AmbarSita [Belum Di Revisi]

AmbarSita [Belum Di Revisi]
35. Kepala Desa baru Peringi Hilir


__ADS_3

Dikelas Alif memandangi Sita dengan heran, karna kemarin Sita tidak hadir tanpa keterangan sama sekali. Saat ditanya Sita hanya menjawab jika ayahnya pulang sebentar untuk melepas rindu dengan mereka. Alif terpaksa percaya dengan kebohongan Sita yang terdengar tidak masuk akal. Karna mana mungkin pak Adam hanya sehari saja dirumah kemudian pergi lagi. Mengingat perjalanan yang mesti dia tempuh jauhnya minta ampun.


Ketika bel jam istirahat berbunyi Andin dan Putri meluncur secepatnya menuju kekantin sekolah. Sita tidak mau kalah, dia juga langsung mengajak Alif untuk pergi kekantin.


"Sekarang kamu jadi rajin mau ke kantin, kenapa sih?" tanya Alif penasaran.


Sita hanya tersenyum dan menggandeng tangan Alif agar cowok itu bisa berjalan lebih cepat. Sita seperti tidak peduli dengan semua mata yang kembali memandanginya, yang jelas dia ingin kekantin melihat Ambar. Saat tiba dikantin Ambar justru ingin pergi dari tempat itu. Langkahnya terhenti karna hampir saja bertabrakan dengan mereka.


"Eh sorry... sorry..." kaget Ambar dan mundur beberapa langkah dari hadapan Alif dan Sita, setelah itu pergi entah kemana.


Sita melirik kearah Andin dan Putri yang duduk bareng teman-teman Ambar dengan raut wajah kecewa. Soalnya orang yang ingin mereka dekati justru sudah pergi begitu saja.


  ~♡AmbarSita♡~


Setelah membayar minumnya Ismet juga ikutan menyusul Ambar. Meninggalkan kantin sekolah yang makin lama makin banyak dihuni oleh makhluk-makhluk yang kelaparan.


"Gak makan mbar? Tumben?" tanya Ismet mendekati Ambar yang sudah nongkrong dibelakang sekolah dengan murid-murid nakal lainnya.


"Gak ada uang" jawab Ambar sekedarnya dan mengambil minum yang ada ditangan Ismet.


"Andin langsung manyun pas kamu pergi gitu aja, ada apa?" kata Ismet memberitahu.


Ambar kemudian mengajaknya untuk pergi menjauh agar dia bisa cerita. Setelah berada ditempat yang paling sepi ismet duduk dihadapannya.


"Kemarin kamu kemana? Bolos?". Ambar hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Kok gak ngajak-ngajak kami?" tanya Ismet sambil mengeluarkan rokok dari saku celananya dan memberikannya pada Ambar.


"Kamu ngerokok met?" Ambar langsung kaget melihat temannya memberikannya rokok.


"Hahaha Abdul sama Yudi yang ajarin kemarin. Aku coba enak juga ternyata, kamu mau nyoba juga?" Ismet menawari.


Ambar mengambil satu batang rokok dan mulai menghisapnya. Kemudian dia tersenyum dengan sendirinya.


"Anjiiir emang gila tuh dua orang, udah lah sampai sekarang bertahan jadi bocah SD! MaDeSu banget dah mereka berdua itu" gerutu Ambar kesal dengan Abdul dan Yudi tapi tetap menghisap rokok yang ada ditangannya.


"Keren kamu mbar, kemarin aku pertama kali nyoba batuk-batuk dulu, kok kamu enggak?"


"Halaah tinggal hisap-hisap doang! Ujang dan Arul yang **** aja bisa ini. Ngomong-ngomong dua makhluk itu mana? Kenapa gak ngikut?"


"Makan dikantin katanya lapar, Mbar... Ngomong-ngomong kamu suka sama Andin?"


"Emang kenapa?"


"Kemarin Putri cerita, katanya Andin suka sama kamu, pengen kamu nembak dia"


"Pake apa nembaknya met? Pake pistol? Atau pake karet?"


"Hahaha ah kamu becanda aja, kamu naksir ama Andin?" kali ini Ismet bertanya dengan nada yang sedikit ditekan.


Ambar menggelengkan kepalanya "Kamu sendiri naksir sama Putri?" tanya Ambar balik, Ismet juga menggelengkan kepalanya mantap "Sok kegantengan kamu!" umpat Ambar kesal.


"Soalnya dia naksir sama kamu mbar" kata Ismet lagi.


"Haaa?" Ambar sempat terkejut mendengar perkataan Ismet "Tau darimana kamu?".

__ADS_1


"Waktu kita main futsal, Putri cerita. Sebenarnya dia naksir kamu, tapi karna kamu akrabnya sama Andin jadinya dia mundur dan dekatin aku"


"Ya Tuhan" kata Ambar reflex dan menutup mulutnya karna sedikit tidak percaya "Aku gak naksir sama keduanya. Cuma nganggep teman kok met"


"Hahaha kamu jangan jadi ngerasa gak enak gitu sama aku. Lagian pas Putri ngomong sebenarnya dia naksir kamu, rasa cinta aku ke dia langsung hilang seketika"


Ambar tertawa kecil sambil menepuk-nepuk pundak temannya. Mereka asyik bercerita sambil menghabiskan batang rokok yang ada ditangan masing-masing.


  ~♡AmbarSita♡~


Didalam kelas 3-A, Sita hatinya begitu bahagai. Apalagi mendengar Andin dan Putri yang sedang curhat dengan Ana dan Iput teman SD nya dulu.


"Udah ndin, Lagian gak baik ngerusak hubungan orang. Ambar sama ceweknya pacaran udah lama juga, Kasihan kalo kamu tetap mau gangguin Ambar" kata Putri menasehati.


Sita yang ada dibangkunya manggut-manggut setuju. Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman bahagia saat mendengar nasihat Putri tersebut.


"Iyaaa, lagian kumbang tidak seekor, ikan dilautan juga masih banyak" Iput ikut memberi nasihat dengan cara puitisnya.


Alif memandangi wajah gadis yang duduk disampingnya yang tidak jelas tersenyum dengan siapa "Kenapa?" tanya Alif lembut sambil mengacak-acak rambut Sita gemas.


"Aku senang banget sekarang lif" bisik Sita pelan dan merebahkan badannya keatas kemeja.


  ~♡AmbarSita♡~


Sepulang sekolah Sita menunggu Ambar dipinggir jalan rumah mereka. Senyum Sita lepas saat melihat Ambar yang akhirnya datang.


"Kamu baru pulang?" sapa Sita dengan cepat dan mendekati Ambar.


"Hahaha iya nih, biasanya aku kebalai desa dulu buat menghindari ketemu kamu" jawab Ambar jujur.


"Jahatnya, oh ya hari ini kamu ngapain? Bisa bantuin aku?"


"Bantuin apa?"


"Buatin gambar"


"Gambar lagi? Gak ada cara lain buat boong apa? Lagian aku udah janji sama teman-teman mau main ke Mandau"


"Kalian mau main futsal lagi?"


"Enggak! Main warnet, udahan yaa... Aku lapar nih" pamit Ambar yang ingin pulang secepatnya karna perutnya sudah keroncongan minta di isi masakan dari buk Khadijah.


"Ambar, kapan-kapan aku bikinin bekal lagi ya" ujar Sita sebelum Ambar pergi.


Ambar menoleh kearahnya dan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Setelah mengisi perutnya sampai penuh Ambar kemudian menemui teman-temannya dibalai desa, kali ini ada Alif dan Rizka, si ketua osis disekolahnya.


"Eeeeh Eeeeh tumben kalian kesini, mau gabung perkumpulan MaDeSu?" sapa Ambar pada Alif dan Rizka.


Kedua cowok itu hanya diam dan kembali membaca kertas yang ada ditangan mereka. Sifat aneh Ambar itu adalah, meskipun tau seseorang tidak menyukainya, tapi Ambar tidak akan pernah berhenti untuk menyapa orang tersebut!


Sudah jelas Alif begitu membencinya tapi Ambar tetap saja berkicau jika bertemu dengan cowok tinggi itu. Yah meskipun seringnya dia menyapa dengan olokan.


Mungkin karna itu juga Khaidir, Thalib dan Ujang yang selama ini jadi korban bullyan Ambar tetap awet berteman dengannya dan tidak pernah berniat pergi mejauh untuk menyelamatkan diri dari mulut nyinyirnya Ambar.


"Mbaar.... Pak Awan mau pensiun jadi kepala desa" ujar Arul memberitahu.

__ADS_1


"Haaa? Kenapa? Apa karna jijik punya warga kaya kamu?"


"Seharusnya dia lebih jijik sama kamu mbar" balas Arul kesal.


"Jadi kalo pak Awan mengundurkan diri, kita gak punya kepala desa lagi dong. Yaudah aku aja kalo gitu, aku capek sekolah soalnya, tinggal-tinggal mulu" sahut Abdul berbicara tanpa menggunakan otaknya.


Kemudian Dian dan beberapa pemuda-pemudi desa Peringi hilir juga datang, gadis itu menepuk pundak Ambar dengan kuat.


"Kalian mau gabung ke perkumpulan MaDeSu kami juga?" tanya Ambar dengan raut kebingungan karna tumben sekali pemuda-pemudi di desanya yang sudah beranjak dewasa dan mulai bekerja itu menampakkan diri mereka.


"Kamu ketua gank nya?" tanya Dian sambil kembali memukul kepala Ambar.


"Abdul! kalo mau gabung daftar sama Ismet"


"Hari ini kalian gak boleh main disini, karna besok minggu kita mau melakukan pemilihan kepala desa ditempat ini" ujar salah satu laki-laki yang sering dipalakin Ambar setiap bulan setelah dirinya tamat SMA dan bekerja di Mandau.


"Jadi seriusan bang? pak Awan pensiun? Siapa yang mau gantiin?" Ismet masih tidak percaya jika sebentar lagi akan memiliki kepala desa yang baru.


Salah satu pemuda yang lainnya memberikan Ismet lembaran kertas yang sama seperti yang dipegang Alif dan Rizka.


Semua teman-temannya mendekat dan ikut memperhatikan kertas yang dipegang Ismet. Terpampang foto pak Sayuti dengan menggunakan kopiah miring yang kini maunya dipanggil pak Handsome. Raut wajah Ismet dan teman-temannya langsung manyun seketika.


"Kandidat calon satu 'Sayuti Malik' Kandidat dua 'Sayuti Malik' juga!!" ujar Ismet semakin bingung.


Dian dan pemuda-pemudi lainnya langsung tertawa melihat ekspresi Ismet.


"Siapa yang milih pria tua ini coba, kalo calon dua-duanya cuma pak Handsome kenapa mesti ngadain pemilihan! Lempar sungai aja calon nya beres!" gerutu Ambar kesal.


"Kakak yakin ayah kakak yang mau gantiin pak awan?" Abdul yang **** pun ikutan ragu.


"Kakak pertama gak mau, tapi warga yang minta, termasuk bapak kamu, orangtua kalian semua. Tanya deh sama mereka" jawab Dian pasrah "Kakak sebenarnya juga ragu tau gak!" bisik Dian pelan dengan cowok-cowok tersebut.


Semuanya pun mulai sibuk mengurus dan menyusun tempat untuk pemilihan kepala desa minggu nanti atau lebih tepatnya tempat untuk pelantikan pak Sayuti karna calon yang maju hanya dirinya seorang tanpa pesaing.


Ambar cs memutuskan untuk pergi ke Mandau sebelum diminta bantuan oleh pemuda-pemudi yang lain. Ditengah perjalanan menuju ke dermaga mereka bertemu dengan pak Toni dan pak Anto yang sedang asyik berbicara dengan pak Sayuti si calon pemimpin Peringi hilir.


"Eh eh HaHaHa mau kemana kalian?" sapa pria yang sudah menjadi duda semenjak kematian istrinya 9 tahun yang lalu.


"APAA?! Pengen tau aja!" jawab Ambar ketus.


"Eh HaHaHa.... Udah tahu belum minggu akan ada pemilihan kepala desa, HaHaHa doa kan bapak menang ya HaHaHa" ujar pak Sayuti dengan polosnya.


"Ya menang lah, mau milih nomor 1 atau nomor 2 tetap aja isi nya bapak semua!!" gerutu Ambar lebih kesal lagi.


Pak Toni langsung menginjak kaki Ambar kuat, giginya rapat memandangi Ambar. Pak Anto pun demikian wajahnya berubah sangar dan seram.


Pak Sayuti kebingungan, tapi kemudian tertawa lagi "HaHaHa.... Bapak sebenarnya gak mau maju, tapi dipaksa. Pak Bahrun bilang kalo bapak gak mau mencalonkan diri rumah bapak bakal digeser kepinggir sungai sama warga!" bisiknya pelan dengan Ambar cs.


Ismet langsung menarik tangan teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan, karna mendengarkan pak Sayuti mengoceh tidak akan ada habis-habisnya.


"HaHaHa malah kabur, kan bapak mau curhat, dengarin dulu lah! HaHaHa heh kita kan seumuran!" panggil pak Sayuti dengan cowok-cowok yang usianya rata-rata masih 14-15 tahun tersebut.



 

__ADS_1


__ADS_2