![AmbarSita [Belum Di Revisi]](https://asset.asean.biz.id/ambarsita--belum-di-revisi-.webp)
Alif bekali-kali meminta maaf dan mengucapkan rasa bersalahnya kepada buk Ita. Dia begitu menyesal dan merasa gagal untuk melindungi Sita. Buk Ita membelai kepala Alif dan tersenyum.
"Gak apa-apa kok Lif, ibuk gak marah. Ya namanya juga musibah, mana ada orang yang mau mencelakai dirinya sendiri. Yang penting kalian berdua selamat. Sekarang Alif pulang aja ya nak, istirahat dirumah" kata buk Ita dengan lembut.
"Alif mau nemani Sita aja buk, boleh kan?" pintanya sambil memelas pada buk Ita.
Buk Ita menganggukkan kepalanya kemudian membiarkan Sita dengan teman-temannya yang baru datang menjenguk mengobrol didalam kamarnya.
Buk Ita kemudian menelfon suaminya untuk memberitahu jika putri mereka mengalami kecelakaan. Pak Adam sempat panik dan ingin pulang ke Peringi, tapi buk Ita langsung mencegah niat suaminya tersebut.
"Sita gak apa-apa kok pak, Cuma harus dirawat sehari aja, besok udah bisa pulang" katanya meyakinkan pak Adam.
"Si Ambar pasti ngebut-ngebut tuh bawa motornya, bocah kampung itu_______"
"Kok Ambar! Sita kecelakaan bukan dengan Ambar, tapi teman sekelasnya!" potong buk Ita cepat.
"Bapak pikir sama bocah kampung itu dia kecelakaan. Karna gak pernah naik motor jadi sekali dipinjemin motor dia ngebut-ngebut serasa jadi Valentino Rossi gitu" ujar pak Adam yang masih saja sinis jika menyangkut tentang Ambar akhri-akhir ini.
"Bapak kenapa sih pak? Dulu rasanya bapak baik-baik aja sama Ambar. Bapak juga kenal dia, tapi kenapa sekarang jadi sensi sendiri dengan Ambar!" tanya buk Ita kesal.
"Ya gak ada, bapak gak benci kok sama dia" pak Adam berusaha membela diri padahal jelas-jelas tadi dirinya langsung menyalahkan Ambar soal kecelakaan putrinya.
"Bapak bilang Ambar bocah kampung?! Lah terus ibuk gimana?! Ibuk kan juga lahir dan besar di Peringi!" Ujar buk Ita yang masih sewot dengan suaminya.
"Ya ibuk sama Ambar kan beda! Yaudah kenapa kita jadi ribut gini! Jadi Sita nya gimana? Bapak mau ngomong sama putri kita itu" kata pak Adam berusaha menenangkan istrinya.
Saat buk Ita akan membalikkan badan untuk pergi ke kamar Sita dirawat ternyata Alif sedang berdiri dibelakangnya. Buk Ita sampai memegang dada saking kagetnya melihat Alif.
"Kenapa buk?" tanya Alif heran "Ibuk dipanggil sama perawat" ujarnya lagi memberitahu.
"Haa? Oh ok ibuk ke sana dulu, tolong kasi handphone ini sama Sita ya lif, ayahnya mau ngomong" pinta buk Ita dan menyerahkan handphonenya pada Alif kemudian berlalu pergi menemui perawat yang disebutkan Alif tadi.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Sita murung tidur diatas kasur rumah sakit karna Ambar belum datang menemuinya.
"Kata Abdul mereka mau kesini Ta, selesai Magrib ini deh kayanya. Mereka diantar pake mobil pak Handsome" ujar Khaidir memberitahu Sita.
"Ambar ikut kan?" tanya Sita lemah
"Tadi kata Arul ikut sih, kita tunggu aja, kalo Ambar gak kesini kami yang jemput untuk paksa dia datang kesini. Sita gak perlu khawatir" Khaidir dengan percaya dirinya meyakinkan Sita, padahal menyentuh kulit Ambar pun cowok itu belum tentu punya nyali melakukannya.
Sehabis sholat Magrib, pak Handsome dan pasukannya akhirnya benaran datang menemui Sita yang masih terbaring dengan lemah diatas kasurnya.
"Hahahahaha gimana nak Sita buk? Gak ada yang patah kan Hahaahaha?" tanya pak handsome dengan buk Ita dan anehnya meskipun dirumah sakit pria tua itu tetap saja tertawa dengan keras.
Sita tidak peduli dengan ocehan kepala desanya tersebut. Matanya fokus memperhatikan Ambar yang bersandar sendirian disudut dinding kamar tempatnya dirawat. Dia tidak mendekat atau sekedar menyapa Sita sama sekali disaat semua teman-temannya memberi dukungan dan doa semoga cepat sembuh kepada Sita.
"Lecet-lecet aja pak, ini aja saya gak berani dekat Sita, kepala saya langsung pusing kalo lihat luka robek" jawab buk Ita sambil menyapu bulu roma ditubuhnya yang berdiri saat menceritakan kondisi Sita.
"Oh ibuk gak kuat juga ya liat yang begituan Hahahah. Jadi gimana itu, siapa yang mau ngurus Sita nanti kalo dia pulang? Hahahaha"
"Alhamdulilah Sita bisa jalan kok pak, cuma sekarang tubuhnya lagi lemah, harus di infus dulu"
"Kalo ibuk mau nginap dirumah Dian anak saya aja malam ini Hahaha. Lagian mau nemani Sita pun percuma ibuk kan gak bisa ngapa-ngapain kalo liat luka dikakinya Hahaha" usul pak Handsome.
"Iya buk, biar kami yang temani Sita malam ini" sambung semua cowok-cowok itu kompak termasuk Alif sekalipun. Hanya Ambar yang tidak, entah apa yang ada didalam pikiran Ambar saat ini.
"Heeeeeh, kalo kalian pulang lagi sama bapak Hahahaha! enak aja nginap disini Hahahah, bukannya sembuh yang ada nak Sita makin sakit ditungguin kalian Hahahaha. Biar Ambar aja yang nemani nak Sita sama pamannya Alip" usul pak Handsome lagi. Semua teman-temannya langsung kecewa tapi justru Sita yang berubah semangat mendengar hal itu.
"Iyaaa, biar Ambar yang temani Sita" sahut gadis itu dengan keras.
__ADS_1
Suasana langsung senyap saat mendengar teriakan Sita. Dan akhirnya mata cowok ganteng itu beralih juga memandangi kekasihnya. Kening Ambar sempat berkerut tapi kemudian Ambar menganggukkan kepalanya pelan.
"Ambar mau temani Sita?" tanya Buk Ita untuk meyakinkan.
"Tenang aja buk, biar Alif dan Ambar yang temani Sita malam ini. Pak Alip sama ibuk nginap dirumah anak pak Handsome aja" ujar Alif cepat, sepertinya dia tidak mau meninggalkan Sita berduaan dengan Ambar malam ini dirumah sakit.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Setelah berbincang-bincang, pak handsome dan pasukannya pamit pulang dengan buk Ita. Tiba-tiba Alif mencolek lengan Ambar untuk mengajak cowok itu ikutan keluar. Ambar mengekor Alif dari belakang, tapi saat dia akan membuka pintu Sita langsung memanggilnya.
"Ambar mau kemana? Kan kamu harus nemani Sita malam ini" ujar Sita mengingatkan Ambar tentang tugasnya.
"Bentar aku mau ngomong sama Alif dulu" jawab Ambar dan berlalu keluar menyusul Alif yang sudah berjalan duluan.
Jantung Sita langsung berdetak tidak karuan melihat kekasihnya pergi. Dia ketakutan jika keduanya malah ribut dirumah sakit atau mungkin Ambar akan memarahi Alif karna kecelakaan yang mereka alami. Prasangka itu berputar-putar dikepala Sita saat ini.
"Kenapa kamu ngajakin aku ngomong disini?" tanya Ambar heran dengan Alif yang tersenyum sinis saat ini.
"Gue gak sengaja buat Sita jadi sakit kaya gini" kata Alif tegas dan terus menatap Ambar dengan senyum angkuhnya.
"Aku tau kok, soalnya kamu cinta sama dia jadi gak mungkin kamu berniat mencelakai Sita" jawabnya santai. Ambar benar-benar bisa mengontrol emosinya meski Alif memandanginya sinis sekalipun.
"Oh ya kayanya pak Adam gak suka hubungan lu sama anaknya" kata Alif lagi, dia berusaha memanas-manasi hati Ambar berdasarkan pembicaraan yang didengarnya dari buk Ita dan suaminya ditelfon tadi.
"Kamu yang gak suka sama aku kali! Karna yang aku tahu hubungan aku baik-baik aja tuh sama pak Adam"
"Lu tahu Rio teman kecil Sita dulu sebelum dia pindah ke Peringi?" Tanya Alif tegas.
"Tahu, Sita pernah cerita tentang dia" jawab Ambar yang mulai merasa tidak nyaman dengan perasaannya sendiri saat mendengar nama Rio disebutkan.
"Kayanya persaingan untuk merebutkan hati Sita makin ketat. Apalagi pak Adam minta Sita untuk kuliah di Universitas yang sama dengan Rio nanti setelah mereka lulus sekolah"
"Sita juga cerita itu ke lu?" tanya Alif lagi, Ambar menggelengkan kepalanya pelan karena Sita memang hanya sekedar memberitahu siapa Rio saja dengannya.
"Ciih, yaaah lu tahu sendirilah berarti dia bakal dekat dengan Sita________"
"Terus kamu cemburu?" potong Ambar sinis "Rio bakal dekat sama Sita, bukan cuma aku aja yang akan ditinggal Sita saat dia kuliah di tempat ayahnya nanti, kamu juga!!" Ujar Ambar mulai jengkel.
"Haduuh gue mah bakal kuliah ditempat yang sama dengan Sita! Jadi otomatis gue akan terus disamping Sita! Gue sih cuma mau ngasi tahu aja dari sekarang, sebelum hati lu terluka lebih dalam. Pesaing lu untuk mempertahankan hatinya Sita itu kehidupannya jauh beda dengan status ekonomi lu mbar"
Ambar hanya bisa tersenyum sambil menelan ludah. Sebenarnya hatinya sudah begitu panas dengan perkataan Alif, tapi tidak mungkin Ambar baku hantam dengan cowok tinggi itu dirumah sakit, apalagi pacarnya tengah dirawat saat ini.
"Dari pada lu buang-buang waktu ikut berjuang mempertahankan hati Sita lebih baik lu mundur aja dari sekarang. Lu bersaing melawan Rio itu rasanya gak akan mungkin, jadi biar gue aja yang menghadapi cowok kaya raya itu" kata Alif dengan angkuhnya.
"Hahahaha Ah kamu ini tiang listrik, aku belum berjuang apa-apa untuk Sita malah langsung disuruh mundur. Setidaknya biarkan aku ikut bersaing dulu dilintasan, meski kalian berdua pake mobil aku cuma bisa berlari dengan kaki tapi yang jelas aku berjuangkan? semoga Sita tahu dan _____"
Ambar menghentikan perkataannya, tenggorakannya tiba-tiba sakit untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Aku akan berusaha terus berlari sampai ke finish meski salah satu diantara kalian sudah berhasil membawa Sita pergi. Setidaknya aku tahu digaris finish tidak ada lagi yang menunggu aku!" ujar Ambar pelan kemudian dia menatap Alif dengan tatapan sok tegar.
"Gak ada lagi yang mau kamu omongin kan, temui Sita sekarang. Kalo kita masih ngobrol disini pikirannya gak akan tenang" perintah Ambar dengannya dan berlalu pergi begitu saja.
~~~**♡AmbarSita♡**~~~
Sita sudah menunggu Ambar dan Alif dengan raut wajah cemas. Saat pintu kamarnya dibuka wajah Sita semakin khawatir karna yang kembali hanya Alif sendiri.
"Ambar mana?" tanya Sita cepat.
"Keluar bentar katanya" jawab Alif berbohong karna dia juga tidak tahu kemana musuh bebuyutannya itu pergi.
Saat ini Ambar ikut bergabung dengan pamannya Sita duduk di ruangan khusus untuk merokok.
__ADS_1
"Boleh Ambar minta sebatang pak?" tanya Ambar dengan tampang polosnya.
Pak Alip sempat terkejut mendengar permintaan Ambar. Sebenarnya dia tidak mau mengabulkan permintaan anak sekolah itu, tapi saat melihat raut wajah Ambar yang begitu murung pak Alip terpaksa memberikan satu batang rokoknya pada Ambar.
"Cukup satu ini aja ya" nasihat pria itu dan menepuk-nepuk pundak Ambar.
"Sita baik-baik aja kok hanya lecet kakinya aja, jadi gak perlu terlalu dikhawatirkan" ujar pak Alip lagi.
"Iya pak. Oh ya pak Alip gak suka juga ya sama Ambar?" tanya cowok itu blak-blakkan. Paman Sita itu jadi heran dengan pertanyaan Ambar yang terdengar ganjil ditelinganya.
"Emangnya kenapa bapak gak suka sama kamu?" Tanya pak Alip kebingungan.
"Ya mungkin aja bapak gak suka sama Ambar karna pak Bahrun miskin" kata Ambar lagi menutupi perasaan gundahnya sendiri.
"Hahahaha kamu ini gak berubah-ubah! Dari kecil sampe sekarang, mulutnya suka ngasal kalo ngomong. Bapak suka sama pak Bahrun, sama kamu nya enggak" jawab pak Alip sambil menepuk-nepuk pundak Ambar.
Ambar hanya tersenyum dengan perkataan pamannya Sita, saat mereka asyik menikmati batang rokok ditangan masing-masing. Tiba-tiba buk Ita datang keruangan tersebut. Wanita itu langsung terkejut dengan benda yang dipegang Ambar tersebut.
"Disini ternyata, Sita suruh nyariin Ambar, dia pikir Ambar pulang ninggalin dia" kata buk Ita menatap wajah Ambar lekat.
"Ongkos Ambar gak ada buat pulang ke Peringi buk" jawab Ambar ngasal.
"Hahaha jangan pulang, nanti Sita nya nangis, ibuk gak kuat dengar rengekan dia. Yaudah ayo masuk, dia nyuruh bawa Ambarnya. Ibuk juga mau kerumah Dian sama tantenya Sita, antarin kami ya Lip" perintah buk Ita dengan adik bungsunya tersebut.
"Yaudah, Alip udah siap kok, langsung keparkiran ajak si Indah" kata pak Alip yang ikut berdiri dari duduknya.
Buk Ita mengangguk dan kembali lagi kekamar tempat anaknya dirawat untuk mengambil barang-barangnya.
"Ambarnya mana buk?" tanya Sita saat ibunya kembali masuk kedalam kamar.
"Ada tuh, diruangan tempat ngerokok sama paman kamu, iiih si Aliip! Udah jelas Ambar masih sekolah malah dibiarin ngerokok. Rokoknya dari dia lagi, awas aja nanti ibuk marahin tuh paman kamu" ujar buk Ita yang kesal sendiri dengan adiknya. Sita pun ikutan manyun dan kesal mengetahui ternyata Ambarnya kembali merokok.
"Yaudah, ibuk tidurnya dirumah kak Dian ya, Alif sama Ambar gak apa-apa ya Tidur di sofa. Syukurlah sofanya ada dua. Berbagi aja ya. Sita... nanti kalo mau kebelakang panggil perawat, bangunin Ambar atau Alif" pesan buk Ita dan pergi bersama adik iparnya Indah meninggalkan Alif dan Sita berduan dikamar.
"Tadi Ambar ngomong apa aja sih sama kamu Lif?" tanya Sita ragu dengan teman cowok nya itu.
Alif tidak menjawab pertanyaan Sita, dia hanya memperlihatkan senyum simpulnya pada gadis itu.
"Dia marah ya lif? Apa dia nyalahin kamu soal kecelakaan kita ini?" tanya Sita lagi.
Alif langsung menganggukkan kepalanya yang membuat hati Sita semakin terpukul dengan tingkah Ambar yang menyalahkan temannya tersebut.
~♡AmbarSita♡~
Jam sudah menunjukan pukul 8.35 menit. Ambar masih duduk didalam ruangan tempat merokok tersebut sendirian. Dia berusaha mengontrol hati dan perasaannya saat ini. Perkataan Alif tadi begitu mengganggu pikirannya. Sampai pukul 9 malam, Ambar menarik nafas panjang dan berusaha tersenyum mentertawai nasibnya sendiri.
Dengan mengumpulkan mentalnya yang sudah berhasil digoyahkan oleh Alif, Ambar memutuskan kembali masuk kedalam kamar Sita. Dilihatnya gadis itu tengah menangis diatas kasur, dan Alif duduk disamping ranjangnya berusaha menenangkan tangis Sita. Ambar hanya diam dan mengambil posisi duduk di sofa yang akan menjadi tempat tidurnya malam ini. Hati Sita makin hancur melihat Ambar tidak mengeluarkan suara sama sekali atau menanyakan kondisinya.
~♡AmbarSita♡~
Ambar membuka matanya yang sedari tadi sengaja dia pejamkan agar Alif dan Sita berpikir dia sudah tertidur pulas. Dilihatnya jam yang tergantung didinding kamar ternyata sudah menunjukkan pukul 2 malam. Alif pun sudah berpindah posisi tidur disamping sofanya. Ambar melangkahkan kaki dengan begitu pelan untuk duduk samping ranjang Sita. Ambar memandangi wajah Sita yang terlihat tidur dengan nyenyak. Namun tiba-tiba air mata mengalir dipipi kekasihnya itu.
"Maafin aku sayang" gumam Sita pelan sambil berusaha mengontrol suara tangisnya dalam mode silence agar tidak mengganggu tidur Alif. Ambar yang sempat kaget langsung menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Direbahkannya kepalanya ketangan Sita untuk membuat Sita bisa tenang dan berhenti menangis.

__ADS_1