![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Hubungan Ambar dan Sita kembali dekat, jika Alif tidak menjemputnya kesekolah maka Sita akan menunggu Ambar untuk berangkat bersama. Sita diajarkan dengan cowok nakal itu bagaimana bisa lolos masuk kekelas meski mereka datang terlambat. Sebenarnya Alif merasakan perubahan sikap Sita, gadis itu juga jadi sering tidak datang kesekolah tanpa keterangan. Setiap ditanya maka dia akan menjawab pergi, tapi tidak tahu pergi dengan siapa dan kemananya.
Tanggal 29 mei, ditengah malam buk Ita terbangun karna mendengar suara berisik dari luar ruang tamunya. Wanita paruh baya itu langsung keluar untuk memastikan.
"Hah kamu ini bikin ibu kaget aja" kata buk Ita sambil memegang dadanya yang masih syok melihat anak gadisnya belum tidur ditengah malam begini.
"Ibu belum tidur?" tanya Sita dengan polosnya.
"Ibuk yang harusnya nanya itu dengan kamu! Kamu ngapain masih di ruang tamu malam-malam begini, ini apaan ?" tanya buk Ita mengangkat keranjang yang berisi benang-benang wol yang ada dipangkuan Sita.
"Sita mau ngerajut buk, tapi dari kemarin hasilnya salah terus"
"Buat apaan? Tugas kesenian?"
"Bukan, sebenarnya ini mau Sita jadiin kado"
"Siapa yang ulang tahun? Mending beli aja hasilnya juga lebih bagus"
"Ambar. Kalo beli kan gak ada nilai pengorbanannya jadinya buk"
"Oalaaah, yaudah besok aja lanjut ngerajutnya"
"Gak bisa buk, besok itu ulang tahunnya. Tapi kadonya belum jadi juga, dari kemarin-kemarin rajutan Sita salah mulu"
Buk Ita langsung mengambil jarum dan benang yang dipegang anaknya "Sini, biar ibu yang buat, kita buat bunga mawar aja ya, kan pak Bahrun suka dengan bunga mawar tuh"
"Ini kado buat anaknya buk, bukan bapak nya"
"Biasanya apa yang disukai ayahnya maka anak laki-lakinya akan ngikut" kata buk Ita berusaha mengelabui Sita karena memang rajutan yang bisa dibuatnya hanyalah model bunga mawar saja.
"Buk... Besok bantuin Sita masak ayam balado ya, sita mau ajak Ambar makan dirumah"
"Tenang saja, bereeees!!" jawab buk Ita semangat untuk membantu soal asmara anaknya.
**~♡AmbarSita♡~**
Setelah pulang sekolah, Sita kembali menunggu Ambar di depan jalan rumahnya. Saat melihat Ambar lewat sita langsung memanggilnya dengan semangat.
"Ayooo kerumah, aku mau minta tolong" ajak Sita cepat sambil menarik tangan Ambar agar cowok itu tidak bisa menolak.
"Tolong apaan?"
"Ngegambar"
"Hahahaha belajar sama Arul gih gimana cara bohong yang bisa buat aku percaya!"
"Enggak, kali ini beneran Ambaaar" Sita memohon sambil terus berusaha menariknya.
"Kalo memang bener, sini bukunya biar aku yang bikin dirumah"
"Kalo bukunya dibawa kerumah, akunya jadi gak bisa liat"
"Yaudah kalo gak mau! Aku tahu itu mah cuma alasan kamu doang!"
"Ya... Trus aku harus bikin alasan apalagi biar bisa dekat sama kamu?" tanya Sita kesal dan melepaskan tangan Ambar.
Ambar terdiam mendengar perkataannya, berusaha meyakinkan telinga agar tidak salah dengar dengan apa yang dikatakan Sita barusan.
__ADS_1
"Aku ganti baju dulu sekalian makan. Kamu juga, kalo udah selesai kesini lagi bawa alat gambarnya" ujar Ambar dan berlalu pulang kerumah kemudian tersenyum dengan sendirinya.
Teman ribut Ambar dirumah langsung memandanginya sinis karna senyum-senyum sendiri saat membuka sepatu didepan pintu.
"Kenapa kamu! lama-lama dibawa kerumah sakit jiwa kamu ini" ledek pak Bahrun sambil meletakkan cangkir kopi yang baru diserumputnya.
"Haaaah... Begitulah orang yang sedang jatuh cintah! Bahagianya jadi terlihat seperti orang gila! Trus kadang-kadang di juga suka lupah! Anda siapa yaaah?!" jawab Ambar seperti orang yang sedang baca puisi. Kemudian memandangi ayahnya dengan senyum sumringah.
"Asem ini anak, untung kamu pake baju sekolah. Kalo enggak bapak siram nih kopi ke badan kamu!" ujar pak Bahrun geram.
"Haaaah.... Lelaki tua mana mengerti soal perasaan lelaki muda!" kata Ambar santai dan masuk kedalam rumah.
Selesai makan dan mengganti bajunya, Ambar kemudian pergi ketempat dia berbicara dengan sita tadi. Dilihatnya gadis itu sudah berdiri disana dan masih tetap dengan seragam sekolah.
"Loh kamu gak ganti baju dulu?!"
"Kamu lama banget sih, aku cuma ambil buku gambar doang, trus balik lagi kesini"
"Yaelah ngapain!! udah jelas aku tuh makannya harus nambah, ya lama lah. Belum lagi meladeni Albeirt Einsten yang ada dirumah"
"Haah, aku udah kepanasan berdiri disini" kata Sita dengan kesal.
"Yang salah siapa? Jadi kamu gak makan siang ni? Makan dulu sana"
"Enggak perlu, liat kamu aja aku udah kenyang, ayooooo"
Ambar langsung berjalan duluan kejalan menuju SD mereka dulu. Sita mengekor dari belakang, memperhatikan pundak cowok yang ada didepannya. Melihat Ambar dari belakang saja bisa membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Masih jauh loh yaaa" ujar Ambar memberitahu Sita yang ada dibelakangnya.
Jalanan yang mereka lewati mulai terasa sepi tapi suasananya indah. Suara burung dari balik hutan desa Peringi hilir terdengar seperti mendampingi langkah kaki mereka dan air sungai yang mengalir lembut ditelinga. Pohon-pohon tinggi yang ada disekitaran jalan yang mereka tapaki seperti berusaha menutupi tubuh dari panasnya matahari.
"Heeeh malah ngelamun!!" kata Ambar mengagetkan Sita yang mulutnya sedikit ternganga.
"Kayanya aku pernah liat tempat ini" kata Sita sambil melangkah kan kakinya lagi mengikuti Ambar yang kembali berjalan.
"Ingat gak dimana?" tanya Ambar kemudian duduk disebuah batu besar yang ada dipinggiran sungai. Sita mengangkat kepalanya sedikit seperti berusaha mengingat dimana dia pernah melihat pemandangan yang menakjubkan itu.
"Rasanya tempatnya gak asing"
"Hahaha emang kamu pernah kesini?"
"Enggak sih, tapi aku rasa pernah liat, tapi dimana ya?"
"Dibuku gambar bukan?" kata Ambar berusaha memberikan petunjuk pada Sita.
"Ouhhhh.... Gambar yang pernah kamu buatin, iyaaa... Pantesan pas kamu bilang 'nih aku gambarin keindahan desa Peringi hilir' aku gak respon soalnya aku pikir desa Peringi hilir yang aku tahu gak secantik itu"
"Lah terus ini apaaa?"
"Iyaa.... Malah sama persis dengan yang kamu gambar" ujar Sita sambil tersenyum bahagia.
"Yaudah mana bukunya, kamu mau digambar apa lagi?"
"Gambar aku" jawab Sita cepat dan menyerahkan bukunya pada Ambar.
"Hahahaa.... Gak bisa"
"Loh kenapa? Tempat cantik gini aja kamu bisa, masa aku enggak"
"Soalnya kamu lebih cantik dari pada tempat ini" Sita yang matanya masih terkesima dengan view yang ada didepannya langsung melirik kearah Ambar, senyumnya semakin lebar, rona merah dipipinya juga keluar begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa kamu?" tanya Ambar kebingungan melihat Sita yang tidak berhenti tersenyum.
"Gambarin aku yaa" bujuk Sita lagi dan mengambil posisi untuk dilukis oleh Ambar.
Cowok didepannya itu mengangguk dan terlihat begitu focus dengan pensil dan buku gambar ditangannya. Sesekali kepalanya Ambar bolak-balik memandangi buku dan Sita. Gadis itu lama kelamaan wajahnya semakin merona merah karena diperhatikan Ambar. Beberapa menit kemudian Ambar menghembuskan nafas lega. Melihat senyum Ambar yang begitu puas dengan maha karyanya Sita jadi tahu cowok itu sudah selesai melukis.
"Niih udah jadi" kata Ambar sambil menyodorkan buku gambarnya pada Sita.
Sita yang awalnya tersipu-sipu malu langsung berubah kesal melihat hasil lukisan Ambar.
"Kenapa ayam?!!" tanya Sita sambil merapatkan giginya menahan marah.
"Bagus kan?" Ambar malah balik bertanya soal penilaian Sita dengan lukisannya.
"Jadi menurut kamu aku ayam!"
"Anak kita kemarin kan ayam, yaaa otomatis kita ini orangtuanya ayam. Makanya aku gambarin kamu jadi ayam" Sita yang tadinya kecewa dengan gambar Ambar kembali tersenyum sumringah. Ternyata Ambar masih ingat dengan anak ayam hasil tugas IPA mereka waktu kelas 3 SD dulu "Gimana anak kita? Udah gede belum? Aku gak sabar buat gorengnya" ujar Ambar tanpa dosa.
"kejam! Kok kamu tega makan anak sendiri"
"Lah gak apa-apa, ayam kan emang buat dimakan" jawab Ambar dengan logisnya, tiba-tiba bunyi perut keroncongan terdengar begitu kuat.
Sita membelalakkan matanya. Meskipun dia tidak makan siang, tapi dia tidak merasa kelaparan sama sekali. Dilihatnya Ambar memegangi perut, cowok ganteng itu yang kembali kelaparan padahal belum sampai satu jam disana.
"Karna ngomongin anak kita, aku jadi lapar" ujar Ambar lesu.
"Hahaha kamu gak nambah sampe 5 kali ya tadi?"
"Kok kamu tau, hahaha iya nih, yaudah pulang yuk"
"Oh iya aku lupa!! Happy B' day to you, Happy B' day to you.... Happy B' day ya Ambar" kata Sita sambil bernyanyi.
Ambar mengangkat alisnya melihat Sita yang begitu girang mengucapkan selamat ulangtahun untuknya. Sita mengeluarkan kado yang disimpannya didalam tas. Ambar mengambil kado tersebut tanpa ekspresi bahagia sama sekali.
"Kenapa?" tanya Sita heran melihat raut wajah Ambar yang datar.
"Gak ada beng-beng nya!" jawab Ambar jujur "Yang aku butuhkan itu beng-beng dari pada kado" Sita terpaku mendengar perkataan Ambar. Dasar cowok yang tidak sadar diri dan tidak tahu terimakasih, padahal diberi ucapan selamat ulang tahun dan kado dengan gadis cantik seperti Sita harusnya dia sudah bersyukur.
"Harusnya aku beliin beng-beng ya?" kata Sita yang ikut-ikutan lesu "Oh iya aku kan udah masakin kamu ayam balado, kita kerumah yuk makan"
"Anak kita bukan?"
"Bukan! anak kita masih ada, aku gak tega buat makannya"
"Potong aja, kita buat jadi fried chiken! Besok potong ya"
"Orang tua apaan kamu anak sendiri dibunuh" gerutu Sita kesal.
"Ah gak apa-apa pak Bahrun aja kadang-kadang pengen bunuh aku katanya" kata Ambar santai dan berdiri dari duduknya.
Dengan terpaksa Sita mengikuti langkah Ambar yang mengajaknya pulang. Dari dulu Ambar memang memiliki waktunya sendiri, dia tidak bisa berlama-lama dengan Sita meski gadis itu begitu meminta dan menginginkannya. Sesampainya dirumah, jantung Sita mau copot melihat sepeda motor yang terparkir didepan halaman rumahnya. Alif tengah duduk didepan teras rumah Sita sambil memainkan handphone. Ambar langsung mundur beberapa langkah menjauhi Sita dan membiarkan gadis itu pergi duluan menemui Alif. Setelah Sita menemui Alif baru Ambar datang mendekati keduanya sambil tersenyum sumringah.
"Wuiiih mau ngapain nih tiang, eh maksud aku Alif ganteng?" sapa Ambar dengan santainya "Sita tadi ibuk kamu bilang kalo dia masakin ayam balado, jadi aku disuruh makan dirumah kamu. Hari ini aku ulang tahun loh, nih aku dikasi kado sama pak Bahrun"
Alif menoleh kearah Sita yang mematung melihat tingkah Ambar "Usir aja, orang miskin yang layak diberi makan masih banyak disini" kata Alif ketus dan memandang Ambar sinis.
"Hahaha ni orang mulutnya gak berubah-ubah, jahat terus! Sita... Mau ngasi makan atau enggak nih, kalo enggak aku mintanya sama buk Eli" kata ambar yang masih bisa tetap santai meski dirinya baru dihina Alif.
Sita hanya diam, seperti biasa, dia tidak akan bisa mengeluarkan suara untuk Ambar jika ada orang lain didekat mereka. Ambar mengangkat alis dan terus berusaha untuk tersenyum. Karna tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Sita, Ambar jadi tertawa tidak jelas dan menepuk tangannya kemudian kabur meninggalkan kedua orang tersebut. Cowok ganteng itu pergi kebalai desa, kalau sudah begini teman-temannya lah yang menjadi penghibur hatinya yang hancur. Niat hati minta di hibur tapi sesampainya disana Ambar malah diceburkan oleh mereka kesungai, seperti tradisi yang selalu mereka lakukan jika ada yang berulang tahun.
__ADS_1