![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Kali ini Ambar yang jadi guru dadakan, lebih tepatnya pengawas untuk Sita selama gadis itu belajar. Tidak mau kalah Sita juga bikin ulah dulu sebelum mau belajar.
Ambar diminta untuk membuatkan gambar untuknya atau Ambar disuruh nyanyi terlebih dahulu. Bahkan gadis itu juga meminta tangan Ambar digenggam terus selama dua jam tanpa melakukan apapun, tanpa bebicara apapun, cukup diam membiarkan Sita menggenggam tangannya yang lembut setelah itu baru dia mau belajar.
"Kamu disuruh belajar aja kenapa susahnya minta ampun!" umpat Ambar kesal karna sudah 5 hari dia menemani Sita belajar dan sudah banyak pula alasan yang diberikan gadis itu untuk menundanya.
"Kamu lupa! Dulu kamu juga gitu, sekarang aku niru kamu kenapa kamu protes!" Sungut Sita kesal dan *** tangan Ambar yang ada digenggamannya.
Ambar langsung terdiam dan tidak bisa menjawab perkataan Sita lagi karna memang benar, tahun kemarin dia juga mengerjai Sita dengan hal yang sama.
"Lima menit lagi ya waktu mesra-mesranya, abis itu belajar" ujar Ambar mengalah.
Setelah waktu untuk menggenggam tangannya habis, Sita dengan terpaksa harus belajar dengan pacarnya itu. Buk Ita yang baru pulang dari desa seberang selalu dibuat terkesima dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan Ambar untuk putrinya.
Sita memang rajin belajar tapi semenjak jadi pacar Ambar putrinya itu makin rajin lagi. Dipikiran buk Ita mungkin karena Sita mau ujian nasional dan mempersiapkan diri untuk kuliahnya nanti, karena itu Ambar sampai rela menemani anaknya belajar.
Sebelum azan Magrib Ambar pamit pulang dengan buk Ita. Wanita itu tersenyum dan mengantarkan Ambar sampai kedepan pintu rumah. Setelah Ambar pergi buk Ita menepuk pundak anak gadisnya.
"Sayang banget Ambar dengan kamu, karna mau ujian dia jadi maksa kamu buat belajar" ujar buk Ita sambil tersenyum sumringah.
"Iya! Padahal Sita gak butuh nilai tinggi karna Sita kan gak kuliah buk" jawabnya sambil cemberut dan berlalu masuk kedalam kamar.
Senyum buk Ita langsung hilang mendengar perkataan anaknya tersebut, dia juga langsung menyusul Sita ke dalam kamarnya.
"Sitaaaa Ibuk ngasi ijin kamu pacaran sama Ambar. Ibuk juga suka sama Ambar, ibuk kenal baik dengan dia, dengan keluarga dia, bahkan ibuk lebih setuju kamu sama Ambar sayang" kata buk Ita dengan begitu berhati-hati.
Sita yang sudah merebahkan badannya diatas kasur langsung bangkit lagi dan memeluk buk Ita erat. Dia senang mengetahui jika ibunya tidak sepemikiran dengan pak Adam tentang persoalan asmara putri mereka.
"Buuuuk, makasih ya" ujar Sita, airmatanya bahkan ikutan mengalir saking bahagianya.
"Iya, lagian Ambar mah ganteng ya, cocok sama kamu. Bisa dapat bibit unggul nanti cucu-cucu ibuk dari kalian Hahaha... Oh ya Sekarang kamu juga makin berani semenjak pacaran sama Ambar. Udah rajin keluar rumah malahan. Satu hal lagi, juga udah mau ke dapur! Sadar sama kodrat kamu yang akan jadi ibu suatu saat nanti. Ibuk mah berterima kasih sama Ambar" kata buk Ita menyampaikan apa yang dipikirannya selama ini.
__ADS_1
"Buk, apa mungkin Ambar itu punya remote pengendalinya Sita ya?" Gumam gadis itu heran, karna dia pun merasa perubahan pada dirinya setelah jatuh cinta dengan seorang Ambar.
"Hahaha emang kamu robot! Tapi.......ibuk pengennya kamu kuliah nak" ujar buk Ita sambil membelai rambut putrinya.
"Kamu anak kami satu-satunya, bapak sama ibuk tentu ingin kamu mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya" sambungnya lagi.
Sita langsung berubah murung mendengar apa yang dikatakan ibunya barusan.
"Tapi Sita gak sanggup jauh dari Ambar buk, Sita takut ninggalin Ambar. Apalagi ibu tau gak, Suci adik nya Khaidir itu juga naksir sama Ambar, trus si Andin! Sita gak mau Ambar direbut sama mereka!" Rengek Sita dengan ibunya.
Buk Ita langsung memukul kepala putrinya dengan pelan.
"Iih kamu ini!! Ambar anaknya baik, dia gak akan mungkin mau selingkuh kalo masih pacaran sama kamu. Dia cinta sama kamu!" Ujarnya geram.
"Kalo kamu gak kuliah siapa lagi yang bisa ibuk ajak foto pake toga, kan ibuk juga pengen kaya orangtua yang lainnya"
Mendengar perkataan ibunya, Sita langsung menangis dengan keras.
Melihat anaknya histeris buk Ita menarik nafas panjang. Kalau sudah begini Sita mana bisa dipaksa meski mulut buk Ita jadi knalpot bocor pun hanya akan membuatnya semakin histeris pastinya.
"Yaudah kalo gak kuliah, jangan nangis lagi" bujuk buk Ita dan memeluk anaknya agar bisa tenang.
Buk Ita tidak cemas sama sekali jika Sita mengatakan tidak mau kuliah saat ini, karna dia tahu siapa orang yang bisa memaksa anaknya untuk tetap melanjutkan pendidikannya.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Keesokannya sebelum pergi kedesa seberang, buk Ita sudah menunggu Ambar dirumahnya. Dia harus meminta bantuan Ambar untuk membujuk Sita agar mau kuliah.
Ambar yang baru pulang dari sekolah langsung kaget melihat buk Ita duduk didepan rumahnya seorang diri.
"Loh buk Khadijah di kebun buk kalo siang gini" sapa Ambar dengannya.
"Ibuk pengen ngomongnya sama Ambar sekarang" jawab wanita itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Ambar langsung menganggukkan kepala dan mempersilahkan buk Ita untuk masuk kedalam rumah.
Setelah duduk diruang tamu, buk Ita kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Ambar.
Cowok ganteng itu hanya bisa tersenyum simpul ketika buk Ita menanyakan kesediaan Ambar untuk membantunya membujuk Sita.
"Iya, Ambar juga pengen Sita kuliah buk. Ambar akan berusaha untuk bujuk Sita nanti" kata Ambar berbohong.
Sebenarnya sama halnya dengan Sita, dia tidak sanggup membiarkan kekasihnya itu pergi untuk waktu yang lama. Apalagi perkataan Alif waktu itu masih saja menghantuinya sampai detik ini. Ambar tidak siap bersaing dengan orang yang namanya Rio itu.
"Makasih ya mbar. Ibuk sih pengennya meski nanti kalian terpisah jarak, jangan sampe putus. Semoga Ambar dan Sita bisa pacaran jarak jauh kaya ibuk sama pak Adam hahaha" ujar buk Ita sambil menepuk pundak Ambar.
"Sebenarnya paman Alip juga gak bisa melepaskan ibuk buat pergi ke Malaysia kalo Sita kuliah nanti. Sita sama pamannya sama aja mbar, manjanya bikin urut dada. Jadi kita cuma bisa memakluminya saja hehehe. Yaudah sekali lagi makasih ya nak, ibuk ke rumah paman Alip dulu, Ambar jangan bilang ke Sita ibuk minta bantuan Ambar ya" pesan buk Ita mengingatkannya lagi kemudian pergi kerumah adiknya yang ada di desa seberang.
Setelah buk Ita pergi dari rumahnya Ambar hanya melamun duduk diruang tamunya tersebut. Pikirannya melayang kemana-mana saat ini. Sampai adiknya pulang bersama Suci pun, cowok ganteng itu tetap saja melamun ditempatnya.
"Akhir-akhir ini abang suka ngelamun, aman gak nih?" Tanya Hening yang heran melihat tingkah abangnya tersebut.
Ambar hanya diam mendengar pertanyaan Hening kemudian masuk kedalam kamarnya, setelah itu makan dan pergi menemui Sita lagi.
"Emangnya bang Ambar kenapa ning?" Tanya Suci ikutan khawatir dan menyusul kedalam kamarnya.
"Gak tahu tuh akhir-akhir ini dia suka ngelamun, trus mulut berisiknya udah jarang kedengaran! Aku gak pernah dimarahin lagi sama dia, biasanya aku nafas aja salah sama tu orang! Bahkan tadi pagi aku mandinya lama pun dia sabar nungguin sampe selesai, padahal biasanya di tendang tuh pintu kamar mandinya" Ujar Hening panjang lebar.
"Hahaha kamu ini! Aku pikir berubahnya kenapa! Kalo itu mah bagus dong, bang Ambar mulai sayang dan mengakui kamu adiknya"
"Ya tapi aku jadi takut juga kalo dia ngelamun, auranya berubah seketika! Selain itu dia suka menghitung jarinya, gak jelas apa yang dihitung setelah itu dia ngacak-ngacak rambut dia sendiri kaya orang frustasi" kata Hening lagi menyebutkan sikap aneh abangnya akhir-akhir ini.
Suci mengerutkan kening mendengar informasi dari Hening. Gadis itu langsung tahu alasan kenapa Ambar berubah murung, karna mengingat pacar Ambar dan abangnya Suci sama-sama duduk di kelas tiga SMA saat ini.
'Pasti menyangkut tentang masa depan dan pendidikan' gumam Suci didalam hatinya.
__ADS_1