![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Setelah kejadian itu Ambar tidak pernah lagi melihatkan dirinya pada Sita. Dia mulai kembali menemui teman-temannya. Ternyata tempat nongkrong teman-teman Ambar pun sudah berganti ke balai desa yang baru dibangun.
Mereka juga tidak lagi main kerumah Dian, soalnya udah banyak warnet di Mandau. Jadi gak perlu antri nunggu giliran buat main Komputer. Meski masing-masingnya harus meronggoh kocek untuk membayar billing warnet.
"Kamu kemana aja, setiap pulang sekolah langsung ngilang terus!" tanya Ismet penasaran.
"Hahaha aku main komputernya dirumah Sita"
"Dasar kamu, gak ngajak-ngajak" kata Ismet lagi.
"Males ngajak lah, ntar ngantri kalo kalian ikutan"
"Enggak tuh kami gak ngantri lagi. Soalnya udah ada warnet di Mandau, harus bayar tapi" kata Arul memberitahu.
"Ah kenapa gak ngomong. Kalo gitu kan aku gak perlu makan ati tiap datang kerumah Sita"
"Emang kenapa?" tanya Khaidir cepat.
"Males! Si Alif mulutnya kaya ****, Berisik!"
"Iyah, aku liat semenjak SMP mereka makin lengket, makin mesra. Tamat sekolah langsung nikah deh tu" umpat Abdul kesal.
Ambar diam mendengar perkataan Abdul, entah kenapa hatinya jadi sakit sendiri membayangkan hal itu.
"Bentar lagi Sita pindah kok" kata Ambar pelan "trus si tiang listrik ditinggal deh" sambungnya lagi sambil tersenyum puas.
"Serius kamu?" tanya Abdul dan Ismet tidak percaya.
"Iyaa! Pak Adam dapat kerjaan diluar negri"
"Enggak, Sita nya gak mau pindah. Kemarin Alif cerita, dia nyombong didepan kelas. Katanya Sita gak mau pindah karena Sita gak mau berpisah dari dia"
Ambar langsung terpaku mendengar perkataan Khaidir tersebut.
"Haaah, awalnya kami gak percaya masa sih Sita suka sama tiang listrik. Pas di tanya Ana Sita ngangguk, makin besar kepala deh tu si Alif. Dapat pacar cantik, pinter, mana mereka sama-sama tajir!!" Thalib pun ikut-ikutan memberikan gossip tentang dua orang tersebut. Ambar pun hanya tersenyum mendemgar informasi dari teman-temannya itu.
Sita murung menunggu orang yang selalu membuat hatinya risau jika tidak mendengar suaranya. Gadis itu teringat jika ibunya mengatakan kalau balai desa mereka yang baru dibangun setahun yang lalu sudah dipakai oleh anak\-anak desa untuk nongkrong dan berkumpul. Sita berpikir mungkin Ambar ada disana. Ketika Alif datang kerumahnya Sita langsung mengajak temannya itu pergi.
"Kita keliling desa yuk"
Karena cinta tentu saja Alif tidak ingin menolak, sekalian dia beranggapan ini kencan pertama mereka. Mereka pun akhirnya pergi, saat lewat didepan balai desa Sita memasang matanya tajam. Mencari posisi orang yang paling ingin dilihatnya. Dalam sekejap, Sita melihat Ambar sedang asyik nongkrong dengan teman\-temannya.
"Liat tuh si Alif lewat bareng Sita" bisik Khaidir memberitahu. Semua orang yang rata\-rata teman seumuran mereka kompak melirik kearah dua orang tersebut. Termasuk Ambar, dia langsung manyun lagi menyaksikan kemesraan Alif dan Sita.
~♡AmbarSita♡~
Azan magrib sebentar lagi berkumandang. Ambar harus segera pulang sebelum pak Bahrun datang menjemput sambil membawa rotan. Dalam perjalanan wajah Ambar jadi ketus melihat Sita berdiri dijalan rumah mereka. Rencananya Ambar mau mengangkat kepala saat berjalan didepan Sita biar dikira sombong.
"Kamu baru pulang?" Sapa Sita dan memberikan senyum termanisnya.
Ambar kaget dengan pertanyaan Sita dan menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ah, akting sombongnya jadi gagal seketika.
"Ambar, besok bapak aku berangkat ke Malaysia. Aku gak ikut, aku tetap sekolah disini. Besok aku cuma ngantar bapak aja ke bandara. Kami berangkatnya pagi" ujar Sita panjang lebar memberi semua informasi untuk Ambar.
Meskipun anak laki\-laki itu tidak bertanya sedikitpun atau mungkin tidak penting sama sekali informasi tersebut baginya. Ambar menganggukkan kepalanya dengan raut wajah kebingungan. Ambar merasa ada perubahan pada sikap Sita yang biasanya irit bicara.
"Kamu nyindir aku?!" tanya Sita yang nada suaranya berubah jengkel karna Ambar tidak berhenti mengangguk\-anggukkan kepalanya.
Ambar membelalakkan mata, kaget! Dan kenapa sekarang Sita jadi berubah galak?
"Kamu udah kena masa puber ya?" tanya Ambar ragu.
"Maksudnya?" tanya Sita balik karna tidak paham dengan pertanyaan Ambar.
"Kamu udah masuk masa Pubertas?" Ambar mengulangi pertanyaannya.
Wajah Sita memerah karna malu dengan pertanyaan Ambar barusan.
"Yaudah lah!" jawab Sita ketus. Ambar langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"OH!!! Ngeri juga perubahan yang kamu alami" kata Ambar dengan ekspresi wajah kagetnya.
"Ngeri gimana?! Aku mengalami nya normal. Kaya cewek\-cewek lain juga" jawab Sita makin ketus.
Beberapa detik kemudian Sita langsung mengangkat tangan berusaha menutupi bagian dadanya dengan lengan.
"Bukan dada kamu yang aku maksud, tapi Psikis kamu!!" kata Ambar berusaha menjelaskan kesalahpahaman Sita.
"Aku pikir yang kamu maksud bagian fisik aku!" kata Sita yang jadi malu dengan sendirinya.
"Enggak, dada kamu mah...." Ambar langsung melihat kearah Dada Sita yang masih ditutupinya dengan lengan.
"Sama aja sih, tetap kecil" jawab Ambar pelan.
Wajah sita semakin memerah melihat ekpresi wajah Ambar yang sepertinya sedang meledek.
"Dasar kamu!!!" bentak Sita lagi kemudian kabur pulang kerumahnya.
Ambar masih terpaku karna bingung dengan apa yang dilihatnya dari sifat Sita tadi. Buk Khadijah yang akan berangkat ke mushola langsung menepuk kening Ambar.
"Kenapa kamu? Magrib malah ngelamun dipinggir jalan"
Ambar akhirnya sadar dan menoleh kearah ibunya "Buk, cewek kalo pubertas, sifatnya jadi galak ya?" tanya Ambar kebingungan.
Buk Khadijah juga ikutan bingung dengan pertanyaan Ambar. Mau meladeni tapi Azan Magrib sudah berkumandang.
"Udah sana pulang, jangan lupa sholat!" bentak buk Khadijah dan pergi meninggalkan Ambar
~**♡AmbarSita♡**~
Setelah mengantarkan ayahnya kebandara, beberapa hari kemudian sehabis pulang sekolah Sita berdiri didepan jalan rumahnya. Saat melihat Ambar yang juga baru pulang, Sita langsung memanggilnya.
"Kenapa?" tanya Ambar sedikit ragu untuk mendekati Sita karna perubahan sikap Sita yang kemarin. Ambar mulai menyadari jika gadis kecil yang dulu pernah dia jahili sampe menangis itu kini sudah beranjak remaja.
"Kamu mau ngapain setelah ini?"
"Mau ngumpul sama Ismet dibalai, Kenapa?" tanya Ambar balik.
"Aku mau minta tolong"
"Minta tolong? Apaan?" tanya Ambar kaget. Soalnya ini pertama kalinya Sita meminta bantuan kepadanya.
"Buatin gambar, soalnya aku ada tugas kesenian"
__ADS_1
"Oh, sekarang?"
"Iya sekarang, bisa?"
"Bisa sih, yaudah aku ganti baju dulu, sekalian...."
"Makan dirumah aku aja" potong Sita cepat. Dia sudah tahu lanjutan kalimat Ambar karena itu Sita langsung mengajak Ambar untuk makan dirumahnya.
"Wuiiih boleh ni? Oke deh, ntar ya aku ganti baju dulu" ujar Ambar lagi dan berlari pulang kerumahnya.
Sita juga langsung masuk kerumahnya untuk bersiap\-siap menyambut kedatangan Ambar. Beberapa menit kemudian terdengar suara Ambar dari luar. Buk Ita mempersilahkan Ambar masuk dan menunggu Sita yang masih didalam kamar.
Gadis itu tengah sibuk memilih baju terbaiknya saat ini. Padahal mereka hanya akan dirumah saja tapi karena Ambar, Sita jadi bingung sendiri dengan pakaian yang harus digunakannya.
Berkali\-kali gadis cantik itu bongkar\-pasang baju ditubuhnya. Sampai\-sampai setengah dari isi lemarinya sudah berantakan tergeletak diatas kasur. Ambar yang sedang duduk diruang tamu serasa sedang menunggu kekasihnya yang sedang dandan. Luamaaaaaaanya minta ampun, padahal perutnya sudah keroncongan.
"Ngapain sih itu cewek! tau gitu aku makan dirumah!" umpat Ambar kesal. Saking kesalnya hampir saja meja diruang tamu Sita pecah karna tendangan kakinya.
Sita masih asyik didepan cermin, memperhatikan penampilannya sendiri. Pipinya mengeluarkan rona warna pink, dia jadi tersipu malu dengan sendirinya.
"Kok Sita lama ya?" tanya buk Ita saat melihat Ambar masih setia duduk disofa ruang tamu mereka.
"Tunggu ya mbar" kata buk Ita berusaha menenangkan hati Ambar yang sudah tidak tahan karna kelaparan.
"Jangan\-jangan Sita 'menua' kali buk didalam kamarnya, makanya geraknya lama kayak nek Lasa" ujar Ambar dengan suara yang sudah terdengar begitu kesal.
"Hahaha... untung nek Lasa lagi dirumah paman Sita. Kalo nek Lasa dengar bisa nangis dia, karna dibilang tua mbar"
Ambar hanya diam mendengar perkataan buk Ita, dia sudah muak dan begitu lapar. Ambar benar\-benar berubah jadi orang yang tidak sabaran saat perutnya keroncongan.
"Ambar pulang dulu aja ya buk" pamit Ambar, karna dia berpikir memang sebaiknya makan dirumah dengan masakan sederhana buk Khadijah dari pada makan enak dirumah Sita tapi harus menunggu.
"Tunggu duluuuuu!!" teriak Sita dari dalam kamarnya saat mendengar Ambar akan pergi.
"Heeh kamu ngapain dikamar lama banget, ini Ambar udah hampir setengah jam buat nunggu kamu tahu gak!" bentak buk Ita sambil memukul pintu kamar anaknya.
Sita sebenarnya sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Rambutnya sudah dikucir dengan rapi, wajahnya juga sudah dandani, lisptik merahnya juga berhasil membuat bibirnya semakin terlihat sexy. Dia sudah berdandan layaknya wanita dewasa.
"Yaudah Ambar balik deh buk" kata Ambar lagi sambil berdiri dari duduknya.
Sita akhirnya membuka pintu kamar, buk Ita dan Ambar kompak memandangi gadis itu dari atas hingga kebawah. Sita mengenakan dress putih yang panjangnya sedikit diatas lutut. Kaki Sita yang jenjang, putih bersih jadi mudah terlihat oleh siapapun yang memandanginya. Rambutnya juga benar\-benar terikat dengan rapi.
"Mau kemana sih kalian?" tanya buk Ita heran, karna melihat dandanan anaknya seperti orang yang akan pergi kesebuah pesta sedangkan Ambar malah masih setia dengan baju kaos oblong hitam favoritenya.
"Gak kemana\-mana" jawab Sita pelan sambil menundukkan kepala. Dia malu terus diliatin Ambar yang berdiri didepannya saat ini.
Buk Ita mengendus\-endus tubuh anaknya "Hhhaah wangiii... Kamu mandi parfume?"
Sita langsung memukul tangan ibunya, rasanya dia jadi tidak kuat berdiri lama\-lama dihadapan Ambar. Dengan cepat Sita kembali masuk kedalam kamar untuk mengontrol jantungnya yang berdetak begitu cepat.
Buk Ita balik menggedor pintu kamar Sita "Heeeh, kamu ngapain masuk lagi, ini Ambar nungguin. Gak kemana\-mana tapi dandan, aneh kamu ini!"
"Oh Sita buka salon dikamarnya buk makanya lama" kata Ambar santai. Sebenarnya dia juga sempat terkesima dengan penampilan Sita yang begitu cantik.
"Iyaaaaa" teriak Sita. Sekarang bukan hanya jantungnya yang berdetak kencang, kakinya ikutan menggigil. Jika buk Ita pergi, otomatis hanya dia dan Ambar yang tinggal dirumah.
Pintu kamar Sita diketuk dari luar "Jadi gak makannya, eh maksud aku gambarnya" panggil Ambar dengan suara memelas.
Sita tersenyum bahagia mendengar pertanyaan Ambar. Dia masih gugup dan berusaha mengumpulkan mentalnya. Tapi tetap saja, rasa malunya begitu mendominasi. Takut Ambar berpikir dandanannya jelek.
"Yaudah aku pulang!" kata Ambar yang nada bicaranya berubah ketus.
"Tungguuuuu" teriak Sita lagi dari balik pintu kamar, dengan sedikit ragu Sita membuka pintu dan memperlihatkan dirinya.
Ambar kembali menatapnya, dia juga sedikit kebingungan dengan tingkah Sita yang begitu aneh menurutnya.
"Jangan liatin aku gituuuu" ujar Sita sambil terus menundukkan kepala.
Ambar berusaha menahan senyumnya mendengar perkataan Sita. Apalagi dia dibuat terkesima untuk yang kedua kalinya dengan kecantikan gadis didepannya saat ini.
"Aku lapar" ujar Ambar datar.
Sita langsung mengangkat kepalanya mendengar perkataan Ambar. Bukannya memberi pujian, cowok dihadapannya itu malah mengatakan lapar! Sita jadi kesal sendiri, bibirnya cemberut dan itu pertama kalinya Ambar melihat Sita menunjukkan ekspresi manjanya.
"Makan yuk, aku benar\-benar lapar" ajak Ambar lagi.
Sita tetap diam mematung didepan pintu kamar sambil menundukkan kepala.
"Kata kamu aku makan dirumah kamu aja, ternyata gak dikasi makan juga ampe sekarang. Yaudah deh aku pulang dulu buat makan kalo gitu"
Sita kembali mengangkat kepala, menatap wajah Ambar "Penampilan aku aneh gak?" tanya Sita pelan.
"Haaa?" Ambar pura\-pura tidak mendengar pertanyaan Sita. Gadis itu jadi ragu untuk mengulangi pertanyaannya, gugupnya jadi tidak terkontrol lagi.
"Aneh lah, masih SMP udah dandan menor! Lagian cantikan kamu yang enggak dandan" kata Ambar memberi jawaban atas pertanyaannya tadi.
Sita langsung masuk kedalam kamarnya. Dengan cepat mengambil tisu basah diatas meja rias dan menghapus semua make up yang ada diwajahnya. Bibir pink naturalnya juga terlihat kembali. Setelah mengembalikan penampilannya yang biasa. Sita menemui Ambar yang masih awet berdiri didepan pintu kamarnya.
"Kamu kenapa sih? Pubernya berlebihan!"
Sita hanya diam dan langsung pergi kedapur. Ambar ikut menyusul, tanpa basa\-basi Ambar mengambil piring yang diberikan Sita dan mulai mengisinya dengan setumpuk nasi dan 3 potong ayam goreng balado. Ambar makan begitu lahap, dia juga tidak peduli Sita yang diam\-diam terus melirik kearahnya. Dalam lima menit Ambar selesai makan sedangkan Sita masih belum menghabiskan makan siangnya.
"Kamu makannya lama yaa" keluh Ambar. Sita hanya diam dan terus menundukkan kepala.
"Haaaah, untung aku masih kelas lima. Ternyata SMP bisa membuat orang jadi aneh" gumam Ambar sambil menggosok\-gosok perutnya yang kekenyangan.
"Heeeeh tau gak kamu semenjak SMP ini aneh, tapi jadi lebih berani sih menurut aku. Biasanya kerjaan kamu cuma angguk\-angguk geleng\-geleng. Trus dulu kamu juga gak berani liat wajah aku, ngomong sama aku. Tapi sekarang kok kamu jadi berani"
Telinga Sita rasanya panas mendengar semua ocehan Ambar yang mengomentari perubahan sikapnya.
"Aku gak cantik ya kalo dandan?" pertanyaan Sita untuk yang kedua kalinya mampu menghentikan omongan Ambar yang panjang lebar.
__ADS_1
"Enggak!" kata Ambar tegas "aku suka kamu yang biasa aja, udah cepetan makannya kan mau bikin tugas kamu"
Sita tersipu malu mendengar jawaban Ambar. Gadis itu langsung merasa kenyang dengan jawaban jujur Ambar. Sita pergi kedalam kamarnya lagi untuk mengambil buku gambar dan kotak pensil. Setelah itu Sita berlalu kebelakang rumah, Ambar juga ikut menyusul.
Keduanya duduk dibangku taman yang dibuat oleh pak Adam saat dia masih jadi pengangguran. Sita mencoba memberanikan diri untuk menatap kearah Ambar. Namun saat dia mengangkat kepala, ternyata Ambar juga sedang memperhatikannya. Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Kemudian Ambar tersenyum dengan lebar, lesung pipinya sampe keluar.
"Haaah... Aku pikir kita ini masih anak\-anak tapi pas liat kamu, aku baru sadar ternyata kita udah masuk ketahap Remaja. Kamu juga makin cantik sekarang" ujar Ambar dengan polos.
Rona merah di pipi Sita muncul kembali bahkan tanpa bantuan bloush on sekalipun. Bibirnya merekah karna tidak bisa menahan senyum mendengar ucapan Ambar barusan.
"Udah! Kamu jangan senyum\-senyum terus, ntar aku jadi gugup liatin senyum manis kamu itu" ujar Ambar lagi. Rasanya cowok yang masih bertahan di kelas 5 SD itu benar\-benar pintar menjadi penggombal ulung. Tapi saat mengatakan semua itu Ambar tidak berniat menggombali Sita sama sekali. Dia bicara sesuai dengan apa yang ada didalam hatinya.
"Gambar apa nih?" tanya Ambar sambil mengambil buku ditangan Sita.
"Terserah kamu aja" jawab Sita cepat.
Tangan Ambar mulai mengukir gambar yang terlintas dibenaknya. Dia benar\-benar berkonsentrasi saat mengerjakan hobinya itu, dari dulu sampai sekarang. Ambar bisa tenang dan kalem saat menggambar.
Sita begitu puas memandangi cowok yang duduk disampingnya itu. Rasanya dia ingin Ambar untuk lebih lama saat melukiskannya gambar. Tapi sayang dalam beberapa menit Ambar justru sudah selesai melukis pemandangan yang begitu indah dibukunya.
"Niih, aku gambarin keindahan desa Peringi hilir" kata Ambar menyerahkan buku gambarnya kepada Sita.
"Pantasan tulisan tangan kamu rapi banget, soalnya lukisan kamu aja sebagus ini"
"Hahaha oh tentu dong!! Kan aku dulu juga sering jual lukisan ke kamu" Ambar langsung tertawa mengingat bisnis yang pernah dilakukannya dulu.
"Udah kan, aku balik dulu ya" pamit Ambar untuk segera pergi menemui teman\-temannya dibalai desa.
"Tapi masih ada lagi" kata Sita mencegatnya.
"Loh gak satu aja?"
"Enggak. Tugasnya disuruh buat disemua halaman"
"Semua halaman? Itu tugas apa penyiksaan?"
Ambar sampai kaget dengan perkataan Sita. Apalagi jika tugasnya disuruh menggambar disemua halaman yang ada dibuku gambar berarti Ambar harus menggambar sebanyak 12 kali!
"Iya, emang tugasnya begitu" kata Sita memberi alasan agar Ambar tidak pergi meninggalkannya. Dia begitu betah berlama\-lama dengan orang yang dulu pernah membuatnya menangis histeris.
Ambar terpaksa duduk dan mengambil buku gambar yang sudah diserahkannya tadi. Tangannya kembali bergerak mengambarkan lukisan yang terlintas dibenaknya. Sita benar\-benar puas menatap wajah Ambar dari samping.
Sesekali Sita menggigit bibir mungilnya karna merasa gemas melihat Ambar yang terlihat begitu ganteng dimatanya. Dihalaman ke tiga tangan Ambar mulai kelelahan. Ambar meletakkan pensil untuk meregangkan otot\-otot jari tangannya.
"Gak kuat aku, emang kapan sih dikumpul?"
"Lusa" jawab Sita cepat.
"Yaudah aku bawa pulang aja, ntar malam aku lanjut lagi ya" kata Ambar sambil berdiri dari duduknya.
Tapi Sita kembali menarik tangan Ambar. Cowok itu sampai kaget, Ambar berpikir masa Pubertas Sita benar\-benar merubah sifat pemalu gadis itu menjadi agresif seperti singa.
"Tapi siapa yang kumpul paling cepat bakal dikasi nilai 100, jadi rencananya aku mau kumpul besok aja" ujar Sita memberi alasan baru.
Ambar langsung memiringkan kepalanya mendengar perkataan Sita. Terdengar aneh ditelinganya tapi Ambar mencoba untuk melanjutkan gambarnya lagi. Bahkan buk Ita pun sudah kembali dari desa seberang. Gambar yang dibuat Ambar makin lama makin ngasal, selain dia capek, perutnya juga kembali kelaparan.
"***krruiiiiiiiiiiiiiiiik***" bunyi suara keroncongan perut Ambar. Sita reflex tertawa kuat mendengar hal itu. Ambar kaget karna untuk pertama kalinya mendengar Sita tertawa ngakak.
"Aku ambil cemilan dulu ya"
"Nah gitu dong dari tadi" kata Ambar lega dan meletakkan buku dan pensilnya. Sudah gambar ke 7, masih tersisa 5 lagi yang harus dibuat Ambar pada buku gambar itu.
Sita kembali dengan sepiring kue kering. Ambar langsung saja malahap semua makanan tersebut, sampai Sita pun tidak ditawari. Diberipun Sita pasti akan mengatakan tidak dan membiarkan Ambar mengisi semua makanan itu kedalam perutnya yang disebut penampungan oleh pak Bahrun. Langit pun sudah semakin sore, sepertinya Ambar benar\-benar tidak akan ikut berkumpul dengan teman\-temannya dibalai desa hari ini.
"Ada jangkar sama penggaris gak?" tanya Ambar setelah menghabiskan semua kuenya.
Sita menganggukkan kepala dan kembali masuk kedalam rumah mengambil apa yang diminta Ambar. Sita sebenarnya bingung untuk apa benda itu dengan Ambar, tapi '*ah biarkan saja tidak perlu ditanya. Yang penting Ambar masih duduk disampingnya dan Sita akan kembali memandangi Ambar sampai puas*' itu yang ada dipikiran Sita.
Saat mata Sita masih terkesima dengan wajah ganteng Ambar. Tiba\-tiba cowok itu malah memberikan buku gambarnya kepada Sita.
"Nih udah selesai" ujar Ambar sambil memijit\-mijit jarinya yang benar\-benar kelelahan.
Sita langsung kecewa, belum sampai 10 menit kenapa dia sudah selesai menggambarkan lima halaman yang masih tersisa. Sita memeriksa gambar Ambar yang selesai dalam waktu singkat. Gambar kotak, lingkaran, segitiga, tabung, dan yang terakhir gambar sebuah bintang yang murid TK pun pasti bisa membuatnya.
"Loh kok ini....."
"Kan gambar, yaudah itu gambar juga tuh" jawab Ambar dengan santainya.
"Ya tapi semua orang pasti bisa bikin yang begini" Sita masih ngotot minta Ambar membuatkan yang bagus seperti gambar pertama hingga ke tujuh tadi.
"Udah kumpul aja gitu, guru kamu pasti ngerti kok. Gambar pertama bagus, kedua bagus, sampe halaman ketujuh dilihat bagus, pas balik ke halaman\-halaman terkahir '*ouh simple aja nih! mungkin murid aku kelelahan*' trus dikasi deh nilai 100" ujar Ambar memberikan alasan sesuai dengan apa yang ada dipikirannya.
"Gak mungkinlah, guru itu mana tau kalo muridnya kelelahan. Nyatanya disekolah dikasi tugas, mau pulang di dikasi PR. Jadi mereka enggak perduli sama kita yang kelelahan!!" Sita juga ikut memberikan alasan agar Ambar tidak bisa pulang.
"Ah itu kan menurut kamu, gak semua guru tuh. Guru aku baik, aku gak buat PR mereka tetap senyum. Aku tidur dikelas pun mereka gak marah. Lagian tangan aku pegal banget. Hari juga udah sore, bentar lagi magrib bisa dibacok pak Bahrun kalo aku gak pulang kerumah"
"Iya... Soalnya galakan kamu dari pada gurunya!!!" ujar Sita kesal. Dia memajukan bibir, kecewa dengan lima gambar terakhir yang dibuatkan Ambar. Tapi sebenarnya yang membuatnya lebih kecewa lagi adalah melepaskan Ambar pergi.
Ambar terus memperhatikan Sita yang duduk dengan bibir manyunnya "Emang kamu cantik ya ngapain aja, cemberut gitu pun tetap cantik" kata Ambar jujur.
Percayalah Ambar tidak berusaha menggombali Sita atau membujuk gadis itu agar mau menerima hasil gambarnya. Tapi yang dikatakan Ambar sekali lagi apa yang ada dipikirannya saja.
Sita langsung tersipu malu, Pipinya merona merah, senyumnya tidak bisa ditahan, garis bibirnya terangkat dengan sendirinya.
"Aku pulang ya" pamit Ambar dan berlalu pergi meninggalkan Sita.
Ambar langsung kabur kerumahnya karna dia juga tidak tahan menutupi senyum diwajahnya yang terkesima dengan kecantikan Sita.
"Ngapain kamu, pulang\-pulang udah senyum gak jelas gitu!" pak Bahrun menyambut kedatangan anaknya dengan judes.
"Apaan sih, pria tua mana ngerti tentang persoalan pria muda!" jawab Ambar tak kalah judesnya.
__ADS_1
