AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Kamu Cantik Kalo lagi Senyum


__ADS_3

Didalam kelas, pak Iyan menerangkan pelajaran PPKN tentang toleransi dan tolong menolong. Ambar tidak berhenti menguap padahal masih jam pertama. Dia melirik pada kotak pensil Sita yang bergambar boneka Barbie.


Dari pada mendengar pak Iyan mengoceh tidak jelas didepan. Ambar menarik buku latihan milik Sita dan mulai melukis gambar Barbie dibuku gadis itu. Sesekali Sita melirik kearah tangannya yang begitu cekatan saat menggambar. Yaah meskipun gambarnya masih acak-acakan tapi mampu membuat rasa kantuknya hilang seketika jika sedang menggambar


"Kerjakan latihan hal. 20 ya, dikumpul hari ini ya, kerjakan di buku latihan ya" perintah pak Iyan dengan semua murid-muridnya.


Sita diam karena dia belum bisa mengerjakan tugas dari gurunya tersebut. Ambar masih asyik melukis. Dia ikut melihat kearah bukunya yang sedang digambar Ambar, dua-duanya jadi begitu focus memperhatikan kearah meja.


Pak Iyan berpikir dua-duanya sedang mengerjakan latihan padahal fakta dilapangan?! Ah sudahlah! Pak Iyan berjalanlah sesekali kebangku belakang biar tahu apa yang dilakukan anak nakal itu. Sita begitu sabar menunggu Ambar selesai menggambar dibuku latihannya.


"Ccccccckk Wuiiiih" Ambar berdecak kagum dengan hasil karyanya lagi. Dia melirik kearah Sita sambil mengangkat alis "Kereeen kaaan!" ujarnya menyombongkan diri.


Sita mengangguk, Ambar mengelus-elus berbie yang baru dilukisnya. Kemudian membuka kotak pensil Sita, mencari pensil warna untuk mempercantik hasil gambarnya. Rasanya Sita sudah mulai khawatir, dia pikir hanya melukis dengan pensil saja. Ternyata bocah itu malah terniat mewarnainya sekalian.


Latihan mereka berdua belum juga dibuat sama sekali, suasana kelas pun tenang karena pak Iyan tetap duduk dibangkunya sambil membaca buku.


"Aaa____" Sita mengeluarkan suara yang begitu pelan ditelinga Ambar, dia menoleh melihat kearah Sita yang ketakutan "Aaa___nu___La___Latihan kita Be___Belum siap"


Ambar melihat kearah pak Iyan yang masih asyik dengan buku bacaannya "Ciiihhh" Ambar berdecah sebal dan menyerahkan buku latihan Sita.


Mau marah, tapi didepan ada malaikat pelidung untuk Sita. Dengan cepat Sita menyalin semua jawaban yang sudah lama dia kerjakan dibuku LKS. Sita memang selalu mengisi waktunya dengan mengerjakan latihan-latihan yang ada dibuku pelajaran. Dengan begitu saat diberi tugas oleh guru maka dia tinggal menyalin jawabannya saja dibuku latihan.


Selesai mengerjakan tugas Sita menyerahkan bukunya kembali dengan Ambar yang menyenderkan kepala diatas meja. Bocah itu ternyata tertidur saking bosannya dengan yang namanya belajar. Melihat Sita menyerahkan bukunya kembali, Ambar langsung mengangkat kepala dan tersenyum bahagia.


"Niiih" kata Ambar menyerahkan buku latihannya.


Sita mengangguk, mengerti jika Ambar memintanya untuk mengerjakan latihannya juga. keduanya terlihat begitu focus dengan buku masing-masing. Pak Iyan diam-diam memperhatikan dari mejanya. Hatinya girang gembira, ceria, bahagia, semua yang positive pokoknya. Melihat anak yang selama ini dikeluhakan oleh buk Wati wali kelas 1 dan buk Mun wali kelas 2 itu tidak semenakutkan seperti cerita mereka.


"Sudah selesai?" tanya pak Iyan memecah keheningan kelas.


Ambar melirik kearah sita yang masih menuliskan jawaban no 5 di bukunya.


"Beluuuum!!!" teriak ambar kencang.


"Yaudah lima menit lagi ya, siap gak siap dikumpul" ujar pak Iyan. Setelah pak Iyan mengatakan hal itu, beberapa detik kemudian mulutnya berhitung.


"Satuu......."


"Bapak bilang lima menit! Kok udah ngitung aja!" Ambar kesal dan kembali berteriak.


Pak Iyan tertawa mendengar perkataannya "Yaudah cepatan, habis ini bapak mau kasi tugas kerja kelompok untuk kalian"


Selesai mengerjakan latihan Ambar, Sita kemudian menyikut sikunya dengan pelan. Ambar menoleh, melihat ke buku latihan dan tersenyum cengengesan.


"UDAH!!!" teriak Ambar lagi.


Suasana kelas yang begitu sepi bak kuburan langsung rami karena teriakannya. Semua kompak mengucap "Astagfirullah" karena kaget.


"Heeh... kamu ini teriak-teriak aja Ambar" tegur pak Iyan karena dia yang lebih kaget dari murid-murid lainnya.


"Iya nih, kalo udah mah diam aja, ini pake ngasi tahu. Emang kamu pikir kita lagi main petak umpet!!" sahut Imay dan menoleh kebelakang.


"Apaan sih Garamon! nyambung aja! Sementang aku ini Ultramen!" kata Ambar kesal.


Seisi kelas tertawa dengan perkataan Ambar apalagi rambut Imay memang terlihat seperti karaktar Garamon;musuhnya Ultramen.


"Yaudah kumpul tugasnya, habis ini bapak mau kasi tugas kelompok" perintah pak Iyan untuk menghentikan suasan riuh kelas.


Khaidir berjalan ke meja teman-temannya mengambil buku latihan mereka. Saat giliran Ambar dan Sita, bocah nakal itu justru menarik tangan Khaidir, membuka buku bagian belakang Sita dan melihatkan hasil lukisannya dengan Khaidir.


"Cantik kaaaan" kata Ambar sambil memiringkan kepalanya saking bangganya dengan hasil karyanya sendiri.


Khaidir ikut memeringkan kepala memperhatikan gambar Barbie yang dibuat Ambar


"Iya cantik! Mirip Sita" kata Khaidir memberi pujian.


"Sitaa? Enggak lah, Jaaauuuuh!"


"Kemarin di warung kamu bilang Sita cantik"


"Maksud aku masih kalah jauh Barbie ini dari Sita, dia mah lebih cantik dari ini" bisik Ambar ketelinganya.


Khaidir menepuk pundak Ambar pelan dan tersenyum menggoda "Eeeeee.... kamu bilang sita cantik lagi"


"Kan kalo bohong dosa!"


Khaidir manggut-manggut sambil tersenyum dan kembali kedepan kelas menyerahkan buku latihan mereka ke pak Iyan. Sedangkan Sita yang sebenarnya mendengar apa yang dikatakan orang berdua itu langsung merapikan rambutnya, bibirnya terangkat sedikit, tapi dia berusaha menahan senyumnya agar Ambar tidak melihat.


"Bapak mau kalian mengamati pertumbuhan anak ayam dan membuat laporannya nya dari awal sampai menetas ya, coba buka buku LKS IPA nya, hal 15" perintah pak Iyan.


Semua kompak membuka buku, kecuali Ambar. Dia malah asyik mengunyah permen karetnya dibelakang sambil mencoret-coret meja.


"Buat laporan sesuai dengan contoh yang ada di buku ya, bisa kan? Kalo ini kan pertumbuhan telur Penyu, karena kita gak ada Penyu kita ganti aja dengan telur ayam yah"


"Kalo telur Buaya gimana pak ?" tanya Ambar ngasal.

__ADS_1


"Belum selesai buat laporan udah dimakan kamu sama ibu Buaya nya!" Se isi kelas tertawa membayangkan Ambar dimakan Buaya.


"Yah soalnya kalo telur Ayam gak ada tantangannya itu pak! Ujang yang bego aja pasti bisa"


"Yaudah kalo gitu Ambar disuruh mengamati telur Harimau aja pak, biar dimakan dia sama Harimaunya" teriak Ujang yang tidak terima disebut bego oleh Ambar.


"Nah kan bapak liat sendiri, Ujang itu begonya alami pak, Harimau aja dibilang bertelur sama dia!!" Ambar balik melawan.


"Hahahahaha" se isi kelas kompak tertawa lebih keras, pak Iyan dan Sita bahkan ikut-ikutan. Ujang tertunduk malu karena dia memang tidak tahu proses reproduksi hewan.


"Yaudah...Udah...Hahaha" pak Iyan masih belum bisa menahan rasa geli diperutnya menatap Ujang yang masih tertunduk dikursinya "Kalian buat laporan berkelompok, kelompoknya dua orang, teman sebangku masing-masing aja ya biar bapak gak capek bagi nya"


"Enggak!!!! Masa Ambar sama Sita!" Ambar langsung menolak.


"Yaudah aku sama Sita deh" Thalib menawarkan diri.


"Jangan lah, masa aku yang sama Ambar, bukannya mengamati malah aku yang mati ditangan dia" kini Iput yang ikut menolak. Karena jika Thalib dengan Sita otomatis dia akan berpasangan dengan Ambar.


"Aah mending ama Sita aja pak, dari pada Iput, dia kan makhluk yang sejenis dengan Ujang!" Ambar akhirnya kembali setuju dengan perintah pak Iyan mengetahui teman sekelompoknya sama begonya dengan Ujang tadi.


"Kenapa kalian saling tolak-tolakan, kan bapak bilang teman sebangku masing-masing, gak ada yang boleh protes!"


"Ambar sama Ismet aja, boleeeeeeh pak??"


Pak Iyan langsung duduk, mengatur nafas, agar suaranya tidak keras meneriaki anak yang masih saja pusing memilih teman kelompoknya "Ismet kelas dua Ambar, pelajaran kamu beda ama dia!!" ujar pak Iyan lemah dan menutup buku pelajarannya.


Saat pulang sekolah, Ambar sudah kabur duluan sebelum pak Iyan meninggalkan kelas. Ismet dan Abdul menunggunya dilapangan untuk bermain kelereng lagi, bahkan mereka sudah membuatkan lubang.


Setelah merasa sepi, Sita akhirnya keluar, dilihatnya Ambar asyik bermain dilapangan. Baju pramuka mereka bahkan sudah penuh dengan keringat dan tanah. Melihat Sita akan pulang, Ambar langsung mengejarnya.


"Kamu belum bayar loh hasil lukisan aku di buku kamu tadi" Sita merongoh saku roknya, duitnya masih lengkap 5000, jajan sekolah nya memang segitu setiap hari diberikan oleh pak Adam.


"Wuiih jajan kamu banyak ya, kalo aku cuma dikasi 500 sama pak Bahrun, kamu siapa yang kasi jajan? kok bisa banyak gitu?"


"Bapak" ujar Sita pelan.


"Kalo gitu kita tukaran bapak aja yuk, aku malas jadi anak pak Bahrun" Sita menggelengkan kepalanya dan menyodorkan uang yang ada ditangannya pada Ambar


"Boleh aku ambil semua??" Sita mengangguk, dengan cepat tangan Ambar menyergap uang Sita "Jangan kasi tahu ibu kamu ya aku minta uang kamu, Okeee" Sita kembali mengangguk.


"Yaudah hati-hati ya Sitaaaaa, besok datang lagi kesekolah loh" ujar Ambar sambil melambaikan tangan.


Semua teman-temannya yang melihat tidak percaya bocah nakal itu bisa berubah juga sifatnya dengan Sita.


"Demi ini mah aku rela baik sama Sita" jawab Ambar bahagia dan memperlihatkan uang yang baru didapatnya.


"Wuiih banyak, bisa bangun Mall itu!" jiwa miskin Ismet meronta melihat jumlah uang yang ditangan Ambar.


"Bangun Mall? Ngasal aja kamu, bangun Mesjid lah biar barokah!" Abdul langsung mengingat akhirat saat melihat jumlah uang ditangan Ambar.


"Traktir kami dong mbar, kita kan temenan" Ismet memohon dan memelas sambil mengayun-ayunkan tangan Ambar.


"Beli es satu aja yaaaa" kata Ambar dan membawa teman-temannya kewarung.


Trio bocil yang sedang menikmati es lilin dan Indom*e yang mereka makan mentah secara bersamaan kompak tersedak melihat pak Bahrun datang ke warung dengan ranting kayu.


"Pulang!" kata pak Bahrun pelan tapi berhasil membuat ketiganya bergidik ngeri


"Hahaha tumben dijemput pulang pak" ibu warung pun ikutan kaget melihatnya.


"Iya buk kemarin bikin ulah lagi mereka bertiga, kalo gak dijemput mungkin mau bikin masalah lagi ni_____" pak Bahrun menghentikan kalimatnya saat mengetahui ketiganya sudah hilang entah kemana "Kemana buk? Ilang? Liat gak tadi?"


"kabur mereka pak, udah yang sabar pak, mungkin udah dirumah masing-masing"


"Yaudah tadi makanan nya udah dibayarkan buk?"


"Udah, ambar yang traktir kata mereka"


Pak Bahrun memiringkan kepala, berpikir Ambar traktir? Jajan dia saja cuma cukup membeli kerupuk bagaimana mungkin bisa traktir teman-temannya. Sesampai dirumah ternyata benar, Ambar tengah asyik memakan beng-beng yang baru dibelinya dari warung buk Eli.


"Dari mana kamu dapat uang banyak?"


"Kerja lah! darimana lagi coba" jawab Ambar ketus menirukan kalimat di pilem-pilem saat orang sukses ditanyai soal kekayaannya.


"Halah kerja apaan kamu masih bocah gini juga, jangan bohong sama bapak. Bapak gak mau punya anak maling ya!"


"Pak Ambar ditukar sama Sita aja boleh gak?" tanya Ambar dengan tampang lugunya.


"Rugiii buk Ita melihara kamu, makannya banyak, usil juga!"


"Haaah Ambar juga rugi punya ayah kayak bapak, kerjanya mukul aja pake rotan!"


"Ngelawan kamu ya!!!" pak Bahrun tersulut emosi dan berusaha mencari ranting baru lagi untuk memukul Ambar. Bocah itu langsung kabur saat akan dipukul oleh pak Bahrun.


"Heee mau kemana kamu? Awas kalo pulang ya!"

__ADS_1


"Ambar mau lapor sama pak Awan, minta diganti orang tuanya... wueeeek!!" teriak Ambar dengan kencang kemudian menghilang.


"Kamu pikir anak itu kaya sembako murah apa, dibagi-bagiin sama pemerintah!!" umpat pak Bahrun kesal dan masuk kedalam rumah.


~~~**♡♡♡**~~~


selama 3 hari Ambar bolos di jam sekolahnya bersama Ismet, Arul dan Abdul. Dihari ke empatnya Ambar baru masuk lagi kesekolah.


"Heeeh kita ada tugas?!" kata Ambar yang baru datang dan langsung mendebrak meja Sita, gadis itu langsung menggeleng "Oh Hahahahah... Tiga hari ditinggal gak berubah-ubah aja kamu" ujarnya lagi sambil meletakkan tas diatas meja.


"Emang kamu pikir Sita Power Ranger harus berubah" sahut Khaidir sewot sendirinya.


"Loh tonggos!! Masih hidup? Aku pikir pengumuman orang meninggal kemarin itu kamu!" kata Ambar dan mendekati Khaidir. Tinjunya melayang kepunggung Khaidir. Sudah jelas sibocah nakal masih saja di sahut, sekarang memang terbukti Khaidir yang sengaja menuliskan namanya sendiri dibuku Death Note.


"Ampuuun.....Ampun mbar" rengek Khaidir karena Ambar tidak berhenti memukul-mukul punggungnya, bahkan sesekali terdengar begitu kuat.


"Ambar kemarin kelas kita adem ayem aja pas kamu libur loh. Sita juga bahagia karna gak ada kamu disamping dia" kata Imay dengan raut wajah kesal.


"Nyaut aja nih garamon!! Udah sana kan mau menghancurkn bumi!"


"Siapa yang mau ngancurin bumi?" tanya Ujang yang baru datang.


"Eek ngambang juga bentuk nya begini-begini aja" kata Ambar sambil memukul perut Ujang.


Sita terus memperhatikan Ambar yang menyapa semua teman-teman dikelas satu persatu untuk membuat mereka dongkol bin emosi jiwa.


"Sita kamu kenapa liat-liat aku terus?" tanya Ambar yang tangannya sudah kembali lagi meninju Khaidir.


Mendengar pertanyaan ambar, Sita langsung menundukkan kepala. Dia ketakutan Ambar juga akan mengganggunya sama dengan anak lain.


"Sita kamu jangan nunduk terus" panggil Ambar lagi.


Semua menoleh kearah Ambar yang nada suaranya sudah tidak judes.


"Cieee Ambar" goda Ana dengannya.


"Kan dia takut sama kamu" sahut Thalib.


"Cantik kamu jadi gak kelihatan!" Seisi kelas kompak memberi tepuk tangan untuk Ambar. Sita semakin menutup wajahnya.


"Ciee Ambar kamu suka sama Sita ya?" tanya Khaidir sambil menyelamatkan punggungnya.


"Iya lah aku suka sama Sita, soalnya dia cantik trus suka ngasi aku duit jajan" jawab Ambar dengan jujur.


Memang biasanya anak-anak akan berbicara apa adanya tapi nanti kalau sudah besar apa Ambar masih berani ngomong gitu ke Sita?


"Kamu dimarah buk Ita loh kalo malakin Sita terus" Ana kembali mengingatkan Ambar.


"Sita cuma ngasih sedekah kok buat aku, iya kan Sita?! Soalnya aku ini miskin!"


Semua langsung terdiam mendengar perkataan Ambar. Suasana riuh berubah menjadi hening, sesekali terdengar anak-anak dari kelas lain berlarian dari luar. Semua mengikuti gaya Sita yang selalu menundukkan kepala. Rasa benci dengan Ambar hilang seketika, didalam hati mereka kompak mengatakan.


"Ya Tuhan, Kasihanilah Ambar".


Pak Iyan masuk kekelas, hatinya riang gembira melihat murid-muridnya tenang tidak seperti biasanya. Bahkan si anak nakal sudah masuk kembali dan duduk dibangkunya.


"Ambar, kamu kemana aja gak datang-datang?!"


"Pak Ambar nya jangan dimarah lagi, cukup pak Bahrun aja yang marahi dia pak!" ujar semua teman-teman sekelasnya membela Ambar, mereka masih kasihan.


Pak Iyan ikutan diam mendengar perkataan semua muridnya. Dia mulai terlihat berpikir 'Apa tadi sebelum dia masuk kekelas terjadi sesuatu.....?'


"Mmm Iya, bapak gak marahin Ambar kok. Tapi Ambar kalo sakit atau kamu ada urusan keluarga sampai gak bisa kesekolah, kamu kirim surat ya atau orang tua kamu suruh datang kesekolah buat ngasi tahu bapak" Ambar dengan mantap menganggukkan kepala kemudian mencolek lengan Sita.


"Pak Iyan mah gak tahu, gimana aku mau nyuruh pak Bahrun datang kesekolah, kan aku bolos hikhikhik" bisiknya dan tertawa cekikikan sendirian. Sita tidak merespon dan hanya memandanginya heran.


"Ketawa dong!! Gak lucu apa!" bentaknya pada Sita.


Gadis itu membuka bibirnya sedikit, mengangkat bibir atas sehingga terbentuk sebuah senyuman. Senyuman paksa demi merespon lelucon basi Ambar barusan.


"Ih kamu mah senyumnya pelit banget, padahal kamu itu cantik! apalagi kalo senyum!"


"Udah Ambar, jangan ajak sita ngobrol lagi karakter pendiam dia bisa hilang kalo kamu ajak bicara terus" tegur pak Iyan yang siap mengajarkan pelajaran pertama mereka.


Ambar -Sita kemudian langsung mengubah pandangan, melihat kedepan, memperhatikan pak Iyan menuliskan materi pelajaran. Sita menarik nafas pelan kemudian mengangkat bibirnya lagi secara diam-diam, tersenyum entah kepada siapa, yang jelas dia tersenyum sambil terus memandangi kedepan.


 



 



![](contribute/fiction/64817/markdown/13ae2843/1570585013151.jpg)

__ADS_1


__ADS_2