![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Ana dan Imay datang kerumah Sita sambil membawa telur. Mereka mau menanyakan tugas IPA yang disuruh pak Iyan kemarin. Sampai sekarang keduanya masih belum mengerti juga bagaimana cara membuat tugas tersebut. Sita berusaha menjelaskan sekali lagi bagaimana tugas yang harus mereka kumpulkan.
"Oh jadi kita amati telur ayam yang di erami sama induknya?" tanya Ana yang mulai sedikit paham. Sita menganggukkan kepala dengan cepat.
"Ih serem, Induk ayam kalo lagi ngerami telur kan galak" kata Ana lagi ketakutan.
"Amatinya jangan deket-deket atau gini kalo induk ayam nya siap bertelur, telur nya diambil satu, trus di simpan ditempat panas....."
"Simpan di kompooor?" sergap Imay cepat.
"Masak dong telurnya kalo ditaruh di kompor!" Jawab Ana kesal.
"Hahaha soalnya kan kompor panas"
"Kamu dengan Ambar sama aja! ngomong gak pake mikir. Harusnya kamu sama dia, biar aku sama Sita" keluh Ana dengan temannya tersebut.
"Ya maap aku kan gak tahu. Oh ya Sita udah dapat telurnya, tugas kalian sudah siap?"
Sita menggelengkan kepala "Ayam menetas selama 21 hari nah selama itu kita buat pengamatan soal perubahan yang terjadi, bla.....bla....." Sita kembali menjelaskan panjang lebar tentang tugas mereka dengan kedua temannya.
Pak Iyan harusnya berbagi gaji kecilnya dengan Sita nanti, karena Sita sudah mau repot-repot membantunya kembali menerangkan pelajaran dengan bocah-bocah kampung yang sulit menangkap materi pelajaran.
"Oh gitu ya Ta. Kalo gak ada incubator atau lampu yang kamu bilang itu, gimana?"
"Ya amati dari kandang nya aja" jawab Sita tegas.
Dua-duanya mengangguk "Kita cari ayam yang mau bertelur barengan aja yuk Ta"
"Eh ayam ayahnya Ambar aja. Pak Bahrun kan punya banyak ayam" ujar Imay memberi ide.
Kini ketiganya kompak mengangguk dan pergi kerumah Ambar. Bocah laki-laki itu sudah pasti tidak ada dirumah saat ini. Ambar mana peduli dengan tugas. Tapi setelah ini apa yakin tidak peduli juga, karena Sita dan kedua temannya datang kerumah menemui pak Bahrun untuk meminta telur.
Pak Bahrun yang sedang menjemur biji buah coklatnya dipekarangan rumah tersenyum menyambut ketiga teman-teman Ambar.
"Telur ayam? Ada tuh ayam bapak mau bertelur, besok deh kayanya, butuh berapa?"
"Dua pak. Imay sama Ana, Sita sama Ambar. Kami dua kelompok pak"
"Sita ama Ambar? Yang sabar ya. Hahaha nanti bapak suruh Ambar juga ikut ngerjain tugasnya bareng-bareng ya, tugas kelompok kan?"
"Iya pak" jawab Sita dengan ramah.
Ketiganya kemudian pulang kerumah masing-masing. Pak Bahrun pun langsung pergi mencari anaknya yang tengah asyik mandi-mandi di sungai.
"Mbaaar pak Bahrun tuuh, dia bawa kayuu" bisik Ujang pelan dan langsung keluar dari sungai.
Ambar menoleh, memberikan senyum terbaiknya untuk pak Bahrun.
"PULANG! Ada tugas kelompok malah asyik-asyikan berenang kalian!!" bentak pak Bahrun mengusir anak-anak yang sebenarnya tengah merayakan ulang tahun Khaidir saat ini.
Ambar langsung menuruti ayahnya, mengikuti langkah pak Bahrun untuk pulang kerumah dari pada kayu yang dibawanya dari tadi lengket ketubuh mungil Ambar.
Didepan rumah buk Ita, pak Bahrun menyuruh Ambar pergi menemui Sita membahas tugas mereka yang disebutkan Sita tadi.
"Besok aja pak di sekolah"
"Kamu tahu gak tugasnya apa?!"
"Enggak lah hahaha"
"Nah kan, Emang anak... Hah... Udah sana cepat, kerjain tugas kalian!" perintah pak Bahrun lagi sebelum emosinya sampai ke otak.
Ambar menurut, melangkahkan kakinya kerumah Sita.
"Nek Lasaaaaaa" teriak Ambar didepan pintu rumah.
__ADS_1
"NEK LASAAAAAA" teriaknya lebih kencang lagi.
Sita mengintip dari jendela. Neneknya ada dikebun sekarang. Ibunya juga sedang pergi dengan ayahnya ke kota, pak Adam akan melamar pekerjaan disana. Ambar terus memanggil-manggil nama nek Lasa. Mau tidak mau Sita akhirnya keluar, karena menunggu pamannya pulang juga rasanya percuma soalnya Ambar terlalu berisik didepan rumahnya.
"Lama banget, mana nenek kamu!!!" bentaknya keras.
"Di kebun" jawab Sita pelan.
"Oh... Yaudah.." ujar Ambar kemudian pergi begitu saja.
Saat sampai dirumah pak Bahrun heran kenapa anaknya sudah kembali lagi.
"Udah tahu tugasnya?"
"Belum, nek Lasa nya gak ada dirumah" jawab Ambar santai dan masuk kedalam untuk makan siang yang kedua kalinya. Perutnya kembali lapar setelah berenang disungai.
"Hubungannya dengan lek Lasa apa?!!" pak Bahrun menahan piring yang sudah di isi Ambar dengan segunung nasi dan lauk.
"Kan mau nanya tugas, gimana sih bapak!"
"Teman kelas kamu itu nek Lasa atau Sita!! Ngapain kamu malah nanya ke neneknya!"
"Aduh lupa!! Karena lapar nih makanya gak konsentrasi, yaudah Ambar makan dulu ntar balik lagi ketempat Sita, janji!" Ambar memohon dengan ayahnya.
"Tadi satu jam yang lalu kamu makan segunung, sekarang kamu makan lagi segunung. Kalo dikumpulin udah kembar gunung di perut kamu itu. Tunda dulu makannya, tanyain tugas kamu! Nanti bapak kasi uang beli beng-beng kalo nurut!"
Tanpa perdebatan, tanpa bantahan, tanpa sanggahan! Sudah pasti Ambar langsung kabur mengikuti perintah ayahnya.
"NEK LASAA!!" teriak Ambar lagi dengan kesal didepan pintu rumah buk Ita.
Sita keluar, dilihatnya wajah Ambar terlihat menakutkan seperti dikelas dua dulu.
"Aku nyari kamu, ngapain kamu suruh aku manggil nek Lasa!" ujarnya dongkol.
Sita diam, bingung kenapa dia malah dimarahi?!
"Telurnya belum dapat" jawab Sita pelan.
"Haaaa? Oh pak Bahrun ada telur, Punya dia aja"
Sita menundukkan kepala mendengar perkataan Ambar. Sita menutupi ketawanya agar bocah nakal itu tidak membentaknya lagi.
"Setuju kan?" Sita mengaggukkan kepalanya dengan cepat.
Ambar langsung berlari pulang kerumahnya, menemui pak Bahrun yang hendak ke sawah.
"Udah pak, Ambar bilang pake telur bapak aja untuk tugasnya"
"Nah gitu dong besok tak kasi telur bapak" Ambar mengadahkan tangan kearah ayahnya.
"Aahhahaha.... udah makan aja sana, tadi kan udah di ambil nasinya. Lagian jajan mulu tadi pagi juga jajan" ujar pak Bahrun santai karena berhasil menipu anaknya dengan harapan beng-beng kesukaannya.
"Bapak ini! Padahal Ambar udah rela kerumah Sita yang jauh itu! malah di bohongi"
"Jauh apaan, kamu guling-guling aja sampe kesana!"
"Dasaaaar! Kata Sita telur bapak bau... huuuu" umpat Ambar kesal dan lari kedapur.
Pak Bahrun hanya diam dan segera pergi meninggalkan anaknya yang tengah emosi.
__ADS_1
Keesokannya saat akan berangkat sekolah, Sita sengaja memperlambat langkahnya. Dia terus melihat ke jam tangan Barbie pink yang baru dibeli ibunya kemarin.
Masih pukul 7.35, Sita mendesah sebal. Kenapa waktu yang hanya beberapa menit begitu lambat berputar. Sesekali dia maju mundur satu langkah agar lebih lama sampai kesekolah.
"***Dgbuuuk***!!"
Sita menabrak orang yang juga sedang berjalan dibelakangnya.
"Aiiiish.... Sakit Setan!!" bentak seseorang dari belakangnya.
Sita tahu suara siapa itu, dia menoleh dan langsung meminta maaf secepatnya.
"Jalan pake acara maju mundur! gak akan sampai kamu kesekolah kalo gitu \*\*\*\*!" kata Ambar ketus dan mengambil batu kerikilnya yang terjatuh saat bertabrakan dengan Sita. Setelah itu Ambar berlari menemui temannya Ismet ditempat biasa dia menunggu kedatangan Ambar.
"Kamu nggak eek lagi tadi pagi?" tanya Ismet saat Ambar datang sambil menggenggam batu kerikil ditangannya.
"Hahahah aku juga gitu kalo pengen berak aku taruh batu disini nih" kata Arul menunjuk kearah pusarnya yang besar.
"Aku ngambek sama pak Bahrun katanya mau kasi beng\-beng rupanya boong!"
"Ngambek sama pak Bahrun trus hubungannya sama eek kamu apaan coba?" tanya Ismet heran.
"Aku kalo lagi marah gak bisa eek!"
Sita yang sedang berjalan dibelakang ketiga anak\-anak cowok itu sampai mengangkat kepala menahan tawa mendengar obrolan bodoh ketiganya.
Sesampainya didepan kelas, Khaidir langsung menyambut kedatangan Ambar dan Sita.
"Ciee Ambar tiap hari rasanya berangkat kesekolah bareng Sita terus" ledek Khaidir yang berdiri didepan pintu kelas.
Tanpa basa basi Ambar menyumbat kerikil yang sedang digenggamnya ke mulut Khaidir. Untung saja tidak tertelan! Kalo sampai, berakhir sudah kisah Khaidir hingga disini saja.
__ADS_1
