Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 41


__ADS_3

Rahasia Terbongkar


••••


Secepat kilat Cull merogoh dompet yang berada didalam kantong celananya dan mengeluarkan benda yang selama ini disimpannya.


Cull menyamakan sebuah foto yang sama dengan foto didalam liontin tersebut.


Duarr


Bagai disambar petir di pagi hari begitulah keadaan jantung Cull yang ia rasakan.


" Ja-jadi kau wa-wanita itu? " gumam Cull dengan bibir bergetar serta gugup.


Tidak ingin berlama ia kembali memasukan kedua benda tersebut kedalam kantong celananya. Cull keluar secepat kilat kembali ke RS tanpa memikirkan lagi keperluannya di Apartemen.


Didalam mobil Cull tidak konsen, pikirannya melayang ke Ai.


" Jadi Boy, Princess itu....itu adalah darah daging ku? aku yakin mereka adalah darah dagingku, aku yakin, " gumam Cull pada dirinya sendiri sembari mengusap wajahnya dengan pandangan kedepan.


Cull semakin melajukan kendaraannya tanpa memikirkan pengendara lain. Lampu merah diterobos begitu saja, untungnya para petugas kecolongan.


" Sittt! Ada apa lagi ini? " umpat Cull karena terjebak macet begitu panjang, padahal RS hanya berjarak beberapa KM lagi dari kemacetan.


" Kenapa bisa macet begini Pak? " tanya Cull pada petugas kepolisian yang melintasi mobil.


" Selamat pagi Tn. Sywa! " Pak Polisi mengenali Cull, dan mendapat anggukkan. " Ada kecelakaan Tuan sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk normal, " terang Pak Polisi.


" Ssst, " desis Cull dengan raut wajah tidak bersahabat. "


Cull turun dari dalam mobil dan memberi kunci mobil pada Pak Polisi.


" Pak aku titip mobil, " tanpa mendengar jawaban dari Polisi Cull berlari secepat kilat menyusuri kendaraan yang seperti semut.


Setelah berjuang berlari menyusuri jalanan Cull akhirnya sudah menapakkan kaki di lobby RS.


" Selamat pagi Tn. muda, " begitulah sapaan disepanjang koridor RS yang kebetulan berpapasan dengan Cull, tetapi tidak dihiraukannya. Didalam pikiran hanya Ai beserta Max dan Mia.


Ceklek


Semua orang yang sudah berkumpul didalam ruang rawat Mia menoleh kearah pintu dengan raut wajah dipenuhi pertanyaan. Gimana tidak penerus Sywa Grup yang selalu tampil rapi serta mempesona kini seperti bukan dia. Penampilan Cull berantakan dengan keringat membasahi tubuhnya, belum lagi diujung pelipisnya mengeluarkan darah.


Didalam ada kedua orang tuanya, Cintaka, Exsel, Berry, Mama Leni, Ine dan Kimmy. Karena mereka tau jika hari ini Mia akan pulang dari RS. Tanpa persetujuan dari keluarga Mia mereka masuk begitu saja karena ingin sekali menemui bocah cantik yang selalu ceria tetapi itu dulu kini wajah ceria Mia hilang seperti ditelan bumi.


" Kemana dia? " tanya Cull karena tidak mendapati wanita yang dicarinya. " Kemana dia? " Cull kembali bertanya.


Mata Cull langsung berpusat pada Max dan Mia yang kebetulan duduk berdampingan diatas kasur. Jantung serta dadanya berdegup kencang dengan mata berkaca-kaca.


Ceklek


Ai keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi. Matanya terbelalak kaget menyadari jika didalam ruangan banyak orang sedangkan ia hanya mengenakan jubah. Untungnya jubah itu sepanjang melewati lutut dengan lengan sepanjang siku.


" Maaf, " gumam Ai dan segera membalikan tubuh ingin kembali masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Bukk


Tiba-tiba dari arah belakang Cull memeluk Ai begitu erat. Mendapat pelukan tiba-tiba itu membuat Ai membulatkan mata serta anggota tubuhnya menegang. Bukan cuma Ai yang terkejut, semua yang berada disana juga ikut membelalakkan mata melihat apa yang dilakukan Cull didepan mereka. Sedangkan Berry mengepalkan kedua tangannya dengan sorot mata tajam melihat hal itu.


" Lepas! Jangan kurang aja*, " desis Ai berusaha melepas pelukan erat itu. " Lepas, " bentaknya sekali lagi sembari bergerak-gerak.


" Diam! jangan banyak bergerak, ini masih pagi. Kau membangunkan monster bermata satu dibawah sana, " bisik Cull tepat di telinganya. Mendapat bisikan itu membuat Ai menganga dengan tubuh menegang, bagaimana tidak apa yang dikatakan Cull terjadi. Ai merasakan benda mengeras menyentuh belakangnya. Seketika wajahnya bersemu merah.


" Lepas! "


Bukannya mendengar malahan pelukan itu semakin erat.


" Kamu ingin aku mati? aku tidak bisa bernafas, " lirih Ai. Mendengar itu Cull mengendorkan pelukannya.


" Akhirnya ku menemukanmu! " ujar Cull dengan lantang. " Akhirnya ku menemukanmu! " ujarnya sekali lagi.


Semua orang saling memandang dengan mengangkat bahu, karena ucapan Cull. Bukankah setiap saat mereka bertatap muka? ucapan Cull terasa aneh.


Cull membalikan tubuh Ai menghadap padanya. Kini tatapan keduanya bertemu. Ai bisa melihat pancaran sendu di mata Cull.


Cup cup cup


Kecupan mendarat di seluruh wajah Ai kecuali bibir. Dan sekali lagi Cull mendekap tubuh itu kedalam pelukannya.


" Akhirnya ku menemukanmu! Sudah bertahun-tahun aku mencarimu, " lirih Cull seperti suara isakan sembari menyesap pucuk kepala Ai.


Demi apapun Ai kaget dan tidak paham atas sikap kelewatan Cull, begitu juga anggota keluarga yang melihat itu.


" Maksud kamu apa Rey? " lirih Ai sangat bingung dengan pertanyaan mustahil itu. " Atas dasar apa kamu mengira putra-putriku adalah anak-anakmu? bahkan aku sendiri Mommynya tidak tau, " lirih Ai dengan wajah tertunduk.


Cull meraih benda yang ia simpan dalam kantong celana dan mengeluarkannya.


" Apa ini milikmu? " Cull menunjukan sebuah liontin didepan wajah Ai, sehingga membuat Ai mengangkat wajahnya.


Deg


Seketika mata Ai membulat serta mulut menganga.


" Liontin, " lirihnya membungkam mulut dengan kedua telapak tangannya tanpa berkedip.


" Apa ini milikmu? " tanya Cull sekali lagi tanpa mengalihkan tatapannya.


" Dari mana kamu mendapatkan itu? " tanya Ai merasa penasaran.


" Apa kau mengingat kejadian 8 tahun yang lalu? kejadian di kamar mandi Aula RS SYWA cabang kota x? " tutur Cull dengan lengkap.


Duarr


Seperti petir di siang bolong, penuturan Cull berhasil membuat Ai tidak berdaya, bagaimana mungkin ia melupakan kejadian miris itu. Seluruh tubuh Ai lemas, kedua kakinya tidak mampu untuk berpijak. Kalau tidak dipapah cepat oleh Cull makan tubuhnya merosot kebawah.


" Ja-jadi.... Jadi kamu orang itu? " lirih Ai dengan kepala menggeleng.


" Iya, apa kau mengingatnya? "

__ADS_1


" Bagaimana mungkin aku melupakannya! Kamu jahat....! Kamu jahat, " tangis Ai seketika pecah sembari memukul dada Cull berkali-kali.


Keduanya tidak pernah menyangka dengan semua itu. Sebenarnya orang yang selama ini saling dicari bukanlah orang asing. Mereka dipertemukan tanpa mengetahui jati diri masing-masing.


" Pukullah sepuasmu jika itu bisa membayar atas perbuatanku! " ujar Cull tanpa menghindar pukulan yang dilayangkan Ai. " Katakan padaku jika twins adalah hasil dari kejadian itu, " imbuh Cull kembali.


" Kamu jahat hiks hiks, " Ai tidak berhenti melayangkan pukulan itu, bahkan tangannya sendiri yang kesakitan.


" Awww, " ringis Cull karena pukulan yang dilayangkan Ai tepat di pelipis yang terluka. Mendengar Cull mengaduh kesakitan membuat Ai menghentikan pukulan. Seketika darah segar meluncur membasahi wajahnya.


" Apa ini sakit? " jiwa kepedulian Ai kembali. Ai mengusap pelipis itu dengan tangan bergetar.


" Pi, Mi panggil Dokter sekarang dan tes DNA Max, Mia dan Cullen, " titah Cull kepada kedua orang tuanya.


Mendengar perkataan Cull membuat semua orang saling menatap dengan banyak pertanyaan serta rasa penasaran.


" Ada apa sebenarnya? " akhirnya suara bariton keluar juga dari mulut Papi Matheo.


" Nanti juga kalian semua tau, " jawab Cull tanpa mengalihkan tatapan pada Ai, sedangkan tatapan Ai berpusat pada pelipis Cull yang terluka.


Cull meraih tangan Ai yang berada di pelipisnya, membawa tangan itu tepat di dadanya. " Ini yang sakit, " ungkap Cull menggenggam tangan Ai meletakan menempel di dada kekarnya. Sedangkan Ai mengigit bibir bawahnya tidak tau harus berbicara apa.


" Mommy sakit! Sakit Mom, " rengek Mia disertai tangisan sembari memegang kepalanya.


Membuat kedua insan tersadar. Menoleh kearah Mia, dengan secepat kilat keduanya berlari menghampiri ranjang Mia.


" Apa yang sakit sayang? " tanya Cull dan Ai secara bersamaan.


" Kena deh, " ucap Mia sembari tertawa terbahak-bahak.


" Sayang ada apa denganmu? tadi kamu kesakitan bahkan menangis, sekarang malah tertawa, " tanya Ai dengan kening mengerut.


" Tidak ada, habis Mommy sama Daddy sangat romantis. Apa Mommy dan Daddy lupa jika mahkluk hidup seperti kami berada disini? apa kalian mengira kami semua mahkluk kasat mata? " cicit Mia dengan sindiran. Sehingga membuat kedua orang tuanya saling menatap.


" Oh....Hmmm itu-itu. Sayang kamu buat Mommy jantungan, jangan bercanda sangat berlebihan, " ucap gugup Ai dan tidak tau harus berbicara apa sembari menelan salivanya.


Cull menjajarkan tubuhnya dihadapan Max dan Mia, kebetulan mereka duduk ditepi ranjang. Kedua bocah itu ia dekap membawa kedalam pelukannya.


" Maafkan Daddy sayang, karena Daddy kalian banyak menderita selama ini, " ucap Cull dengan terisak. Dadanya sesak dengan semua itu. Cull sangat yakin jika twins adalah darah dagingnya karena waktu kejadian ia tidak menggunakan pengaman. Belum lagi wajah Max sangat mirip dengan wajah dirinya, dan golongan darah Mia sama dengan golongan darahnya.


Ai tidak tahan melihat hal itu. Ternyata ia juga sangat yakin jika Daddy kedua anaknya adalah pria yang tengah memeluk kedua buah hatinya.


Sedangkan semuanya merasa terharu. Mereka tidak pernah menyangka jika kedua bocah jenius itu adalah penerus keluarga mereka.


Mami Lili bersujud di lantai sembari menangis. Ternyata bocah tampan dan cantik ini adalah cucu-cucu kandungnya yang akan menjadi penerus keluarganya. Kenapa dari awal mereka tidak menyadari hal itu, padahal jika mereka sedikit berpikir wajah Max sudah bisa mereka tebak. Apalagi putra mereka adalah pria nakal pada masanya tetapi kenapa mereka sangat bodoh tidak pernah berpikir.


Begitu juga dengan Cintaka yang pada awalnya sangat menyayangi Max dan Mia, sampai mengganggap mereka adalah sebagian dari keluarganya sendiri. Tetapi karena kejadian itu sehingga rasa egois melebihi akal sehatnya membuat hubungan mereka renggang, bahkan ia tega melontarkan kata yang sangat tidak pantas kepada keponakannya sendiri.


Mereka sadar jika wanita yang paling menderita adalah Ai. Bayangkan Ai membesarkan mereka tanpa ada sesosok suami. Belum lagi mereka mengingat cerita Mia jika kehidupan mereka dimasa lalu sangat memilukan.


Lain halnya dengan Berry, pria itu tidak kuat melihat hal nyata itu. Dengan berat hati ia bergegas keluar dari ruangan yang sangat menyesakan. Bagaimanapun ia kalah hari itu juga, bagaimana mungkin ia berjuang mati-matian meluluhkan hati Ai. Ia tidak ingin egois dan menyamping kan kebahagiaan kedua bocah yang sudah ia anggap anaknya sendiri. Max dan Mia sudah banyak menderita selama ini dan inilah saatnya mereka merasakan kebahagiaan yang sempurna. Kedepannya ia menyerahkan semuanya kepada Daddy dan Mommy twins bagaimana baiknya, ia tidak ingin ikut campur kecuali jika sepupunya menyakiti wanita yang masih lekat dalam hatinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2