AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
31 Mai : Kita Putus


__ADS_3

Tanggal 30 Mei jam 11 malam Ambar akhirnya pulang ke desa Peringi lagi diantarkan oleh Dian dan suaminya. Pak Bahrun mau marah tapi mendengar alasan Dian, anak laki-lakinya itu jadi selamat dari rotannya pak Bahrun.


Keesokannya Ambar sengaja memutar jalannya berangkat kesekolah. Padahal kekasih hatinya sudah menunggu sejak jam 6.30 pagi tadi di tempat biasa dia berdiri menunggu Ambarnya lewat.


"Wah gila kamu captain! Tega sekali dengan kak Sita yang cantik itu, padahal dia nungguin kamu di Balai sampe pagi, gak mau pulang, seandainya buk Ita gak galak mungkin dia bakal nungguin kamu disana sampe sekarang cap!" Cerca Arul memberitahu Ambar ketika teman gantengnya itu baru masuk kedalam kelas mereka.


Ambar hanya nyengir tanpa dosa mendengar perkataan Arul, yang membuat tiga temannya makin dongkol dengan sikap Ambar tersebut.


"Kalo gak sayang, lepas anak gadis orang mbar! Jangan sakitin perasaan dia!" nasihat Ismet dengan tegas.


"Iya nih, captain amerika! Sementang ganteng seenak jidat nya mempermainkan perasaan cewek. Ingat ganteng itu bonus dari Tuhan capt, jangan di pake untuk hal yang tidak baik!" Ujang pun ikut memberi nasihat pada captain amerika tersebut meski temannya itu sebenarnya lebih doyan nonton Ultrament.


Ambar hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan keras. Melepaskan emosi yang ada di dalam hatinya dan berusaha untuk terus tersenyum meski ketiga kawannya terus menyalah-nyalahkannya.


Saat jam istirahat Ambar tidak beranjak menemui Sita ke kelasnya, dia tetap anteng duduk di bangkunya.


"Gak ketempat Sita kamu?!" Tanya Ismet galak.


"Enggak, kan Sita udah sembuh kenapa aku harus ke kelas dia terus" jawab Ambar pelan dan merebahkan tubuhnya kemeja.


"Yaudah kantin deh kalo gitu, ayoo aku lapar nih" ajak Arul dan mulai berjalan menuju ke pintu kelas, disusul dengan Ujang dibelakangnya.


"Aku gak nafsu makan, kalian aja"


Semua teman-teman Ambar kompak menghentikan langkah kaki mereka mendengar perkataan Ambar barusan. Wajar saja seorang Ambar mengeluh tidak nafsu makan? Hmm.... itu adalah hal yang aneh menurut mereka.


"Aduuuhh titisan dajjal gak nafsu makan Guys, hati-hati itu tandanya dia udah mulai menunjukkan gejala-gejala ingin memakan manusia!" Kata Arul ketakutan.


Ismet ikutan nyengir mendengar perkataan Arul tersebut.


"Udah temui Sit____" perkataan Ismet langsung terhenti karna orang yang akan disebut namanya sudah muncul di depan kelas mereka.


Wajah gadis itu lesu dan pucat, matanya juga masih sembab, entah berapa lama Sita menghabiskan harinya untuk menangisi seorang Ambar.


Semua teman-teman Ambar keluar beraturan meninggalkan dua sejoli itu untuk berbicara. Ambar yang tadinya sedang merebahkan badannya keatas meja langsung duduk rapi seketika. Sita berjalan dengan sangat pelan menuju kebangku Ambar yang ada di urutan nomor dua paling belakang. Saat sudah berdiri didepan Ambar air matanya langsung tumpah begitu saja.


"Mau bolos hari ini?" Tanya Ambar dengan lembut.


Ambar pun tengah mengatur perasaannya yang masih kacau. Sita hanya diam dan terus menangis dalam mode silence. Cowok itu akhirnya berdiri dari bangkunya membawa Sita kejendela disamping kelas. Ambar kemudian meminta gadis itu melompat keluar dari jendela. Memang anak-anak kelas 1 yang gedungnya terhubung langsung ke belakang sekolah jika ingin bolos lewatnya melalui jendela. Jadi mereka aman dari ruang guru yang gedungnya ada di dekat gerbang.

__ADS_1


Meski hatinya sudah di hancurkan oleh Ambar tapi Sita tetap menurut mengikuti langkah Ambar membawanya pergi menuju ke sungai Indah yang mereka klaim secara sepihak itu.


Keduanya langsung duduk dibatu besar tempat biasa. Sita masih terus mengeluarkan airmatanya, sampai-sampai Ambar geleng-geleng kepala melihat gadis yang ada dihadapannya tidak berhenti-henti untuk menangis di sepanjang perjalanan.


"Kemarin aku tidur dirumah kak Dian" Ambar memberanikan diri untuk membuka suaranya pertama kali.


Mendengar perkataan Ambar, Sita tiba-tiba saja mengubah tangisnya kedalam mode Ambulance bawa mayat, berisik dan keras!! Ambar langsung memeluk gadis itu dengan sangat erat. Membiarkan Sita menangis didalam dekapannya.


"Aku mau bicara penting sama kamu, nangis nya bisa di off kan dulu?" Tanya Ambar yang terdengar tegas.


Beberapa saat Sita langsung diam menuruti perintah Ambar. Setelah Sita tenang Ambar melepaskan pelukannya dan berusaha tersenyum menatap wajah gadis yang begitu dicintainya tersebut.


"Soal kuliah yang kita bahas kemarin? Kamu yakin gak mau melanjutkan pendidikan kamu ke yang lebih tinggi?" Tanya Ambar begitu berhati-hati.


"Kamu mau paksa aku lagi? Aku gak mau Ambar" rengek Sita sambil menghapus airmatanya.


"Kenapa?" Tanya Ambar dengan lembut.


"Aku gak mau pisah sama kamu! Bapak nyuruhnya kuliah di tempat dia, jauh banget jarak kita jadinya" jawab Sita yang masih saja terus merengek.


"Ya gak apa-apa, aku siap hubungan jarak jauh sama kamu" kata Ambar dengan mantap, meski suaranya terdengar begitu berat mengatakan hal tersebut.


"Kamu.. yakin ngomong gitu, kamu bisa? Tapi aku yang gak bisa" jawab Sita melanjutkan nangisnya lagi.


"Kan ada telepon, tau gak Alexander Graham Bell?! dia menemukan Telepon karna si alex itu sama istrinya LDR an juga dulunya" ujar Ambar yang mulai ngaur lagi seperti biasanya.


"Aku gak mau, nanti kamu selingkuhin aku kalo aku kuliah ke tempat bapak!" Kata Sita lagi memberi alasan keduanya.


"Aku cinta sama kamu" ujar Ambar mantap.


Sita membuka mulutnya sedikit mendengar ungkapan cinta Ambar. Meski sudah sering Ambar mengatakan hal itu kepadanya, tapi baru kali ini rasanya ungkapan tersebut membuat hati Sita jadi sakit mendengarnya.


"Aku benar-benar cinta sama kamu, gak akan ada kesempatan buat yang lainnya mengisi hati aku selain kamu! Jadi tolong turuti kemauan bapak sama ibuk yang ingin kamu melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi" bujuk Ambar lagi dengan gadis itu.


Airmata Sita langsung berhenti keluar, rengeknya pun sudah tidak terdengar. Sita hanya bisa terpaku duduk dihadapan Ambar. Hatinya ikut berkicamuk, pikirannya langsung dibuat Blank tidak jelas apa yang ada dalam dirinya saat ini.


"Bisakan?" Tanya Ambar menghentikan lamunan Sita.


Namun sayangnya Sita masih memberikan jawaban dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"10 tahun Ambar aku menyimpan rasa untuk kamu, sekarang saat aku berhasil dapat memiliki hati kamu gimana mungkin aku bisa jauh meninggalkan kamu! Sebelum memiliki kamu saja aku tetap gak mau ninggalin kamu, apalagi sekarang yang aku jelas-jelas jadi pacarnya kamu! Gak akan bisa Ambar!" Jawab Sita dengan tegas.


"Kalo gitu kita gak bisa melanjutkan hubungan ini! Karna aku mau ibu untuk anak-anak ku nanti wanita sarjana yang berpendidikan tinggi, anak-anakku dilahirkan dari wanita yang cerdas, kalo kamu masih mau ngotot enggak kuliah dari sekarang kita akhiri hubungan kita" kata Ambar tak kalah tegas.


Raut wajah Sita menegang seketika mendengar perkataan Ambar yang sangat menyakitkan.


Ambar sudah memutuskan ini secara matang-matang, semalaman suntuk saat dia tidur dirumah Dian. Terdengar hembusan nafas yang cukup kuat dari mulut Sita, dia berusaha mengontrol tubuhnya yang tiba-tiba menjadi kaku untuk bergerak. Airmatanya juga tidak mau keluar lagi padahal Ambar baru saja mengatakan ingin hubungan mereka berakhir.


"Aku begitu cinta sama kamu, sangat dan lebih cinta dari rasa cinta! Gimana lagi buat aku meyakinkan kamu! Saat ini kamu bukan istri aku, kamu masih milik kedua orangtua kamu, jadi bahagiakan mereka dulu!"


Ambar kemudian bangkit dari duduknya, memperhatikan aliran sungai yang begitu sangat tenang dihadapan mereka. Angin yang berhembus tidak mempan menyejukkan hati dua manusia yang sedang diliputi kesedihan itu.


"Kamu mau kehilangan aku untuk waktu yang sementara atau kehilangan aku selama-lamanya? Semua tergantung kamu, aku tunggu jawaban kamu dua hari lagi, eeh jangan dink kelamaan!! Besok tolong beri aku jawaban! Kita cuma pisah beda negara, bukan beda alam sayang!" Kata Ambar yang masih berusaha untuk berbicara ngaur seperti biasanya.


"Bahkan waktu dan musim kita tetap sama. Malaysia - Indonesia?! Haaah masi negara yang serumpun! Kuliah itu gak lama cuma 4 tahun, apalagi orangnya pintar kaya kamu 3 tahun udah langsung kompre hahaha, aku yakin!" Kata Ambar meyakinkan kekasihnya itu.


Ambar kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sita seorang diri. Biarlah Sita menangis saat ini, biarlah dia berpuas-puas menangis dalam mode ambulance bawa mayat atau alarm perang dunia kedua sekalipun.


"Please sayang pilih Option pertama!" Ujar Ambar didalam hatinya.


Sita menoleh kebelakang, memastikan Ambarnya benar-benar tega meninggalkannya sendirian. Sita sendiri heran airmatanya sudah tidak keluar sama sekali padahal Ambar baru saja mengucapkan kata putus untuknya.


Sita mengambil handphone yang disimpannya didalam saku rok sekolahnya, membuka aplikasi catatan di handphone. Catatan yang pernah dibuatnya : '31 Mei hari sial Sita' diubahnya menjadi '31 Mei hari keramat dan terbangsat Sita'


Setelah itu dia bangkit dari duduknya. Tubuhnya terasa sangat ringan saat ini, pikirannya tidak terarah lagi. Sita tersenyum pada sungai yang menjadi saksi kisah cinta AmbarSita yang akhirnya harus berakhir tragis.


Gadis itu pulang kerumahnya, buk Ita sampai kaget melihat anaknya jam 11 siang sudah pulang kerumah tanpa membawa tas sekolahnya juga.


"Heee kenapa pulang cepat nak?" Sapa buk Ita dan ikut menyusul anaknya kedalam kamarnya.


Sita tidak menjawab dan langsung merebahkan badannya keatas kasur, sepatu sekolahnya pun dibiarkan tetap terpakai dikakinya begitu saja.


"Taa? Ada masalah?" Tanya buk Ita dengan begitu berhati-hati dan duduk disamping anaknya yang menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


"Sita di putusin Ambar buk! Dia minta putus karna sita gak mau kuliah!" Jawab Sita pelan.


Buk Ita tertegun dengan jawaban Sita. Wanita itu jadi merasa bersalah karna dia yang meminta bantuan Ambar untuk membujuk anaknya mau kuliah tapi hanya sekedar membujuk yang di mau buk Ita kenapa Ambar malah minta putus juga?! Sepertinya buk Ita pun ikutan patah hati melihat kisah asmara anaknya.


__ADS_1


__ADS_2