![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Di sekolah saat bel pulang sudah dibunyikan Sita terus menatap Alif. Hatinya begitu mantap memberitahu Alif tentang hubungannya dengan Ambar. Cowok tinggi itu sampai kaget saat Sita mengajaknya berbicara dulu ditaman sekolah mereka.
"Alif aku mau ngomong jujur sama kamu" kata Sita dengan lembut.
"Ngomong jujur? Hahaha emang selama ini kamu bohong?"
Sita tersenyum mendengar perkataan Alif kemudian menatap wajah temannya itu dengan lekat.
"Alif aku mau ngasi tahu kamu kalo aku dengan Ambar saat ini pacaran" ujar Sita tanpa ragu, dia benar-benar siap menerima keputusan Alif untuk menjauhinya. Karna bagi Sita lebih baik kehilangan teman satu-satunya itu dari pada terus membuat Ambar cemburu.
Senyum Alif langsung hilang seketika dia menelan ludah mendengar pengakuan Sita barusan. Tentu saja sakit mendengar hal itu dari wanita yang selama ini dicintainya. Dulu Sita memang sudah pernah mengatakannya tapi dia tidak menyangka jika orang tersebut adalah Ambar, cowok yang selalu membuat emosinya menjadi tidak stabil jika bertemu muka.
"Aku cuma mau jujur soal hubungan kami. Kamu salah satu teman terbaik aku lif. Aku gak bermaksud menyakiti perasaan kamu, hanya saja kamu sama Ambar itu gak pernah damai setiap ketemu jadi aku takut nanti______"
"Udah berapa lama kalian pacaran?" potong Alif cepat.
"Baru tiga hari" jawab Sita pelan.
"Apa cowok yang pernah kamu ceritain waktu itu orangnya Ambar?" Sita hanya mengangguk dan tidak berani lagi menatap Alif "Jadi kamu naksir dia udah lama?"
"Saat aku pindah ke Peringi"
Alif menarik nafas panjang, dia berusaha menutupi kesedihannya dan menggenggam tangan Sita.
"Syukurlah, akhirnya kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan selama ini, aku ikut senang" ujar Alif dengan suara yang begitu berat.
"Setelah ini.......apa pertemanan kita juga bakal berakhir?" tanya Sita ragu.
"Meskipun saat ini kamu pacaran sama Ambar, aku akan tetap mencintai kamu. Aku ingin kita tetap dekat seperti yang aku bilang waktu itu. Tuhan yang membolak-balikkan hati seseorang, sekarang mungkin kamu pacaran sama dia, tapi kedepannya kita gak bakal tahu. Jadi aku mohon kita tetap berteman dan dekat seperti biasanya"
Sita langsung menangis mendengar perkataan Alif, dia merasa menjadi perempuan yang tidak punya hati dikehidupan temannya itu, tapi mau bagaimana lagi rasa cintanya sudah begitu besar kepada Ambar. Sebelum mengenal Alif, Ambarlah menjadi cinta pertamanya dari awal sampai detik ini. Tidak mungkin dia memaksakan hati untuk menerima orang yang tidak dicintainya, sedangkan cinta pertamanya sudah berhasil ia miliki.
"Alif... Maafin aku ya, terima kasih banyak kamu tetap mau dekat dengan aku"
"Gimana mungkin aku menjauhi kamu sedangkan hatiku saja sudah terpaut untuk kamu"
"Bo.....boleh aku minta satu permintaan sama kamu?" tanya Sita gugup.
"Permintaan apa?"
"Kamu sama Ambar? Apa kamu juga bisa berteman dengan Ambar?"
"Kalau Ambar bisa nerima aku jadi teman dia, ya kenapa enggak"
"Bener lif?" tanya Sita girang, Alif menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap Sita "Yaudah aku coba buat bujuk Ambar ya, semoga hati dia bisa baik juga kaya kamu, Lif...Aku senang banget kalian berdua itu sama pentingnya dikehidupan aku, terima kasih banyak"
"Hahaha iyaaah, aku senang kalo kamunya juga senang, yaudah aku antar pulang ya?"
"Gak usah lif, aku mau ngajakin Ambar ngomong dulu. Kalo enggak ntar dia salah paham" Alif mengangguk setuju dengan perkataan Sita kemudian mereka pulang kerumah masing-masing.
~**♡AmbarSita♡**~
Saat sampai didepan rumah Sita melihat kearah jam tangannya, sudah jam dua siang. Ambar pasti sudah pergi ke Balai desa saat ini. Benar saja cowok nakal itu sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya. Ambar tengah gugup karena teman-temannya membahas tentang perkumpulan Anti-Alif yang dibuat oleh Abdul waktu itu. Sepertinya mereka benar-benar akan menjadi pejuang cintanya Sita. Bagi Ambar tidak sulit meruntuhkan Abdul atau Thalib, tapi Ismet? Dia teman akrab bagi Ambar. Dulu cintanya pada Putri terhalang oleh Ambar dan sekarang masih sama. Ambar merasa menjadi bajingan dikehidupan sahabat terbaiknya sendiri.
Orang yang sedang ditaksir Arul tiba-tiba lewat. Suci dan Hening sepertinya baru pulang dari rumah kak Dian yang tahun kemarin resmi jadi istri seorang pria yang berprofesi sebagai Dosen. Anak satu-satunya pak Handsome tersebut kini tinggal di Mandau dan dua remaja itu sering diminta bermain kerumahnya.
"Tuuh... Tuh... Adiknya Khaidir lewat tuh" bisik Abdul pada teman-temannya.
Semua langsung menoleh, Suci dan adiknya Ambar memang terkenal paling berani diantara semua gadis-gadis di Peringi hilir. Mereka mau menyapa dan mendekati gedung balai desa meskipun banyak pemuda-pemuda Peringi disana. Arul langsung caper dihadapan adik Khadir, meski Suci terlihat tidak tertarik dengannya sama sekali.
"Suci manis mau kemana?" tanya Arul lembut.
Suci hanya diam dan terus mengobrol dengan abangnya, setelah itu matanya melirik kearah Ambar yang ikut tertawa melihat tingkah laku Arul.
"Kasih tahu perasaan kamu sama Suci sebelum terlambat kaya Ujang" desak Abdul.
"Malu lah ngomong didepan banyak orang" jawab Arul malu-malu najis!
Ambar makin tertawa lepas dengan tingkah Arul. Saat matanya beralih pada Suci, dia baru sadar ternyata gadis itu sedari tadi menatapnya. Ambar jadi merasakan hawa yang tidak menyenangkan menyelimuti punggungnya. Pandangan Suci tidak lepas-lepas dari hadapan Ambar yang membuat cowok itu jadi kikuk sendiri.
"Aku balik dulu ya, lapar" pamit Ambar cepat dan meninggalkan teman-temannya.
Ketika melewati rumah Sita, gadis itu langsung berdiri melihat kekasihnya pulang, senyumnya sumringah mendekati Ambar.
"Kamu dari mana?" tanya Sita.
"Dari balai, kenapa lama tadi pulang sekolahnya?"
__ADS_1
"Loh kok tahu aku pulangnya lama?"
"Biasanya kan kamu gentayangan disini, tadi pas aku lewat arwah kamu gak ada"
"Hahaha emang aku kuntilanak! Oh iya tumben kamu cepat pulangnya? Ada urusan?"
"Gak ada, kangen mau liatin kamu"
Sita langsung tersipu malu dengan jawaban Ambar "Ke sungai yuk, ada yang mau aku omongin?" ajak Sita lagi.
"Apaan? Kamu hamil? Kan belum aku apa-apain!"
"Iiih Ambar, aku ini serius, ayooo"
Ambar melepaskan genggaman Sita dari tangannya dan meminta gadis itu berjalan duluan seperti biasanya, tapi kali ini Sita menolak dan tetap menggenggam tangan Ambar. Dia sendiri jadi grogi digandeng oleh Sita untuk pertama kalinya di Peringi hilir dan orang-orang yang mereka kenali akan melihat hal itu pastinya. Saat keduanya akan ke jalan menuju SD mereka dulu, tiba-tiba Ismet lewat. Cowok manis itu sampai membelalakkan mata melihat temannya digandeng Sita dengan mesra. Ambar langsung melepaskan tangan Sita dan menghampiri Ismet yang masih tepaku menatap mereka.
"Mau kemana kamu?" tanya Ambar sambil merangkul pundak Ismet dan mengajaknya pergi. Ambar membawa Ismet duduk di dekat dermaga. Wajahnya terlihat begitu pucat, Ismet terus menatapnya.
"Aku sempat kaget tadi liat kamu sama Sita gandengan"
"Tau tuh cewek, dia minta bantuan aku tadi"
"Ah... Hahahaha" Ismet langsung tertawa mendengar kebohongan Ambar. Cukup lama mereka berteman bahkan Ambar itu sudah seperti saudara kembarnya Ismet, jadi dia tau betul temannya itu tengah berbohong.
"Kamu takut sama perkumpulan anti-Alif kami yang seharusnya Anti-Ambar?" tanya Ismet memukul kepala Ambar dengan sangat kuat, sampai-sampai temannya meringis kesakitan.
"Aku mah gak bego kaya Arul, aku teman kamu kan? Kamu masih tega buat bohongin?"
Ambar langsung menatap wajah Ismet, matanya sampai berkaca-kaca. Kemudian dia hanya menggelengkan kepala pelan.
"Hahaha kamu kenapa sih mbar? Jadi cupu gini! Santai aja, aku teman kamu kan?" tanya Ismet sekali lagi.
"Ah... Kamu met, ini pertama kalinya aku di posisi kaya gini" ujar Ambar mengusap matanya.
"Hahaha jadi alay gini semenjak pacaran ya! Aku jadi jijik tau gak!" Ismet sekali lagi memukul kepala temannya.
"Maafin aku met" ujar Ambar pelan.
"Jadi beneran? Kamu sama Sita?_____" Ismet menghentikan perkataannya berharap Ambar bisa melanjutkan sambungan kalimatnya. Tapi Ambar hanya diam, kepalanya tertunduk lesu.
"Kamu jadi gak enakan sama aku karna Putri kemarin? dan sekarang Sita juga sama?"
"Mbar... Aku bangga jadi teman kamu, sumpah ini kata-kata yang belum pernah aku ucapkan ke kamu! Aku benar-benar bangga bisa jadi teman kamu dan sekarang aku lebih bangga lagi kamu bisa mengalahkan Alif dalam mendapatkan hati Sita" ujar Ismet meyakinkan Ambar untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya terhadap Ismet.
Ambar hanya tersenyum simpul dengan perkataan Ismet. Tapi tetap saja Ambar merasa saat ini jika kehadirannya selalu menjadi penghalang kisah asmaranya Ismet.
"Udah, temui Sita lagi, dia pasti kecewa kamu tinggal gitu aja. Nanti aku tanya-tanya soal hubungan kalian yang diam-diam itu, sekarang kamu urus dulu cewek kamu itu"
"Maafin aku met"
"Minta maaf mulu nih Ultrament! Belum lebaran juga! Udah sana, kalo gak pergi juga aku lempar Arul kesungai nih?!"
"Hahaha hubungannya sama si bego itu apa!"
"Nah gitu dong, aku kalo kamu kaya tadi jadi jijik bawaannya!"
"Makasih ya met" ujar Ambar dan kembali memeluk pundak temannya itu
"Makasih? Enak aja, PJ kamu sama Sita keluarin buat aku!!"
"Hahaha iya Ranger merah! Tenang aja ntar aku beliin kuaci diwarung buk eli"
"Kuaci?! Gak mau lah! Beng-beng satu kotak!"
"Itu PJ atau pengompasan!" bentak Ambar.
"Hahaha ya sesekali, yaudah sana temui dulu tuan putri kamu, udah jadi ambulance bawa mayat mungkin dia sekarang"
"Yaudah aku pergi dulu ya, jangan kasi tau anak-anak yang lain ya met" Ismet hanya mengangguk dan menolak temannya untuk segera pergi.
Ambar berlari menuju kerumah Sita, gadis itu tidak ada didepan rumahnya. Tiba-tiba buk Ita keluar dari dalam rumah dan langsung tersenyum melihat Ambar.
"Liat Sita gak mbar?" tanya wanita itu sambil berjalan mendekati Ambar.
"Loh sita gak dirumah buk?"
"Enggak, pas ibuk pulang rumah kosong. Ibuk pikir sama Ambar, ternyata enggak. Kemana tuh anak, apa pergi sama Alif? Handphonenya di tinggal juga"
"Yaudah biar Ambar cek ya buk" ujar Ambar menawarkan diri, dia yakin pasti Sita ada di tempat mereka biasa duduk saat ini.
__ADS_1
Sesampainya disana ternyata Sita sudah menangis tersedu-sedu sendirian. Ambar ikut duduk disampingnya membiarkan Sita menangis sampai dia puas dulu. Tapi sudah beberapa menit gadis itu belum juga diam. Ambar menghapus airmata Sita dan memeluk tubuh kekasihnya. Membiarkan Sita menangis didalam dekapannya.
"Kamu kenapa tega gitu ninggalin aku kaya tadi!" ujar Sita terisak-isak.
"Maaf sayang"
"Kamu benar-benar malu ya punya pacar jelek?"
"Iya aku malu" jawab Ambar sambil menahan tawa melihat tingkah pacarnya. Sita makin merengek mendengar pengakuan Ambar, dirinya benar-benar dibuat terluka mengetahui hal itu.
"Sayang, kalo nangisnya masih lanjut aku pergi nih" ujar Ambar pelan tapi penuh ancaman. Sita langsung diam seketika sebelum Ambar marah dan pergi meninggalkannya.
"Ambar.... Maafin aku ya, kalo aku sampe gak sadar diri dan buat kamu malu" rengek Sita lagi dan berusaha menutup mulutnya agar suaranya tangis nya tidak terdengar.
"Kenapa?
"Soalnya aku jelek, kamu jadi malu mengakui aku"
Ambar melepaskan pelukannya kemudian mentap mata Sita yang sembab karna menangis. Dia berusaha menjelaskan kenapa sampai kabur saat melihat Ismet tadi.
"Anti-Alif jadi udah ganti jadi Anti-Ambar?"
"Belum, tadi aku udah ngomong jujur sama Ismet tapi yang lain belum"
"Kenapa? Karna aku jelek?"
"Bukan sayang!! Kamu kenapa sih, kamu cantik!! dihati aku aja"
Sita tersenyum mendengar perkataan Ambar, dia menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Tadi katanya kamu mau ngomong sama aku, ngomong apaan?" tanya Ambar mengingatkan Sita.
"Aku juga udah ngasih tau Alif soal hubungan kita" Ambar langsung kaget mendengar perkataan Sita, tidak percaya jika gadis itu memberitahu orang yang juga mencintainya.
"Apa kamu mau memperbaiki hubungan kamu dengan Alif lagi?" tanya Sita begitu berhati-hati.
"Aku gak pernah dendam sama dia, kalo Alif mau jadi teman aku, kenapa enggak" mendengar jawaban Ambar, Sita langsung menghembuskan nafas lega dari mulutnya, syukurlah cowok keras kepala itu dengan sekali bicara langsung mau membuat hubungannya dan Alif kembali membaik.
~**♡AmbarSita♡**~
Di dua bulan berjalannya kisah percintaan Ambar dan Sita. Gadis itu mengajak Ambar untuk pergi ke Mandau. Dia juga sudah mengatakannya pada Alif dan rencananya mereka akan bertemu di pusat perbelanjaan yang ada disana. Mengajak Ambar tidak semudah mengajak Alif 'aku mau main futsal rencananya' jawab Ambar pelan. Seperti biasa Sita akan mengeluarkan jurus andalannya, merengek, memohon dan mengemis dan dengan terpaksa Ambar pasti akan setuju.
"Pake transportasi umum aja soalnya aku takut nyuri sepeda buk Eli lagi" kata Ambar menahan tawa membayangkan wajah buk Eli yang cantik pada zamannya.
"Sepeda nganggur ada dirumah, gak tau punya siapa kayanya punya nenek dulu"
"Kamu yang goncengin ya" goda Ambar dengan kekasihnya
"Hahaha boleh, biar aku yang ngeos sepedanya kencang-kencang buat kamu"
"Jangan deh, naik bus aja"
"Yaaah kalo naik transportasi umum lama, mending naik sepeda biar romantis atau naik motor deh kalo kamu capek goncengin aku?"
"Yaudah aku suruh pak bahrun jual sapi nya dulu buat beli mobil"
"Aku serius! Kita pinjem motor paman Aliip, yaaa kamu bisa bawa motor kan?"
"Pesawat, kereta api, kapal, sama kamu doang yang belum pernah aku bawa!!"
"Emang aku kendaraan, yaudah kita pake motor ya?" tanya Sita sekali lagi.
"Naik kamu aja gimana? Pengen nyoba sesekali" ujar Ambar ketus karna dia sebenarnya begitu ogah untuk pergi. Sudah dua bulan hubungannya dengan Sita dan selama itu pula dia terpaksa absen bermain futsal. Kekasih manjanya itu terus saja mengajak kencan. Sita menahan tawa mendengar perkataan Ambar.
"Urus Sim nya ke kantor KUA dulu baru______"
"Minggu depan aja kita pergi ya" potong Ambar cepat.
Sita langsung cemberut "Udah dua bulan loh kita pacaran tapi hubungan kamu sama Alif belum baik juga! Aku tuh pengen kalian berteman"
"Loh kamu ngajakin Alif?" tanya Ambar kaget.
"Iyaaa.... Kenapa? Kamu benar gak mau ya?"
Ambar diam, jika dia menolak sudah pasti Sita akan berpikir Ambar tidak ingin memperbaiki hubungannya dengan Alif. Dengan terpaksa Ambar menganggukkan kepala untuk menyenangkan hati Sita.
__ADS_1