![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Ambarsita
*****
Keesokan paginya, Sita kembali berdiri didepan pekarangan rumahnya. Lima menit lagi pukul 7.45, gadis cantik itu langsung merapikan rambutnya yang terkucir. Jantung Sita dag dig dug sendiri apalagi setelah ibunya tadi malam mengatakan kalau dia sudah ngobrol dengan Ambar.
Beberapa menit kemudian Ambar lewat. Setelah Ambar berjalan beberapa langkah baru Sita ikut menyusul dari belakang. Sesampai disekolah mereka baru berpisah, Ambar masuk kekelasnya begitupun Sita.
"Kenapa tadi terlambat lagi?" tanya Alif saat baru kembali dari kantin dengan dua botol minuman ditangannya.
"Tadi pagi aku telat bangun" ujar Sita memberi alasan.
"Besok kalo telat lagi kamu bakal dihukum dulu loh baru bisa masuk kedalam kelas, apa mau aku jemput?"
"Jemput? Pake sepeda? Gak usah, ntar kamu capek"
"Kalo aku jemput pake motor?"
Sita diam sejenak, berpikir kalo dia masih menolak tentu saja Alif akan kecewa. Lagipula kalau Sita mengangguk Alif pun tidak mungkin menjemputnya dengan motor. Karna setahu Sita motor dirumah Alif hanya milik kedua kakaknya.
"Iya kalo pake motor boleh deh" jawab Sita pura-pura bersemangat.
Pulang sekolah kali ini pengganggu Alif dan Sita jadi bertambah dua orang. Siapalagi kalau bukan Ujang dan Arul yang berencana mengajak Ambar ke kota karna ada acara rakyat dan mereka mengincar makanan gratisnya.
"Sita mau ikut juga gak?" ujar Ismet sambil menyamakan langkahnya dengan Sita.
"Lumayan loh bisa makan gorengan gratis" Ambar ikut-ikutan menyusul mereka.
Alif memindahkan posisi Sita untuk menjauh dari dua cowok rusuh tersebut. Keempat orang itu kompak berteriak "Cieeeeee...." dengan mereka.
"Kami pergi dulu ya kak Sita, besok kita ketemu lagi" pamit Ambar dan Ismet kemudian berbelok menuju jalan ke dermaga.
~♡AmbarSita♡~
Menunggu ambar berangkat kesekolah terus dilakukan Sita. Meskipun Ambar tidak peduli bahkan tidak pernah menoleh sama sekali kebelakang untuk sekedar melihatnya. Padahal kesempatannya untuk terlambat masuk kekelas sudah habis dan jika hari ini Sita kembali terlambat maka dia harus siap menjalani hukuman dulu baru diizinkan mengikuti pelajaran.
Sebenarnya jantung Sita sudah tidak karuan antara tidak sabar menunggu Ambar dan juga ketakutan menerima hukuman apa yang akan diberikan oleh guru dikelasnya nanti. Pukul 7.45 Ambar baru muncul sambil memakan beng-beng ditangannya. Sama seperti biasanya Ambar tetap cuek dan berjalan lebih dulu dari Sita sampai kesekolah mereka.
Ambar beruntung entah kenapa dia selalu saja lolos masuk kedalam kelasnya. Sedangkan Sita langkahnya dihadang dan diminta untuk membersihkan perpustakaan terlebih dahulu, setelah itu barulah dia diizinkan mengikuti pelajaran. Dengan berat hati murid pintar itu berjalan dengan loyo ke perpustakaan sekolah mereka yang ada di lantai dua. Ambar yang sudah duduk dibangkunya tersenyum saat melihat Sita melewati kelasnya.
Sesampainya di perpustakaan Sita langsung memulai tugasnya dengan perasaan yang begitu dongkol. Padahal kesalahan itu dia sendiri yang membuatnya. Tapi mau bagaimana lagi hati Sita tidak bisa berhenti untuk menunggu cowok bermulut berisik tersebut. Saat tengah merapikan susunan buku, Sita merasa ada seseorang yang berdiri dibelakangnya saat ini.
Pintu perpustakaan tertutup dan hanya dia sendiri yang ada didalam ruangan. Sita merinding mengingat cerita-cerita horror yang pernah didengarnya dari teman-teman sekelas tentang gedung sekolah mereka yang angker.
Kaki gadis itu sudah menggigil, dia harus segera kabur sebelum dirinya pingsan saking ketakutan. Tapi saat akan membalikkan badan pekik Sita langsung pecah. Orang yang berdiri dibelakangnya sedari tadi, langsung menutup mulut Sita sebelum guru-guru mendengar teriakan histerisnya.
"Hukumannya mau ditambah?" bisik Ambar agar Sita tidak mengeluarkan suaranya lagi.
Sita menggelengkan kepala, jantungnya semakin berdetak dengan kencang karna saat ini Ambar berdiri begitu dekat dengannya. Saking gugupnya airmata Sita mengalir. Melihat gadis didepannya menangis Ambar berpikir Sita ketakutan lagi melihat wajahnya. Ambar menurunkan tangannya dari mulut Sita dan pergi, tapi Sita langsung menggenggam tangan Ambar kuat.
"Kenapa?" tanya Ambar heran.
"Kamu mau kemana?"
"Balik ke kelas lah"
"Aku takut sendirian disini" ujar Sita memberi alasan agar Ambar tidak meninggalkannya.
"Loh aku pikir kamu nangis karna takut liat wajah aku" Sita langsung tersenyum mendengar perkataan polos Ambar "hukuman kamu udah selesai?"
"Udah sedikit lagi, maksud aku belum"
"Oh, mau aku bantuin?" tanya Ambar menawarkan diri.
Sita langsung menganggukkan kepalanya. Ambar melihat kesekeliling ruangan, rasanya semua buku sudah rapi di susun oleh Sita. Ruangan itu juga sudah bersih, lalu apa yang harus dia bantu lagi?
"Kayanya udah semua"
"Bukunya belum yang disebelah sana" jawab Sita cepat dan menarik tangan Ambar ke rak buku yang ada di sudut ruangan. Untung saja buku-buku disana memang tidak dirapikan oleh Sita jadi dia mempunyai alasan agar Ambar menolongnya.
"Kenapa kamu terlambat?"
"Kamu kok gak dikasi hukuman juga?" tanya Sita balik untuk mengalihkan pertanyaan Ambar barusan, karna tidak mungkin dia menjawab alasan keterlambatannya.
"Gak ada guru yang berani ngasi hukuman sama aku hahaha"
"Kok gitu?"
"Soalnya wajah aku nyeremin hahaha"
Sita terpaksa mengeluarkan senyumnya untuk lelucon Ambar yang garing "Oh ya aku minta maaf soal kemarin-kemarin" ujar Sita pelan.
"Aku udah tau kok, kemarin ibuk kamu yang ngomong"
"Kalo kamu udah tau apa kamu masih mau mengabaikan aku kalau gak ada orang lain diantara kita?"
"Rasanya aku gak mengabaikan tuh, emang gak tau aja mau ngomong apa sama kamu"
Sita langsung cemberut mendengar perkataan Ambar. Disaat dia begitu ingin dekat dengan cowok itu tapi justru Ambarnya yang kebingungan apa yang harus mereka bicarakan.
"Kenapa?" tanya Ambar yang heran melihat mata Sita kembali berkaca-kaca.
"Padahal aku pengen terus bisa dekat sama kamu"
Ambar membuka matanya sedikit lebar, kaget sekaligus tidak percaya "Hahaha ya kita kan emang dekat, lagian kita tetanggaan" jawab Ambar santai padahal hatinya sudah begitu bahagia mendengar pengakuan jujur Sita barusan.
"Aku ingin yang lebih dekat lagi" pinta Sita blak-blakkan.
Ambar langsung tertegun, Sita berkata terlalu jujur sampai-sampai Ambar jadi malu melihatnya sekarang. Bel jam pelajaran kedua dibunyikan, itu pertanda Sita sudah bisa diizinkan masuk kedalam kelas. Ambar tersenyum melihat cewek yang berdiri dihadapannya, mata mereka saling bertemu. Ambar yang tersipu malu tapi Sita nya tidak, bibirnya masih manyun karna tidak berhasil mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Oke deh, kalo gak ada orang aku akan ngomong sama kamu" ujar Ambar dengan suara bergetar, dia begitu grogi dipandangi Sita.
Wajah cemberut Sita langsung hilang berganti dengan senyuman. Gadis itu mantap mengaggukkan kepala, karna memang itu yang diinginkannya. Sita ingin dekat dengan Ambar secara diam-diam tanpa diketahui oleh semua teman-teman Ambar yang rata-rata mulutnya berisik semua.
"Aku akan berhenti ganggu kamu sama Alif" ujar Ambar dan langsung kabur menuju kelasnya.
*****
Saat pulang sekolah sebenarnya Ismet sudah bersemangat untuk kembali menguntit dua sejoli yang selalu menempel bak lumut dan batu disungai itu, tapi Ambar langsung menarik tangan temannya.
"Kenapa? Kita godain lagi tuuh" tanya Ismet heran sambil menunjuk kearah Alif dan Sita.
"Kasian, mereka mau romantisan berdua" jawab Ambar dan mengajak temannya untuk berputar ke balai desa menemui Abdul dan Yudi yang masih setia jadi murid Sekolah Dasar.
~**♡AmbarSita♡**~
Keesokan paginya selesai sholat subuh Ambar tidak balik tidur kedalam kamarnya, dia mengambil buku dan belajar diruang tamu. Pak Bahrun yang baru pulang dari mushola langsung sujud syukur saat melihat anak sulungnya belajar setelah subuh.
"Kenapa pak?" tanya buk Khadijah heran.
"Anak kita setannya udah ilang buk, liat sekarang habis sholat subuh gak balik tidur tapi belajar, aduh Tuhan, engkau kabulkan salah satu doa hamba" ujar pak Bahrun kegirangan.
"Ambar kalo pegang buku gini ganteng kan pak?" puji Ambar dengan dirinya sendiri. Pak Bahrun awalnya menggelengkan kepala kemudian mengangguk cepat lagi mengiyakan ucapan ngaur anaknya.
"Ambar gak mau telat hari ini pak, makanya Ambar gak tidur lagi"
"Wuih bagus, naik nih uang jajan kamu"
"Bener pak, naik berapa pak?"
"Jadi 2500" jawab pak Bahrun mantap sambil mengacungkan jempolnya kearah Ambar.
"Apaan tuh! naik 500 doang, lontong di kantin sekolah Ambar aja 5000 tau gak!!" umpat Ambar kesal dan kabur kedalam kamar.
"Hahaha makanya kamu sekolah yang bener mbar, biar kita bisa jadi orang kaya kalo kamu sukses jangan kan lontong 5000 pabrik beng-beng aja kamu bisa beli"
"Buk... Pak Sayuti udah lama jadi duda tuh" teriak Ambar dari dalam kamarnya.
"Hahaha jangan mau buk, pak Sayuti kerjaannya ketawa mulu Hahaha" balas pak Bahrun.
"Apa bedanya sama bapak!" ujar buk Khadijah kesal karna anak dan suaminya sudah ribut dipagi-pagi buta.
Jam 7.30 Ambar sudah siap berangkat kesekolah, hari ini dia tidak mau telat agar bisa berangkat kesekolah dengan Sita. Padahal telatnya Sita karna menunggu dirinya juga, sebenarnya Ambar tahu karna itu dia rela bangun pagi hari ini. Saat didepan jalan rumah Sita. Senyum bahagia dan semangat pagi Ambar langsung pupus melihat Alif duduk didepan motor kerennya sambil menunggu Sita yang juga akan keluar dari pekarangan rumah.
"Loh Haha" tawa Ambar yang tidak jelas dalam hal apa, sambil memandangi Sita dan Alif.
"Udah siap?" tanya Alif mengabaikan kehadiran Ambar.
~**♡AmbarSita♡**~
Saat sudah sampai digerbang sekolah, dua orang cewek yang juga akan lewat langsung menyapa Ambar yang terus menundukkan kepala.
"Aduh adek kelas ganteng kenapa pagi-pagi udah manyun aja?" sapa Iput dan Ana teman SD nya dulu, keduanya belum tahu jika orang yang disapa tersebut adalah si makhluk yang sering menjahili mereka.
Ambar mengangkat kepala, memandangi dua temannya dulu. Iput menatap wajah Ambar lebih dekat "Eh Ambar bukan?" kaget Iput saat melihat wajah adik kelas yang digodanya.
"Bener loh, tambah ganteng kamu mbar" ujar Ana secara frontal.
"Maaf, kalian berdua siapa ya?" tanya Ambar pura-pura tidak tahu agar dua temannya itu jengkel.
"Hahaha sombong, baru juga berapa tahun pisah sama kami"
"Aku pikir kamu masuk ke SMP yang diseberang" kata Iput yang tiba-tiba tersipu malu.
Ambar hanya diam dan pergi menuju kelasnya karna suasana hatinya sedang tidak enak pagi ini. Dia ingin secepatnya bertemu Ismet agar bisa dihibur. Ana dan Iput juga ikut berjalan menuju kekelas mereka. Saat keduanya duduk dibangku masing-masing, teman kelas mereka Andin dan Putri langsung mendekat.
"Kalian tadi ngomong ya sama anak kelas 7-3 itu?" tanya Putri penasaran.
"Iyaa, itu teman SD kami dulu, si Ambar, aku gak percaya ternyata dia masuk kesekolah ini juga. Haduuh mana Ambar tambah ganteng lagi" jawab Iput sambil meletakkan tas sekolahnya keatas meja.
"Oh jadi namanya Ambar, kemarin kami anak-anak osis yang cewek pada sibuk gosipin dia. Ganteng, tapi nakal, disuruh ini itu gak mau" kata Andin yang juga salah satu anggota osis.
"Sempat ribut juga sama si Alif" bisik Putri pelan agar Alif yang sedang ngobrol dengan Sita tidak mendengar.
Ana menoleh kebelakang melirik kearah orang yang disebutkan temannya tadi.
"Emang musuh bebuyutan , dulu waktu SD juga pernah ribut, sampe si Ambar dipindahin sekolah"
"Rumahnya Ambar dimana?" tanya Putri yang masih penasaran dengan adik kelas yang sebenarnya seusia dengannya itu.
"Dekat rumah Sita juga"
mendengar namanya disebut Sita langsung melirik kearah empat teman cewek-cewek itu. Ana tersenyum kearah Sita agar dia jadi tidak salah paham, takut dikira lagi gosipin.
"Rumah Ambar dekat sama rumah Sita kan?" tanya Ana untuk memberitahu Sita jika pembahasan mereka soal Ambar.
Sita mengangguk pelan, tapi hatinya langsung penasaran kenapa keempat orang tersebut membahas soal Ambar pagi-pagi. Dilihatnya wajah Putri dan Andin yang seperti orang yang sedang kasmaran.
"Memangnya kenapa?" tanya Sita memberanikan diri.
"Sita kapan-kapan ajak kami main kerumah Sita dong, kami mau liatin rumah Ambar" ujar Putri dengan lembut dan sedikit memohon.
__ADS_1
"Ngapain kalian liatain rumah si miskin itu, kandang kambing masih bagusan dari rumah dia tau gak!" sambung Alif ketus.
Keempat cewek itu hanya diam, senyum mereka langsung hilang. Semuanya berubah kesal dengan sifat angkuh Alif.
"Ambar udah punya pacar?" tanya Andin lagi untuk melupakan ejekan Alif barusan.
"Udah gak ya? Aku juga gak tau sih, soalnya di kelas 5 kita pisah ya Na, trus gak pernah lagi ketemu. Ambar sekolah di seberang, ntar kita coba tanya Imay"
"Moga aja belum, Hahaha kalian akrab gak sama dia, kenalin kami dong"
"Emangnya yakin itu anak yang kita bahas saat mos kemarin?"
"Iya Andiiiin, itu orangnya. Jelas-elas yang ngomong sama Iput dan Ana tadi wajahnya juga kelewat ganteng" kata Putri meyakinkan.
"Ambar emang ganteng dari dulunya sih, tapi sekarang.... Makin Ganteeeeeeeng!!!" teriak Ana kegirangan. Ketiga temannya kompak menganggukkan kepala setuju. Hati Sita panas sendiri mendengar pembahasan teman-temannya, wajahnya berubah kesal dan cemburu.
Saat jam istirahat Andin dan Putri langsung mengajak Ana dan Iput pergi kekelas Ambar. Mereka memang begitu ingin kenal dekat dengan cowok yang sifat aslinya menyebalkan tersebut.
"Yaaah... Gak ada" ujar Putri dan Andin kecewa saat melihat kedalam kelas 7-3 yang kosong tidak berpenghuni sama sekali.
"Oalaaah Naaaa, Ambar kalo jam istirahat mana pernah ada dikelas, kamu lupa ya kebiasaan dia" kata Iput sambil menepuk pundak Ana, gadis itu langsung tersenyum sumringah dan mengajak ketiga temannya ketempat favorite Ambar.
Benar saja, Ambar memang ada dikantin. Dia duduk berduan dengan Ismet sambil menikmati lontong yang mereka makan sepiring berdua. Bukan mau sok-sok an Frienship Goal tapi uang Ambar untuk beli lontong sayur sendiri gak cukup! Khidir, Thalib, Ujang dan Arul juga duduk satu meja dengan mereka.
"Ambaaaar" sapa Ana sok akrab dan langsung duduk disampingnya.
"APA?! Kamu mau beliin aku lontong sayur?" jawab Ambar ketus.
"Hahaha masiih aja kamu ngemis soal makanan, yaudah aku beliin deh"
"Biar aku aja" sergap Andin cepat.
Ambar langsung melirik kearah cewek yang baru saja berbicara. Senyumnya Ambar berubah sumringah karna yang menawarkan diri untuk mentraktirnya adalah cewek yang lumayan cantik.
"Ini teman kamu ya?" tanya Ambar lembut dan menyodorkan tangannya pada Andin.
Andin langsung tersipu malu bukan main. Dengan cepat dia menyapu tangannya dengan rok kemudian menyambut tangannya Ambar.
"Ambar" kata Ambar memperkenalkan diri.
Arul dan Ismet gak mau kalah, mereka juga menyodorkan tangan kearah Andin. Mau diajak salaman juga, hanya Ujang yang tidak soalnya matanya fokus ke arah Ana gadis yang dari dulu ditaksirnya saat masih SD. Keempat cewek-cewek itu langsung mengambil posisi untuk gabung duduk dimeja mereka agar bisa mengakrabkan diri dengan Ambar, si target utama Andin dan Putri sebenarnya.
*****
Sita terus menatap kearah Alif yang masih sibuk dengan handphone yang baru dibelinya dua minggu yang lalu. Gadis itu berharap Alif mengajaknya ke kantin. Soalnya di pikiran Sita saat ini membayangkan Ambar yang sedang bermesraan dengan Andin dan Putri dikantin sekolah mereka.
"Mau dibeliin apa?" tanya Alif sambil menyimpan hp nya kedalam saku celana.
"Kamu ke kantin?"
"Iya, kamu mau apa biar aku beliin?"
"Aku ikut aja deh" jawab Sita cepat dan berdiri dari bangkunya.
Alif cukup kaget mendengar perkataannya, ini pertama kalinya Sita mau ke kantin sekolah. Dari dulu Sita tidak pernah ingin keluar dari kelas. Tapi kali ini dia begitu cemburu dengan ke empat cewek-cewek yang heboh membahas Ambar tadi pagi. Jadi mau tidak mau dia harus melihat si 'sumber berisiknya' itu.
Semua murid-murid yang sibuk dengan makanan mereka masing-masing sampai bengong memandangi Sita dan Alif yang berjalan berduan.
"Tumben tuan putri dan pengeran kekantin barengan, biasanya pangeran doang sekarang kenapa tuan putrinya ikutan" bisik semua murid-murid yang ada didalam kantin.
Ambar cs pun ikut menoleh kearah pasangan fenomenal tersebut.
"Loh tumben Sita ke kantin?" Ana juga ikutan kaget melihat keduanya.
"Emang Sita masih awet duduk dikelas ya?" tanya Ismet penasaran.
Keempat cewek itu kompak menganggukkan kepala dan langsung tersenyum manis saat Sita melewati meja mereka. Hampir semua terpana menatap kearah Sita dan Alif. Apalagi anak-anak cowok, rata-rata mereka merasa cemburu melihat Alif bisa dekat dengan Sita yang cantiknya bikin nagih untuk dipandang terus-terusan.
"Kamu mau makan?" tanya Alif berbisik pelan ketelinga Sita, selain itu tujuannya ingin pamer dengan semua penghuni sekolah kalau Sita itu pacarnya.
"Kamu?" tanya Sita balik yang matanya diam-diam melirik kearah meja Ambar.
"Kalo makan disini ntar kamu gak nyaman lagi"
"Aku beli minum aja" jawab Sita cepat karna memang dia sudah mulai grogi dipandangi semua orang yang ada dikantin tersebut. Termasuk para penjual dikantin itu pun ikut terkesima menatapnya.
Ismet dengan percaya dirinya berjalan mendekati Sita yang sedang jadi pusat perhatian saat ini. Sambil tersenyum sumringah dia menepuk pundak Sita biar terlihat akrab. Tujuannya sama dengan Alif, mau pamer juga dengan semua orang kalo dia juga temannya Sita.
"Heii Sita, tumben kamu ke kantin, mau makan ya? Gabung sama kami aja. Oh ya lontong sayur disini enak loh, kamu belum coba kan? Ah aku udah yakin, soalnya tadi teman-teman kelas kamu bilang ini pertama kalinya kamu kekantin, gabung yuk? Ana sama Iput juga gabung sama kami tuh" kata Ismet basa basi busuk panjang lebar bak kolor yang longgar.
Mirisnya Sita hanya diam dan berlalu pergi dengan Alif, meninggalkan cowok ke PD an itu sendirian. Teman akrabnya si Ambar sampai menganga, kasihan, malu juga, berharap Ismet gak balik lagi duduk dengan mereka. Soalnya takut malunya Ismet bisa nular!
"Mbaaar" panggil Ismet pelan.
Kakinya menggigil, tidak bisa bergerak. Semua yang tadinya fokus ke Sita beralih kearah dia. Ambar langsung berdiri dan mendekati temannya itu.
"Hai Sita, tumben kamu ke kantin, mau makan ya? Gabung sama kami aja, oh ya lontong sayur disini enak loh, kamu belum coba kan? Ah aku udah yakin, soalnya tadi teman-teman kelas kamu bilang ini pertama kalinya kamu kekantin. Gabung yok, Ana sama Iput juga gabung sama kami tuh" ujar Ambar menirukan perkataan Ismet yang tadi.
Tinju Ismet melayang kuat ke punggung Ambar. Bukannya nolongin ternyata dia malah ikut mempermalukan temannya.
"Hahaha aah kalo aku udah pindah sekolah itu keesokannya" ledek Arul.
"Kalo aku bukan pindah sekolah lagi, pindah planet mungkin" sahut Khaidir lebih meledek.
Ismet hanya cengengesan dan kabur kekelasnya sebelum semua mulut-mulut tajam mentertawai kemalangannya.
__ADS_1