Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 87 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Sesuai perintah Max. Emily terpaksa menyetujui akan ke kantor untuk mengantar makan siang Max. Sungguh ia merasa was-was.


Tok tok tok


"Masuk," suara bariton dari dalam ruangan.


Ceklek


Pintu terbuka.


"Selamat siang Tuan," sapa Emily sembari menunduk.


Hmmm


"Tuan ini makan siang sudah saya siapkan. Apa Tuan mau makan sekarang?" kata Emily.


"Besok," seru Max dengan sinis.


"Tuan sangat lucu, bukankah besok makanan ini akan basi. Apakah Tuan jelmaan hewan?" kata Emily ceplos dan tidak menyadari.


"Kau!" Seru Max sembari menunjuk Emily dengan sorot mata membunuh.


"Maaf Tuan," lirih Emily sembari tertunduk.


"Kau semakin melonjak," ujar Max dengan wajah datarnya. "Siapkan," titah Max.


Emily menghidangkan makanan yang dibawanya.


"Silahkan Tuan, maaf jika tidak sesuai dengan cita rasa lidah Tuan," kata Emily.


Tanpa menjawab Max langsung menikmati makanan buatan Emily. Sedangkan Emily memperhatikan wajah Max sembari senyam-senyum.


"Tuan memang sangat tampan," batin Emily mengagumi ketampanan Max.


"Sudah puas? wajahku memang tampan, siapapun akan terpesona," ujar Max sehingga menyadarkan Emily. Mendengar percaya diri dari Max membuat Emily kelabakan, bahkan saat ini raut wajahnya memerah.


Hening hanya terdengar dentingan piring dan sendok saling beradu.


"Apa kau sudah makan?" tanya Max tetapi diabaikan Emily karena ia masih terpesona dengan wajah tampan Max, kenapa baru sekarang ia menyadari.


Huk huk


Max tiba-tiba tersedak karena tanpa sengaja mengunyah rempah.


"Tuan," kata Emily sembari bangkit lalu menyodorkan gelas berisi air putih. "Minum Tuan," imbuhnya sembari mengusap punggung Max.


Deg


Mendapatkan usapan dari Emily membuat Max meremang. Sungguh Emily tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.


Hmmm


Max berdehem menenangkan kembali dirinya. Emily tersadar, dengan cepat ia menyingkirkan tangannya. Sungguh ia merasa canggung.


"Tuan jika begitu saya akan kembali pulang," kata Emily dengan wajah memerahnya.


"Aku belum selesai makan," ujar Max dengan tegas.


"Baiklah Tuan," jawab Emily patuh.


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk," ujar Max baru saja selesai mengisi perutnya.


"Tuan klien kita sudah tiba," kata Dion memberitahukan.


"Klien? dari perusahaan mana?" tanya Max karena tidak ingat dengan agendanya.


"Tuan Emanuel Bintara dari perusahaan BINTARA GRUP Tuan," terang Dion.


Deg


Mendengar keterangan Dion membuat Emily membulatkan mata dengan tubuh menegang.


"Suruh masuk," ujar Max tanpa menatap kearah Emily yang ketakutan.


"Baiklah Tuan saya akan segera pulang," timpal Emily dengan wajah pucat pasi.


"Tuan Emanuel Bintara sudah menunggu didepan pintu Tuan," kembali Dion memberitahukan.


Deg


Sekali lagi membuat mata Emily membulat dengan tubuh bergetar.


Ceklek


"Silahkan masuk Tuan," Dion membuka pintu dan menyerahkan klien masuk.


Tidak ada cara lain lagi. Emily berlari memasuki kamar pribadi Max. Max sontak kaget melihat keberanian Emily, dan ia juga menyadari wajah Emily tadi.


"Selamat siang Tuan Max Sywa," sapa Tuan Emanuel.


"Siang juga Tuan Emanuel," balas Max. "Silahkan duduk, aku akan ke kamar mandi sebentar," imbuh Max sehingga Dion yang menemani klien berbincang.


Sedangkan didalam kamar Emily mondar-mandir. Hatinya sangat ketakutan.


Ceklek


"Apa yang kau lakukan?" ujar Max dengan tegas disertai sorot mata tajam. "Berani sekali kau memasuki kamar pribadiku," bentakan itu kembali Emily dengar.


"Maaf Tuan, saya mohon untuk sementara saya disini dulu," mohon Emily memberanikan diri.


"Bukankah tadi kau ingin pulang? ya sudah pulang sana," sinis Max.


Emily kembali menelan ludah.


"Sepertinya kepala saya sakit Tuan, bisakah saya istirahat sebentar saja," Emily kembali memohon dengan alasan yang tidak masuk akal bagi Max.


Sesaat keduanya hening dengan pikiran masing-masing.


"Kenapa ketika mendengar nama Bintara dia terlihat aneh. Aku akan cari tau sendiri," batin Max sembari memandangi Emily yang sedang menundukkan wajah sembari meremas jari-jemarinya.


"Tunggu selesai meeting aku akan panggilkan dokter karena aku tidak ingin dibuat repot," ujar Max mengalahkan ego saat ini karena ia ingin menyelidiki Emily.


•••••


Kerja sama disetujui oleh Max.


"Btw Tuan Max masih jomblo?" tanya Emanuel.


"Iya Tuan Emanuel. Lagi berusaha merebut hati seseorang," ujar Max.


"Hmmm bukanlah wanita-wanita tergila-gila, bahkan berebut menjadi kekasih dari CEO terkenal perusahaan SYWA," ujar Emanuel sedikit terkekeh.

__ADS_1


"Ini sangat beda, bahkan seseorang itu tidak terpesona kepadaku. Hmmm sangat menarik bukan?" ujar Max mengulas senyum.


"Hmmm apakah seseorang itu cantik?" sungguh Emanuel penasaran.


"Sangat. Bahkan mengalahkan putri manja para pengusaha. Bukan sekedar cantik tetapi pekerja keras, bukankah itu istri idaman?" Max kembali tersenyum sembari membayangkan wajah cantik seseorang itu.


Hmmm


"Tuan Emanuel sendiri bagaimana?" Max kembali bertanya.


"Aku sudah bertunangan selama 3 tahun tetapi belum sepakat membawa ke jenjang pernikahan," jawab Emanuel.


"3 tahun? bukankah itu sangat lama?" ujar Max.


"Kami tidak bisa melangsungkan pernikahan karena Daddy,"


Hmmm


"Jika Adikku kembali baru di restu Daddy," imbuh Emanuel.


"Adik?" gumam Max semakin penasaran. "Hmmm Adik." Ujar Max sembari mengusap dagu.


"Iya Tuan Max, kami dua bersaudara. Adikku adalah perempuan yang sangat cantik tetapi sayangnya ia menghilang karena terjadi sesuatu," terang Emanuel. "Baiklah jika begitu aku tidak bisa berlama-lama karena sore ini kami kembali ke kota x," imbuh Emanuel.


Sehingga kedua pria jangkung itu mengakhiri perbincangan mereka yang mengarah ke hal pribadi.


Max berpikir sesaat mencerna semua perkataan Emanuel yang mengatakan memiliki seorang Adik perempuan. Menghilang karena terjadi sesuatu. Max kuat berpikir untuk dapat menyimpulkan.


"Apa mereka memiliki hubungan?" batin Max.


Max langsung ingat kepada keberadaan Emily.


Ceklek


Di ambang pintu Max berdiri dengan tubuh menyandar sembari menyilang kedua tangannya di dada.


Di pandangannya Emily yang terbaring di sofa panjang dalam kamar itu.


"Bisa-bisanya dia terlelap seperti ini. Sangat ceroboh! Apa dia tidak khawatir jika bisa saja aku melakukan tindakan," desis Max dengan raut wajah tidak suka.


Max menatap intens wajah teduh Emily.


"Sebenarnya siapa jati dirimu? banyak teka-teki," gumam Max tanpa bersuara.


Max masih berdiri dihadapan sofa yang dibaringkan Emily.


Huum


Emily menguap sembari membuka mata. Entah kenapa ia tiba-tiba terbangun, padahal tidak ada yang membangunkannya. Ia meregangkan tangannya serta memiringkan tubuhnya.


Deg


Seketika matanya membulat dengan jantung berdebar melihat sesosok berdiri di hadapannya dengan tangan menyilang.


"Maafkan saya Tuan sudah berani tidur disini," kata Emily dengan gugup. Ia langsung bangkit dengan wajah tertunduk.


"Pulanglah. Jihan pasti sudah menunggu," ujar Max dengan nada lembut. Tentu saja membuat Emily terkejut sehingga ia menatap wajah Max dengan tercengang. "Apa kau tidak dengar?" seketika tidak lama hentakan yang ia dengar sehingga membuat Emily menertawakan dirinya sendiri.


"Baik Tuan," jawab Emily berusaha menyunggingkan senyum.


Bersambung....

__ADS_1


Intip juga di karya Lihat Aku Sekali Saja


__ADS_2