![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sita tersenyum melihat catatan kalender di handphone miliknya. Sudah hampir 9 bulan dia menjalani hubungannya dengan Ambar dan dibulan lima tahun ini Sita akan merayakan ulang tahun Ambar dengan status yang berbeda dari tahun sebelumnya. Sepulang sekolah Sita meminta bantuan teman akrabnya Alif untuk menemaninya mencari kado untuk Ambar. Dengan senang hati Alif mau menemani gadis yang masih terus dicintainya itu. Meskipun hatinya jadi sakit juga saat tahu tujuan Sita mengajaknya pergi.
"Emang kapan dia ulang tahun?" tanya Alif saat Sita meminta sarannya memilihkan hoodie yang bagus untuk Ambar.
"Sabtu besok tanggal 30 Mei, Ambar suka warna yang gelap sih kayanya"
"Yaudah yang hitam itu aja" ujar Alif datar dan mencoba menyibukkan diri dengan ponselnya.
Saat Sita masih kebingungan dengan pilihannya Alif diam-diam mengambil foto gadis itu dan memasangnya kedalam status bbmnya 'Mine 💝' tulis Alif pada statusnya dengan diberi gambar hati. Dia yakin Khaidir dan Thalib yang memiliki kontak pin nya juga akan melihat hal itu. Dua makhluk tersebut terkenal sebagai pemberi informasi untuk teman-temannya.
Dan benar saja, Thalib sedang berkumpul dengan teman-temannya dibalai desa menyerahkan handphonenya pada Khaidir. Temannya itu melihat status yang dibuat Alif dan meminta Thalib untuk tidak memperlihatkannya pada yang lain. Tapi Ismet sudah curiga melihat keduanya tengah berbisik-bisik, dia ikut mengambil handphone milik Thalib. Dan kini semua teman-temannya ikutan melihat termasuk Ambar juga.
"Gak cemburu kamu mbar?" tanya Thalib penasaran melihat reaksi Ambar yang masih bisa tersenyum membaca status Alif tersebut.
"Haa?" tanya Ambar sambil cengengesan.
"Apaan! Ambar cemburu? gak jadi Ultrament lagi dong dia" potong Ismet yang berusaha menyemangati teman akrabnya.
"Mine itu artinya apa?" tanya Abdul dengan polosnya.
"Mine itu artinya mil_____"
"Mine itu sejenis minuman dul" ujar Khaidir dan Ismet bersamaan sebelum Thalib yang selalu berbicara jujur itu memberikan jawaban.
Abdul menganggukkan kepala "Pergi minum mereka berdua bang bro. Tenang! besok kami sum-sum uang buat kamu biar bisa traktir Sita minum Mine juga" kata Abdul sambil menepuk-nepuk pundak Ambar.
"Gak usah cemburu, cemburu hanya untuk orang-orang jelek! Kaya Ujang, paham!!" nasihatnya lagi.
Ambar langsung tertawa mendengar perkataan Abdul yang ada benarnya juga, Ujang memang jelek! Teman-temannya ikutan tertawa dan beralih menepuk pundak Ujang, memberi semangat pada cowok kurus itu. Saat Azan Ashar berkumandang Ambar pamit untuk menjalankan kewajibannya. Setelah itu dia tidak kembali lagi ke balai menemui teman-temannya tapi Ambar duduk didepan teras rumah Sita yang kosong tidak berpenghuni. Dia menunggu gadis itu pulang. Setengah jam lamanya Ambar duduk sendirian. Saat melihat sepeda motor Alif masuk ke perkarangan rumah Sita, Ambar langsung berdiri dan berusaha mengeluarkan senyum terbaiknya.
Sita turun dari sepeda motor dengan penuh rasa khawatir. Sedangkan Ambar berjalan dengan santainya mendekati Sita dan langsung memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Alif dan Sita langsung kaget melihat apa yang dilakukan Ambar.
"Kamu dari mana? Aku kangen" ujar Ambar dengan lembut.
"Aaaa..... aku tadi abis pergi sama Alif. Aku min... aku minta maaf ya gak izin sama kamu dulu" ujar Sita terbata-bata. Ambar semakin mempererat pelukannya ditubuh Sita.
"Pantesan tadi kamu gak gentayangan di pinggir jalan seperti biasanya" ujar Ambar sambil tersenyum sumringah menatap kearah Alif yang mukanya berubah merah seperti udang goreng.
"Ada Alif sayang" bisik Sita pelan ketelinga Ambar
"Haaa? Oh iya lupah" ujar Ambar sok manja dan melepaskan pelukannya setelah itu membelai rambut Sita.
"Makasih ya bro, udah nganterin pacar aku pulang dengan selamat" kata Ambar tanpa melihat wajah Alif sama sekali. Matanya terus memperhatikan Sita yang masih terlihat gugup.
"Yaudah aku pulang dulu" pamit Alif dengan suara yang terdengar ketus.
"Loh kok cepat amat pulangnya, sayang kamu gak nawari Alif mampir dulu?"
"Haaa? I..Iya... lif masuk dulu"
"Gak usah, aku langsung pulang aja" jawab Alif dan melajukan sepeda motornya meninggalkan Ambar yang tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu dari mana?" tanya Ambar cepat untuk mulai mengintrograsi pacarnya.
"Aku.... aku ke Mandau tadi, kamu marah ya?" tanya Sita balik dan berusaha menyembunyikan kantong plastik yang berisi kado untuk Ambar dibelakang tubuhnya.
__ADS_1
"Marahnya ke Alif sih soalnya dia bawa pacar aku gak ngomong-ngomong dulu"
"Sayang maaf, tadi juga aku yang ajakin Alif pergi, jadi_____"
"Itu apa?" potong Ambar dan menunjuk plastik yang disembunyikan Sita dibelakangnya.
Sita hanya menggelengkan kepala, tidak mungkin dia menjawab jika itu adalah kado ulang tahun untuknya. Tapi Ambar berusaha memaksa Sita menunjukkan dengannya. Sita mundur beberapa langkah agar menjauh dari Ambar.
"Kamu gak mau kasi liat?" tanya Ambar kecewa.
"Bukan gitu, ini penting jadi gak bisa dikasi tahu sekarang, nan_____"
Ambar menggenggam lengan Sita dengan kedua tangannya dan memaksa gadis itu membiarkannya melihat benda apa yang disembunyikan Sita tersebut. Sita benar-benar kesal dengan sifat keras kepala dan tidak sabaran Ambar, dia langsung melepaskan tangan Ambar dari lengannya.
"Kamu ini!!!" bentak Sita kuat.
"Loh kenapa? Kamu mau rahasia-rahasian sama aku?!" bentak Ambar balik.
Sita menarik nafas panjang, dia juga kesal karna rencananya akan gagal total. Sita memilih memejamkan mata, berusaha mengontrol emosinya. Biasanya mulut Ambar akan ngoceh panjang lebar tapi kali ini tidak. Suasana berubah jadi hening seketika. Sita pikir mungkin cowok itu sudah pergi. Tapi saat Sita membuka matanya wajah Ambar berada tepat dihadapannya. Jantungnya serasa ingin copot melihat sorot mata Ambar yang hanya berjarak 5 cm dengannya saat ini.
Sita menahan nafas, keringat dingin langsung mengucur ditubuhnya. Apa yang akan dilakukan Ambar setelah ini. Jangan bilang cowok itu akan melakukan hal nekat didepan halaman rumahnya. Ambar kemudian mengalihkan pandangannya. Sita akhirnya melepaskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Melihat ekspresi wajah Sita Ambar langsung mengacak-acak rambutnya.
"Takut ya?!" goda Ambar sambil memperlihatkan senyum sinisnya.
Sita menepis tangan cowok tersebut, ini sudah yang kesekian kalinya Ambar selalu menguji keimanan Sita setelah itu dia mentertawai ketakutan gadis tersebut.
"Kamu tuh! Yang mentalnya cuma berani gertak doang, tapi gak punya nyali buat melakukannya!" umpat Sita kesal dan beranjak pergi sebelum Ambar kembali memaksa membuka bungkusan plastik yang begitu ingin dilihatnya.
Ambar langsung menarik tangan Sita dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang, tangannya melingkar dipundak Sita.
"Kadonya buat aku ya?" bisik Ambar lagi. Sita menganggukkan kepalanya pelan.
"Jangan repot-repot tiap tahun beliin kado, soalnya kamu itu udah jadi kado terindah dalam hidup aku"
Detak jantung Sita makin tidak berirama. Mendapatkan perlakuan mesra Ambar saja hatinya langsung berada di level bahagia. Ditambah dengan ucapan Ambar barusan, rasanya tubuh Sita dilemparkan ke surga. Saat Ambar akan melepaskan pelukannya, Sita langsung mencegah cowok tersebut.
"Seandainya kita masih satu kelas sampe sekarang, tinggal satu tahun lagi setelah itu aku bisa meresmikan diri sebagai nyonya Ambar" gumam Sita pelan.
"Masih SMA udah mikir nikah aja!" ledek Ambar dan memaksa Sita melepaskan tangannya.
"Aiiish!! Padahal kamu juga bilang gitu tadi!" ujar Sita kesal.
"Enggak! Aku cuma bilang nyesel udah tinggal kelas selama dua tahun! kamu nya aja yang mikir ke pelaminan mulu! Pengen banget ya aku nikahin? Emang siap saingan sama buk Eli! Aku maunya punya istri yang bisa masak kaya buk Eli!" ledek Ambar lagi dan berlalu pergi meninggalkan gadis tersebut.
Hati Sita yang tadinya sudah dilemparkan ke surga oleh malaikat Ridwan seketika ditendang kuat oleh malaikat Malik untuk masuk ke nerakanya. Ambar memang dari dulu paling bisa membuat hati gadis itu cenat-cenut tidak karuan.
Dihari Sabtu, setelah pulang sekolah Sita menunggu Ambar ditempat biasa dia berdiri. Sedangkan orang yang ditunggu Sita tengah berdiri kaku saat ini. Seorang gadis manis mencegat langkah Ambar dipersimpangan rumahnya. Suci! Ya gadis manis itu juga tahu hari ini ulang tahunnya Ambar jadi dia ingin memberikan kado kepada cowok yang ditaksirnya tersebut. Ismet dan Arul terdiam melihat raut wajah Suci yang merona berdiri dihadapan Ambar sambil menyodorkan sebuah kotak kado kepadanya. Ujang tertawa puas, ternyata ada teman yang nasibnya sama dengan dirinya. Sedangkan Arul menelan ludah dan berusaha tersenyum sumringah menatap Ambar.
"Ambil aja mbar, jangan buat hati Suci kecewa" ujar Arul dengan suara berat.
Ismet ikut tersenyum simpul, dia juga pernah merasakan hal yang sama diposisi Arul. Jadi dia tahu betul betapa sakitnya hati Arul saat ini. Ambar hanya diam mematung. Dia kemudian melirik kearah Ismet, meminta bantuan teman akrabnya tersebut. Ismet menganggukkan kepalanya pelan untuk memberi kode pada Ambar agar dia menerima kado Suci.
"Makasih ya ci" ujar Ambar pelan sesuai dengan saran Ismet.
__ADS_1
Suci tersenyum sumringah setelah itu pamit pulang kerumahnya.
"Semua orang berhak ngasi Ambar kado kok, mungkin Suci salah satu fans kamu" ujar Ismet memecahkan keheningan diantara teman-temannya.
"Hahaha nah tuh rul, kamu juga jelek kaya aku! operasi plastik sana biar mirip opa-opa korea!" ledek Ujang dan berlalu pergi pulang kerumahnya sambil tertawa keras.
Mata Arul masih berkaca-kaca, dia berusaha untuk terus tersenyum menutupi patah hatinya.
"Isi hati seseorang siapa yang tahu, padahal kamu udah punya pacar tapi Suci masih aja dekatin. Itu bukan kemauan kamu kan mbar? Memang pilihan Sucinya sendiri. Jadi..... yaaah... Kamu gak tahu apa-apa soal ini! kamu kesal sama Ambar rul?" tanya Ismet penuh penekanan.
Arul melirik kearah Ambar sebentar kemudian menatap Ismet lagi, dia menggelengkan kepalanya lemah.
"Syukurlah, Ambar gak pernah minta kado sama Suci. Dia juga gak pernah berniat menggoda Suci dari dulu. Kamu tahu kan dia pacaran sama Sita. Jadi lebih baik kita makan kerumah masing-masing sekarang, habis itu kita lempar nih anak kesungai. Kalo kamu ada unek-unek sama dia kamu boleh lempar pake batu kok rul, Bebas! Kami gak larang! Yaaah paling-paling penjara aja yang menunggu kamu setelah itu" bujuk Ismet dan merangkul pundak Arul untuk mengajaknya pulang.
"Kamu juga Ultrament!! Jangan lupa balik lagi ke balai ya! Awas kalo enggak!" ancam Ismet pada Ambar yang masih berdiri mematung ditempatnya.
Ambar menyimpan kado Suci kedalam tas dan ikutan pulang kerumahnya. Wajahnya murung tapi saat melihat Sita kegelisahannya jadi hilang seketika.
"Kenapa lama pulangnya?" tanya Sita dan berjalan mendekati Ambar.
"Teman-teman ngerjain dulu tadi" ujar Ambar berbohong.
"Nanti dirumah ganti baju kamu aja ya, habis itu kita kesungai. Aku udah siapin makan siang ayam balado kesukaan kamu tadi pagi. Kita makan disana bareng-bareng ya"
Ambar hanya menganggukkan kepalanya dan segera menuruti kemauan Sita. Setelah mengganti pakaiannya Ambar kembali menemui Sita yang juga sudah berdiri ditempat biasa. Mereka pergi ke sungai indah yang mereka klaim secara sepihak tersebut. Ambar berusaha untuk terus ceria meladeni obrolan Sita. Melupakan kejadian tadi, tentang perasaan Arul, Ambar mengkesampingkan hal itu dulu. Dia yakin Ismet sedang mengurus masalahnya.
"Aku mau ke balai desa boleh?"
Sita sempat heran untuk pertama kalinya Ambar meminta izin dengannya. Tentu saja gadis tersebut akan menjawab 'Tidak' mana mungkin dia melepaskan Ambarnya pergi. Ambar kemudian diam dan kembali memperhatikan aliran sungai didepannya. Sita semakin heran karena cowok itu tidak memaksa dan langsung nurut begitu saja?! Sita memperhatikan wajah Ambar lekat, ada yang sedang dipikirkan kekasihnya saat ini.
"Ada masalah?" tanya Sita begitu berhati-hati.
Ambar langsung menatap wajah kekasihnya itu.
"Banyak! Tapi disamping kamu semua masalah aku langsung hilang" jawab Ambar pelan.
Sita tersenyum mendengar perkataan Ambar dan membalas genggaman tangan kekasihnya itu dengan erat.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Sebelum azan magrib mereka berdua pulang, Ambar sebenarnya ingin pulang juga. Tapi dia berpikir mau sampai kapan dia akan menghindari Arul dan teman-temannya. Setelah sholat magrib Ambar pergi kebalai desa, Ambar memberikan senyum terbaiknya dan duduk disamping Arul.
"Kenape sore gak kesini men! Bertarung sama garamon?" sapa Abdul sambil memukul kepala Ambar.
"Heh kamu pikir aku akan menyerah gitu aja mendapatkan hati Suci! tidak semudah itu Ultramen! Abang Arul akan berusaha keras melindungi Ranger Pink itu! Meskipun harus saingan sama kamu!" ujar Arul yang mulai kembali normal kadar gilanya seperti biasa.
Mendengar ucapannya Ambar langsung bernafas lega. Semua kembali tersenyum kecuali satu orang, Thalib! dia duduk disudut sambil memainkan handphonenya dengan raut wajah serius.
Sita yang ada dirumahnya pun demikian. Airmata gadis cantik itu mengalir membaca pesan dari Alif yang meminta Sita melihat status yang dibuat Thalib jam 4 sore tadi. Teman kemayu Ambar itu tadi tidak sengaja membuat sebuah status:
'Susahnya punya teman ganteng kaya Ambar, kemarin Sita sekarang Suci juga di embat!' tulis Thalib pada status bbmnya.
Malam ini tidur Thalib tidak akan nyenyak. Meski dia sudah berusaha menjelaskan pada Alif bahwa status itu hanya kebodohannya belaka, tapi cowok tinggi itu tetap tidak percaya dan megadukan pada Sita bahwa Ambar sudah mengkhianti cinta dan kesetiaannya.
__ADS_1