![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Setelah hari ke 21 telur milik kelompok anak perempuan rata-rata menetas semua dan 3 telur yang tidak, yaitu kelompok Ujang, Khaidir, dan Thalib.
"Gimana udah selesai laporannya?" tanya pak Iyan saat masuk kekelas melihat dimeja murid-muridnya sudah ada anak ayam.
"Udah paaaak" semua serentak menjawab termasuk Ambar meskipun tidak ikut mengerjakan.
"Yaudah kumpulkan ya hasil laporannya" perintah pak Iyan.
"Terus anak ayamnya pak?" tanya Ana yang merasa gemes dengan anak ayam kuning yang dari tadi ada diatas mejanya.
"Kalian rawat aja sampe besar kan itu anak kalian hahaha" ujar pak Iyan mencandai murid-muridnya.
"Wuiih jadi anak Sita ayam yaaa hahahaha" teriak Ambar meledek.
"Kan anak kamu juga itu, soalnya kalian satu kelompok" Ana berusaha membela temannya dari ledekan Ambar.
"Iya ya??" kata Ambar kaget. Dia diam sejenak kemudian melirik kearah Sita "Iya juga sih" kata Ambar lagi dengan pelan.
*****
Saat jam istirahat Ambar melirik kearah Sita yang masih kagum dengan anak ayam yang disimpannya didalam kotak.
"Sitaaaa bagi duit dong, biar aku beliin makanan untuk anak kita sekalian"
Sita menahan senyumnya saat mendengar perkataan Ambar yang begitu manja dan memelas. Dia mengeluarkan uang 1000 nya lagi. Kali ini dua lembar, untuk Ambar dan anak ayam mereka. Ambar menarik uang tersebut dengan semangat.
"Makasih ya" ujarnya kemudian meluncur ke warung mencari makanan kesukaannya.
Ambar membeli Indm*e goreng dan langsung mengaduknya dengan bumbu. Ismet dan Abdul sudah terlihat ngiler duluan mencium aroma mie mentah yang sedang diaduk Ambar. Tapi senyum mereka hilang saat melihat Ambar malah memasukkannya kedalam saku celana.
"Pelit amat mbar" rengek Abdul.
"Ini mah untuk anak aku" jawab Ambar cepat.
Kedua temannya memasang wajah bingung mendengar jawaban Ambar dan hanya bisa melongo melihat Ambar meninggalkan mereka untuk kembali kekelas.
"Niih Sita makanan untuk anak kita" kata Ambar sambil menyodorkan mie gorengnya.
"Ciee Ambar sama Sita jadi orang tua yang baik ya" ledek semua teman-temannya.
"Kamu mau dipanggil apa sama anak kita?" tanya Ambar dengan polosnya.
Kali ini Sita tidak bisa menahan senyumnya lagi saat mendengar pertanyaan Ambar. Rona merah di pipinya bahkan keluar, dia begitu tersipu malu dengan hal itu.
*****
Saat ujian kenaikan kelas, Ambar tetap diletakkan pada bangku urutan pertama oleh pak Iyan. Meski dia malas dan terus bolos tapi entah kenapa Ambar mampu menjawab semua soal ujiannya dengan baik.
Pak Iyan guru satu-satunya yang tidak pernah mempermasalahkan kenakalan Ambar. Bahkan Ambar semakin bebas bolos sekolah pun sejak mendapatkan wali kelas pria paruh baya itu. Buk Mun sedikit tidak percaya dengan keputusan pak Iyan yang tetap menaikkan Ambar ke kelas empat.
"Jadi dia gak nakal dan gak pernah bolos lagi pak?" tanya guru berbadan seperti Doraemon itu.
"Masih buk, nakal mah masih lanjut terus itu. Tapi kadang saya ketawa-ketawa sendiri sama kenakalan Ambar"
"Looh teman-temanya biasanya dibuat nangis loh pak!"
"Enggak. Selama saya jadi wali kelas, Ambar gak pernah bikin nangis teman-temannya. Kalo berantem ada, ya namanya juga anak-anak buk. Yang saya salut meski gak datang ke sekolah tapi Ambar saat ulangan harian, ujian, nilainya bagus. Pinter jawab semua pertanyaan yang saya kasi kalo habis menerangkan"
"Heeeeh kalo masalah pinter mah saya emang akui anak itu pinter pak. Tingkah lakunya itu loh yang gak tahan"
"Hahaha gak apalah buk, masih kecil, nanti sudah besar Ambar pasti berubah"
"jadi Sita gak pernah dibuat nangis lagi ya?" tanya buk Mun lagi yang masih tidak percaya.
"Enggak, dia baik sama Sita, malah mereka duduk berdua"
"Berdua? Padahal waktu pertama kali pindah Sita takut liat wajah si Ambar"
"Sekarang gak lagi, kompak malahan. Diam-diam saya perhatiin kalo saya kasi tugas. Focus banget buat ngerjainnya"
Ah Pak Iyan kan gak pernah jalan ke bangku belakang! Coba lihat meja belajar Ambar, sudah penuh coretan hasil lukisan maha karya nya. Buku Sita bahkan sudah 4 kali di ambilnya untuk melukis imajinasinya saja. Dan tentu saja Ambar terlihat begitu fokus! fokus dengan hobinya, bahkan karakter buk Mun (doraemon) juga sudah penuh dia gambarkan. Ambar bisa selamat karena pak Iyan termasuk guru yang lebih mementingkan otak muridnya dari pada perilaku. Karena itu Ambar juga menjadi anak terfavorit dimata pak Iyan, bersamaan dengan Sita teman sebangkunya.
__ADS_1
*****
"Jadi kamu naik lagi ya mbar" ujar Ismet kecewa.
"Hahaha iya dong, kan aku gak **** kaya kamu"
"Ih susah ya biar bisa satu kelas dengan Ambar lagi" Abdul ikut-ikutan kecewa.
"Hahaha iya aku pikir kalo kalian naik kelas kita jadi sekelas lagi loh"
Khaidir yang duduk disamping Ambar sampai menggelengkan kepala mendengar perkataan Ambar barusan.
"Aku curiga kenapa pak Iyan bisa naikin kamu mbar"
"Memangnya kenapa?!" tanya Ambar sambil memukul kepala Khaidir dengan lapornya.
"Hahaha enggak ada sih" Khaidir langsung ketakutan, hampir saja dia keceplosan.
"Ah enaknya kalian, masih satu kelas sama Sita. Kan aku juga pengen" Abdul masih saja terus kecewa. Ismet pun ikut-ikutan.
"Besok dikelas empat aku mau duduk bareng Sita lagi aaah, biar bisa jualan terus sama dia"
"Emang kamu jual apa sama Sita" tanya Thalib penasaran.
"Jual lukisan, warnain kuku Sita, bikinin tato ditangan Sita. Kan lumayan uangnya bisa beli beng-beng" kata Ambar dengan bangganya.
Semuanya kompak diam mendengar apa yang dikatakan Ambar barusan. Mereka berpikir 'betapa malangnya nasib Sita' dan sekali lagi gadis cantik itu harus menghadapi Ambar dikelas empat nanti.
**♡AmbarSita♡**
Pak Bahrun sudah menunggu anaknya pulang kerumah. Jantung sih deg-deg an tidak karuan, tapi dia masih bisa tenang dan berharap hasil yang positive. Karena selama Ambar di kelas tiga pak Bahrun tidak pernah dipanggil pak Iyan untuk datang kesekolah.
"Ambar pasti naik pak, tenang saja" kata buk Khadijah yang sebenarnya juga tengah khawatir saat ini.
Ambar akhirnya pulang sambil menenteng lapor, dia berlari saat melihat orangtuanya yang sudah menunggu kepulangannya. Ambar tersenyum bahagia sambil mengadahkan tangan pada pak Bahrun.
Buk khadijah memandangi suaminya, memaksa senyum diwajahnya keluar dan mengelus kepala Ambar yang masih cengengesan.
"Pinter ya pak, Alhamdulilah" ujar buk Khadijah dengan raut wajah yang dibuat-buat.
"Oh JELAS!! Ambar kan pinter" jawabnya bangga.
Pak Bahrun memperhatikan nilai-nilai anaknya. Nilai ujian Ambar tinggi-tinggi semua, tapi kenapa masih diberi ranking terakhir oleh gurunya.
Mata pak Bahrun terbelalak pada jumlah absen Ambar 18x tidak hadir tanpa keterangan. Bahkan pak Iyan menuliskan apa yang tidak tertera pada lapor tersebut dengan pena 'bolos dijam pelajaran \= tidak terhitung'
Pak Bahrun tersenyum sambil merapatkan gigi menatap Ambar. Tangannya gatal untuk memukul, tapi bocah polos itu masih saja mengadahkan tangan menunggu janji ayahnya yang tadi pagi untuk membelikan sekotak beng-beng kalo dia naik kelas.
"Mana paaak?" Ambar kembali menuntut.
"Aduuuh sakit perut bapak kambuh lagi nih, tunggu dulu ya"
"Gak mau! Alasan bapak aja itu, mana beng-beng nya!!" Ambar bahkan mulai merengek memegangi kaki ayahnya.
"Besok deh kalo Ambar naik ke kelas lima, bapak belikan dua kotak"
"Halaah, satu kotak aja bapak gak sanggup, mau janji dua kotak lagi, tau gitu mending Ambar tinggal kelas aja!" gerutunya kesal.
"Ambar gak mau sekolah!!" bahkan merajuk dan mengancam orangtuanya.
"Heeeh... Udah liat lapor kamu ini belum?" tanya pak Bahrun yang ikutan kesal.
Ambar menggelengkan kepala sambil terus memajukan bibir. Pipi tembamnya membuatnya semakin imut dan minta dicubit. Niat hati pak Bahrun ingin mencubit pake linggis.
"Liat nih, absen 18x, bolos dari jam pelajaran tidak terhitung, kemana aja kamu HAAA!!" tanya pak Bahrun sambil memukul-mukul pundak anaknya dengan lapor.
Wajah cemberut Ambar hilang seketika, sambil menggaruk-garuk kepala dia tersenyum cengengesan. Kemudian kabur meninggalkan orangtuanya. Ambar memutuskan pergi kerumah nek Lasa saat melihat wanita tua itu sedang mengobrol dengan cucunya, Sita.
"Nek Lasa ini awet muda deh, gak pernah tuaaaa...Ambar jadi suka" pujinya sambil menarik tangan nek Lasa dari pundak Sita, entah siapa cucu, entah siapa tamu saat ini.
"Gimana ambar naik kelas juga?" tanya nek Lasa.
"Naik dong nek, Ambar ini pintar nek. Sita aja sering nyontek sama Ambar" Sita yang tadinya menundukkan kepala langsung menoleh kearahnya.
"Nek, ambar sekarang kurus ya?"
__ADS_1
Nek Lasa mengelus pipi tembem Ambar yang imut.
"Enggak, siapa yang bilang?"
"Ambar ngerasa tubuh Ambar ini jadi kurus sekarang nek. Apa karna kurang makan ya nek? Tadi pagi juga Ambar gak sarapan, sekarang juga belum makan" ujarnya berusaha memancing rasa simpati orang yang mendengar.
"Kenapa gak makan, ntar sakit loh"
"Mau makan sih nek, tapi pak Bahrun itu marah terus kerjaannya sama Ambar"
"Makanya Ambar juga jangan mancing kemarahan bapak. Yaudah makan tuh didapur tadi ibuknya Sita masak ayam balado"
"Wuiiih enak tu nek, beneran Ambar boleh makan nek?" tanya Ambar langsung pada keinginan sebenarnya.
"Boleeeeeh.. Yaudah sana makan sama Sita, Sita juga belum makan tuh"
"Ambar sih gak minta ya nek, tapi kalo nenek paksa Ambar gak bisa nolak looh yaa" ujarnya lagi basa-basi busuk kemudian mengikuti Sita yang sudah masuk kedalam rumah.
"Rumah nek Lasa jadi rapi loh semenjak ada buk Ita" puji Ambar dan duduk dimeja makan yang ada didapur.
Sita begitu gugup berduaan didapur bersama Ambar, tapi bocah nakal itu justru terlihat santai dan tidak merasa segan meski itu bukan rumahnya sendiri. Ambar memang sudah terbiasa masuk dan makan dirumah nek Lasa sebelum buk Ita pindah ke sana.
"Ibuk sama bapak kamu mana?" tanya Ambar membuka tudung saji diatas meja.
"Laaa....Lagi di desa seberang liat kebun" jawab Sita dengan gugup.
"Ohhh makan yuuk, aku laper ini" ajak Ambar karena Sita belum juga mengambil nasi.
Sita mengangguk, kemudian menyerahkan piring pada Ambar. Dalam sekejap Ambar sudah merasa dirumah sendiri. Dia makan begitu lahap, tidak peduli dengan gadis cantik yang duduk didepannya.
"Haduuuh kenyangnya" ujar Ambar lega sambil mengelus-elus perut "Oh iya anak kita dulu mana?" tanya Ambar dengan Sita yang belum juga selesai makan.
Sita langsung tersedak mendengar pertanyaan Ambar. Anak ayam yang pernah disuruh pak Iyan observasi ternyata masih diingatnya.
"Ada yang ngomongin kamu tuuh" sahut Ambar saat melihat Sita batuk.
"Ada dibelakang" kata Sita menjawab pertanyaan Ambar tadi.
"Masih hidup toh, kamu rawat dengan baik ya. Kalo udah besar kita goreng deh anak kita" Sita kembali tersedak makanan yang kedua kalinya.
"Kenapa sih kamu, yang ketiga kali biasanya bisa mati!!!" ujar Ambar mulai kesal "Udah ah, aku udah kenyang, makasih ya" kata Ambar lagi kemudian pergi begitu saja.
Hari masih jam 2 siang, si bocah nakal harusnya belum pulang kerumah biasanya. Karena itu Ambar pergi kerumah Ismet. Dilihatnya didepan rumah Ismet sedang ada anjing penjaganya alias ayah dan ibunya Ismet yang sedang asyik mengobrol.
Pak Pandi dan pak Bahrun sama saja. Keduanya adalah orang yang wajib dijauhi oleh anak-anak desa soalnya galak kaya anjing herder yang belum disuntik rabies. Apalagi kalau anak-anak desa ketahuan mandi-mandi disungai oleh mereka.
Ambar memutuskan menjemput temannya yang ketiga 'Abdul' yang rumahnya dekat dermaga. Dilihatnya Abdul sedang mengobrol dengan Khaidir dan adiknya Khaidir, Suci.
"Kemana kamu?" tanya Ambar mendekati kedua temannya.
"Mbar, si Khaidir mau liburan lagi ke tempat ayahnya dinas. Sekalian dia sunat disana mbar" kata Abdul memberi tahu.
"Tiap liburan ada aja kegiatan kamu. Libur kelas 3 ngebehel gigi. Libur kelas 4 sunat, ntar kalo libur kelas lima kamu meninggal dong" pinta Ambar sambil memukul perut Khaidir.
"Kalo meninggal karakter aku gak ada lagi dong!"
"Libur kelas 6 hidup lagi. Anggap aja nge prank warga desa" kata Ambar dengan santainya.
"Aku sebenarnya gak mau disunat" kata Khaidir ketakutan.
"Kalo gak sunat kamu gak Islam" kata Abdul memberitahu.
"Tapi kalo disunat ntar burung aku habis, gimana caranya aku buat pipis"
"Suciiiii " panggil Ambar sambil menepuk pundak adiknya Khaidir "Kamu yang sabar ya, Sampe gede nanti kamu bakal punya abang kaya dia" ujar Ambar lagi dan menunjukkan wajah frustasinya.
"Kalo gak kuat, kamu kirim surat sama Tuhan. Suruh mempercepat masa hidup abang kamu ini. Tuhan juga gak akan memberi cobaan yang tidak disanggupi umatnya"
Suci dan Abdul langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar nasihat Ambar barusan. Sampai-sampai ibunya Khaidir yang baru datang memandangi mereka heran.
"Heboh sekali" sapa ibu Khaidir sambil mengelus kepala Ambar "Yaudah ayuk kita nyebrang" ajak ibunya karena ferry mereka memang sudah datang untuk menjemput.
"Buk kalo balik kesini bawa oleh-oleh yaaa" pinta Ambar tegas.
"hahaha Iyaaa, Selalu ibuk bawain kok "
"Bener ya, Kalo gak rumah ibuk kami geser loh kesamping rumah pak Sayuti"
"Jangan dong, sakit kuping ibu kalo jadi tetangganya pak Sayuti" jawab perempuan itu dan mengajak anak-anaknya untuk naik ke atas ferry.
__ADS_1