Alif dan pergi berlalu kekelasnya tanpa menoleh sama sekali kearah Ambar "Yasudah" gumam Ambar pelan dan ikutan masuk kedalam kelasnya. Saat itu niat Ambar untuk mengucapkan belasungkawa kepada Sita hilang begitu saja. Dia juga mengurungkan niatnya untuk membuat hubungannya baik kembali dengan Sita.



Saat pulang sekolah, Ambar terus berusaha menjaga pandangannya untuk lurus kedepan ketika melewati rumah Sita. Dia kembali pura\-pura tidak peduli meskipun gadis itu berdiri didepan jalan rumahnya bersama Alif.


__ADS_1


"Gimana hasil lapor kamu?" tanya pak Bahrun saat Ambar pulang kerumah.



"Beng\-bengnya pak jangan lupa 3 kotak!" jawab Ambar ketus dan menyerahkan lapornya.



Senyum pak Bahrun sumringah melihat isi lapor anaknya, dia menepuk\-nepuk pundak Ambar "Ini loh anak ku, buuuuk beli kan Ambar beng\-beng buk" teriak pak Bahrun kegirangan.



"Kaaan pasti belum dibeli! Tiap semester Ambar ditipu sama bapak, yaudah sini duitnya, biar Ambar beli sendiri! Kalo enggak juaranya ambar balikin lagi sama wali kelas Ambar!"



Pak Bahrun meronggoh uang sepuluh ribu dari saku bajunya "Nih balikin sembilan ribu lagi ya" pesan pak Bahrun saat menyerahkan uang dengan Ambar.



"Ya Salaaaaam, dikasi cuma seribu doang, beng\-beng pun sekarang harganya udah naik pak! Gak mau semua untuk Ambar! Janji tiga kotak kalo dapat juara! Nyatanya cuma dikasi seribu!" kata Ambar terus mengoceh meninggalkan ayahnya yang tersenyum bahagia.



Entah kenapa Alif dan Sita masih awet berdiri dipinggir jalan. Sepertinya mereka tengah mendiskusikan hal yang begitu penting, mungkin soal SMA mana yang akan mereka masuki atau hal lainnya, yang jelas wajah keduanya terlihat begitu murung. Seperti biasanya Ambar menatap lurus kedapan dan terus melanjutkan perjalanannya menuju ke warung wanita fenomenal di desa Peringi.



"Buk, Ambar juara tiga, kata guru Ambar ibuk wajib ngasi selamat dan hadiah beng\-beng gratis untuk Ambar"



"Juara kelas kamu? Masa sih? Guru kamu gak kesurupan kan saat isi lapornya?"



"Kesurupan? Kan guru Ambar jin buk, masa jin merasuki jin sih"



"Aseeem!! Kalo dengar guru kamu pasti ditarik lagi ranking kamu tuh"



"Ambar gak minta kok, guru itu aja yang ngasi, mana nih hadiahnya?"



Buk Eli dengan berpura\-pura memasang wajah sinis menyerahkan tiga buah beng\-beng pada Ambar "Niih, moga tahun depan kamu gak juara deh, bisa bangkrut ibuk"



"Hahaha... iya Ambar juga gak mau juara buk, repot, semua teman\-teman Ambar gak ada yang percaya kalo Ambar itu pinter"



"Ibuk sebenarnya juga gak percaya" ujar buk Eli dan masuk kedalam rumah "Aduuh mbar, kamu mau kemana abis ini? tolongin ibuk boleh?" kata wanita itu lagi keluar menemui Ambar yang tengah duduk didepan warungnya.



"Apaan? minta tolong sama Ambar, emang ambar supermen!"




"Kak Asri tinggal di Mandau sekarang?"



"Iyaa mbar, ibuk titip bentar ya, jangan di tinggal ya"



"Iyaaa, asalkan beng\-bengnya ditambah satu lagi ya"



Buk Eli menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan Ambar yang duduk didalam warungnya. Beberapa menit setelah buk Eli pergi. Sita diminta buk Ita untuk kewarung membeli gula, gadis itu tidak tahu jika penjaga warung buk Eli saat ini adalah sicowok yang mulutnya berisik.



"Buuuk" panggil Sita dengan ramah didepan warung buk Eli.



Ambar segera berdiri untuk melayani pelanggan pertamanya. Wajah mereka berdua sama\-sama menjadi pucat saat saling bertatapan muka. Apalagi Sita, gadis itu begitu gugup seketika. Ingin kabur tapi Ambar sudah melihatnya.



"Mau belanja?!" tanya Ambar sinis.



Sita langsung menelan ludah melihat perlakuan Ambar yang tidak mengenakkan. Dia menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Ambar "Beli gula" jawab Sita gugup.



"Gak ada!" jawabnya cepat.



Sita jadi bingung, apa cowok didepannya itu sedang berusaha membuat buk Eli bangkrut atau dia tidak berniat menjual dagangan buk Eli? Karna sudah jelas gula tersusun rapi di rak warung buk Eli. Mata Ambar menoleh kearah tempat yang diperhatikan Sita, tepat disampingnya.



"Niiiih" ujar Ambar sambil menyerahkan bungkusan gula pada Sita.



"Berapa?" tanya Sita dengan ramah.



"Aku mana tau! Biasanya kamu beli berapa?!"


__ADS_1


"Aku juga gak tau" jawab Sita pelan



"Kenapa kamu gak tau! kalo gak tau gak usah beli, mau belanja itu harus tau harga!"



Sita membuka matanya sedikit lebar mendengar jawaban Ambar barusan, padahal saat ini posisinya sebagai pelanggan. Menurut Sita Ambar harus diajarkan ilmu marketing dan pemasaran setelah ini.



"Buk eli nya masih lama ya?"



"Kamu mau belanja atau nanyain buk Eli!"



"Belanja...." jawab Sita berusaha bersabar.



"Yaudah belanja aja jangan jadi wartawan pake nanya\-nanya segala! emang aku tersangka!"



"Yaudah nanti aja aku belanja nya"



"Yaudah sana!!"



Sita langsung pergi pulang kerumahnya, didalam perjalanan hatinya begitu kesal, siapa yang harusnya marah saat ini? kenapa malah cowok berisik itu yang begitu ketus. Satu jam kemudian Sita kembali lagi kewarung, dia berharap buk Eli sudah pulang dan anjing galak penjaga warung buk Eli tadi tidak ada lagi disana. Tapi saat Sita memanggil buk Eli yang nongol lagi\-lagi Ambar, wajah juteknya makin parah dari yang sebelumnya.



"Buk Eli nya udah pulang?" tanya Sita berusaha ramah dan tenang.



"Kalo dia udah pulang aku gak mungkin masih disini!" jawab Ambar semakin dongkol karna mesin molen itu begitu lama, padahal sebelum pergi ngakunya hanya sebentar.



Sita menarik nafas panjang, lagi\-lagi kesabaran dan imannya di uji oleh sang pencipta melalui cowok yang setiap hari diam\-diam diliriknya itu. Sita bahkan mulai berpikir 'kenapa aku bisa suka sama cowok kaya dia ini Tuhaaaan' ujar Sita dalam batinnya.



"Kalo gitu, aku bawa aja gulanya dulu, kalo buk Eli udah pulang, ntar dibayar"



"Bawa? Enak aja ntar aku dimarahi buk Eli, di warung dia ini gak melayani bon! Kamu tau gak Hiroshima hancur karna bom, warung hancur karna bon! kalo warung dia hancur aku mau beli beng\-beng kemana lagi coba!"



Saat Ambar berbicara dengan mulut nyinyirnya, tiba\-tiba ibunya Ismet ikutan datang kewarung buk Eli.



"Buk Eli mana mbar?" tanya wanita itu pada Ambar.



"Ke Mandau buk, ngantarin surat\-surat penting anaknya katanya tadi"



"Oalaaah, ibuk mau beli teh, gula, sama kopi padahal"



Ambar langsung mengambilkan barang yang diminta ibu temannya tersebut "Nih buk" kata Ambar dengan ramah dan menyerahkan kantong plastik hitam ketangannya.



"Berapaan mbar?"



"17ribu buk"



Sita melongo menatap ibunya Ismet yang bisa berbelanja tanpa menghadapi rintangan sama sekali tidak seperti dirinya. Ibunya Ismet tersenyum menatap Sita yang kebingungan, kemudian dia mengelus pundak Sita dan pamit meninggalkan dua makhluk berbeda sifat tersebut. Singkat, padat dan berhasil! ibuknya Ismet sudah hilang dengan barang belanjaannya barusan, sedangkan Sita masih terpaku sambil berpikir bagaimana cara menyelesaikan misinya untuk membeli gula di warung buk Eli.



"Itu\_\_\_Ibuk tadi juga beli gula, kamu\_\_\_" kata Sita dengan ragu. Ambar memandanginya lagi dengan tatapan sinis, membiarkan Sita melanjutkan kalimatnya yang belum selesai diucapkannya "Kamu tahu harga... Harga gulanya" sambung Sita dengan suara bergetar.



"Ibuk Ismet kan beli gula, kopi sama teh!" jawab Ambar santai.



"Yaaa\_\_\_Yaa\_\_\_\_Aku mau beli gula juga"



"Kalo gula aja aku gak tau harga nya!" jawab Ambar dengan alasan tidak masuk akalnya, secara tidak langsung Ambar sudah memaksa pelanggan untuk berbelanja banyak diwarung buk Eli.



Sita melihat uang ditangannya, untung buk Ita memberinya uang 20rb. Sita pikir lebih baik dia membeli barang yang sama dengan ibunya Ismet tadi agar misinya cepat berhasil.



"Yaudah aku beli gula, teh sama kopi aja deh" ujar Sita pasrah. Ambar kemudian mengambil barang yang diminta Sita dan menyerahkannya "Makasih ya" ujar Sita saat Ambar mengembalikan sisa uangnya. Ambar hanya diam dan pura\-pura tidak mendengar apa yang dikatakan gadis itu, saat meninggalkan warung, buk Eli baru pulang dari Mandau.



"Heee nak Sita, belanja ya" sapa buk Eli dengan wajah sumringah. Darah Sita langsung naik ke otak melihat buk Eli baru muncul setelah dia selesai berbelanja, Sita hanya diam dan berlalu pulang kerumahnya, marahnya terlampiaskan pada buk Eli yang tidak tahu apa\-apa.

__ADS_1



![](contribute/fiction/64817/markdown/13ae2843/1570589535043.jpg)


__ADS_2