Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 81 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Tanpa membersihkan diri terlebih dahulu Emily langsung berganti pakaian. Tidak lama ia keluar kamar dibantu oleh tongkat.


"Sayang apa Jihan sudah sarapan tadi?" tanya Emily sehingga membuat Jihan maupun Max menghentikan canda tawa mereka.


"Sudah Mi," jawab Jihan. "Mami Jihan akan pergi dengan Uncle tampan," imbuhnya.


"Pergi kemana?" tanya Emily karena belum diceritakan oleh putrinya.


"Ke sekolahan Mi," jawab Jihan.


"Untuk apa sayang?"


"Uncle tampan ingin mendaftarkan Jihan sekolah Mi di sekolah terbaik di kota ini," terang Jihan.


"Sayang Mami tidak memiliki uang sebanyak itu untuk masuk ke sekolah yang Jihan katakan. Jihan sekolah di TK komplek ini saja ya?" jelas Emily.


"Uncle tampan Mami tidak mampu menyekolahkan Jihan di sekolah itu, kita batalkan saja," kata Jihan seakan mengerti.


Mendengar penuturan Jihan membuat Emily mengalihkan pandangan ke Max. Pria ini sungguh seenaknya saja bertindak tanpa berdiskusi dulu dengan dirinya yang menyandang orang tua dari Jihan. Emily juga heran sejauh apa kedekatan Jihan dengan sang CEO.


"Kau pasti sudah paham," ujar Max tanpa ingin menjelaskan secara detail.


"Apa Mami ingin ikut?" tanya Jihan.


"Tidak sayang Mami di rumah saja," jawab Emily karena kondisi kesehatannya belum begitu pulih.


"Baiklah Mi, Mami istirahatlah. Jihan akan sebentar,"


Max sama Jihan keluar rumah dan diikuti oleh Emily. Seketika Max maupun Jihan menghentikan langkahnya melihat ada sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah.


Ternyata itu adalah mobil dokter Mico.


"Selamat pagi," sapa dokter Mico.


"Selamat pagi Tuan," sapa dokter Mico kepada Max.


Hmmm


Seketika tatapan dua pria itu bertemu.


"Pagi juga dokter," jawab Emily.


"Hai anak manis, mau kemana?" tanya dokter Mico kepada Jihan.


"Jalan-jalan," jawab Jihan sekenanya dengan sikap cuek.


Melihat sikap cuek Jihan membuat Max mengulum senyum tanpa disadari siapapun.


"Aku akan memeriksakan luka Nona," ujar dokter Mico tanpa berpikir panjang.


Mendengar perkataan dokter Mico membuat Max menatap Emily yang kebetulan juga menatapnya. Max berpikir memangnya tubuh Emily ada yang luka? begitulah yang ada dibenak Max. Seketika ingatannya kepada balutan perban di paha atas Emily. Seketika rahang Max mengeras dengan kedua tangan terkepal erat. Bagaimana mungkin dokter Mico menyentuh bagian tubuh itu.


"Memangnya luka apa?" Max ingin tau.


"Hmmm dokter Mico salah berbicara, maksudnya bukan saya," ujar Emily dengan terbata.


"Kau ikut dengan kami," ujar Max kepada Emily.


Mendengar hal itu membuat Emily maupun dokter Mico saling menatap.

__ADS_1


"Jihan bawa Mami, Uncle tunggu di mobil," titah Max.


"Ayo Mi sudah ditungguin Uncle tampan," kata Jihan sembari menarik tangan Emily.


"Tapi,"


"Mami nanti Uncle Tuan marah jika kita berlama-lama," cicit Jihan.


"Maaf dokter Mico saya akan segera pergi, hari ini Jihan mau mendaftar sekolah," terang Emily tidak ingin dokter Mico salah paham. Emily juga tidak enak hati karena memang kemarin sudah dijanjikan jika pagi ini dokter Mico akan memeriksa jahitan Emily.


"Tidak masalah Nona Emy, saja saja yang datang tidak tepat waktu," ujar dokter Mico sedikit kecewa.


Tit tit


Klakson mobil dibunyikan dua kali oleh Max untuk memperingati dua wanita cantik beda usia untuk segera memasuki mobil.


Akhirnya Emily sama Jihan memasuki mobil.


"Sejauh mana hubungan mereka? sepertinya mereka sudah lama saling kenal. Lihatlah keakraban Jihan dengan Tuan Max seperti Ayah dan anak," gumam dokter Mico sembari memandangi mobil yang sudah bergerak.


•••


Hari ini Max akan ke RS untuk memimpin rapat. Sekalian ia ingin berbicara empat mata dengan dokter Mico.


Setelah menghadiri rapat Max memerintah Dion untuk menghubungi dokter Mico untuk menghadap ke ruangannya.


Tok tok tok


"Masuk," suara bariton dari dalam.


Ceklek


Pintu dibuka


Hmmm


Max bangkit dari kursi kebesarannya lalu melangkah ke sofa.


"Duduklah," ujar Max.


"Terima kasih Tuan. Ada yang bisa saya bantu? ada gerangan apa Tuan memanggil saya?" tanya dokter Mico.


"Kau berani bertanya?" ujar Max tidak suka jika lawan bicaranya berani bertanya. Itulah watak sang playboy.


"Ceritakan tentang yang dialami Emily, jangan ada yang terlewatkan," ujar Max.


Tentu saja penuturan Max membuat dokter Mico kelabakan karena sesuai perintah Emily untuk merahasiakan kepada siapapun.


"Kau tidak mendengar perkataanku!" Bentak Max.


"Baik Tuan," dokter Mico mulai menceritakan.


# Flashback #


Pulang dari RS dokter Mico ingin ke rumah sahabatnya. Ditengah jalan pandangannya tak sengaja melihat seorang wanita menjerit-jerit ditepi jalan bersama sepeda motor. Merasa penasaran dokter Mico menghampiri.


"Nona apa yang terjadi?" tanya dokter Mico.


Tanpa menjawab wanita itu jatuh tidak sadarkan diri. Dengan cepat dokter Mico memapah tubuh wanita itu membawanya ke mobil lalu menuju RS.

__ADS_1


Di RS dokter Mico kaget melihat noda darah membasahi baju kemejanya. Ternyata wanita yang ditolongnya terluka.


Dengan cepat dokter Mico memanggil suster ketika tiba di lobby. Tidak ingin membuang waktu dokter Mico bersama suster menangani wanita itu yang masih belum sadarkan diri.


"Ini kena tusukan benda tajam," ujar dokter Mico.


Luka tusukan di paha sebelah kiri cukup dalam, sampai robek. Dapat dipastikan itu pisau tajam serta runcing. Hampir saja mengenai tulang.


Darah terus saja mengalir. Setelah ditangani darah itu sudah berhenti. Wanita itu mendapat 4 jahitan karena sobek cukup memanjang.


"Kasian sekali," kata suster melihat keadaan wanita itu.


1 jam wanita itu kembali sadar. Ia bingung de gan keadaannya sekarang.


"Aku dimana?" lirihnya langsung duduk.


"Maaf Nona anda berada di RS," jawab dokter Mico.


Sesaat wanita itu berpikir dan mengingat apa yang dialaminya.


"Tadi saya mendapati Nona merintih kesakitan di jalan, tidak lama Nona tidak sadarkan diri," jelas dokter Mico.


"Terima kasih," jawabnya.


"Kenalkan saya dokter Mico. Jika boleh tau nama Nona siapa?" tanya dokter Mico karena mereka tidak mendapati identitas wanita itu.


"Saya Emily, panggil saja Emy dok," jawabnya ternyata wanita cantik itu bernama Emily.


"Bagaimana Nona Emy isa mendapati luka tusukan sedalam itu?" tanya dokter Mico penasaran. "Tetapi jika Nona tidak berkenan untuk cerita tidak apa-apa," imbuhnya sembari tersenyum.


Sesaat Emily terdiam, ia bingung mau cerita atau tidak. Tetapi dokter ini telah menolongnya.


"Ini perbuatan begal. Sepulang aku dari tempat kerja tidak sengaja berhenti di jalan karena sesuatu hal. Di sana aku berdebat dengan seseorang panjang lebar, tanpa kami sadari dua orang begal masuk kedalam mobil, dan ingin membawa barang berharga milik orang yang berdebat denganku. Kebetulan aku menyadari hal itu.


Kedua begal itu sempat melawan, tetapi salah satu begal dapat dilumpuhkan oleh pemilik mobil. Tanpa disadari pemilik mobil, rekan begal mengarahkan benda tajam dibelakang bagian pinggang samping. Tanpa berpikir panjang aku berlari dan menghalangi tubuh seseorang itu dan terjadilah penusukan ini," cerita Emily panjang lebar.


"Kenapa orang itu membiarkan Nona Emy terluka parah begini? dasar tidak tau berterima kasih," umpat dokter Mico dengan marah. "Apa Nona kenal orang itu?" imbuhnya.


"Tentu saja aku mengenali. Bukan salah dia, aku sendiri yang menyembunyikan luka ini. Ia benar-benar tidak tau jika aku tertusuk," jelas Emily.


"Kenapa Nona menyembunyikan luka separah ini?" sungguh dokter Mico tak habis pikir, apa lagi keadaannya malam hari.


"Karena aku tidak ingin merepotkan orang, dan aku ikhlas menolongnya," kata Emily. "Aku ingin pulang sekarang," imbuhnya.


"Luka itu masih basah. Paling lama Nona harus dirawat 1 minggu, luka tusuk itu hampir saja mengenai tulang. Sobeknya juga cukup memanjang sehingga dapat 4 jahitan," jelas dokter Mico.


"Apa seminggu? tidak mungkin dokter kasian putriku," ujar Emily tidak setuju.


"Apa anak? ternyata dia sudah memiliki anak berarti dia adalah istri orang," batin dokter Mico.


Sudah seminggu dirawat akhirnya Emily diperbolehkan, tiap saat ia selalu merengek minta pulang tetapi dokter Mico tidak mengizinkan.


# Flashback Off #


"Begitulah ceritanya Tuan," dokter Mico menutup ceritanya.


Deg


Tubuh Max menegang mendengar cerita dokter Mico.

__ADS_1


"Baiklah segera kembali bertugas," ujar Max dengan jantung berdebar.


Bersambung....


__ADS_2