AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
AmbarSita


__ADS_3

Setelah dokter memeriksa kondisi Sita, gadis cantik itu akhirnya di perbolehkan untuk pulang. Saat sampai didepan rumah, Sita langsung menggenggam tangan Ambar erat. Meskipun Alif dan pamannya turut membantu Sita untuk masuk kedalam kamar, tapi tetap saja Sita maunya dipapah oleh Ambar.


Sita bahkan tidak mengizinkan kekasihnya itu untuk pergi meninggalkannya. Buk Ita tersenyum kecut melihat tingkah anaknya dan dengan terpaksa meminta Ambar untuk mau menemani Sita lagi. Saat Ambar dan Sita hanya berduan didalam kamar, gadis itu terus memandangi wajah kekasihnya yang duduk diatas kasur.


"Kamu masih marah ya sama aku?" tanya Sita gugup.


"Enggak. Ngapain harus marah, kamu udah lecet-lecet gini gimana mungkin aku masih bisa marah" jawab Ambar pelan dan membelai rambut Sita dengan lembut.


"Jangan pulang ya, disini aja" rengek Sita dan mengambil tangan Ambar untuk dipeluk olehnya. Jadi saat dirinya tidur nanti Ambar tidak akan bisa kabur meninggalkannya.


Tiba-tiba Ambar tertawa melihat lukisan-lukisan yang pernah dibuatnya tertempel dengan rapi didinding kamar Sita.


"Kenapa sayang?" tanya gadis itu heran.


"Ngapain kamu tempel-tempelin sampah itu di dinding kamar kamu"


"Sampah? Enak aja! Itu hasil maha karya calon imam aku makanya aku pajang" jawab Sita tegas.


Ambar langsung tersenyum sumringah mendengar perkataan Sita. Lesung pipinya membuat hati Sita merasa sehat seketika. Tiba-tiba handphone Sita yang terletak di samping bantalnya berbunyi.


'Rio' nama itu tertulis dilayar handphonenya. Ambar langsung mengalihkan pandangan saat Sita melirik kearahnya, berpura-pura sedang memperhatikan hasil lukisannya lagi. Gadis itu jadi takut sendiri mengangkat panggilan dari Rio. Padahal kemarin didepan Alif tangannya tidak berhenti-henti membalas chatt online dari cowok tersebut.


Cukup lama handphone Sita bernyanyi-nyanyi sendiri kemudian mati. Sita meletakkan hp nya kembali, kemudian berbunyi lagi, masih dengan panggilan yang sama.


"Kenapa gak di angkat?" tanya Ambar lembut, dia melihat wajah Sita berubah jadi tegang setelah mendapatkan panggilan dari Rio.


"Itu teman kecil kamu dulu kan? mungkin dia pengen tahu keadaan kamu" ujar Ambar, kali ini dia berusaha meyakinkan Sita jika hatinya baik-baik saja meski Sita menerima panggilan itu.


Sita kemudian mengangkat panggilannya "Halooo" terdengar suara seorang laki-laki dari dalam handphone.


"Sita gak apa-apa kan? dari kemarin Rio coba nelfon, tapi kata ibuk Sita lagi istirahat. Sekarang udah pulang dari rumah sakit? Apa ada yang parah?" cowok itu langsung memberi Sita banyak pertanyaan, dari nada suaranya dia begitu khawatir.


"A.... ya... Sita gak apa-apa kok, baru tadi pulang dari rumah sakitnya, sekarang lagi istirahat. Mohon maaf, udahan dulu ya, badan Sita masih capek soalnya" jawab Sita dengan suara bergetar, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya saat ini.


"Oh yaudah, Sita istirahat yang banyak ya, semoga cepat sembuh"


Sita tidak menjawab perkataan terakhir Rio dan langsung mematikan handphonenya begitu saja. Matanya langsung beralih kearah Ambar yang masih fokus menatap maha karya yang pernah dijualnya seharga 1000 kepada Sita demi membeli sebungkus beng-beng waktu itu.


Sita menggoyang tangan kiri Ambar yang masih digenggamnya untuk mencuri pandangan cowok tersebut. Ambar menoleh dan tersenyum kembali melihat Sita, tapi kali ini lesung pipinya tidak keluar karna senyum yang dibuatnya begitu terpaksa.


"Yaudah kamu tidur, biar cepat gedeeee, eh cepat sembuh maksudnya" kata Ambar sambil membelai rambut kekasihnya tersebut.

__ADS_1


"Aku boleh tidur dipangkuan kamu?" Tanya Sita sambil merengek dengan manja airmatanya bahkan sampai keluar meminta hal itu kepada Ambar.


"Haaaa? Di bunuh buk Ita aku kalo meluk kamu diatas kasur" jawab Ambar cepat.


"Bukan, aku tidur di paha kamu ya"


"Apaan sih, ada bantal malah minta paha, kan bahaya kalo aku bangun" kata Ambar mencandai gadis itu.


Sita langsung *** tangan Ambar yang digenggamnya.


"Bukan gitu otak mesum! Aku cuma mau tidur di pangkuan kamu aja" rengek Sita lagi.


Meski Ambar belum memberi jawaban tapi dia sudah langsung berusaha menggerakkan badan untuk bisa merebahkan kepalanya di dekat Ambar.


Melihat kekasihnya begitu kesusahan untuk bangkit Ambar langsung menyelonjorkan kakinya keatas kasur dan membiarkan Sita merebahkan kepala diatas pahanya. Mereka sama-sama diam, Ambar tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi saat ini. Kepalanya dipenuhi rasa kekhawatiran yang dia sendiri tidak tahu apa yang dikhawatirkannya tersebut.


Cukup lama Ambar membiarkan Sita tidur nyenyak di pangkuannya. Kemudian Ambar melepaskan tangan kirinya yang masih ditahan oleh Sita. Gadis itu tidak menolak, sepertinya dipelukan Ambar lebih efektif membuat Sita cepat masuk kealam mimpi dari pada bantal empuknya.


Ambar mengambil handphone Sita yang diletakkannya disamping bantalnya tadi. Mencoba untuk menyibukkan diri dengan memainkan handphone pacarnya itu. Ambar kemudian terpikir untuk mencaritahu sudah seberapa jauh hubungan Sita dan Rio tersebut. Dia juga penasaran seperti apa orang yang disebutkan Alif dengannya kemarin.


Ambar membuka riwayat panggilan dihandphone Sita, disana hanya tertulis dua nama: Rio, Bapak, Rio, Rio, Rio, Rio, Bapak, Rio, Rio..... Rio sampai habis kebawah. Ambar tersenyum kecut melihat daftar riwayat panggilan tersebut.


"Kerajinan brooo!" gumam Ambar pelan.


"Udah kaya baca pesan dari pak Handsome aja nih" gumam Ambar lagi.


Dari semua chatt Sita dan Rio tidak ada yang bertulis kata-kata mesra atau rayuan. Hanya sekedar menanyakan kabar dan kegiatan Sita setiap harinya, lalu juga banyak chatt yang dikirim cowok itu berbunyi : 'Nanti kalo Sita udah free Rio telfon di skype ya'


"Skype?" Gumam Ambar dan langsung mencari Applikasinya didalam handphone Sita, tapi Ambar tidak menemukannya sama sekali. Matanya kemudian tertuju ke meja belajar Sita, laptop gadis itu dibiarkan terbuka begitu saja diatas mejanya.


"Disana berarti" gumam Ambar lagi.


Tapi untuk bergerak kemeja belajar Sita tidak akan mungkin, karna kepala gadis itu masih anteng terbaring diatas pahanya. Ambar berubah jadi Stalker ulung untuk kekasihnya sendiri. Membuka semua media social di hpnya Sita, bahkan semua applikasi yang ada di handphone pabrikan korea itu dibukanya satu persatu. Hingga ke applikasi catatan dan galeri foto pun tidak luput dari pengintaiannya.


Ambar mengerutkan kening melihat catatan :


'Tanggal 24 Agustus 2010 Ambar – Sita resmi jadi pasangan'


kemudian ada lagi catatan :


'Nomor rekening ibuk 108**********'

__ADS_1


'Nomor rekening Sita 107**********'


Dan masih ada lagi :


'Password Facebook: AmbarSita'


'Password Twitter: AmbarSita'


Untung saja waktu itu Instagram belum begitu Booming seperti jaman sekarang. Kalau tidak dapat dipastikan passwordnya akan sama. Dari banyak media social hanya satu password 'AmbarSita' !!


Sepertinya gadis itu benar-benar sudah jauh jatuh terperangkap dihati Ambar. Dan media social Sita begitu mudahnya di bajak oleh Ambar jika cowok itu berubah menjadi bajingan untuk kekasihnya tersebut.


Masih ada satu catatan lagi yang terakhir bertuliskan :


'Tanggal 31 Mei hari Sial Sita'


Ambar tertawa geli membaca catatan terakhir tersebut. Dilihatnya wajah Sita yang masih tertidur dengan pulas diatas pahanya. Dia tersenyum sumringah melihat kekasihnya yang bertambah cantik ketika tidur.


Saat Ambar membuka galeri foto di hp Sita, wajahnya langsung berubah merah menahan malu karena semua isinya hanya foto Ambar yang diambil Sita secara diam-diam.


"Asem ini cewek!" umpat Ambar pelan, dia begitu malu melihat hasil jepretan Sita tanpa sepengetahuannya itu.


"Aiiish, kalo pengen foto bilang dong, coba liat dulu, jangan-jangan ada foto yang lagi ngupil nih di jepret juga sama dia!" ujar Ambar yang langsung membuka satu persatu foto digaleri Sita tersebut.


"Haaah syukurlah gak ada, tapi diliat-liat aku ini ganteng juga ya" gumam Ambar lagi yang memuji dirinya sendiri.


Ambar membuka kembali media social Sita. Iseng-iseng untuk mencaritahu kembali tentang Rio. Saat Ambar menemukannya, dia melihat foto profile Rio yang berlatar seperti di sebuah ruang tamu yang begitu mewah sambil memegang telepon seluler. Sudah seperti foto-foto model bintang Hollywood pikirnya.


Ambar melihat satu persatu foto Rio. Wajah Ambar makin lama makin memperlihatkan sebuah senyuman simpul dibibir merahnya. Ambar menarik nafas panjang melihat kemewahan hidup Rio hanya dari foto-fotonya saja.


Ambar langsung menutup media social Sita tersebut dan meletakkan handphone gadis itu kembali. Memang benar kata bijak yang mengatakan 'Terkadang menjadi tidak tahu itu menyenangkan!!'


Ambar menyapu wajahnya dengan kedua tangan, kemudian matanya kembali beralih kewajah Sita yang yang masih tidur dengan pulasnya


"Ah Tuhaaaan! Tolong beri ending yang manis untuk kisah Ambar Sita ini" ujarnya didalam hati dan membelai rambut kekasihnya dengan lembut.



Dibalik alasan kenapa judulnya AmbarSita


karena berasal dari sebuah Password : AmbarSita

__ADS_1


🤫


__ADS_2