![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Selama Sita sakit sifat manja dan cengengnya semakin menjadi-jadi. Ambar dipaksa datang kerumahnya setelah pulang sekolah, menemani Sita sampai jam 9 malam baru pacarnya itu di izinkan pulang.
Selama Ambar menemaninya, Sita mematikan handphone agar Rio tidak menghubunginya lagi. Bahkan Sita juga tidak mau mengobrol dengan ayahnya setiap pak Adam menelfon buk Ita dimalam hari.
Sita malas mendengar pertanyaan ayahnya 'kenapa handphone Sita mati, kenapa media social Sita offline semua' sebenarnya itu pertanyaan Rio yang ditanyakannya kepada ayah Sita tersebut.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
"Cepat sembuh dong yank" ujar Ambar lemah saat mereka duduk di bangku taman belakang rumah buk Ita di minggu pagi.
Kepala gadis itu bersandar di bahu Ambar, dia hanya tersenyum dan semakin menggenggam erat tangan Ambar. Sudah tepat seminggu Sita mengalami kecelakaan dan sudah 5 hari dia absen datang kesekolah.
Demamnya sudah hilang, hanya tinggal mengeringkan luka dikakinya yang terkena goresan aspal waktu kecelakaan kemarin. Tapi tetap saja Ambar tidak boleh jauh-jauh darinya. Jika tidak! Gadis itu akan merengek dan meminta buk Ita menjemput Ambar untuk datang kerumahnya.
Seperti minggu pagi ini, dihari liburnya Ambar tidak bisa bangun siang karna jam 8 pagi buk Khadijah sudah heboh meminta Ambar untuk datang menemani Sita dirumahnya. Dengan terpaksa Ambar menurut kalau tidak rotan pak Bahrun menempel ke kakinya yang putih mulus tersebut.
"Tadi malam aku gak bisa nonton bola loh karna nemanin kamu, padahal juventus vs Inter!" Keluh Ambar lagi tapi Sita tetap diam dan tidak peduli.
"Besok senin sekolah kan?" Tanya Ambar sambil menggoyangkan genggaman tangan Sita agar gadis itu mau merespon obrolannya.
Kalau Ambar terus menempel dengannya seperti ini mana mungkin Sita mau mengakui jika dia sebenarnya sudah sehat. Sita sengaja mengelabui semua orang didekatnya dengan pura-pura masih sakit agar ibunya mau menuruti kemauannya untuk meminta waktu Ambar menemani Sita. Untung saja luka bekas kecelakaannya masih belum kering semua jadi mereka percaya-percaya saja dengan kebohongan Sita tersebut.
"Hei!! Aku ini lagi ngomong loh kamu malah senyum-senyum aja dari tadi" keluh Ambar karena Sita tidak merespon satupun ucapannya.
"Aku masih sakit sayang" rengek Sita manja.
Ambar langsung melepaskan genggaman Sita di tangannya dan meraba kening gadis itu.
"Tapi badan kamu enggak panas, cuma tinggal nunggu luka di kaki kamu benar-benar kering. Kalo kamu masih libur senin besok makin banyak pelajaran yang kamu lewatin sayang" kata Ambar panjang lebar dan memberi nasihat dengan kekasihnya.
Sita hanya manyun mendengar perkataan Ambar. Cowok ganteng itu langsung membelai rambut kekasihnya dengan mesra.
"Senin ke sekolah ya sayang, aku janji kalo kamu sekolah pasti bakal aku temani terus. Bahkan jam istirahat pun aku akan datang kekelas kamu" bujuk Ambar agar Sita mau kesekolah lagi.
"Benar yaa?" Tanya gadis itu bersemangat.
Ambar dengan mantap menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat sifat kekanakan kekasihnya tersebut.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Di hari Senin pagi Sita akhirnya masuk lagi kesekolah. Semua mata tertuju kepada Ambar yang jadi tongkat berjalannya Sita. Gadis itu sengaja semakin memperlambat langkah kakinya karena mau pamer dengan seluruh penghuni SMAN1 Peringi kalo pacarnya begitu pengertian.
Hal itu terus belanjut dua minggu lamanya. Padahal Sita tidak berjalan pincang sama sekali, bekas luka kecelakaan dikakinya bahkan sudah kering total dan jejaknya pun mulai berangsur hilang. Tapi tetap saja Sita manjanya Nauzubillah! Semua penghuni SMA N 1 Peringi sampai tahu bagaimana sifat asli Sita jika bersama dengan Ambar. Tapi banyak juga murid-murid perempuan yang kagum sekaligus iri dengan Sita melihat sikap pengertian dan romantis Ambar untuknya.
Justru Alif yang menjadi muak melihat kemesraan Ambar Sita tersebut. Pagi diantar kekelas, jam istirahat Ambar datang lagi kekelas mereka, bahkan pulang pun gadis itu di jemput Ambar didepan kelas. Alif kesal melihat wajah Ambar mondar-mandir dikelasnya. Meski Ambar pun sebenarnya lelah, tapi si tuan putri bisa mewek jika Ambar tidak menemuinya.
Sebelum bel istirahat berbunyi, Alif sudah keluar duluan dari kelasnya. Dia berdiri didepan kelas Ambar untuk mencegat langkah cowok itu sebelum datang menemui Sita. Saat Ambar keluar dengan teman-temannya, Alif langsung menghadangnya.
__ADS_1
"Gue mau ngomong sama lu" kata Alif dengan nada ketus.
"Weee... Weee... Ada apa nih, oh ya Met monas kapan pindah ke Peringi" ledek Arul dan menarik lengan Ambar agar tidak menuruti ajakan cowok tinggi tersebut.
Ambar dan Ismet tersenyum mendengar perkataan Arul.
"Gue serius! Gua mau ngomong 4 mata sama teman kalian ini" ujar Alif lagi.
Sebelum Arul mengoceh kembali, Ambar langsung melepaskan tangan kedua temannya dan menuruti ajakan Alif. Cowok tinggi itu membawa Ambar ke belakang sekolah mereka. Setelah merasa tidak ada lagi yang bisa mendengar obrolan mereka, Alif langsung memandangi Ambar sambil tersenyum sinis.
"Ini soal Sita!" kata Alif mulai menyampaikan maksud dan tujuannya mengajak Ambar berbicara.
"Sekarang udah bulan Januari, Juni kami akan ujian nasional! Tapi gua liat semenjak pacaran sama lu Sita jadi malas dan lu tau nilai Sita anjlok semua. Kalo dia terus kaya gini bisa-bisa pendidikan Sita buruk kaya lu juga!" Damprat Alif dengan kebohongannya.
Padahal nilai Sita tetap baik seperti biasanya meski dia libur selama satu minggu. Bahkan semangat belajar gadis itu jadi bertambah semenjak berpacaran dengan Ambar. Namun Alif sengaja menipu Ambar karena dia berharap cowok ganteng itu merasa bersalah dan meninggalkan Sita secepatnya.
"Yaudah nanti deh aku bilang sama Sita kenapa dia bisa gitu" jawab Ambar datar.
"Heh udah jelas Sita jadi malas karna elu!" ujar Alif kesal karna Ambar sepertinya tidak bisa mengerti dan mengambil kesimpulan yang dikatakannya barusan.
"Oh karna aku ya? Ntar aku paksa deh pacar aku buat belajar dengan baik" kata Ambar lagi sambil tersenyum simpul.
"Udah dulu ya, pacar aku pasti lagi nunggu nih. Dia bisa nangis kalo aku datangnya lama. Oh ya aku pengen ngasi tahu aja sama kamu, kalo mau nasehati mending ke Sita nya langsung. Biar dia sadar, kalo aku ini cuma benalu dikehidupan dia" kata Ambar dengan santainya dan berlalu meninggalkan Alif begitu saja.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
"Awwww" lirih Sita menahan tangannya yang kesakitan.
"Nilai kamu merosot ya?!" tanya Ambar tegas tanpa melihat kearah Sita sama sekali. Pandangannya tetap lurus kedepan memperhatikan jalanan yang mereka lewati.
"Enggak! Nilai aku bagus-bagus aja tuh, kemarin awal masuk sekolah aku langsung ikut Tryout padahal aku habis kecelakaan, tapi hasilnya tetap bagus! Matematika aku tetap yang paling tingggi. Bahkan nilai bahasa Indonesia aku sekarang udah bagus. Biasanya selalu dapat 90 atau 95! Kemarin enggak malah dapat 98. Emangnya kenapa? Siapa yang ngomong?" Jelas Sita panjang lebar dan menanyakan balik kepada Ambar siapa yang mengatakan hal itu dengannya.
"Bagus deh, aku cuma khawatir kalau pacaran sama aku bisa memberi efek negative buat kamu" kata Ambar sambil tersenyum sumringah menatap Sita.
Sesampai dirumahnya Ambar tidak langsung masuk kekamar kemudian makan seperti biasanya, tapi cowok itu memilih duduk diruang tamunya. Setelah mengetahui tentang Rio hati Ambar tidak pernah tenang sampai sekarang.
Apalagi mengingat Sita yang harus melanjutkan pendidikannya ke yang lebih tinggi beberapa bulan lagi. Ambar membuka jari-jarinya satu persatu seperti orang yang sedang berhitung.
"5 bulan lagi ya" gumamnya pelan sambil memperhatikan jari-jari ditangannya tersebut.
Tiba-tiba lamunan Ambar terhenti saat adiknya dan Suci masuk kedalam rumah. Ambar terperangah melihat senyum manis Suci kepadanya tidak pernah berubah sama sekali. Sebelum Suci ikut duduk didekatnya Ambar langsung masuk kedalam kamar, mengganti pakaiannya, setelah itu makan kemudian kabur dari rumahnya.
Sita sudah berdiri ditempat biasa dia menunggu Ambar. Saat pacarnya datang Sita langsung menggandeng tangannya sambil tersenyum bahagia.
"Kenapa?" tanya Ambar heran, karna dia merasa sudah tidak perlu menjadi perawat dadakan untuk Sita lagi.
"Mau ke balai ya kamu?" tanya Sita dengan manja.
__ADS_1
"Enggak" jawab Ambar santai dan berjalan menuju kerumah Sita. Gadis itu sempat kebingungan mendengar jawaban Ambar tapi senyumnya semakin terbuka lebar karena mengetahui ternyata Ambar akan menghabiskan waktu dirumahnya hari ini.
"Haaaaah Dari dulu kek kaya gitu, kamu habisin waktu berduaan dengan aku" ujar Sita bahagia.
Ambar hanya diam dan masuk kerumah buk Ita menuju ketaman belakang rumah tersebut. Sita mengikuti langkah Ambar dan ikut duduk disampingnya. Hati Sita tengah bahagia melihat Ambarnya mau berduaan dengannya tanpa harus diminta atau dipaksa seperti biasanya.
"Mau cemilan? Aku ambil dulu yaaaa" kata Sita dan melepaskan genggaman tangannya yang tidak lepas-lepas sedari tadi dari tangan Ambar.
"Bukan cemilan, bawa buku kamu. Kita belajar sekarang" kata Ambar berusaha memperlihatkan semangat kepalsuannya.
"Haaa?" Sita membuka mulutnya sedikit, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ambar barusan. Dia kembali duduk dan meletakkan telapak tangannya dikening Ambar.
"Gak panaskan sayang?" tanya Sita khawatir.
"Hahahaha udah cepat ambil bukunya, kemarin kan aku waktu mau ujian juga di paksa belajar sama kamu. Sekarang kamu juga gitu, kudu wajib kagak pake sunah mesti belajar juga sama aku!" Jawab Ambar tersenyum melihat raut wajah Sita yang kaget dengan ucapannya barusan.
Sita langsung memeluk Ambar, hatinya jadi senang mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu.
"Hahahah pengertian banget kamu sekarang, setelah aku kecelakaan sampe sekarang kamu jadi makin baik dan romantis" ujar Sita sambil mempererat lingkar tangannya di pinggang Ambar.
"Iya" jawab Ambar pelan "Biar kamu bisa masuk ke Universitas manapun yang kamu mau" ujarnya dengan suara yang begitu berat.
Senyum Sita langsung hilang seketika, dia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ambar lekat. Bibirnya berubah manyun kemudian menangis begitu saja. Ambar tidak lagi marah, dia berusaha untuk tersenyum melihat Sita menangis dihadapannya.
"Lima bulan lagi ujian kan, setelah itu kamu mesti kuliah, udah tau jurusan apa yang mau di ambil?" tanya Ambar lembut sambil menghapus airmata Sita.
"Aku gak kuliah, di Mandau gak ada perguruan tinggi yang sesuai dengan minat aku" jawab Sita sambil merengek.
"Yaaaa tapi di tempat lain kan ada sayang. UI, ITB, IPB, banyak pilihan di kota-kota Indonesia atau di Malaysia. Kamu mau yang mana? Berjuang dari sekarang ya sayang, waktu itu singkat" bujuk Ambar lagi dan berusaha tersenyum meski lesung pipinya yang menawan tidak terlihat sama sekali.
Sita menggelengkan kepalanya lemah, tidak ada yang dia mau satupun, mana mungkin baginya jauh dari seorang Ambar untuk waktu yang lama.
"Loh kenapa? Kemarin waktu liburan ke Malaysia bapak ngomong apa soal kuliah kamu?" tanya Ambar berusaha memancing Sita untuk mau menceritakan kepadanya juga seperti yang Alif pernah katakan.
Sita hanya diam dan kembali minta dipeluk oleh Ambarnya. Meski cowok itu menolak rangkulannya tapi Sita tidak peduli dan merebahkan tubuhnya kebadan Ambar.
"Ada yang gak kamu ceritain sama aku saat liburan kemarin ya?" Tanya Ambar sekali lagi tapi Sita tetap tidak mau menjawab pertanyaannya itu.
"Bapak gak nyuruh kuliah di sana?" tanya Ambar kali ini terdengar tegas agar gadis yang ada dipelukannya itu mau menjawab. Namun tetap saja Sita memilih bungkam dan tidak mau mengatakannya kepada Ambar.
"Kita masih sekolah, ketagihan kamu meluk aku terus!" kata Ambar dan melepaskan tubuh Sita secara paksa dari badannya.
"Ambil buku! Aku temani kamu belajar sekarang!" perintah Ambar mengakhiri obrolan mereka. Ambar menjadi kesal karna Sita tidak mau menceritakan semuanya dengannya. Dipikiran Ambar perkataan Alif waktu itu adalah benar.
Melihat raut wajah Ambar sudah berubah galak Sita terpaksa nurut dan masuk kedalam untuk mengambil buku pelajarannya.
__ADS_1