
•••••
Hari ini adalah perlombaan melukis yang diadakan di sekolah tingkat SD. Mia ikut mendaftarkan namanya karena ini sesuai dengan hobinya. Sedangkan Max tidak karena ini bukan bakatnya.
" Anak tampan dan cantik Mommy apakah kalian sudah bersiap? " teriak sang Mommy dari arah dapur. Wanita cantik itu tau jika hari ini putri cantiknya ikut lomba, tapi sayangnya ia tidak bisa ikut hadir begitu juga dengan sang Nenek karena masalah pekerjaan.
" Bentar Mom " sahut keduanya masih merapikan penampilan mereka, keduanya sangat mandiri. Mandi, berpakaian, makan dilakukan sendiri.
" Harum ayam goreng " gumam Mia memasuki dapur.
" Mommy masak apa? harum ayam goreng " sambung Max.
" Iya sayang hari ini ada rezeki " sang Mommy menghidangkan makanan di atas meja yang sudah diduduki kedua anak kembarnya.
" Hore.... " ayam goreng kata ipin upin " sorak Mia mengingat kartun yang sering mereka tonton. Melihat wajah berbinar kedua anak kembarnya Ai merasa bersalah karena sangat jarang bahkan bisa di hitung berapa kali saja bisa menikmati makanan itu.
Daging ayam itu pemberian dari Ibu yang sering menggunakan jasanya untuk membantu membawakan pembelanjaan kedalam mobil.
" Jika begitu makan yang banyak ya? agar anak-anak Mommy tambah pintar " Ai memperhatikan kedua anak kembarnya melahap masakannya.
" Kenyang " ucap Mia sembari memegang perutnya.
" Maaf ya sayang Mommy tidak bisa menghadiri perlombaan mu, begitu juga dengan Nenek kalian. Nenek sudah duluan pergi tadi. Max beri semangat buat Adikmu ya....Mommy mendoakan mu semoga berjalan lancar, menang kalahnya tidak masalah bagi Mommy, " ucap sang Mommy sembari mengecup pipi putrinya.
" Mia ingin menang Mom, hadiahnya besar. Jika Mia menang kita bisa makan ayam goreng lagi, " ucap polos anak cantik ini.
" Maafkan kekurangan Mommy sayang, " batinnya menangis.
" Amin, " balas sang Mommy dengan mata berkaca-kaca.
" Jika begitu kalian segera berangkat, begitu juga dengan Mommy, " Ai membereskan piring kotor di atas meja. Jika si kembar pulang dari sekolah, merekalah yang akan mencucinya sehingga piring kotor tidak menumpuk.
" Baiklah Mom, " ucap serempak keduanya sembari mendaratkan kecupan di pipi Mommynya.
" Maafkan Mommy sayang.... Mommy tidak bisa mengenalkan siapa Daddy kalian, jangankan kalian Mommy sendiri saja tidak mengenalnya, " Ai bergumam sendiri dengan dada sesaknya, pandangan jauh ke depan menatap tubuh putra-putrinya yang mulai menghilang.
Di sekolah murid yang mengikuti lomba sudah bersiap dengan peralatan melukis. Mia bisa bernafas lega karena peralatan melukis disediakan oleh pihak sekolah sendiri.
" Kakak doain Mia ya agar Mia bisa menang, " ucapnya pada sang Kakak yang duduk di sampingnya.
" Iya Dek, tetapi menang kalahnya Kakak tidak mempermasalahkan, asalkan kamu membuktikan bakat yang selama ini kamu pendam. Dengan lomba ini kamu dapat membuktikan atau menunjukan kemampuanmu untuk menyalurkan bakatmu. Semoga kamu mampu menyelesaikan tantangan ini dengan baik, apapun nanti tema yang diberikan juri, " ucap bijak sang Kakak, karena tema melukis di rahasiakan.
" Terima kasih Kak atas dukungannya, " Mia menyunggingkan senyuman manisnya.
Di halaman gedung sekolah sudah dipadati oleh para orang tua murid, dimana murid yang mengikuti lomba melukis.
Murid yang mengikuti lomba adalah berjumlah 100 orang dari kelas 1 sampai Kelas 6 SD.
" Selamat pagi kepada kepala yayasan, para dewan guru, para juri dan Bapak/Ibu orang tua murid, beserta anak-anak didik sekalian yang kami hormati. Seperti yang sudah kita ketahui para anak didik kami tercinta akan mengikuti lomba melukis yang diadakan oleh pihak sekolah. Juara 1 akan mewakili sekolah untuk mengikuti lomba sekabupaten, " kata sambutan dari salah satu dewan guru.
__ADS_1
" Baiklah anak-anak kami tercinta, tema melukis kali ini adalah bertema KELUARGA BAHAGIA. Keterangan kalian akan melukis anggota keluarga kalian, seperti kedua orang tua dan saudara kalian dengan batas waktu 2 jam, tetapi siapa yang sudah menyelesaikan sebelum pada batas waktu yang ditentukan itu menambah poin kalian untuk menuju menang. Alat-alat melukis sudah disediakan oleh pihak sekolah. Juri kali ini langsung dari Ibu kota sekaligus putri pemilik yayasan ini yaitu Ibu Cintaka Sywa, beliau adalah seorang pelukis senior yang karyanya sudah melambung Go Internasional. Good luck buat anak-anak didik kami tercinta, "
Deg
Sesosok anak lelaki yang duduk bergabung dengan para siswa-siswi sedikit kaget mendengar tema melukis.
" Bagaimana kamu bisa menyelesaikannya Dek, " lirih Max membatin.
Pritt
" Mulai dari sekarang, "
Para murid mulai mengapresiasikan ide-ide cemerlang yang ada dibenak masing-masing. Kelihatan dari keseluruhan murid begitu tenang karena tema yang menjadi bahan perlombaan sangat familiar/umum. Beda dengan ekspresi para orang tua mereka yang begitu tegang, bahkan dari mereka deg-degan.
Sesosok anak cantik diantara seratus murid dengan tenangnya memadukan cat air dengan kanvas berwarna putih. 30 menit ia sudah menyelesaikan hasil lukisannya. Mia langsung menyerahkan hasil lukisannya kepada pembimbing yang mengawasi selama perlombaan.
Sang pengawas langsung menyerahkan hasil lukisan Mia ke pihak juri.
Pritt
" Finis! "
Semua hasil lukisan para murid sudah diserahkan kepada juri. Para juri memberi nilai masing-masing di karya lukis para murid.
" Dari hasil kesepakatan para juri, kami sudah menetapkan siapa saja yang menjadi juara 321. Hasil ini murni dari kemampuan murid yang bersangkutan. Baiklah kami akan membacakan nilai yang diperoleh beserta nama murid yang jadi pemenang, "
" Juara 3 dengan perolehan nilai berjumlah 855 dengan batas waktu 1 jam 30 menit atas nama Irlangga Putra kami persilahkan maju ke depan. Beri tepuk tangan yang meriah, "
" Dan untuk juara 1 dengan perolehan nilai berjumlah 1850 dengan batas waktu 30 menit, atas nama Mia Angela kami persilahkan maju ke depan. Beri tepuk tangan yang meriah, "
Deg
Anak lelaki tampan, dingin sangat terkejut mendengar nama sangat Adik disebutkan, lebih mengejutkan lagi dengan perolehan nilai tertinggi dengan batas waktu begitu singkat. Max tidak percaya jika nama sangat Adik yang dipanggilkan dewan guru selalu pembawa acara. Max tersentak sadar ketika Adik kembarnya maju dan berdiri di podium.
Prok prok prok
Tepuk tangan meriah menyambut ketiga pemenang.
" Buat anak-anak didik kami tercinta yang belum berhasil jangan berkecil hati, bukan hasil lukisan kalian jelek tetapi setiap perlombaan harus ada yang namanya menang atau kalah. Lebih giat dan terus belajar lagi untuk mengembangkan bakat yang kalian miliki. Bagi pemenang juara 321 selamat buat kalian, kami dewan guru sangat bangga, "
Piala dan hadiah berupa uang tunai diserahkan kepada juara 3 dan 2, dan mengenai hasil karya lukisan disebutkan oleh para juri. Kedua orang tua murid juga diperkenankan maju ke depan untuk mendampingi para juara. Dan kini giliran juara 1 yaitu Mia Angela.
" Untuk penyerahan piala atau hadiah juara 1 kami persilahkan kepada Ibu pemilik yayasan sekaligus juri ketua dipersilahkan maju ke podium. "
" Bagi anak didik kami Mia Angela kelas 1A. Kamu luar biasa Nak, hasil karya lukisanmu sungguh luar biasa dengan waktu begitu singkat kamu dapat menyelesaikannya, " kagum serta bangga Cintaka kepada Mia.
" Usia kamu berapa tahun sayang? "
" 6 tahun Bu, " sahutnya dengan senyuman.
__ADS_1
Deg
Cintaka begitu terkejut melihat wajah Mia, karena tadi anak itu menunduk saja.
" Hidung dan senyumannya seperti----- , " batinnya.
" Waaw luar biasa! diusia kamu 6 tahun bisa melukis seindah dan luar biasa begini. Kamu mengingatkan Ibu pada usia 6 tahun Ibu juga sudah menggeluti hobi melukis tetapi kemampuan Ibu dibawah kemampuan kamu. Kamu bisa menyelesaikan tantangan ini dengan waktu yang begitu singkat, " sekali lagi membuat Cintaka tersentak kaget. Wanita cantik dan elegan itu mengusap pucuk kepala Mia, entah kenapa ia merasa ada ikatan batin.
" Kami persilahkan kepada orang tua Mia maju ke podium, "
" Sayang kenapa orang tua kamu tidak ingin maju ke depan? "
" Mommy Mia dan Nenek tidak bisa hadir Bu, " seketika mata indah itu berkaca-kaca.
" Baiklah tidak masalah sayang, " Cintaka seketika memeluk Mia dengan perasaan haru.
" Tapi Kakak Mia ada Bu, sekolah disini juga, " Mia ingin sang Kakak mendampinginya maju ke depan.
" Baiklah kami persilahkan kepada wali murid Mia maju ke podium, "
Deg
Max tersentak kaget, anak tampan itu tidak menyangka jika diberi kesempatan maju ke podium untuk mendampingi sang Adik. Tidak ingin mengecewakan sang Adik, Max segera bangkit dari duduknya dan berjalan dengan gaya cool padahal usianya masih sangat muda tapi gaya maconya sangat terlihat.
Deg
Dari kejauhan mata Cintaka menangkap sesosok Max, wanita cantik itu kembali tersentak.
" Selamat ya Dek, " ucapnya kepada sang Adik.
" Iya Kak, ini berkat doa Kakak, Mommy dan Nenek, " balasnya memeluk sang Kakak.
Deg
Kedua saudara kembar itu sontak membuat semua yang hadir disitu terenyuh dan terharu. Sebagian mengenali mereka. Tidak terkecuali Cintaka, wanita itu sangat terenyuh haru. Belum lagi melihat wajah keseluruhan Max.
" Ya Tuhan apa aku sedang bermimpi? memimpikan kembali masa Cull masih kecil? wajah ini 11 12 dengannya, belum lagi gayanya berjalan, " batin Cintaka tidak lepas dari Max.
" Hai sayang nama kamu siapa? "
" Max Alderal Bu, "
" Usia kamu? "
" 6 tahun, "
" Usia kalian sama? " Cintaka bergantian melirik Max dan Mia.
" Kami kembar Buk, "
__ADS_1
" Lihatlah gaya bicara dan pelit bicaranya, " membuat batin Cintaka menjerit dan bertanya-tanya.
Bersambung.....