Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 29


__ADS_3

•••••


" Tuan, " panggil Ai.


" Tuan, " panggilnya kembali.


Ai bangkit mencari sesuatu yang dapat menyadarkan pria itu. Seketika ia mendapat ide cemerlang, ia kembali ketempat semula.


" Apa yang kau lakukan, " seketika pria itu membuka matanya, menyadari tercium aroma tidak sedap yang ia sendiri kenal.


" Huh bisa-bisanya aku menghayal yang tidak-tidak, sehingga membangunkan si monster, " batinnya mengerutuki kebodohannya. Ia menghayal sedang bercinta panas dengan Ai, sampai-sampai si monster bermata satu sedikit lagi meledakkan larva panasnya. Tetapi semua itu gagal karena tiba-tiba indra penciumannya mencium aroma memuakkan.


" Kenapa Tuan seperti sedang menciumi seseorang? saya sudah panggil beberapa kali tetapi tidak digubris oleh Tuan?, " tanya Ai tetapi sebetulnya ia tau dengan tingkah pria itu.


Sebelumnya pria itu mengkhayal sedang berciuman panas sampai ke tahap ranjang yang panas. Karena jujur saja ia sangat mengingini Ai saat ini sehingga terbawa dalam imajinasinya.


" Sebelum aku kembali dari kamar mandi, kau harus menyingkir dari sini dan pergi ke kamarku, " ujarnya sebelum ke kamar mandi bagian dapur untuk menuntaskan si monster sudah menegang dibalik celana. Ai bisa melihat itu dengan wajah bersemu merah.


Masih pertengahan jalan pria itu, Ai bergegas bangkit dan berlari kecil menuju kamar milik pria mesum ini. Ai merasa sedikit takut.


Di kamar mandi pria itu mendesah frustasi. Bisa saja ia langsung melemparkan tubuh Ai di ranjangnya seperti wanita-wanita teman tidurnya dahulu, tetapi pada Ai ia tidak ingin melakukan hal itu sebelum resmi. Baginya Ai wanita yang berbeda dan spesial, sehingga ia tidak ingin melakukan hal itu seperti paksaan.


" Bersabarlah monster, sasaranmu belum tepat, " gumamnya sembari bermain solo dengan sabun.


Di kamar Ai merasa ngeri masih membayangkan si monster bermata satu milik pria itu.


" Kamar ini sangat besar dan begitu nyaman, dia tipe pria bersih dan rapi, " karena kamar itu sangat bersih serta terawat.


Ai meraih tas jinjingnya, mencari ponsel yang ia yakini sudah dimasukan dalam tas sebelum pulang dari tokoh.


" Kemana ponselku? seingat aku sudah masukan tadi, " gumamnya karena Ai ingin menghubungi putra-putrinya serta sang Mama.


Seluruh barang dalam tas dikeluarkannya tetapi benda yang dicarinya tidak didapati.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu kamar diketuk.


" Tunggu Tuan, " ucap Ai dan segera mungkin memasukan kembali barang dalam tas jinjingnya. Tanpa sadar ada satu benda yang terjatuh di sela-sela sofa.


Ceklek


Ai membuka pintu, padahal pintu tidak terkunci. Bisa saja pria itu masuk begitu saja, tetapi bagaimanapun ia merasa tidak sopan masuk begitu saja, walaupun itu kamar miliknya.


" Aku hanya ingin mengambil pakaian, " ujar pria itu tanpa menatap Ai yang membunyikan sebagian tubuhnya dibalik pintu.

__ADS_1


Pria itu langsung masuk di Walk-in closet mengantikan pakaiannya. Merasa cukup ia keluar dan ingin keluar kamar.


" Tuan apa tidak masalah saya tidur disini? " tanya Ai karena merasa tidak pantas.


" Tidak masalah, kau seorang wanita, " ucapnya sembari menyunggingkan senyuman mematikan.


Deg


Seketika jantung Ai berdebar-debar mendapati senyuman itu.


" Jangan lupa kunci pintunya takut didatangi iblis, " ujarnya sebelum meninggalkan kamar.


Ai melangkah kearah pintu dan mengikuti perintah pria itu dengan perasaan bingung sembari mencernai ucapannya.


" Dia tampan sekali jika tersenyum begitu. Wajahnya semakin mirip dengan Max, " gumam Ai dengan hati gembira, kini wajahnya bersemu merah membayangkan senyuman itu tadi. " Dia memperlakukanku dengan baik. Hmmm wanita mana yang akan menolak jika diperlakukan pria setampan itu, termasuk diriku hmmm, " gumamnya tersenyum sembari tertawa kecil membayangkan wajah tampan itu.


Ai membaringkan tubuhnya menatap ke atas langit-langit kamar masih membayangkan wajah pria yang belum ia ketahui namanya itu.


" Ai kamu jangan bermimpi, mungkin dia baik kesemua wanita bukan hanya kepada kamu saja. Mana ada pria yang sepenuhnya menerima status kamu, apalagi pria sempurna seperti dia, " Ai segera menepis pemikirannya.


Merasa lelah dengan pikirannya, terdengar deru nafas halus menandakan wanita itu sudah terlelap.


Sedangkan di sofa pria itu juga bergelut dengan pikirannya. Bayangan wajah Ai memenuhi isi otaknya.


" Dia wanita yang cantik. Hmmm aku baru sadar ternyata wajahnya ada kemiripan dengan si princess, " gumam pria itu dengan pandangan ke langit-langit ruang bersantai.


•••••


Pagi menjelang


" Huam, " Ai menguap sembari menggeliatkan tubuhnya. " Hmmm sudah jam 6, " gumamnya mendudukkan tubuhnya.


" Tidurku begitu nyenyak, baru kali ini aku merasakan tidur senyenyak ini, " gumamnya sembari merentangan kedua tangannya. " Aku harus segera mandi, buat sarapan dan langsung pergi ke tokoh. Hmmm motorku bagaimana kabarnya yah? " Ai langsung teringat akan sepeda motornya yang ditinggalkan begitu saja dipinggir jalan tadi malam. Tidak ingin berlama-lama ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Kini Ai sedang berada di dapur untuk membuat sarapan pagi. Ia membuat Hamburger serta menyeduhkan susu yang sudah tersedia.


" Semoga dia suka. Aku hanya bisa membuat ini karena persediaan bahan tinggal ini, " gumamnya sembari menata Hamburger diatas meja makan.


Setelah siap Ai melangkah ke ruang bersantai dimana pria itu tertidur. Dari kejauhan ia melihat pria itu meringkuk diatas sofa panjang, ternyata ia tidak mengenakan selimut.


Ai menggerutu kebodohannya, kenapa tadi malam ia tidak berniat sama sekali untuk mengecek Tuan rumah. Itu karena ia sangat ketakutan melihat benda yang menegang dibalik celana pria itu.


" Tuan.... ini sudah pagi, " panggil Ai dengan nada halus.


" Tuan, " panggilnya kembali.

__ADS_1


Tiba-tiba ia melihat tubuh tinggi kekar itu menggigil seperti kedinginan.


" Tuan, " panggil Ai sembari menempelkan telapak tangannya di kening pria yang kedua matanya masih tertutup. " Panas sekali, " Ai sontak kaget merasakan suhu badan itu sangat panas.


Ai menumpukan kedua lututnya di lantai tepat berada di bagian kepala pria itu terbaring.


" Tuan.... Tuan demam, " ucap Ai dengan nada sangat lembut, dan telapak tangannya menempel di kening serta berpindah di leher pria itu.


Ai sontak kaget karena pria itu langsung menarik tangannya membawanya ke wajah pria itu sembari bergumam.


" Biarkan tetap begini sebentar saja, " gumamnya dengan kiriman tanpa membuka mata. Ai tidak bisa berbuat apa-apa, ia mematung dengan posisi berlututnya.


Tanpa sadar tangan satunya mengusap pucuk kepala pria itu seperti pijatan. Merasakan sensasi yang diberikan Ai membuat pria itu mengulum senyuman, ia merasakan ketenangan serta kenyamanan.


" Tuan sangat tampan. Hmmm wajah ini mengingatkanku pada putraku Max, " gumamnya tanpa mengeluarkan suara.


Cup


Telapak tangan halus mulus Ai dikecupnya membuat yang empunya tersadar dari lamunannya.


" Tuan, " Ai berusaha menarik tangannya.


Membuat pria itu berusaha membuka kelopak matanya.


Glek


Pertama-tama ia di sungguhkan dengan pemandangan indah. Kedua matanya melihat kedua bukit terlukis indah dihadapannya pagi ini ini.


Pria itu menelan salivanya, bagaimana tidak ternyata kancing kemeja bagian atas terlepas tanpa disadari Ai. Kedua bukit nan indah itu menyembul dibalik kemeja kebesaran miliknya, apalagi Ai tanpa mengenakan penyangga kedua bukit indahnya.


" Tuan... tunggu sebentar saya akan ambilkan air serta sapu tangan, untuk mengompres Tuan, " ungkap Ai merasa heran karena pria itu tidak berkedip. " Tuan, " panggil Ai cukup meninggi sehingga membuatnya tersadar.


" Hmmm tidak perlu, aku baik-baik saja, " sahutnya mengalihkan pandangannya.


" Panas begini Tuan bilang tidak apa-apa?, " protes Ai.


" Kalau aku sakitpun siapa juga yang peduli atau khawatir, " pancingnya.


" Saya, " sahutnya tanpa sadar sehingga membuat keduanya saling menatap. " Hmmm maksud saya anu.... hmmm tunggulah sebentar, " Ai merasakan gugup dan sangat malu dengan ucapannya, kini wajahnya sudah bersemu merah. Pria itu mengulum senyum bahagia mendengar kekhawatiran Ai.


" Kau mengkhawatirkanku? " tanyanya menatap intens wajah cantik Ai di pagi ini tanpa polesan apapun.


" Sa-sa-------, "


Cup

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2