![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Sesuai dengan saran menyesatkan Alif yang meminta Sita mengabaikan Ambar sampai cowok itu sendiri yang datang menemuinya untuk meminta maaf. Jadi setiap pulang sekolah Sita langsung masuk kedalam rumah, dia tidak menunggu Ambar ditempat biasa. Melainkan kali ini hanya mengintip dari dalam jendela rumahnya sampai Ambar lewat. Meskipun sedang ngambek tetap saja Sita tidak bisa absen memperhatikan wajah kekasihnya.
Masuk hari ke 3 putusnya komunikasi antara mereka berdua. Ambar terlihat murung duduk disamping temannya Ismet. Mereka berdua bolos sekolah dan duduk ditepi dermaga. Saat ini Ambar membutuhkan waktu berduan dengan Ismet teman akrabnya itu untuk mendengarkan curhatan hatinya.
"Ada rokok met?" tanya Ambar lemah.
"Kamu mau rokok? Tumben? Bukannya kamu gak mau lagi" ujar Ismet yang tidak percaya Ambar kembali meminta benda yang sudah di jauhinya itu.
"Kepala aku pusing"
"Kenapa? Kamu belum berhasil ketemu sama Sita? Padahal rumah kalian dekat, kenapa kamu gak datang aja kerumahnya sih?"
"Takut! Malas juga!" jawab Ambar pelan.
"Kenapa? Takut di emut?! Kalo kamu diam-diam terus ntar Sita mikir kamu sama Suci emang pacaran lagi"
"Gimana cara ngomongnya sama Sita, belum aku cerita aja dia udah mewek. Haaah... mental aku tempe banget ya met soal cinta? rasanya setelah ulang tahun hubungan aku sama Sita rusak terus met. Apa karna aku pembawa sial ya met?"
"Siapa yang bilang kamu pembawa sial?"
"Pak Bahun!" jawab Ambar mantap.
"Hahaha Pak Bahrun suka bener kalo ngomong! Kalo saran aku sih mending kamu temui Sita, kamu cinta kan sama dia?"
"Cinta lah met, banget malahan"
"Yaudah Sita berusaha buat dapatin kamu waktu itu, dia mau nyatain cintanya sama kamu. Jadi sekarang kamu yang gantian untuk mempertahankan hubungan kalian. Ingat Sita itu selalu diawasi sama Alif, dia punya banyak kesempatan buat mencuri hati Sita kamu mbar"
Ambar terdiam dengan perkataan Ismet kemudian menghembuskan nafasnya dengan keras.
"Alif ya met? Haaah si bajingan itu!!" gumam Ambar kesal.
"Iya mbar si Alif! Yang ngomongnya udah pake Lu-Gua itu, sementang tiap liburan dia ke Jakarta yang macet dan berpolusi itu Hahhaha. Yaudah ayo pulang, kamu gak lapar? Ntar kita ngumpul lagi dibalai desa sama yang lain" ajak Ismet sambil menepuk pundak temannya.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Dalam perjalanan pulang kerumahnya, Ambar sampai berdoa pada sang pencipta semoga Sita menunggunya ditempat biasa. Dia berharap melihat sosok gadis cantik itu lagi. Namun sayangnya didepan jalan rumah Sita, tempat biasa gadis itu berdiri masih saja kosong. Karna Sita tengah bersembunyi didalam rumahnya, mengintip melalui jendela memperhatikan Ambar berjalan dengan begitu lesu.
Sesampainya dirumah Ambar kaget karna tumben saja pak Bahrun selesai makan siang dan sholat zuhur tidak balik lagi kesawahnya. Cowok ganteng itu tidak tahu sebelum dia pulang sekolah tadi Sita datang menemui kedua orangtuanya. Sita mengadukan pada pak Bahrun dan buk Khadijah soal hubungannya yang sedang rusak dengan Ambar. Selain itu Sita juga bosan menunggu Ambar untuk datang menemuinya dan meminta maaf. Menurut Sita saran Alif itu tidak akan mungkin pernah dilakukan Ambar.
Sita sudah benar-benar dibuat rindu untuk berbicara dan melihat wajah kekasihnya dari dekat lagi. Dengan meminta bantuan ayah dan ibunya Ambar semoga saja cowok keras kepala itu langsung mau menemuinya. Sita juga memberi alasan kalau sebentar lagi Ambar akan mengikuti ujian nasional jadi gadis itu meminta pak Bahrun menyuruh Ambar untuk belajar dengannya sekalian. Sita tahu kedua orangtua Ambar paling keras jika menyangkut soal pendidikan. Dan selesai makan siang, Ambar langsung ditatar habis-habisan oleh ayah dan ibunya.
"Sok kegantengan kamu! Berani-beraninya nyelingkuhin gadis secantik nak Sita! Dia mau sama kamu aja udah syukur! Kamu beruntung dapatin dia, tau gak! Pinter, baik, cantik, ramah, rajin sholat, anak orang kaya, bapak pengen punya menantu kaya nak Sita! Jadi jangan sia-sia in Sita, temui dia sekarang!" perintah pak Bahrun tegas.
Ambar hanya diam dan menutup kedua matanya mendengar ceramah ayahnya yang lebih kearah menjatuhkan mental Ambar tersebut.
"Lagian kamu mau ujian nasional, sekalian belajar sama Sita. Mulai dari sekarang kamu absen dulu main ke balai desa, belajar sama nak Sita dirumah dia. Buk Ita juga ngasi ijin, awas kamu kalo gak datang! Tiap hari ibuk bakal tanyain ke nak Sita!"
Kali ini Ambar menutup mata sambil menelan ludah, lengkap sudah! Kedua orangtuanya benar-benar berhasil dihasut oleh Sita menekan Ambar menjaga gengsinya untuk menyapa Sita duluan.
"Udah sana! Bawa buku kamu, belajar sama Sita, awas kamu kalo gak nurut ya!" ancam pak Bahrun lagi.
Ambar masuk kedalam kamarnya dan membawa buku olahraga setelah itu pergi kerumah Sita. Didepan halaman rumah buk Ita, Ambar menghentikan langkah kakinya. Jantungnya sudah dag dig dug tidak karuan. Cukup lama Ambar terpaku dihalaman rumah tersebut. Padahal Sita yang sedang mengintip dari jendela sedang harap-harap cemas menunggu kedatangan Ambar.
"Kenapa pake ngelamun disana sayang!!" gumam Sita kesal melihat Ambar tidak bergerak juga mendekati pintu rumahnya.
Ambar melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit keteras rumah buk Ita. Setelah itu dia mengetuk pintu rumah tersebut dengan begitu pelan. Saking pelannya siput sampe merasa tersidir melihat gerakan tangan Ambar.
Sita dengan cepat membuka pintu sambil tersenyum tipis menatap tamu yang ada didepannya saat ini. Raut wajahnya sengaja dijutek-jutekin agar rasa bahagianya bisa tertutupi dan tidak ketahuan oleh Ambar.
"Keren! Padahal bunyi kentut Ujang aja masih keras dari ketukan pintu aku tadi, tapi kok kamu bisa langsung buka?" tanya Ambar ber basa basi busuk.
"Kenapa?" tanya Sita ketus.
"Buk Ita ada?" tanya Ambar sambil memonyongkan bibir, menahan emosinya melihat raut wajah Sita yang jutek.
"Ngapain mau ketemu ibuk?"
"Mau belajar" jawab Ambar ramah.
Sita mengangkat kepala, mencoba menyembunyikan senyumnya yang sudah sulit untuk ditahan.
"Ngapain belajar sama ibuk?!" tanya Sita lagi.
"Disuruh pak Bahrun tadi pulang sekolah katanya gini 'sana belajar sama buk Ita, dulu dia juara olimpiade matematika! dia gak sama kaya anaknya, BEGO!' gitu kata pak Bahrun, ya aku langsung percaya makanya datang kesini" jawab Ambar dengan sedikit meledek kekasihnya tersebut.
Sita merapatkan gigi dengan sindiran Ambar barusan. Bukannya minta maaf Ambar malah datang untuk meledeknya.
"Siapa yang kamu bilang bego! Kemarin aku gagal olimpiade itu karna stress mikirin kamu yang marah sama aku! Tau gak! Pikiran aku_____"
Ambar membuka matanya lebih lebar mendengar kemarahan Sita yang terdengar terlalu jujur. Kemudian dia tersenyum sinis seperti mentertawai kepolosan Sita tadi. Mata gadis itu langsung berkaca-kaca memandangi Ambar, dalam hitungan beberapa detik airmata Sita mengalir begitu saja. Sita menutup mulut sebelum mengeluarkan suara berisik. Cowok dihadapannya itu langsung menghapus airmata Sita.
"Buk Ita nya ada gak?" tanya Ambar lagi.
"GAK ADA!!" bentak Sita kuat.
"Oh yaudah ntar aja aku kesini lagi" pamit Ambar.
Dengan cepat Sita menggenggam tangan Ambar untuk mencegahnya pergi. Rengeknya pun semakin keras, Ambar menarik nafasnya panjang. Ini yang tidak mau dia dengar dari Sita. Ambar langsung membawa gadis itu untuk masuk kedalam rumah. Kemudian dia memeluknya dengan erat membiarkan Sita menangis didekapannya.
__ADS_1
"Dalam hitungan ke lima nangisnya gak berhenti aku pergi ya" ujar Ambar lembut tapi penuh dengan ancaman.
Sita langsung menganggukkan kepala dan mengontrol tangisnya sendiri. Ambar melepaskan pelukannya menatap wajah Sita lekat. Bibir Ambar sedikit maju memandangi kekasihnya, tiba-tiba mata Ambar ikut berkaca-kaca.
"Sita!!" ujar Ambar tegas dan menarik nafasnya panjang sekali lagi.
Sita menunggu sambungan kalimat Ambar, berharap cowok itu mengucapkan kata maafnya dengan baik dan menjelaskan kesalahpahaman mereka kemarin.
"Tolong akui aja! Kemarin kamu gagal Olimpiade karna memang kebegoan kamu sendiri kan!" sambungnya lagi dengan tampang tak berdosa.
Tubuh Sita makin lemah menghadapi Ambar. Dia merebahkan badannya pada Ambar sambil melingkarkan lengannya keleher cowok tersebut, lelahnya menghadapi kekasih seperti Ambar .
"Ntar buk Ita pulang mendadak aku bisa di seret sama dia" bisik Ambar pada telinga Sita.
"Biar deh! Lagian aku capeeek banget menghadapi semua ocehan kamu. Bahkan dari tadi kamu gak ada niat buat minta maaf sama aku"
"Ngapain minta maaf, belum lebaran juga!" jawab Ambar dan melepaskan pelukan Sita.
"Jadi kamu sama Suci! Kalian______"
"Kamu tahu gak Suci itu adiknya siapa?" potong Ambar dengan cepat.
Sita menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ambar.
"Kamu tahu juga Suci itu temanan sama Hening?"
Sita kembali mengangguk sekali lagi menjawab pertanyaan Ambar.
"Nah terus! Gimana bisa aku pacaran sama dia!"
"Ya bisa aja!" sanggah Sita ketus.
"Enggak lah!"
"Emangnya kenapa?!" tanya Sita penasaran.
"Soalnya penjaga pintu hati aku itu galak!" jawab Ambar dan kali ini dia yang merebahkan tubuhnya pada Sita, melingkarkan lengannya dileher gadis itu.
"Galak banget malahan" ujar Ambar lemah.
"Saking galaknya aku gak berani berpaling dari cintanya" ujar ambar lagi.
"Aku itu cinta..... Cinta banget sama dia" ambar terus mengoceh yang membuat hati Sita bahagia dengan setiap ucapannya "Ti amo!!" bisik Ambar pelan tepat ditelinga Sita yang membuat darah gadis itu langsung berdesir didalam tubuhnya.
Saat ini Sita sudah tidak membutuhkan penjelasan Ambar atau permintaan maaf cowok itu lagi. Ambar benar-benar tahu bagaimana cara membuat hati Sita berada dilevel bahagianya.
Sita menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat wajah Ambar.
"Aku pengen ngomong gitu ke buk Eli, kira-kira buk Eli bakal suka gak ya?"
Mendengar kalimat terakhir Ambar, Sita langsung merapatkan giginya. Kemudian dia menganggukkan kepala, biarlah Ambar dengan kepuasannya mempermainkan hati Sita. Ambar tersenyum dan kembali mau memeluk Sita tapi gadis itu langsung menepis tangannya.
"Gak usah peluk-peluk! Peluk tuh mesin molen kamu!" ujar Sita kesal.
"Bener sih enakan meluk buk Eli, empuk! Kamu mah kurus, gak kerasa apa-apa, tulang semua!" ledek Ambar tanpa rasa berdosa.
Emosi Sita benar-benar memuncak dia langsung memilih duduk di sofa dari pada mendengarkan omongan Ambar yang menyakitkan.
"Makan yang banyak dong yank.... Biar gak kalah sama buk Eli, kamu datar" kata Ambar ikut-ikutan duduk disampingnya.
Sita menatap Ambar tajam "APA YANG DATAR!" hardik Sita keras.
"Hahaha galak amat! Ituh otak kamu datar, makanya gak bisa menang olimpiade"
Wajah Sita benar-benar sudah tidak bisa diajak bercanda lagi saat ini. Singa galaknya Ambar sudah bangun. Senyum Ambar dibibirnya juga berangsur hilang melihat ekspresi Sita. Handphone gadis itu berbunyi, Sita langsung mengangkatnya.
"Ya kenapa lif?" sapa Sita dengan orang yang menelfonnya tersebut dengan ramah.
"Mohon maaf ya lif, sore ini aku harus ngajarin pacar buk Eli" ujar Sita lagi.
Sepertinya teman cowok Sita itu mengajaknya untuk pergi. Masih terdengar suara Alif yang bertanya siapa pacar buk Eli tapi gadis itu langsung mematikan panggilan Alif dan melempar handphonenya keatas meja dengan keras. Untung saja meja kacanya tidak ikutan pecah. Ambar hanya memperhatikan Sita dengan raut wajah cemberut. Hah.. Pacarnya semakin marah saat ini. Ambar merapatkan duduknya didekat Sita, berusaha menggenggam tangannya tapi selalu ditepis oleh gadis itu.
"Aku disuruh belajar sama buk Ita tadi, buk Ita nya masih lama ya pulang?"
Sita tetap diam, Ambar kemudian memegang perutnya yang mulai keroncongan. Karna Sita masih marah jadi Ambar memilih untuk pulang saja kerumah.
"Kemana kamu?!" tanya Sita ketus saat Ambar bangkit dari duduknya.
"Kerumah buk Eli, pacarnya aku! Mau minta makan sama dia"
"Jangan banyak alasan, kamu kan harus belajar, mana buku kamu tadi!"
Ambar langsung menurut seperti anak kecil yang dimarahi ibunya, memberikan buku olahraganya pada Sita.
"Kok pelajaran olahraga, kan ini gak masuk ujian Nasional!" bentak Sita keras, rasanya dia benar-benar geram dengan tingkah laku Ambar.
"Ya habis pelajaran yang paling aku suka olahraga, makanya aku mau belajar itu aja" jawab Ambar polos bahkan polosnya sudah melebihi Arul saat ini.
"Kamu niat belajar gak sih!!"
__ADS_1
"Niat! kalo gak niat aku gak mungkin bawa buku"
"Ya kenapa buku olahraga, bawa buku yang pelajarannya di uji kan nanti dong"
"Gak boleh milih gitu ya?"
Sita meletakkan buku Ambar diatas meja, dia tidak tahu harus berbicara apalagi menghadapi tingkah pacarnya tersebut. Ambar malah merapatkan duduknya lebih dekat pada Sita.
"Buuuk, jam keluar mainnya kapan?" tanya Ambar sok imut sambil mencolek lengan Sita.
"Masuk aja belum udah minta keluar!"
"Loh?!! Ambigu gitu dengarnya hahaha.... Yaudah ayo kita masukin biar cepat keluar"
"Yaudah ayooo!" jawab Sita menantang.
Ambar langsung menggeser duduknya menjauhi Sita. Wajahnya berubah cemberut lagi menatap meja, Ambar kemudian berdiri dari duduknya.
"Kemana kamu!" hardik Sita dengannya.
"Buka pintu! Takut berduaan sama kamu didalam sini" jawab Ambar ketus dan membuka pintu rumah buk Ita dengan lebar.
Sita menutupi senyumnya melihat tingkah laku Ambar.
"Jangan kemana-mana, aku ambil buku dulu!" perintah Sita dan masuk kedalam kamar.
Saat didalam Sita langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Dia ingin teriak sekencang-kencangnya karna bahagia. Kemudian Sita melirik kearah jam dinding kamarnya, sudah pukul 3 sore. Sita mengambil buku persiapan Ujian nasional yang baru dibelinya kemarin untuk Ambar dan kembali menemui kekasihnya yang masih anteng duduk disofa.
"Kita belajar di taman belakang aja" ajak Sita dan pergi ke belakang rumahnya, Ambar mengekor guru dadakannya itu dengan cepat.
Sita mulai membuka buku, memperhatikan materi matematika yang menjadi pelajaran favoritenya. Ambar ikut melihat kebuku tersebut, beberapa menit kemudian Ambar mengambil alih buku ditangan Sita.
"Mana pulpennya buk, pinjam" pinta Ambar dengannya.
Sita masuk lagi kedalam mengambil buku tulis dan pena untuk Ambar. Setelah itu tangan Ambar sibuk mencari jawaban dari soal-soal latihan yang ada dibuku. Mulut nyinyirnya hilang setiap Ambar berkonsentrasi mengerjakan sesuatu. Padahal Sita sendiri belum membantu Ambar untuk membahas materinya. Tapi sudah soal ke 15 saja yang dikerjakan cowok itu.
Sita tersenyum dan merapatkan duduknya disamping Ambar. Lama-lama kepalanya makin rebah di bahu Ambar, membiarkan cowok itu berpikir seorang diri dalam menyelesaikan soal-soalnya. Saat Azan Ashar Ambar menggoyangkan bahunya yang menopang kepala Sita.
"Udah buk" ujar Ambar memberitahu.
Sita mengambil buku ditangan Ambar dan mulai memeriksa latihan yang dikerjakannya satu persatu.
"Kalo benar semua saya gak perlu belajar sama ibuk lagi ya" kata Ambar dengan nada memelas.
"Enggak bisa gitu, kamu mau ujian beberapa minggu lagi, wajib belajar kalo gak belajar aku lapor pak Bahrun"
Ambar hanya bisa diam mendengar ancaman Sita. Sepertinya gadis itu tahu cara mengendalikan Ambarnya sekarang. Selesai memeriksa semua latihan Ambar, senyum Sita merekah memandangi kekasihnya.
"Bener semua kan?" tanya Ambar bangga, Sita menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Yaudah aku pulang dulu ya... Mau sholat sekalian mandi" pamitnya dengan cepat.
"Belajarnya belum selesai, sekarang jam istirahat! Sholat disini aja!" perintah Sita dan masuk kedalam rumahnya.
Ambar kembali mengekor dari belakang, dia berubah jadi murid yang patuh dengan guru killernya. Sita membuka salah satu pintu kamar dan menyuruh Ambar sholat disana. Saat Ambar tengah menjalankan kewajibannya, tiba-tiba buk Ita pulang. Wajah wanita itu tersenyum sumringah mengintip Ambar dari luar kamar adiknya dulu.
"Haaah pilihan anakku emang yang terbaik" gumam buk Ita bangga.
Sita keluar dari kamar kaget melihat ibunya yang terkesima memandangi Ambar dari balik pintu.
"Ibuk ngapain?!" bisik Sita sambil mencolek pinggang ibunya.
"Hahaha Ambar ganteng ya, sayang dia gak lahir dijaman ibuk" goda buk Ita untuk memancing emosi Sita. Setelah Ambar selesai dia langsung keluar dan ikut tersenyum menyapa buk Ita.
"Maaf ya buk, pak Bahrun suruh Ambar buat belajar sama ibuk tadi"
"Iyaa, Ibuk sebenarnya yang ngomong ke pak Bahrun" jawab buk Ita kemudian mendekati Ambar sambil berbisik ketelinga cowok itu.
"Dipaksa Sita sih mbar"
Ambar menggaruk kepalanya yang tak gatal dan ikut tersenyum mendengar perkataan buk Ita tersebut.
"Buk Ambar belajar dari jam satu siang tadi loh buk, ampe sekarang belum istirahat, dimarah-marahin Sita terus" ujarnya lemah meminta bantuan wanita itu untuk melepaskannya dari jerat Sita.
"Apaan! Kita mulai belajarnya jam 3 tadi!" jawab Sita berusaha membela diri.
"Satu jam udah cukup itu, lagian ini yang pertama, Ambar pasti capek lah! Kamu gak mikir, tadi dikasi cemilan gak sama Sita belajarnya mbar?" Ambar menggelengkan kepalanya memasang raut wajah memelas kali ini.
"Ah Sita ini, makin gak semangat dong kalo belajar gak ada cemilan. Ibuk juga dulu belajar mesti nyemil mbar, yaudah besok ibuk beliin cemilan ya"
"Gak usah repot-repot buk, Ambar pulang dulu ya buk" pamit Ambar cepat dan menyalami tangan buk Ita tapi Sita langsung menggenggam lengan Ambar.
"Buk... Liat buk, Sita malah nyubit" rengek Ambar meminta bantuan wanita itu lagi.
"Hahaha Eh, Udah belajarnya! Maksa banget kamu ini jadi guru, yaudah hati-hati ya mbar" kata buk Ita dan melepaskan tangan Sita dari lengan Ambar.
__ADS_1