AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Olimpiade


__ADS_3

AmbarSita


*****


Sebelum berangkat ke Jakarta mengikuti Olimpiade, Sita ingin memuaskan matanya untuk melihat Ambar dulu agar pikiran dan hatinya bisa tenang meninggalkan pujaan hatinya yang nakal tersebut selama 10 hari lamanya. Seperti biasa, meminta waktu Ambar itu sulitnya bukan main!


'Aku main futsal, aku mau ke warnet, aku mau ngumpul, aku mau... aku mau...' segudang kegiatan Ambar yang sulit dicegah oleh Sita.


Tapi karna dua hari lagi dia akan absen menjadi pengamat setia Ambar. Maka Sita sedikit memaksa, gadis itu bahkan sampai berbohong jika dia ingin bantuan Ambar untuk dibuatkan gambar. Dengan terpaksa Ambar nurut. Mereka pergi ke sungai indah tempat mereka biasa duduk.


"Gambar apaan?" tanya Ambar sambil terus memakan beng-beng yang ada ditangannya.


"Lukisin aku dengan pemandangan bagus ditempat ini dong"


"Gak bisa" jawab Ambar tegas dan menyodorkan sampah plastik beng-bengnya pada Sita.


"Kenapa gak bisa?"


"Yang cantik sama menawan itu sulit buat aku lukiskan"


Sita tersipu malu mendengar jawaban Ambar, dulu dia juga pernah memberikan jawaban yang sama.


"Yaudah terserah deh gambar apa aja yang sesuai dengan kemauan kamu"


Ambar diam sejenak, kemudian mulai menggerakkan pensilnya. Saat melukis Ambar berubah menjadi tenang, kalem dan konsentrasi. Sita begitu puas memandangi wajahnya yang tampan. Gadis itu tersipu malu dengan sendirinya menatap Ambar.


Kali ini Ambar melukis cukup lama tidak seperti biasanya. Bahkan sudah memakan waktu sekitar 15 menit tapi Ambar masih asyik menggoyang-goyangkan pensilnya diatas buku gambar Sita.


30 menit kemudian Ambar masih sibuk dengan buku gambarnya. Sita pun tidak berhenti menatap Ambar tapi dalam pikirannya juga bertanya kenapa Ambar begitu lama melukiskan sesuatu untuknya, tidak seperti biasanya.


Sita akhirnya memberanikan diri untuk duduk lebih dekat dengan Ambar. Dia ingin melihat apa yang dilukis oleh Ambar. Mata Sita langsung membulat besar memandangi buku gambar yang dipengang Ambar, sudah lebih dari setengah jam ternyata Ambar hanya mencoret-coret buku gambarnya saja.


"Looh Aku pikir kamu udah mulai menggambar" ujar Sita kaget.


Ambar hanya tersenyum dan memandangi Sita lekat. Senyumnya begitu manis sambil memperlihatkan lesung pipinya.


"Udah belum?" tanya Ambar dengan santainya.


"Haa? Kan aku yang harusnya nanya, kamu gak ngegambar apa-apa dibuku itu"


"Kamu nya udah puas belum liatin aku?" tanya Ambar sekali lagi.


Sita langsung menutup mulut, menutupi rasa malunya. Bagaimana Ambar bisa tahu alasan dia meminta bantuan Ambar membuat gambar itu ada maksud tertentunya. Ambar kembali tersenyum dan menyerahkan buku gambarnya pada Sita.


"Kalo udah, yuk pulang" ajak Ambar dan mengulurkan tangannya pada Sita.


"Gam......gambar nya kan belum siap" ujar Sita gugup.


"Coba liat di halaman samping"


Sita langsung melakukan perintah Ambar. Wajahnya berubah pucat saat melihat lukisan wajahnya yang begitu indah digambarkan oleh Ambar. Rasanya hasil karya Ambar sudah layak disandingkan dengan para seniman professional.


"Kap.....kapan....kamu buat? Padahal kamu juga gak ngeliat ke objek lukisan kamu sama sekali. Tapi kenapa bisa mirip gini" kata Sita yang masih terkesima dengan lukisan dibukunya.


"Mata kamu terlalu fokus memperhatikan wajah aku, sampe gak sadar dalam waktu sepuluh menit aku udah selesai gambarin kamu"


"Ya tapi kamu, kan kamu gak ngeliat aku loh kenapa bisa. Makanya aku mandangin kamu terus, heran gitu" jawab Sita memberi alasan untuk menutupi rasa malunya.


"Buat apa liatin kamu, wajah kamu udah tersimpan didalam pikiran aku"


Sita menarik nafasnya, detak jantungnya sudah tidak seirama lagi. Perasaannya dibuat melayang dengan perkataan Ambar barusan. Cowok nakal itu dari dulu selalu berhasil membuat Sita semakin menjatuhkan hatinya lebih dalam lagi untuk Ambar.


"Yaudah yuk pulang, aku lapar"


"Ambaaaaar" Panggil Sita untuk mencegah cowok itu berdiri dari duduknya.


"Kamis pagi aku mau berangkat ke Jakarta" katanya lagi memberitahu Ambar.


"Ngapain?"


"Aku mewakili sekolah dalam Olimpiade Matematika"


"Wuiiih keren! Semoga menang ya"

__ADS_1


"Sepuluh hari mbar" ujar Sita pelan, dia tidak peduli dengan menang atau tidaknya. Yang lebih Sita pedulikan justru perasaan Ambarnya.


"Kenapa gak sebulan?" tanya Ambar dengan raut wajah polos.


Sita langsung manyun mendengar pertanyaan Ambar tersebut. Sepuluh hari saja sudah membuat hati Sita tidak senang, bagaimana mungkin Ambar justru menyarankan waktu sebulan!


"Emang kamu gak bakal kangen sama aku kalo aku pergi?"


Ambar memiringkan kepalanya sedikit dengan pertanyaan Sita. Dia memandangi gadis yang tersipu malu dihadapannya saat ini.


"Enggak lah!" jawab Ambar mantap.


"Yaudah, yuk pulang!" ajak Sita dengan suara tegas. Hatinya yang tengah berbunga-bunga langsung turun ke level suram dalam seketika.


Ditengah perjalanan Ambar berusaha menyamakan langkahnya dengan Sita yang terlihat masih kesal atas jawaban Ambar yang tadi.


"Alif juga ikut?" tanya Ambar, Sita hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan cowok tersebut.


"Enak ya, Bisa sekalian liburan kalian" kata Ambar lagi sambil tersenyum simpul memandangi jalan yang mereka lalui.


Saat sudah memasuki jalanan yang mulai rami, Ambar menepuk pundak sita.


"Jangan lupa oleh-olehnya ya kak" ujar Ambar dan menghentikan langkahnya. Membiarkan Sita melanjutkan perjalannya sendirian.


Tapi gadis itu justru membalikkan badannya dan menoleh kearah Ambar lagi. Wajahnya masih manyun, selain itu Sita merasa belum puas menghabiskan harinya bersama Ambar.


"Hati-hati ya, aku mau ke balai dulu ketemu teman-teman" pamit Ambar cepat dan kabur meninggalkan Sita yang belum mengucapkan sepatah katapun untuknya.


 


~**♡AmbarSita♡**~


 


Keesokannya karena tahu Sita akan pergi ke Jakarta, semua teman-teman Ambar termasuk Abdul dan Yudi kompak untuk pergi ke SMA Peringi. Kata mereka sih ingin menyampaikan doa dan dukungan buat Sita. Tapi sesampai disana Abdul dengan percaya diri mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya pada Sita, Yudi pun demikian, Khaidir dan Arul juga melakukan hal yang sama.


"Sitaaa itu daftar oleh-oleh yang mau kami titip sama Sita" kata Arul dengan wajah tidak berdosa. Dia tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepala.


Alif langsung mengambil semua kertas milik cowok-cowok tidak berotak itu dari tangan Sita dan membuangnya ke lapangan. Semua ingin marah tapi saat ini ada malaikat pelindung untuk manusia sombong itu yaitu guru-guru pembimbing mereka.


"Mbaaar" panggil sesosok perempuan yang sudah cukup Ambar hapal suaranya. Gadis yang dulu rambutnya pendek sebahu itu kini sudah panjang dan dibiarkannya tergerai.


"Hei" sapa ambar ramah pada Andin dan tersenyum kearah gadis itu.


"Ngapain? Gak sekolah kalian? Bolos ya? Hahaha masih hobi aja nih kamu bolos" kata Andin dan menepuk pundak Ambar. Semenjak hati Andien patah karna informasi menyesatkan Sita. Hubungan Ambar dan Andin memang tidak dekat lagi, tapi keduanya tetap baik dan saling tegur sapa jika berpapasan dijalan.


Wajah Sita manyun melihat Ambar berbicara dengan Andin. Ismet ikut dalam obrolan mereka yang terdengar begitu asyik. Teman-teman Ambar yang lainnya pun ikutan bergabung, karna Sita sedari tadi cuek dan tidak peduli. Bahkan gadis itu tidak merespon semua ucapan-ucapan baik dari teman-teman Ambar sama sekali.


"Hai Andin" sapa Abdul dan Arul sok ramah.


"Hai ngapain sih kalian, tumben kesini?"


"Andin gak belajar nih?" tanya Arul dan mengambil posisi berdiri didekat Ambar agar wajah nya bisa terlihat lebih jelas oleh Andin yang cantik.


"Belajar, tapi izin mau liat peserta Olimpiade berangkat. Oh ya Sita - Alif, semangat ya. Semoga bisa menang" teriak Andin dengan dua sejoli yang terus menempel itu.


Alif hanya diam, Sita malah membuang muka karna hatinya begitu cemburu. Sita tidak bisa menempatkan perasaannya dan semua orang yang tidak bersalah terkena impact.


"Kenapa sih Sita? Manyuuun aja, heran" bisik Khaidir dan Thalib yang dimasa SMA ini masih ditempatkan dikelas yang sama dengan Sita dan Alif.


"Iya, tadi Alif buang kertas-kertas kita dia juga diam. Gak peduli, diajak ngobrol gak jawab, makin lama sombongnya Sita makin keliatan ya, sementang cantik" Arul ikut memberikan komentarnya dengan pelan.


"Andin gak satu kelas ama Sita lagi ya?" bisik Ismet yang sebenarnya ingin menanyakan keberadaan Putri, cewek yang sempat dekat dengannya.


"Enggak, aku sama Putri kelas 1-D. Emang sih, dulu Ana pernah bilang Sita itu karakternya pendiam, tapi diamnya aku rasa berlebihan. Kalo ditegur di jalanpun dia gak ngejawab hahaha aku jadi bingung bedain orang yang pendiam sama sombong"


Beberapa teman kelas Sita waktu SD dulu kurang setuju dengan pendapat Andien barusan. Mereka berpikir jika karakter Sita memang sangat sulit diajak bicara. Gadis itu penakut dan susah bersosialisasi.


"Enggak ndin, sombongnya karena Alif doang kok" ujar Abdul dan Ismet berusaha membela Sita.


"APAAN!! Emang dia sombong kok, tuh nyatanya kertas permintaan oleh-oleh kalian dibuang sama pacarnya, dia gak peduli!!" bentak Ambar dengan nada yang begitu keras, sampai-sampai semua orang memandangi mereka.


"Mbar, kamu ini, dengar orangnya ******! Bisa ngamuk deh pacarnya" bisik Arul agar Ambar bisa mengecilkan volume suaranya sedikit.

__ADS_1


Alif tahu jika Sita lah yang menjadi bahan obrolan orang-orang tersebut. Dia ingin memberi pelajaran orang yang sudah berani menggosipi gadisnya. Saat Alif akan menghampiri Ambar CS, Sita langsung mencegatnya.


"Udah Alif, biarin aja" bisik Sita pelan, dia tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Sita memungut kembali kertas-kertas yang sudah dibuang Alif.


"Abdul, ntar kalo sempat Sita beliin____"


"Halah, udah di sindir baru sadar! Jadi orang jangan sombong deh! Jalan masih nyentuh tanah juga!!!" umpat Ambar kesal dan berlalu pergi meninggalkan sekolah itu sebelum emosi Alif naik dan mengajaknya baku hantam lagi.


Semua teman-temannya ikut menyusul Ambar, cowok itu terlihat begitu marah saat ini.


"Sabar mbar! Lagian kita kan sama-sama tahu Sita itu emang sulit diajak ngobrol" bujuk Abdul menepuk-nepuk pundak temannya.


"Masa sih? Tapi aku liat Sita emang sombong. Dia kalo jalan nunduk terus, seram jadinya" protes Arul yang sebenarnya tidak pernah menjadi teman kelas Sita sama sekali.


Tangan Abdul dan Ismet mendarat mulus ke kepala Arul.


"Kamu pernah dekat sama dia? Pake acara sok-sok an tahu gimana Sita!" umpat keduanya kompak.


Ambar hanya diam, dia pun jadi sepemikiran dengan Arul. Toh dia juga merasa Sita hanya ingin berbicara dan menjadi temannya secara diam-diam selama ini. Mungkin gadis itu malu mengakuinya hubungan mereka.


 


~**♡AmbarSita♡**~


 


Sepuluh hari kemudian Sita dan Alif akhirnya selesai mewakili sekolah mereka. Selama perlombaan Sita tidak mengeluarkan semangatnya sama sekali, bahkan dia ogah untuk berpikir.


Hati Sita memang sudah tidak enak sejak awal keberangkatan. 'Ambar marah' hanya itu yang menghantui pikiran Sita selama di Jakarta. Mungkin karena itu juga perwakilan murid kelas satu langsung gugur dalam Olimpiade tersebut.


Sepulang sekolah Sita berdiri dipinggir jalan depan rumahnya. Menunggu sosok Ambar lewat. Sita melirik kearah jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 2 siang. Berarti Ambar sudah lewat sedari tadi. Sita memang telat pulang kerumah karna kepala sekolah meminta semua peserta olimpiade untuk makan siang bersama dulu.


"Heeh kenapa kamu disini? Nungguin siapa?" sapa buk Ita yang akan pergi ke desa seberang.


"Ibuk liat Ambar?"


"Ambar? Enggak tuh, kenapa?"


"Buk, Ambar marah lagi sama Sita" rengek Sita pada ibunya.


"Kenapa lagi?"


Sita kemudian menceritakan dengan ibunya alasan kenapa Ambar sampai marah dengannya. Buk Ita pun langsung memukul kepala gadis itu dengan keras.


"Ibuk kalau jadi Ambar pasti akan marah juga sama kamu!" ujar buk Ita yang selalu tidak suka dengan sifat pendiam dan pemalu Sita.


"Jadi gimana buk, kayanya semua teman-teman Ambar jadi salah paham sama Sita"


"Oleh-oleh yang kamu beli untuk mereka itu udah di bagiin semua?"


"Belum buk"


"Yaudah antar kerumah mereka masing-masing, biar mereka gak mikir kamu sombong"


Sita hanya diam dan tidak bisa setuju dengan saran ibunya tersebut. Buk Ita pun memilih kabur ke seberang menemui adik manjanya.


Sita menghembuskan nafas dengan keras. Dia masuk kedalam rumah untuk mendinginkan kepalanya yang panas. Cukup lama Sita duduk diruang tamu sambil menatap semua goodibag berisi oleh-oleh yang dibelikannya untuk teman-teman SD nya dulu.


Sita terus berpikir untuk memantapkan tekadnya pergi kerumah cowok-cowok itu. Sita harus mengerahkan semua keberaniannya hari ini, agar mereka berhenti berpikir jika Sita itu sombong.


Sebelum azan magrib berkumandang Ambar memutuskan pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, buk Khadijah, pak Bahrun dan adiknya Hening sedang asyik menikmati dodol diruang tamu.


"Hahaha akhirnya kamu pulang juga, tadi nak Sita ngasi bapak dodol wuiih sedap betul" ujar Pak Bahrun yang ingin memanas-manasi anaknya.


Ambar mengangkat alis mendengar perkataan ayahnya tersebut.


"Buat ambar bukan?" tanya Ambar penasaran karna semua teman-temannya memang mendapatkan dodol dari Sita dan tadi siang Arul juga mengatakan jika Sita tidak berniat memberinya oleh-oleh.


"Bukan!! Buat kami, kamu tuh dikasi baju kaos gambar monas sama gantungan kunci Hahaha" kata pak Bahrun girang, karna dodol yang sebenarnya ada untuk Ambar juga sudah habis mereka makan bertiga.


"Jangan lupa bilang makasih sama Sita besok yaaa" teriak buk Khadijah saat Ambar masuk kedalam kamarnya.


Ambar langsung merebahkan badannya keatas kasur, pikiran dan hatinya jadi berkecamuk "Apa sita jadi marah ya karna aku bilang sombong?! Ya habis_____" ambar terdiam dan tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya. 

__ADS_1



__ADS_2