AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Pindah Sekolah


__ADS_3

Hubungan Sita dan Alif semakin dekat. Sita jadi tidak pernah menundukkan kepala lagi ketika berbicara dengan Alif. Sifat mereka pun jadi semakin sama. Selalu duduk di kelas saat jam keluar main dan pulang paling akhir saat jam pelajaran sudah berakhir.


Alif masih jahat dengan murid-murid lainnya dan hanya lembut kepada Sita saja. Alif juga sering bermain kerumah Sita, bahkan Alif juga selalu menunggu Sita sebelum berangkat kesekolah. Sedangkan Sita sendiri tetap setia menunggu si suara berisik untuk lewat didepan rumahnya.


Seperti pagi ini, Alif menunggu Sita ditempat yang sama dengan Ismet menunggu Ambar. Si gadis yang tengah ditunggu Alif justru asyik mencabut-cabut bunga yang ada dipekarangan rumahnya.


Sesekali Sita melihat kearah jam tangannya. Masih pukul 7.40 kebiasaannya menunggu si suara berisik tidak bisa berhenti meskipun mereka tidak satu kelas lagi.


Ambar akhirnya lewat, tapi Ambar berjalan begitu pelan. Bocah nakal itu planga-plongo seperti sedang mencari sesuatu. Sita yang biasanya akan menunggu Ambar lewat terlebih dahulu baru ikut menyusul dari belakang jadi gelisah melihat sikap Ambar pagi ini.


"Woii tiang listrik, kamu nemu uang jatuh gak, kalo ketemu sumbangin ke aku ya!" teriak Ambar menyapa Alif yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


Alif merasa jenuh menunggu Sita, cowok itu pun tidak menggubris perkataan Ambar dan terus berjalan menghampiri Sita yang berada dibelakangnya.


"Hahaha eh ada Sita ya, cieee tiang listrik setiap hari aja nungguin tuan putri yang cantik ini hahaaha" ledek Ambar kemudian kabur begitu saja.


Ah, Perkataan si bocah nakal!! Kecil-kecil sudah bisa bikin perasaan anak gadis orang baper tujuh turunan. Sita jadi kesenangan mendengar perkataan Ambar barusan.


  ~♡AmbarSita♡~ 


Saat jam istirahat Ambar cs sudah meramikan warung disekolah mereka. Ambar terdiam sambil meraba-raba saku celananya yang kosong.


"Aaaaah nasib aku sial banget sih" gerutu Ambar kesal.


"Emang kenapa?" tanya Ismet sambil menikmati kerupuknya.


"Aku tadi pagi nyariin uang orang yang jatuh buat di pungut, tapi gak nemu"


"Kenapa kamu nyariin uang orang yang jatuh?" ledek ibu warung.


"Apaan sih ibu ini!! Berisik!" umpat Ambar kesal.


"Mau jajan? Yaudah ambil tuh, tapi hari ini aja ya, besok-besok gak boleh" ujar ibu warung kasihan.


Yang ditawari Ambar, tapi genk kisminnya ikutan memasang tampang memelas. Apalagi Abdul yang paling jelek, semakin membuat hati ibu warung miris. Jadinya semua dapat makanan gratis hari ini.


\*\*\*\*\*


Keesokan harinya, Ambar yang kini duduk dengan Ismet kompak tidak mendengarkan penjelasan buk Ita yang sedang menerangkan pelajaran IPA. Yang satu sibuk memainkan kartunya. Yang satu lagi sibuk dengan hobbi melukisnya.


"Ckckckc... Nih liat bagus kan?" kata Ambar memamerkan hasil lukisan gambar Doraemonnya kepada Ismet.


"Loh buk Mun! Itu untuk aku ya?"


"Mau aku jual nih sama Sita, kira-kira dia masih mau nggak ya beli lukisan aku?"


"Tawarin aja. Emang Sita biasanya beli berapa lukisan kamu?"


"1000"

__ADS_1


"Wuiih banyak Mbar. Aku juga mau buat deh kalo gitu. Kalo kita kumpulin lukisan kita, trus jual ke Sita bisa jadi kaya raya kita Mbar" ujar Ismet yang jadi ikutan bersemangat membuat lukisan dibukunya.


Meskipun tidak jelas apa yang digambar bocah itu. Niatnya mau bikin karakter boneka salju, tapi lebih tepatnya kaya boneka hantu. Jiwa seni Ismet masih kalah sama teman akrabnya.


Saat jam istirahat, Ambar dan Ismet datang kekelas lima. Mereka melihat Sita yang tengah asyik mengerjakan latihan-latihan buku LKS bersama Alif.


"Kamu duluan mbar, aku malu ada Alif" bisik Ismet sambil menolak Ambar.


Ambar mengeluarkan senyuman merekahnya dan berjalan memghampiri meja Sita.


"Sitaaa, apa kabar? Makin cantik aja" sapa Ambar berbasa-basi busuk.


"Ngapain kamu?!!" tanya Alif kasar.


"Apaan sih tiang listrik, nyaut aja!!" balas Ambar kesal.


"Sitaaaaa, nih aku buat lukisan lagi loh. Liat deh, cantikkan, kaya kamu?" ujar Ambar dengan bangganya.


Sita langsung menganggukkan kepalanya.


"Sita aku juga buat lukisan loh, nih liat" Ismet akhirnya ikutan berani menunjukkan maha karyanya kepada Sita.


"Kamu mau beli?" ujar Ismet lagi yang mulai masuk pada tujuan mereka.


Sebenarnya Sita sudah tahu kebiasaan Ambar yang hobbi menjual maha karyanya kepada Sita. Tapi baru kali ini Ismet juga ikutan. Mau tidak mau Sita harus membeli keduanya.


Ambar dan Ismet terpaku melihat karya mereka sudah hancur menjadi sobekan kertas, Sita pun juga ikut-ikutan kaget melihat hal itu


"Dgeeebuuuuk!!"


Bunyi keras dari tinjunya Ambar mendarat mulus ke pipi Alif. Ismet juga ikut-ikutan kesal dan memukul mulut Alif dengan kuat. Dua sekawan itu kompak menghajar Alif dengan sifat bar-bar mereka selama ini. anak-anak perempuan menangis histeris karna baku hantam yang terjadi kali ini lebih parah dari sebelumnya. Soalnya sekarang jadi tiga orang yang saling adu jontos.


Buk Rani wali kelas lima berlari masuk kekelas karena panggilan mendadak dari Thalib. Ketiganya langsung diamankan kekantor. Alif merengek karna yang paling sering mendapatkan pukulan, jelas dia kalah saing, soalnya Ambar berdua dengan Ismet.


Giginya sampai berdarah karna tinju Ismet. Buk Ita dan buk Rani menarik nafas dengan kelakuan murid-murid mereka. Ceramah panjang lebar diberikan dengan ketiga bocah bocah cilik yang hatinya masih saling panas itu.


"Besok ketiga orang tua kalian suruh datang kesekolah!!" perintah buk Ita mengakhiri ceramah dadakannya.


Ambar dan Ismet kompak bolos dari sekolah setelah mereka keluar dari kantor. Keduanya pergi kerumah kak Dian untuk menghabiskan waktu sambil menghibur wanita yang masih terus patah hati setelah tidak diterima di universitas perguruan tinggi negeri tersebut.


  ~♡AmbarSita♡~


Setelah perkelahian itu Ambar dan Ismet dipaksa pindah sekolah atas permintaan ayahnya Alif. Cowok tinggi itu mengaku trauma satu sekolah dengan Ambar dan Ismet.


Saat libur kenaikan kelas, Sita duduk dipekarangan rumahnya. Padahal Ambar cuma pindah sekolah, tapi bagi Sita bukan hanya sekolah tapi pindah rumah sekalian. Soalnya suara teriakannya tidak pernah lagi terdengar lewat didepan rumah Sita.


"Eeeh tumben kamu lama duduk diluar, kenapa? Oh ya, Bapak mau tes kerja di Jakarta. Kamu mau ikut gak? Sekalian kita liburan" tanya buk Ita menghampiri putrinya.


"Buk, Ambar pindah rumah ya?" tanya Sita lesu.

__ADS_1


"Ambar? Pindah kemana, jelas itu rumah dia sendiri"


"Kok gak pernah keliatan lagi ya buk?"


"Gak keliatan? Kamu tuh yang kerjaannya ngurung diri didalam rumah! Ibuk masih sering kok liatin Ambar, malah tiap sore dia mandi disungai sama teman-temannya. Oh ya, Ambar pindah sekolah? Jadi kalian gak satu sekolah lagi?"


"Kok ibuk tau?"


"Buk Khadijah yang cerita sama ibuk. Mereka kasihan sama orang tua si Alif yang mohon-mohon soalnya anaknya trauma sekolah bareng Ambar. Emang Ambar itu jahat banget ya disekolah? Kamu pernah digangguin juga?"


Sita langsung menggelengkan kepalanya.


"Tapi buk Khadijah juga ngakuin sih katanya Ambar emang nakal"


"Enggak, Ambar baik dengan Sita!"


"Bohong, ibuk tanya Ana teman kelas kamu katanya kamu sering dimintai uang?"


"Gak minta buk, Ambar jual lukisan dia sama Sita" rengek Sita berusaha membela Ambar.


"OH! Jadi lukisan yang kamu tempel-tempel di dinding kamar kamu itu Ambar yang buat?"


Sita langsung menganggukkan kepala dan tersenyum dengan ibunya.


"Hahaha pinter itu anak, untung lukisannya bagus, berarti dia gak pernah jahat sama kamu?"


"Enggak, ambar itu lucu. Sita jadi suka dengerin dia ngomong"


"Hahaha iya sih, ganteng juga ya, ibu juga suka" Sita jadi tersipu malu mendengar perkataan ibuknya sendiri.


"Kenapa kamu? Heeeee kecil-kecil udah tahu soal cinta nih" goda buk Ita sambil mencolek pipi anak gadisnya "kalo masih SD jangan dulu pacar-pacaran"


"Tapi Ambar gak pernah lagi lewat kalo Sita mau berangkat sekolah buk"


"Ambar mah sekarang sekolahnya lewat sanaa, makanya gak ketemu kamu" tunjuk buk Ita kearah belakang rumah mereka.


"Jadi mainnya juga sekitaran area sana. Kamu juga sesekali main kek sama anak-anak didesa ini. Kerjaannya dirumaaaaaah terus, padahal kita udah lama tinggal disini tapi kamu belum juga dapat teman akrab"


"Alif itu kan teman akrab Sita buk"


"Oh Alif yang berantem sama Ambar itu, yang sering main kerumah kita? Ibu pikir Alif yang mana, ternyata teman kamu yang dipukuli Ambar"


Sita hanya diam mendengar perkataan ibunya.


"Yaudah gimana, mau ikut gak kalo bapak pergi besok?"


"Mau deh" jawab Sita pelan.


__ADS_1


__ADS_2