AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
Lulus dan Teman Masa Kecil Sita


__ADS_3

Tuhan memang maha pengasih dan penyayang. DIA juga pendengar yang baik untuk semua doa Sita. Dihari pengumuman kelulusan, Ambar dipanggil ke depan lapangan oleh kepala sekolah. Cowok itu berhasil menduduki peringkat pertama nilai ujian nasional tertinggi Se-Kecamatan Peringi!


Yaa walau masih kalah sama Sita yang dua tahun lalu berhasil menyabet nilai UN tertinggi Se - kabupaten. Tapi hal itu patut diacungi jempol untuk sosok seorang Ambar! Karna selama ini cowok nakal itu terkenal yang paling suka ribut dikelas, hobi bolos dan bikin jantung guru yang masuk dikelasnya menggebu-gebu dengan ocehan dan mulut nyinyirnya.


Siapa lagi manusia yang paling berjasa dibalik prestasi yang diraih Ambar tersebut selain pak Bahrun dan buk Khadijah dan satu lagi kekasih hatinya yang sabarnya sudah Naudzubillah dalam membujuk Ambar untuk belajar.


Cowok itu berjalan dengan penuh kebahagian pulang kerumahnya. Meski dia sudah melihat Sita menunggunya ditempat biasa tapi Ambar malah belok menemui selingkuhannya dulu alias buk Eli. Dia ingin menuntut hadiah dari janda paruh baya itu. Dengan senang hati buk Eli memberikan lima bungkus beng-beng gratis untuk Ambar. Setelah itu baru Ambar pergi menemui Sita.


"Heiiii ibuk guruuu kenapa cemberut? Aku lagi bahagia loh. Tau gak nilai UN aku tertinggi Se-Angkasa raya ini. Semua berkat ibuk guru cantik, makasih ya ibuuk" kata Ambar panjang lebar dan menyodorkan beng-beng gratis dari buk Eli kepada Sita.


Gadis itu hanya diam dan cemberut memperhatikan wajah Ambar.


"Aiish kenapa sih? Cemburu ya aku temui selingkuhan aku dulu baru nemui kamu?" goda Ambar lagi sambil mencolek pipi Sita.


"Bukan!! Kemarin kan aku udah bilang jangan coret-coret baju! Kenapa baju kamu masih dicoret-coret juga?! Norak tau gak sih, gak ada sisi kerennya sama sekali! Baru lulus SMP, udah sok-sok an pake coret-coret baju! Trus kamu masuk SMA pake baju apa? Kan seragam SMA nya gak langsung keluar!"


Ambar hanya manyun mendengar ocehan Sita. Dia melihat kesekeliling, kosong tidak ada orang. Ambar langsung memeluk tubuh gadis itu. Saking erat pelukannya tubuh Sita sampai terangkat sedikit dari tanah kemudian Ambar melepaskan pelukannya dan menjentik kening Sita dengan jari. Gadis itu meringis kesakitan memegangi keningnya.


"il Difensore dribbla, passa a Valentino Rossi" gumam Ambar yang terdengar seperti komentator bola Liga Itali.


Sita menatap wajah kekasihnya heran, dia tidak paham dengan apa yang di ucapkan Ambar. Yang dia tahu hanyalah kata Valentino Rossi nya saja.


"Tau gak apa artinya?" tanya Ambar.


Sita langsung menggelengkan kepalanya pelan.


"Tadi itu artinya 'Dasar Cewek dada rata! bukannya ngasi selamat malah dinyinyirin!' jawab Ambar yang jelas-jelas hanya ingin meledek Sita. Setelah itu dia kabur pulang kerumahnya.


Mata Sita langsung melotot mendengar perkataan Ambar. Dia berusaha melepaskan kadar emosi ditubuhnya. Hinaan Ambar benar-benar menancap tepat didada Sita. Belum sempat membalas tapi cowok itu sudah hilang begitu saja.


 



 



Kini giliran Sita yang berjuang menghadapi ujian kenaikan kelas. Ambar, Arul dan Ismet kompak merayakan kelulusan mereka dengan pergi mendaki bareng Jefri. Sita sempat mencegah kekasih hatinya untuk ikutan. Dia pasti bakal rindu dengan wajah dan ocehan Ambar.



Tapi si cowok keras kepala itu mana bisa dicegah kalau hatinya sendiri yang sudah mau. Saat malam hari buk Ita menepuk pundak Sita yang sedang melamun memandangi hasil lukisan ambar yang masih awet tertempel didinding kamarnya.



"Niih bapak mau ngomong" ujar buk Ita dan menyerahkan Handphone nya pada Sita



"Gimana ujiannya?" terdengar suara pak Adam dari ujung sana.



"Alhadulilah lancar, bapak gimana sehat?"



"Sehat, kapan ujiannya selesai? Liburan kesini ya" pinta pak Adam dengan anak satu\-satunya itu



"Iyaa pak" jawab Sita lesu.



"Oh ya Sita masih ingat gak pak Yose tetangga kita dulu sebelum pindah ke Peringi?"



"Enggak" jawab Sita singkat.



"Aduh lupa ya, anaknya kan seumuran dengan Sita juga. Rio! masa sih gak ingat, teman kecil Sita dulu. Kelas satu SD kalian dulu satu kelas, yang sepupunya namanya Cantika"



Sita mengerutkan keningnya mendengar informasi dari pak Adam. Buk Ita langsung memukul pundak anaknya.



"Masa sih gak ingat, Cantika dan Rio itu kan seumuran kamu. Rumahnya kan tepat disamping kita dulu, ingat gak?"



"Ohh... Rio.... lupa\-lupa ingat sih" ujar Sita sambil tersipu malu. Dia mulai sedikit mengingat memori tentang teman masa kecilnya itu.



Rio adalah anak tunggal pak Yose teman satu kerja dengan pak Adam dulu. Saat PHK besar\-besaran terjadi di perusahaan mereka yang bergelut dibidang Migas itu Pailit. Pak Adam memutuskan pindah ke kampung halaman istrinya yang berada di Peringi. Sedangkan pak Yose nasibnya sedikit mujur saat itu, beliau melamar pekerjaan ke perusahaan minyak yang ada di Qatar dan langsung diterima.



Rio dan Sita memiliki karakter yang sama\-sama pendiam dan pemalu. Sama\-sama anak tunggal juga, karena itu mereka jadi teman akrab dulunya. Saat Sita akan pindah ke Peringi anak laki\-laki pak Yose itu sampai menangis histeris karna tidak mau dipisahkan dengan Sita. Namun sepertinya kini mereka akan dipertemukan kembali setelah 10 tahun lamanya.



"Kemarin bapak dikirim pelatihan dari perusahaan ke Qatar. Nah yang monitoring bapak ternyata pak Yose disana. Aduh gak nyangka kami bakal ketemu lagi. Bapak diajakin kerumah dia disana, ketemu Rio anak sulungnya. Rio nya aja masih ingat Sita ketika salaman sama bapak. Dia nanyain Sita sekolah dimana? Katanya kangen pengen ketemu Sita lagi" cerita pak Adam panjang lebar.



"Hahaha dia masih ingat Sita?" tanya Sita sedikit tidak percaya.



"Iya, katanya kalo Sita libur ke Malaysia Rio sama ibunya mau ke Malaysia juga. Silaturahmi sama Sita, sama ibuk juga"



"Ouh.. Yaudah kasi tahu aja kalo kami dua hari lagi berangkat ke tempat bapak" ujar Sita mulai bersemangat.



"Yaudah bapak hubungi pak Yose dulu yah" kata pak Adam dan mengakhiri panggilannya.



"Padahal udah lama ya nak. Tapi masih aja dia ingat sama kamu. Emang teman terbaik deh kayanya Rio itu. Dulu aja saat kalian pisah tangis Rio yang paling histeris" ujar buk Ita ikutan tersenyum melihat putrinya.



"Iya buk, Sita jadi malu mau ketemu dia lagi. Gimana ya wajah Rio sekarang" kata Sita sambil membayangkan bentuk teman kecilnya dulu itu.



  ~**♡AmbarSita♡**~



Selesai ujian Sita dan ibunya terbang ketempat pak Adam menghabiskan masa liburannya disana. Ambar pun sekarang masih diatas gunung menikmati alam yang menjadi kegemarannya. Sudah memasuki hari kedua Sita ditempat ayahnya dan teman masa kecil Sita dulu akan terbang juga dari Qatar menuju Malaysia untuk bertemu kembali dengan Sita.



Gadis itu dag dig dug sendiri menunggu didalam mobil. Sita ogah turun bersama ayah dan ibunya. Dia ingin melihat Rio dari kejauhan dulu baru dia mau menemui cowok itu.



Beberapa menit kemudian pak Adam dengan seorang cowok yang mengenakan baju kaos warna putih, celana jeans putih, sepatu putih, semua serba putih ditubuhnya sudah seperti pocong berjalan. Untung saja wajahnya...............Ganteng!

__ADS_1



Cowok itu berjalan mendekati mobil yang ditunjuk pak Adam. Jantung Sita makin tidak karuan melihatnya. Kemudian dia mengetuk kaca mobil memberitahu Sita untuk membukakannya pintu.



Sita langsung membuka pintu mobil dengan raut wajah malu. Rona merah di pipinya keluar begitu saja. Dia tersenyum memandangi wajah Rio, teman kecilnya dulu. Cowok itu pun sama, dia juga malu melihat Sita yang kini. Senyumnya terlihat begitu manis kepada Sita. Rio langsung menyodorkan tangannya kepada Sita.



"Lama gak ketemu" ujarnya dengan ramah.



Sita menyambut salamnya "Sita pikir gak bisa bahasa Indonesia lagi" jawab Sita saat mendengar Rio masih fasih berbicara dengan bahasa Negara asalnya.



"Hahaha dirumah Abi sama Umi masih ngomong pake bahasa Indonesia kok. Oh ya, Sita gak turun? Kita makan dulu tadi kata pak Adam"



"Sita gak lapar kalian aja, Sita tunggu didalam mobil"



"Yaudah Rio juga enggak, kita duduk di taman itu yuk sambil ngobrol" ajak Rio sambil menunjuk ke bangku taman yang ada di dekat parkiran .



Sita mengangguk dan mengikuti cowok tersebut. Setelah duduk rasa canggung mereka langsung hilang. Keduanya mulai asyik menceritakan kehidupan baru mereka setelah berpisah selama 10 tahun lamanya. Padahal karakter keduanya sama\-sama pendiam. Banyak orang mengira orang pendiam bertemu dengan orang pendiam itu maka suasananya akan berubah hening bak kuburan. Tapi melihat mereka berdua rasanya asumsi itu langsung terbantahkan. Malah keduanya heboh, tertawa bahkan sesekali ketawa mereka terdengar kencang dan keras.



"Sita makin cantik ya" ujar cowok itu dengan jujur.



Sita langsung terperangah mendengar ucapan Rio barusan. Dia jadi gugup lagi melihat wajah Rio yang juga tambah ganteng setelah beranjak remaja.



"Oh.. Oh iya Cantika kenapa gak ikut?" tanya Sita berusaha mengalihkan pembicaraan.



"Tika masih sekolah, di Qatar belum libur"



"Terus Rio sendiri kenapa bisa libur kalo gitu?" tanya Sita lagi.



"Rio Sekolah Private disana, beda sama Tika"



Sita mengangguk mendengar jawabannya. Melihat karakter Rio yang sama dengan Sita wajar saja cowok itu akan memilih sekolah Private. Sita pun jika di Peringi ada lembaga sekolah seperti itu mungkin dia akan memilih sekolah Private. Tapi untung saja tidak karena Sita tidak akan mungkin bisa kenal sosok cowok luarbiasa seperti Ambar.



  ~**♡AmbarSita♡**~



Rio dan ibunya akan menginap di Apartment pak Adam selama seminggu. Dua remaja itu benar\-benar tidak berhenti bercerita dan tertawa. Bahkan keduanya juga sering keluar bersama mengunjungi tempat wisata dan restoran\-restoran mewah yang ada di Kuala lumpur.



"Padahal udah pisah cukup lama ya mereka, tapi alhamdulilah pas ketemu langsung nyambung satu sama lain" ujar pak Adam saat dia dan Istrinya asyik mengobrol dengan ibunya Rio di balkon Apartment.




"Iya, ide bagus juga tuh. Satu tahun lagi masa mereka sekolah setelah itu kuliah. Emang Rio mau kuliah di kuala lumpur buk?" tanya buk Ita yang setuju dengan saran wanita itu.



"Mau dong buk, tadi malam aja dia bahkan ngomong gini 'Umi Sita cantik ya, Rio jadi naksir' hahaha saya jadi malu sendiri dengar anak laki\-laki saya ngomong gitu" ucap buk Rena dengan bahagia.



"Aduuh! Hahaha..... Tapi sayangnya Sita udah punya pacar tuh di Peringi" jawab buk Ita memberitahu.



Raut wajah ibu Rio dan pak Adam langsung berubah mendengar perkataan buk Ita. Wanita paruh baya itu pun terpaku melihat ekspresi suami dan mantan tetangganya tersebut.



"Iyaaa! Sita udah punya pacar disana" kata buk Ita lagi meyakinkan keduanya.



"Ahhh itu mah cuma cinta\-cintaan anak SMA! Biasa lah.... Toh kalo Sita udah pindah kesini gak akan lagi deh itu buk" sanggah pak Adam dengan santai.



"Iya, lagian remaja SMA kita sama\-sama tahu lah buk. Bisa putus kapan aja, apalagi sekarang Sita udah ketemu Rio. Semoga aja mereka cocok ya pak\-buk" sambung buk Rena mantap.



Pak Adam langsung mengangguk setuju. Sedangkan buk Ita hanya bisa nyengir dengan ucapan ibunya Rio. Buk Ita tau persis bagaimana pengorbanan anaknya ketika jatuh cinta untuk pertama kalinya. Gadis itu begitu berjuang dan sabar dalam menunggu mendapatkan hati cinta pertama nya itu. Jadi hanya buk Ita yang tidak yakin Sita bisa langsung beralih pindah ke hati Rio.



Saat malam hari pak Adam mengajak istrinya berbicara berdua didalam kamar mereka. Pria itu langsung berbicara blak\-blakan dengan istrinya tentang niatnya dan niat pak Yose untuk menjodohkan anak mereka setelah keduanya lulus kuliah nanti.



"Aduh pak....... lulus SMA aja belum anak bapak itu malah mikirin lulus kuliah dia! Lagian kita belum tahu jodoh, maut dan rezeki itu pak" sanggah buk Ita cepat.



"Ya mulai dari sekarang buk kita buat Sita sama Rio itu dekat. Waktu bapak di Qatar pak Yose yang ngasi usul duluan saat bapak liatin foto Sita sama dia. Lagian kita sama\-sama tau lah buk gimana keluarga pak Yose dan istrinya itu. Berpendidikan, sopan dan baik! Gak akan salah kita jodohin Sita sama Rio buk"



"Ya tapi sekarang anak bapak itu ada pacarnya" ujar buk Ita tegas.



"Ah pacaran\-pacaran remaja SMA, bisa putus kapan aja! Ibuk juga bantu buat meyakinkan Sita, lagi pula siapa itu pacarnya Sita itu?"



"Ambar!" jawab buk Ita dengan ketus kali ini.



"Nah iya si Ambar! Kalah jauh buk kalo dibandingin Rio. Masalah gantengnya? Emang anak kita besok kalo nikah makan pake wajah ganteng doang? Mana kenyang! Mending Rio lah buk, wajahnya juga lumayan kok dari si Ambar" ujar pak Adam yang juga tetap bersikeras menentukan calon suami anaknya nanti.



"Ibuk pikir menjodohkan Sita dengan Rio tidak masalah pak. Apalagi masa depan cerah yang akan didapat anak kita jika menikah dengan Rio. Ibuk setuju pak, sangat setuju! Tapi asalkan Sita nya sendiri yang mau! Bukan karna paksaan dari kita" jelas buk Ita yang begitu tahu dengan tabiat anak gadisnya yang cengeng dan manja.


__ADS_1


"Iya makanya ibuk yakini anak gadis kita. Ini loh nak pria yang baik untuk kamu. Ini bibit bebet bobot nya jelas. Ini loh orangtuanya kaya raya, ibuk yakini ke anak gadis kita! Saat ini didalam hati remaja seusia Sita yang butuh memang cuma cinta dan ganteng nya saja. Tapi nanti saat dia udah dewasa baru deh dia mikir cari calon suami yang kaya raya. Yang bisa menghidupi dia dengan mapan. Makanya kita kasih tau dari sekarang, selagi calonnya juga ada didepan mata!" kata pak Adam meyakinkan istrinya.



Buk ita hanya mengangguk mendengar ocehan suaminya. Dia belum berani mengambil tindakan saat ini karena wanita itu berpikir masa depan anaknya juga masih panjang.



  ~**♡AmbarSita♡**~



Seminggu kemudian, Setelah saling tukar nomor handphone, media social, pin bbm atau apapun namanya. Rio dan ibunya pulang ke Qatar. Entah kenapa Sita jadi sedih melepaskan kepulangan teman masa kecilnya itu di bandara.



"Nanti sampai di Doha Rio hubungi ya" ujarnya sambil mengacak\-acak rambut Sita yang selalu di ikat dengan rapi.



Sita mengangguk sambil memberikan senyum manisnya untuk menjawab perkataan Rio.



Didalam perjalanan pulang menuju ke apartment pak Adam melirik anaknya yang tengah tersipu\-sipu malu duduk dibangku belakang.



"Gimana Rio ta? Ganteng kan dia sekarang?" tanya pak Adam untuk menggoda putrinya tersebut.



"Hahaha Iya pak, Sita aja sampe pangling liat dia. Makin putih juga, warna kesukaan dia juga gak berubah sama dengan warna kulitnya hahaha"



"Ya moga aja kalian bisa terus dekat dan saling jaga komunikasi. Kata tante Rena, Rio mau kuliah bareng Sita nanti setelah kalian lulus sekolah" kata pak Adam lagi.



"Haaa?"



Sita sedikit kaget dengan omongan ayahnya barusan.


Kuliah? Benar juga dia sudah naik ke kelas tiga dan satu tahun lagi Sita akan menyelesaikan masa sekolahnya. Tapi Sita belum memikirkannya sama sekali. Dia jadi merinding sendiri menyadari hal itu.



'Benar juga, satu tahun lagi Sita mesti kuliah ya? Tapi di Peringi mana ada Universitas! Di Mandau pun hanya ada Institut dan Akademi yang jurusannya gak ada Sita suka' gumam gadis itu didalam hati



"Kenapa?" tanya pak Adam heran karna melihat raut wajah kebingungan anak gadisnya dibangku belakang.



"Sita belum kepikiran soal persiapan kuliah pak" jawabnya pelan.



"Loooh emang Sita gak perlu capek\-capek mikirin itu. Biar bapak yang ngurus semuanya. Bapak sudah minta bantuan teman bapak karena anaknya ada yang jadi Dekan di Universitas ternama di Kuala lumpur ini. Sita tinggal sebut Jurusan apa yang mau Sita ambil"



Perasaan Sita semakin tidak enak dengan perkataan ayahnya. Pindah ke Kuala lumpur? Yang benar saja! Didalam pikiran Sita langsung berputar\-putar tentang '*Bagaimana caranya untuk meninggalkan Ambar untuk waktu yang cukup lama*?'



Hal itu jadi momok yang menakutkan bagi Sita sendiri. Pak Adam terus membicarakan Rio didalam perjalanan pulang mereka. Pria itu tidak henti\-hentinya membanggakan anak dari rekan kerja nya dulu itu. Bahkan yang dibicarakan ayahnya mulai mengarah ke masa depan Sita yang akan baik jika bersama dengan Rio.



"Tau gak nak, asuransi kerja punya pak Yose itu aja besarnya bukan main. Uang pensiunan pak Yose dari perusahaannya bakal 10 kali lipat dari uang pensiunan bapak. Mungkin bisa bangun 2 hotel bintang lima di Peringi. Haah.. Bapak sampe salut saat dibawa kerumah dia. Lambo dan Ferrari terparkir rapi di bagasi mobil rumah mereka. Apalagi Qatar itu aduh kehidupan disana mah ngeri mewahnya. Rio anak satu\-satunya loh nak. Tuh Cantika aja sampe di asuh sama pak Yose demi bisa menemani Rio. Entah kemana uang ayahnya mau dihabiskan sama si Rio nanti"



Pak Adam tidak putus\-putus membahas soal Rio, ketika mereka sudah sampai di apartment, duduk diruang keluarga, makan malam, hingga ke pagi harinya saat sarapan terus Rio yang dibahas oleh ayahnya tersebut. Justru kuping buk Ita yang jadi sakit mendengarkan pujian berlebihan suaminya tersebut.



"Besok kalo pak Yose itu pensiun anaknya bakal dikasi kesempatan untuk menggantikan posisi ayahnya di perusahaan tempat pak Yose kerja sekarang. Gimana gak keren itu, gak perlu tes, masukin lamaran, wawancara, aaah udah kerja aja Rio nya. Posisi pak Yose itu gak main\-main loh nak sebagai kepala Manager di perusahaannya yang sekarang"



Sita hanya diam mendengar cerita pak Adam. Dari dulu memang Rio sudah kaya juga. Yaah sama\-sama kita tahu bekerja di perusahaan Migas apalagi memegang jabatan tinggi itu gajinya sangat menggiurkan. Tapi bagi Sita itu semua tidak membuatnya tertarik sama sekali. Justru hatinya jatuh hanya untuk satu orang, yaitu si mulut berisik yang masih santai di atas gunung saat ini. Padahal empat hari lagi dia harus mendaftarkan diri masuk ke SMAN 1 Peringi yang menjadi sekolah terfavorite didesa mereka.



 


~~~\*\*♡AmbarSita♡\*\*~~~


 



Setelah pak Adam berangkat kerja, Sita langsung menemui ibunya yang ada didapur.



"Buk, bapak kayanya suka banget sama Rio ya?! Dari kemarin setelah nganter Rio ke bandara ampe tadi sarapan yang dibahas Rioooo terus" keluh Sita dengan ibunya.



Buk Ita hanya tersenyum, dia juga malas membahas tentang sikap suaminya yang begitu membangga\-banggakan Rio. Selain itu buk Ita juga sudah tahu maksud dan tujuan suaminya tersebut karena itu dia semakin kesal mendengarnya.



"Eh Ambar kamu gimana? Kalian gak ada komunikasi selama liburan ini? dia masih diatas gunung? Ibuk liat selama ada Rio disamping kamu. Kamunya jadi lupa dengan Ambar" ujar buk Ita mencoba memancing perasaan anaknya.



"Lupa? Malahan kepikiran dia terus tau gak buk! Sita berusaha terlihat ceria didepan Rio karena kami baru ketemu kan gak mungkin Sita nangis\-nangisin Ambar didepan Rio buk! Sita sebenernya pengen teriak sekarang, kesal sama Ambar! Udah jelas dia gak punya handphone tapi anehnya media sosial Sita juga gak ada yang pernah mau dia terima satupun permintaan pertemanannya. Gimana Sita mau tahu soal kondisi dia coba buk!" Sita berusaha melepaskan unek\-uneknya dengan buk Ita.



"Hahahaha males kali sama kamu. Di dunia nyata digangguin kamu masa di dunia maya mesti kamu lagi sih, makanya dia gak mau konfirmasi" ledek buk Ita.



"Iiiih ibuk, padahal empat hari lagi pembukaan pendaftaran masuk sekolah loh buk. Apa dia udah pulang atau enggaknya Sita gak tau!"



"Jangan\-jangan Ambar lupa buat turun gunung, tau\-tau udah jadi penunggu aja diatas sana hahaha" ujar buk Ita dengan senyum menggoda dengan anaknya.



"Ah apaan sih buk, pikirannya jelek gitu! Bisa gila Sita kalo sampe ditinggal sama dia"



Buk Ita langsung terpaku mendengar perkataan Sita. Senyumnya seketika hilang memandangi Sita '*Itu yang ibuk takutin pak*!' gumam buk Ita dalam hati.



![](contribute/fiction/64817/markdown/5187474/1571974420389.jpg)

__ADS_1


__ADS_2