
Tok tok tok
Pintu rumah di ketok. Seperti biasa Jihan yang buka. Seketika senyuman mengembang di bibir bocah itu mengetahui siapa yang bertamu.
"Sayang siapa yang datang?" teriak Emily dari arah dapur.
"Uncle tampan Mami," jawab Jihan. Entah Emily dengar atau tidak.
Ceklek
"Pagi Uncle tampan," sapa Jihan disertai senyuman.
"Pagi Jihan," balas Max. "Kamu sudah bersiap?" imbuhnya.
"Sudah Uncle tetapi Jihan belum sarapan. Mami lagi nyiapin," kata Jihan.
"Jihan sarapan dulu, nanti supir Uncle yang antar Jihan karena hari ini Uncle banyak pekerjaan," ujar Max.
"Iya Uncle," jawab Jihan.
"Sayang ayo sarapan, nanti Jihan terlambat," panggil Emily belum menyadari jika ada Max diluar.
"Iya Mami," jawab Jihan. "Uncle Jihan sarapan dulu, apa Uncle ingin ikut sarapan?" tawar Jihan.
"Uncle sudah sarapan," ujar Max.
Di meja makan Jihan sarapan sendiri, sedangkan Emily lagi membersihkan diri. Tidak ingin terlambat Jihan cepat-cepat menghabiskan makanannya. Ini hari pertama bagi Jihan masuk ke sekolah.
"Mami, Mami dimana?" panggil Jihan karena ia ingin pamit pergi sekolah.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Emily menggunakan handuk kimono.
"Mi Jihan pergi sekarang, di luar sana sudah ada yang jemput. Itu suruhan Uncle tampan," kata Jihan.
"Baiklah sayang, maaf untuk saat ini Mami belum bisa ikut mengantar Jihan. Jihan jangan bandel ya? serius belajarnya," pesan Emily sembari mengusap pucuk kepala Jihan.
Cup
"Bay....Mi," kecupan mendarat di pipi Emily.
"Hati-hati sayang, jangan lupa tutup pintunya," kata Emily.
Sungguh Emily tidak menyadari jika ada sang CEO yang membaringkan tubuhnya di kursi panjang di ruang tamu.
Selepas kepergian Jihan. Emily masuk kedalam kamar dengan pintu sengaja terbuka sedikit. Emily meraih kotak obat untuk mengoleskan salep luka di pahanya.
__ADS_1
Emily mendudukkan dirinya disisi ranjang dengan kaki menggantung. Lalu ia simak belahan kimono sehingga bekas jahitan di paha atasnya terekspos.
Brakk
Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan masuklah Max begitu saja. Tentu saja kedatangan Max secara tiba-tiba mengejutkan Emily, bahkan jantung berdetak kencang karena ia kira seorang pencuri.
"Tuan," teriak Emily sembari mengelus dadanya.
Tanpa menjawab Max langsung merebut salep di tangan Emily, tanpa aba-aba langsung mengoleskan dimana jahitan itu.
Plak
Max memejamkan mata ketika mendapati tamparan melayang di pipinya. Ya Emily melayangkan tamparan di wajah Max karena menurut Emily itu sudah keterlaluan karena bagian itu tidak pantas.
"Sungguh tidak sopan," geram Emily dengan cepat merapikan kembali kimono itu. "Apa tak Tuan berani melakukan itu? jangan berpikir karena saya adalah karyawan Tuan jadi seenaknya untuk Tuan bertindak. Saya masih punya harga diri," kata Emily dengan sorot mata tajam.
"Ya kau benar. Aku tidak pantas dan yang pantas bagimu adalah dokter itu, bahkan lebih dari itu!" ujar Max langsung bangkit dari posisi berjongkok. "Panggil saja dia karena dia yang pantas," ujar Max sembari mencampakkan salep itu ke lantai lalu berlalu keluar kamar disertai dengan bunyi dentuman daun pintu.
"Hah," mulut Emily menganga sembari menatap tangan bekas menampar Max. "Dia pantas mendapatkan itu, seenaknya saja bertindak. Asal menuduh yang tidak-tidak lagi. Hmmm dokter Mico hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya, tetapi dia menuduh yang tidak-tidak," gumam Emily.
Di ruang tamu Max mendudukkan dirinya sembari menenangkan dirinya.
"Apa dia tidak tau jika aku mengkhawatirkan keadaannya? sepertinya kehadiranku disini tidak dibutuhkan," gumam Max.
Didalam kamar setelah menganti pakaiannya Emily mondar mandir. Emily bingung harus keluar atau hanya berdiam di kamar saja. Karena ia tau jika Max masih berada di rumahnya.
Sebelum menemui Max ia pergi menuju dapur ingin menyeduh teh hangat untuk disuguhi kepada Max.
Tiba di ruang tamu Emily menelan ludahnya, sungguh ia merasa canggung dan tidak enak hati.
"Tuan silahkan diminum mumpung masih hangat," kata Emily lalu mendaratkan bokong di kursi yang berhadapan dengan Max, tepatnya tidak berhadapan.
Max tidak bergeming ia hanya diam tanpa mengeluarkan kata. Pandangannya kearah jendela yang terbuka tepat didepan matanya.
"Saya minta maaf atas tindakan saya yang kurang berkenan tadi," lirih Emily sembari meremas jari-jemari tangannya.
Tidak ada tanggapan dari Max. Seakan Emily sedang berbicara dengan tembok berupa manusia. Sehingga membuatnya mendesis.
Menyadari jika Emily tidak berceloteh lagi membuat Max mengalihkan pandangannya menatap Emily yang kebetulan juga sedang menatapnya. Sehingga sorot mata mereka bertemu dalam diam.
Dengan segera Emily memutuskan tatapan itu. Sungguh jantungnya berdegup.
"Tuan saya minta maaf sekali lagi karena belum bisa masuk kerja," kata Emily sembari mengatur detak jantungnya.
"Kau sudah aku pecat, dan mulai dari pertama kau absen disitu juga pemecatan dirimu!" Seru Max.
"Apa? bagaimana mungkin," gumam Emily sangat terkejut masih dapat didengar oleh Max.
__ADS_1
"Bukankah itu kemauan kau sendiri? bukankah kau sendiri yang mengatakan tidak bekerja lagi di perusahaan?" ujar Max mengingat kembali atas perkataan yang pernah di ucapkan Emily.
"Jadi bagaimana caranya saya membayar denda itu jika saya tidak bekerja lagi?" tanya Emily sangat berharap sang CEO berubah pikiran.
"Semua sudah lunas!" Ujar Max tanpa berkedip menatap Emily.
"Apa? lunas? siapa yang melunaskan?" cicit Emily dengan mata membulat tidak percaya. Seketika ia sadar ternyata Max sedari tadi menatap intens, membuat ia menelan ludah.
Dret dret
Tiba-tiba ponsel Emily bergetar di atas meja sehingga mengalihkan pandangan Max. Dengan tidak sengaja Max melihat nama yang tertera.
dokter Mico. Ternyata dokter Mico yang menghubungi Emily. Dengan spontan Max menggapai ponsel itu dan menyentuh tanda hijau disertai speaker.
dokter Mico: "Selamat pagi Nona Emy. Sebentar lagi saya akan menuju ke sana."
Emily: Tidak perlu karena dia tidak berada di rumah. ah, lagi pergi berkencan."
Setelah mengatakan itu Max langsung mematikan sambungan telepon bahkan nonaktifkan ponsel milik Emily.
Mata Emily membulat mendengar penuturan Max yang hanya bualan semata.
"Apa?" ujar Max karena mendapati mata Emily melotot menatap dirinya. "Jadi dia yang kau tunggu untuk mengobati lukamu? sehingga aku tidak pantas seperti yang kau bentak?" ujar Max dengan rahang mengeras.
Emily menelan ludah tidak tau ingin berkata apa. Pria ini sungguh menyudutkan dirinya.
"Aku numpang beristirahat sebentar di kamar sempit dan kumuh milikmu. Hari ini moodku hilang untuk ke kantor, itu semua karena dirimu." Ujar Max langsung bangkit dan melangkah menuju kamar milik Emily tanpa ingin terlebih dahulu mendengar jawaban Emily.
"Dasar seenaknya saja. Apa tadi dia bilang kamar sempit dan kumuh? sungguh mulutnya itu sangat pedas dan tajam, bahkan cabai rawit serta silet saja kalah," gerutu Emily dengan tangan terkepal.
Emily menghela nafas sembari menatap pintu kamar yang sengaja di tutup rapat.
"Sebenarnya pemilik rumah dia atau aku?" gerutunya kembali masih berdiri didepan pintu.
"Tentu saja kau karena tidak mungkin seorang CEO terkenal seperti aku tinggal di rumah sempit ini," seru Max tiba-tiba keluar karena mendengar umpatan Emily, sedangkan Emily tidak menyadari hal itu.
"Jika begitu Tuan pergi dari kamar ini, saya juga ingin beristirahat," Emily masuk ke kamar sembari berusaha menarik tangan Max agar keluar dari kamar yang dikatakannya sempit serta kumuh.
Bukk
Cup
Roll 2 bab👉
Bersambung....
__ADS_1