![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sita duduk diatas kasurnya sambil memandangi semua lukisan-lukisan yang pernah dibelinya dari Ambar. Sudah beberapa hari dia hanya bisa menatap Ambar dari jauh sebelum berangkat kesekolah. Soalnya Ambar tidak mempan lagi dibujuk dengan kue atau makanan. Memandangi punggung Ambar saja dari belakang, membuatnya tidak puas. Sita ingin mendengar suara Ambar. Bukan suara! Entahlah, dia sendiri tidak tahu alasannya tidak puas.
"Sita ada Alif tu" panggil buk Ita dari luar.
Sita langsung keluar dari kamarnya sambil meneteng buku pelajaran. Minggu depan mereka sudah ujian nasional, saat itu nilai UN masih menjadi penentu lulus/tidaknya menuju ke tingkatan sekolah selanjutnya.
"Kita belajarnya dirumah aku aja yuk, gimana? Ayah aku pulang sekarang"
"Emang aku boleh maik kerumah kamu?" yanya Sita ragu.
"Ya boleh lah, ayah aku juga penasaran sama kamu soalnya aku sering ceritain kamu sama dia"
Sita tersipu malu mendengar perkataan Alif, dia kemudian mengangguk setuju. Mereka langsung pergi dengan sepeda Alif. Saat diperjalanan didepan rumah pak Sayuti, Alif menghentikan kayuhan sepedanya.
"Kalian gak belajar? kan bentar lagi mau ujian" kata Alif memarahi Khaidir dan Thalib yang asyik duduk dengan teman-temannya yang dulunya tinggal kelas.
Keduanya hanya diam, takut menjawab pertanyaan Alif. Yang mengeluarkan suara justru anak yang sudah tinggal kelas sebanyak 4 kali, siapa lagi kalau bukan Abdul!
"Sitaaaa mau belajar ya?" tanya Abdul ramah, Sita hanya menganggukkan kepalanya.
"Iih Sita kok maunya ngomong sama Alif aja. Kan kami ini juga teman Sita juga dulunya" keluh Ismet karna sifat Sita masih tidak berubah, meskipun mereka sudah cukup besar sekarang.
"Iya sama aku juga" sahut Arul. Padahal cowok kurus itu tidak pernah satu kelas dengan Sita.
"Sama aku enggak tuh, Sita mau kok ngomong dengan aku, iya kan?" tanya Ambar kegirangan.
Namun sayangnya Sita tidak merespon ucapan Ambar, kepalanya juga tidak bergerak. Bukan karena tidak setuju dengan ucapan Ambar barusan. Hanya saja Sita malu, Ambar bicara didepan banyak orang. Semua diam, memandangi wajah polosnya Ambar yang masih cengengesan meski ucapannya tidak dijawab.
"Dasar orang ****!!" umpat Alif kesal kemudian kembali mengayuhkan sepedanya.
"Si Alif mulutnya, pengen aku gosokin ke aspal!" ujar Ismet kesal.
Ambar hanya diam, senyumnya juga berangsur hilang sambil memandangi Sita yang makin lama makin menjauh bersama dengan Alif.
Setelah ujian Nasional selesai, kini giliran anak\-anak lain yang harus menghadapi ujian kenaikan kelas, begitu juga dengan Ambar cs. Ambar santai menghadapi ujian. Dia juga masih diletakkan dibangku paling depan. Soalnya Ambar paling baik ngasi contekan untuk teman\-temannya yang lain.
Selesai ujian Ismet mengajak Ambar untuk kerumah kak Dian setelah mereka makan siang. Sekalian mereka juga mau main game lagi di komputer gadis yang ngakunya akan menikah setelah gagal masuk di perguruan tinggi negeri. Tapi ditengah perjalanan, Sita kembali menunggu Ambar didepan pekarangan rumahnya.
"Ambar" panggil Sita cepat.
Ambar menoleh, kemudian tersenyum sumringah berjalan mendekati Sita. Si bocah nakal tidak marah meskipun Sita mengacuhkannya waktu itu.
"Udah selesai ya kamu ujiannya?" tanya Ambar santai.
"Udah, kamu?"
"Udah juga. Aku yakin pasti aku naik kelas ditahun ini"
"Tahu dari mana?"
"Soalnya kemarin kan udah tinggal. Masa sekarang tinggal lagi hahaha" Sita tidak ikut tertawa dengan lelucon Ambar "Aku mau pergi dulu ya, kami mau kerumah kak Dian" pamit Ambar dengan gadis itu.
"Ngapain?" tanya Sita mencegah langkah Ambar.
"Mau main game dikomputer kak Dian"
"Kan dirumah aku juga ada Komputer"
"Loh emang boleh dimainin?" tanya Ambar kaget.
"Boleh, kamu mau main komputer? Dirumah aku aja"
"Bener nih, yaudah ayuk. Kalo dirumah kak Dian gak enak, harus gantian sama yang lain. Mana ngantrinya panjang lagi. Apalagi giliran Abdul, kalo belajar aja otaknya lemot, tapi pas main game feeding frenzy, gak tamat\-tamat. Sampe ikannya dibuat segede badan buk Eli" ujar Ambar yang terus mengoceh '*sepanjang jalan*' sampai masuk kerumah Sita.
Sita membuka pintu ruang kerja pak Adam dan langsung menyalakan Komputer. Membiarkan Ambar bersenang\-senang dengan gamenya. Sita duduk disamping Ambar sambil terus memandangi wajahnya. Ambar suka tidak sadar jika sudah melakukan hal yang paling disenangi hatinya.
Ambar menoleh kearah Sita saat permainannya game over. Gadis itu langsung memalingkan muka, gugup takut ketahuan dengan orang yang hobi diliriknya diam\-diam. Ambar tersenyum dan kembali melanjutkan bermain. Bahkan orang yang memiliki Komputer pun tidak dikasi ijin untuk ikut bermain. Ditawari sekalipun Sita pasti akan menolak. Soalnya dia lebih tertarik memandangi laki\-laki yang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Besok datang kesini lagi ya" ujar Sita saat Ambar akan pulang kerumahnya.
"Heeee? Boleh?" tanya Ambar dengan wajah sumringah.
"Iya boleh"
"Makasih ya, besok aku kesini lagi. Tapi aku sendiri aja ya, aku gak mau gantian sama Abdul"
Sita makin senang mendengar perkataan Ambar. Dia mengantarkan Ambar hingga kedepan pekarangan rumahnya, terus memandangi punggung Ambar sampai menghilang barulah masuk kembali kedalam rumah.
~\*\*~AmbarSita~~\*\*
Setiap hari habis pulang sekolah Ambar memang selalu datang kerumah Sita hanya untuk bermain game dan Sita juga terus melakukan hal yang sama, memandangi Ambar yang duduk disampingnya.
Semua teman\-teman Ambar sampai curiga karena Ambar tidak pernah lagi main bersama dengan mereka. Kalo ditanya pun Ambar gak mau jawab soalnya takut teman\-temannya pada ikutan.
Ambar fokus memperhatikan layar komputer didepannya. Tiba\-tiba buk Ita memanggil anak gadisnya yang juga sedang fokus memandangi wajah ganteng Ambar.
"Taaa... ada Alif tu didepan"
Sita dan Ambar langsung menoleh satu sama lain.
"Aku keluar dulu ya, kamu main aja" pamit Sita dan pergi menemui Alif.
"Kamu ngapain?" tanya Alif yang suaranya mulai berubah serak semenjak mereka masuk SMP, jakunnya juga mulai kelihatan.
Alif memandangi Ambar sinis. Meski yang dipandingi tidak peduli sama sekali, karna dia lagi asyik bermain game.
"Ngapain dia disini?"
"Udah biarin aja" jawab Sita pelan.
"Ntar Komputer ayah kamu rusak loh, dia mana bisa ganti" Sita hanya tersenyum merespon ucapan Alif.
Meskipun Ambar matanya focus pada layar Komputer. Tapi telinganya tetap nyaring, dia bisa mendengar dengan jelas bunyi suara game zuma nya dan suara obrolan Sita dan Alif barusan.
Ambar berusaha tetap tenang dan asyik dengan gamenya. Dari pada meladeni Alif lebih baik dia terus menembakkan kelerengnya agar tidak dimakan sama lubang ular, itu yang terlintas dibenak Ambar saat itu.
~~~\*\*♡♡♡\*\*~~~
Karena tahu Ambar setiap pulang sekolah selalu datang kerumah Sita. Alif pun tidak mau kalah, dia juga ikutan datang kerumah gadis cantik tersebut. Alasannya untuk belajar, tapi sebenarnya Alif hanya tidak rela membiarkan Sita berduan dengan Ambar.
Dihari\-hari berikutnya, masih sama.......
Ambar fokus dengan gamenya, Sita dan Alif pun terlihat asyik mengerjakan PR dibuku mereka masing\-masing. Pak Adam datang dan menepuk pundak Ambar dengan pelan untuk mengagetkannya.
"Fokus bener liat layarnya, bisa\-bisa disedot nanti"
"Hahaha maklum orang udik pak, gak pernah pegang komputer" sahut Alif cepat.
__ADS_1
"Pak tiang listrik itu tempatnya di jalanan
Kenapa yang ini malah dibawa masuk sih?" balas Ambar tak mau kalah.
"Udah\-udah, kok jadi ledek\-ledekan. Boleh bapak pinjam Komputernya nggak, bapak mau pake sebentar"
Ambar langsung menyerahkan posisi ternyamannya dengan berlapang dada pada pak Adam. Dia kemudian ikut duduk dengan Sita dan Alif. Anak itu dari dulu emang nekat dan gak pernah peduli. Meski tahu Alif tidak menyukainya tapi Ambar tetap santai bergabung duduk dengan cowok itu.
"Belajar mulu kalian, ntar di kutuk jadi buku loh"
Sita dan Alif hanya diam mendengar lelucon Ambar. Keduanya memang sering tidak menggubris candaan Ambar. Tapi baru kali ini Ambar langsung merasa tidak nyaman dengan hal itu, dia menatap Sita dan memaksakan senyumnya keluar untuk mentertawai leluconnya sendiri.
"Alhamdulilah" tariak pak Adam yang membuat ketiganya saling mengalihkan pandangan.
"Buuuk, sini buk" panggil pak Adam pada istrinya.
Buk Ita datang menemui suaminya, melihat kearah yang ditunjuk pak Adam.
"Alhamdulilah paak" buk Ita ikut\-ikutan teriak saking senangnya.
"Kenapa pak?" tanya Sita mendekati kedua orangtuanya.
"Bapak diterima loh kerja di perusahaan yang ada di Malaysia"
Senyum Sita tidak keluar sama sekali seperti ayah dan ibunya. Pak Adam dan buk Ita sibuk membicarakan keperluan dan rencana yang harus secepatnya mereka siapkan.
"Bapak kerja apa disitu pak?" tanya Ambar ikutan nimbrung bersama keluarga itu.
"Kerja di bagian perminyakan juga, sama kaya kerja bapak dulu"
"Oh ati\-ati ya pak nanti bapak kebakar" ujar Ambar ngasal. Pak Adam langsung tertawa mendengar perkataan Ambar.
"Jadi bapak pindah ke Malaysia ya pak?" tanya Alif ikut\-ikutan, soalnya dia tidak mau kalah dengan eksisnya Ambar.
"Iya nih, pindah lagi bapak lif, hahaha Sita terpaksa pindah sekolah juga nih"
"Enggak mau!" jawab Sita tegas.
kebahagiaan pak Adam dan buk Ita hilang seketika mendengar perkataan anak mereka.
"Loh kenapa? Emang mau disini?" tanya buk Ita heran.
"Iya!! Lagian ini udah semester dua, bentar lagi naik kelas dua, nanggung buk. Sita gak mau pindah dari desa ini!"
"Iya, janganlah buk. Alif juga gak mau Sita pindah, jangan pisahin kami buk" Alif ikut memberikan dukungannya pada Sita.
Ambar menoleh kearah anak laki\-laki yang paling dibencinya itu.
"Gak apa\-apa buk, pisahin aja. Kasian anak ibuk kalo pacaran sama tiang listrik terus" kata Ambar memprovokasi.
Sita menatap Ambar tajam, dia kesal dengan ucapannya barusan. Ambar kaget baru pertama kalinya melihat Sita marah. Dia bahkan sampai menelan ludah, gugup dan ingin menghilang. Karena dari tadi Ambar memang dibuat tidak nyaman dengan keadaan. Tanpa pamit, tanpa bilang, saat semuanya asyik berdiskusi Ambar langsung memutuskan pergi begitu saja kabur pulang kerumahnya.
~♡AmbarSita♡~

__ADS_1