AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Surat


__ADS_3

 


**~AmbarSita~**


 


Ketika sudah berada didepan rumah besar yang dipenuhi bunga-bunga itu Ambar kembali mundur dan mengurungkan niatnya. Berkali-kali dia bolak balik melewati rumah Sita. Sampai-sampai Dian anak pak Sayuti Malik memandangi Ambar dengan heran.


"Heh kamu ngapain dari tadi bolak-balik gitu?"


"Ah hahahaha, kak Dian dari mana?"


"Dari belajar kelompok dirumah teman, kan bentar lagi kakak mau ujian UAN" Ambar hanya diam karna dia tidak paham dengan apa yang dikatakan perempuan yang sudah kelas tiga SMA itu "Ngapain sih, kamu dimarah pak Bahrun loh kalo belum juga pulang kerumah, bentar lagi magrib nih"


"Ambar justru gak bisa pulang saat ini kak"


"Loh kenapa?"


"Soalnya Ambar disuruh minta maaf baru bisa pulang"


"Minta maaf ama siapa?"


"Sama anak baru dikelas Ambar"


"Anak siapa?"


"Cucu nek Lasa, anaknya buk Ita"


"Loh kakak gak pernah liat anak buk Ita sampe sekarang, Eh emang kamu apain anaknya? kamu tinju lagi ya anak orang?!"


"Enggak, dia cewek!"


"Ooouh cewek, jangan-jangan kamu godain yaa... pasti dia cantik kan trus kamu naksir"


"Apa itu kak?"


"Naksir itu kamu cinta sama dia"


"Cinta ngapain kak?"


Dian menepuk jidat, ternyata anak SD Peringi hilir masih begitu polos dan sama sekali tidak mengerti istilah dalam persoalan asmara.


"Cinta itu kamu cimimuiwan sama dia, siapa nama dia?"


"Cimimuiwan apa kak?" Ambar masih terus penasaran dan bertanya.


"Cimimiuwan itu...... Aaagghh banyak nanya kamu ntar udah gede dikit kamu bakal tahu, yaudah sana minta maaf!"


"Malu kak" jawab Ambar pelan.


"Naaah kan, kamu suka nih ama dia!"

__ADS_1


"Enggak!! Ambar malah kesal ama dia, cengeng trus kalo nangis kenceng banget"


"Halah boong aja kamu"


"Bener, Ambar kesal sama dia!"


"Ati-ati ntar kamu jodoh loh sama dia"


"Iya buk Ita sama ibuk Ambar juga pernah bilang gitu, tapi Ambar gak mau kak" jawabnya cepat.


Ambar masih berpikir jika jodoh itu maka wajahnya akan mirip seperti ayahnya pak Bahrun.


"Loh kenapa?" tiba-tiba Dian menghentikan perkataannya saat melihat suami buk Ita dan anaknya bersiap-siap untuk pergi ke mushola melaksanakan sholat magrib.


"Paaaak" sapa Dian dengan ramah.


Pak Adam menganggukkan kepala dan membalas senyum Dian. Sita menggenggam tangan ayahnya karena ketakutan melihat Ambar dan sesekali dia menutupi rambutnya.


"Oh itu dia anaknya, kan memang cakep"


"Rambutnya dipotong" kata ambar.


"Hee kamu memperhatikan dia sampe sedetail itu, dasar bocah!!" ledek Dian dan mencolek pipi tembam Ambar.


"Soalnya rambut dia kemarin panjang, trus Ambar gak sengaja jatuhin permen karet dirambut dia, sekarang rambutnya udah pendek aja tuh"


"Jahat kamu ini, sengaja atau gak sengaja nih? Pasti boong kan aslinya sengaja!"


"Ya bener ibuk kamu itu, minta maaf sama dia"


"Tapi Ambar malu buat ngomongnya kak"


"Karena dia cantik?" Ambar tersipu malu mendengar perkataan Dian "Yee kan Hahaha cepet gede kamu ntar nih, kecil-kecil udah bisa suka sama cewek!"


"Ambar gak suka sama dia kak"


"Cintah!!"


"Apa itu?" tanya ambar lagi


Dian menepuk kening lagi, lupa dia sedang berbicara dengan anak kelas 2 SD.


"Yaudah kalo kamu malu buat ngomong, minta maafnya pake surat aja" Dian menyobek buku tulisnya dan mulai menuliskan permintaan maaf yang cukup panjang untuk Ambar.


"Nih kasih" kata Dian menyodorkan kertas yang sudah dibuatnya.


"Ngasinya Ambar juga malu kak"


"Udah tinggal kasi aja trus kabur deh"


Ambar mengangguk "Makasih ya kak" kata Ambar kemudian meninggalkan gadis itu.

__ADS_1


"Eeeeeh Enak aja makasih, bayar itu, cium kakak dulu!" perintahnya sebagai imbalan.


Ambar segera mencium anak pak Sayuti Malik tersebut kemudian pergi kemushola, dilihatnya imam akan mulai melaksanakan sholat magrib berjamaah.


Ambar pergi ke shaft perempuan, Sita berdiri di shaft paling belakang bersama anak-anak perempuan lainnya.


"Untung aja dia di shaft paling ujung" gumam Ambar pelan.


Saat Sita akan rukuk mengikuti gerakan Imam yang didepan. Ambar dengan cepat menarik mukenah gadis itu sampai-sampai dia hampir terjungkal kebelakang. Sita kaget dan melihat kearah orang yang mengganggu Sholatnya.


Satu, dua.... Dia akan menangis dengan kencang lagi, melihat bibirnya sudah mulai terlihat mewek Ambar segera menutup mulut Sita.


"Huuust" bisik Ambar dengannya. Air matanya sudah keluar dan jatuh membasahi tangan Ambar.


"Wajah aku saram banget ya sampe kamu nangis terus liat aku?" tanya Ambar sambil berbisik ketelinganya.


Sita menganggukkan kepala dengan cepat, melihat jawabannya Ambar langsung menyerahkan surat yang sudah dibuatkan Dian dan bergegas menjauh dari Sita sebelum gadis itu jantungan karena melihat wajahnya lebih lama lagi.


Sita terpaku melihat anak cowok yang selalu menakutinya itu pergi, nangisnya tiba-tiba hilang. Sita baru sadar dan langsung melanjutkan sholatnya lagi.


 


**~♤♤♤~**


 


Selesai sholat Magrib pak Adam menunggu putrinya di pintu mushola. Diperjalanan pulang Sita menyerahkan surat yang diberikan Ambar tadi pada ayahnya.


"Apa ini?" Tanya pak Adam heran.


"Anak cowok yang usil di kelas Sita ngasih ini tadi"


"Jadi dia yang sering ganggu Sita disekolah?" Sita hanya diam dan mengikuti langkah ayahnya untuk segera sampai dirumah.


Berada ditempat yang cukup terang pak Adam membuka kertas yang diberi Sita dan mulai membacanya "Hahahaha" tawa pak Adam langsung pecah setelah mengetahui isi surat tersebut. Kepalanya geleng-geleng karena tidak percaya bocah kelas dua SD sudah bisa membuat surat romantis.


"Kenapa bapak senyum-senyum sendiri" tanya buk Ita heran saat suaminya yang baru masuk kedalam rumah.


"Ini teman kelas Sita ngirim surat untuk dia" pak Adam menyerahkan surat Ambar dengan istrinya.


Buk Ita juga ikut geleng-geleng kepala selesai membaca isi surat Ambar.


"Nah tu Ta..... jangan bilang Ambar nyeremin lagi" kata buk Ita dengan putrinya dan memberikan surat Ambar kembali.


"Haaaah anak-anak jaman sekarang, gedenya kecepatan!" desah buk Ita.


Sita masuk kedalam kamar dan mulai membaca isi surat tadi:



__ADS_1


__ADS_2