![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Keesokannya jam 7 pagi, Sita sudah berdiri didepan pintu rumah pak Bahrun bersama dengan buk Ita.
Mereka akan pamit dengan kedua orangtua Ambar sebelum berangkat kebandara.
"Mohon maaf ya Ta, kalo kami sekeluarga ada salah selama ini dengan kamu, dengan Sita cantik juga. Jangan lupa pulang ke Peringi kalo ada waktu" ujar buk Khadijah sambil berurai air mata.
Teman kecil buk Khadijah itu juga ikutan menangis dan memeluknya dengan erat.
"Pasti Jah, kami pasti balik ke sini lagi. Kampung halaman aku disini, rumah ibuk ku disini, teman kecil ku juga ada disini, banyak alasan untuk aku buat pulang ke Peringi" rengek buk Ita, dua wanita tua itu saling bersedih-sedihan karna akan berpisah kembali.
Sita hanya diam mendengar obrolan mereka. Matanya focus memperhatikan kamar Ambar yang masih tertutup dengan rapat.
"Nak Sita nyariin Ambar ya? Dia udah bangun kok, udah mandi juga, katanya ikut nganterin nak Sita ke bandara" kata pak Bahrun memberitahu karna melihat pandangan Sita yang tak lepas-lepas dari kamar putranya tersebut.
"Haaaa benar pak?" kaget Sita dan buk Ita bersamaan.
__ADS_1
"Iya, kemarin malam dia bilang gitu. Pak Handsome dan teman-teman SD Sita juga bakal ikut nganterin" jawab buk Khadijah dan beralih memeluk Sita untuk yang terakhir kalinya.
Setelah pak Bahrun memberitahu Sita, kamar Ambar kemudian terbuka. Sosok pangeran yang ditunggu-tunggu Sita akhirnya muncul dengan menggenakan celana jeans hitam dipadukan dengan hoodie hitam yang pernah diberikan Sita untuknya.
Sita tersenyum sumringah melihat Ambarnya semakin tampan dengan hadiahnya. Kemudian mata Sita terus memandangi Ambar hingga ke bawah.
Sepatu futsal pink?
Kening Sita seketika berkerut melihat sepatu Nike yang sedang dipakai Ambar saat ini. Untung saja gantengnya Ambar lebih mendominasi untuk dipandangi, jadi orang-orang yang memperhatikannya tidak akan fokus pada sepatu futsal berwarna pink tersebut.
"Buk...... Sita nya boleh berangkat dengan kami aja ke bandaranya?" Tanya Ambar dengan begitu ramah.
Buk Ita langsung menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ambar "Boleh dong! Ibuk malah senang, padahal Sita nangis tadi malam karena katanya Ambar gak mau diajak nganterin dia ke bandara"
"Hahaha Ambar akan antar tuan putri sampai ke atas pesawat kalo bisa buk" jawab Ambar sambil memperlihatkan senyum manisnya.
__ADS_1
"Oh iya lupa...... Tunggu bentar yaa" pamit Ambar dan masuk lagi kedalam kamarnya.
Beberapa detik kemudian Ambar keluar sambil membawa sapu tangan bermotif bunga mawar pink dan boneka Barbie dan pangeran Ken ditangannya.
Raut wajah buk Ita dan buk Khadijah dalam seketika berubah menjadi cemas. Keduanya saling pandang dan bermain mata memberi kode rahasi satu sama lain.
"Waktu itu kamu sedih karna kado ulang tahun yang kamu kasi gak pernah aku pake..... Nah sekarang aku pake deh. Sapu tangannya buat hapus airmata kamu nanti dibandara. Hoodie nya aku pake, sepatunya juga aku pake. Daaaaan terus....... Ini nih kado terakhir kamu buat aku" ujar Ambar dan memperlihatkan dua boneka ditangannya kehadapan Sita.
"Makasih banyak ya, aku suka" sambung Ambar lagi dengan penuh penekanan.
Sita menganggukkan kepalanya dengan ragu, kemudian memandangi ibuknya yang kembali memeluk buk Khadijah.
"Haduuuh..... Kira-kira sampai di Malaysia aku masih bisa hidup tenang gak ya karna jauh dari kamu, partner terbaikku!" Kata buk Ita dengan hembusan nafas yang begitu kuat keluar dari mulutnya.
"Hahaha" buk Khadijah hanya bisa tertawa merespon perkataan buk Ita. Wanita itu pun juga ketakutan menatap Sita yang memandangi mereka dengan raut wajah cemberut saat ini.
__ADS_1