
1 minggu berlalu.
Malam ini Max akan membawa Emily untuk menghadiri pesta dari salah satu rekan bisnis. Karena sesuai pesta harus wajib membawa pasangan masing-masing.
Sedangkan tadi sore Jihan dibawa Cullen sama Aileen ke Mansion. Sehingga tidak menyulitkan Emily.
Emily diberitahukan oleh supir pribadi Max, sekalian membawa gaun mahal untuk Emily. Setelah kejadian yang tidak sengaja dalam seminggu ini mereka belum kembali bertemu. Ini keberuntungan bagi Emily karena jujur saja ia sangat malu jika bertatap muka lagi.
Max telah mendapatkan ciuman pertamanya yang selama ini ia jaga. Seakan bukan kesalahan Max, pria itu santai-santai saja. Bahkan semakin menggoda Emily jika saja ia berlama-lama satu ranjang dengan Max.
"Pak saya tidak bisa ikut?" tolak Emily dengan halus.
"Nona harus ikut, itulah yang diperintahkan Tuan," jawab sang supir.
"Tapi Pak,"
"Tolong kerja samanya Nona. Jika Nona menolak makan nasib saya yang terancam," kata sang supir beri ancaman kepada Emily.
"Baiklah Pak, aku akan berganti dulu," kata Emily terpaksa menyetujui.
"Nona cukup mengenakan gaun, saya akan membawa Nona ke salon. Begitulah perintah Tuan," ujar sang supir.
"Sangat ribet," gerutu Emily sembari berlalu.
Kini Emily sudah berada di salon dan mulai di rias. Tidak perlu menggunakan polesan tebal karena pada dasarnya kulit wajah Emily putih, halus serta bersih.
Emily menggunakan gaun panjang menjuntai ke bawah warna abu-abu, dengan rambut curly tergerai sehingga menambah kecantikan Emily.
"Selesai Nona," ujar perias. "Nona sangat cantik, pantas saja Tuan muda memilih Nona. Nona orang pertama yang menjadi pasangan Tuan muda menghadiri pesta karena selama ini hal seperti ini tak pernah terjadi," imbuh lelaki lemah gemulai itu.
Kening Emily mengernyit mendengar celoteh lelaki lemah gemulai itu.
Tidak lama Max tiba langsung berdiri dibelakang Emily yang tengah memperhatikan dirinya didepan cermin besar.
Deg
Seketika tubuh Emily menegang disertai jantung berdegup kencang melihat bayangan tampan serta gagah seorang Max.
Emily menelan ludah, sungguh ia ingin sekali menghilang dari bayangan cermin itu.
"Tuan," lirih Emily langsung menghindari cermin dengan wajah tertunduk malu.
"Cantik! Perfect," kagum Max.
Mendengar pujian itu membuat Emily semakin menunduk.
Max menggunakan tuxedo warna hitam dengan dasi kupu-kupu, dengan dalaman kemeja warna putih. Sungguh mereka seperti pasangan bak kekasih. Sangat sempurna, yang pria tampan sedangkan yang wanita cantik.
__ADS_1
"Tegakkan wajahmu? apa kau akan tetap seperti itu jika sedang dalam pesta nanti?" ujar Max.
Emily terpaksa mengikuti perintah Max. Sehingga tatapan mereka bertemu.
"Terlalu terbuka," protes Max melihat atasan kulit Emily terekspos.
Tidak canggung Max merapikan helaian rambut Emily bermaksud untuk menutupi atau menghalangi punggung serta leher yang terekspos.
"Begini saja," ujar Max.
Sejak tadi jantung Emily tak karuan. Ia berusaha menahan nafasnya, sungguh posisi mereka sangat dekat sampai-sampai hembusan nafas Max menerpa wajahnya. Wangi mint tercium dari aroma nafas Max.
Seakan terbuai dan larut dalam kenyamanan memandangi bibir seksi yang pernah ia rasakan sekilas. Max menundukkan wajahnya semakin merapat dan tinggal beberapa senti saja, hal itu membuat Emily memejamkan mata karena ikut terbuai saking mengagumi.
"Tuan muda sudah tiba?" tiba-tiba suara gemulai sang perias lelaki perawakan wanita menyadarkan keduanya. Dengan cepat Emily memundurkan tubuhnya.
Hmmm
Max maupun Emily menjadi canggung dan berusaha menenangkan diri serta mengatur detak jantung yang tidak normal. Sungguh ini kebodohan yang pernah Max rasakan, padahal selama ini hal berciuman sudah tak terhitung lagi baginya tetapi kenapa dengan wanita biasa dan sederhana seperti Emily berhasil membuat jantungnya bermasalah.
"Pengganggu!" Seru Max langsung menarik lengan Emily membawanya keluar menuju mobil.
"Apa kau susah berjalan?" desis Max karena menyadari langkah Emily seperti terhalang.
"Maaf Tuan saya tidak terbiasa menggemakan gaun sepanjang ini," jawab Emily dengan jujur.
Tidak ingin mendapat tatapan tajam. Emily patuh saja dengan wajah tertunduk. Sepanjang jalan Emily hanya bisa meremas telapak tangannya dengan pandangan keluar jendela.
"Hmmm apa tidak masalah aku membawamu?" Max memecah keheningan.
"Sebelum bertindak seharusnya kamu meminta persetujuanku dulu, sekarang baru bertanya sudah tidak ada gunanya lagi," gerutu Emily dalam hati.
"Apa kau tidak mendengar?" ujar Max kembali.
"Tidak masalah Tuan," jawab Emily begitu saja karena tidak ada gunanya untuk berdebat.
"Bagus!" Seru Max sembari melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Tuan kenapa Tuan memilih saya untuk mendampingi Tuan? bukankah nanti Tuan dipermalukan karena mengandeng wanita bukan dari kasta berada seperti saya. Saya tidak pantas mendampingi Tuan,"
Awww
Ringis Emily akibat benturan sedikit karena mobil di rem mendadak oleh Max. Max menghentikan roda empat mewahnya.
"Karena aku tidak ada waktu lagi mencari wanita lain, kau jangan merasa besar hati," ujar Max tanpa menatap Emily.
__ADS_1
Dada Emily terasa diremas mendengar pengakuan Max atas pertanyaannya. Entah kenapa mendengar wanita lain membuat hatinya terasa di cubit.
"Jangan bertanya hal yang tidak penting lagi," titahnya. Lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Tiba di hotel. Sesuai perintah Max, Emily mengandeng mesra lengan Max. Orang-orang akan berpikiran bahwa mereka adalah sepasang kekasih, apa lagi selama ini CEO terkenal dan sekaya Max Sywa baru kali ini mengandeng seorang wanita untuk menghadiri pesta rekan bisnis. Jika dulu sering mengadakan pesta yang wajib membawa pasangan maka Max akan melemparkan masalah itu kepada Dion untuk mewakili dirinya. Tetapi malam ini Max sendiri yang menghadiri. Walaupun Max terkenal dengan julukan playboy tetapi dalam urusan pekerjaan dia tidak akan membawa para wanita yang pernah di kencaninya. Hanya Emily Luisa wanita pertama yang berhasil membuat Max menjadikan pasangannya.
"Tunjukan senyuman manismu," bisik Max.
Seakan paham Emily mengikuti perintah pria menyebalkan baginya.
"Selamat malam Tuan Max, terima kasih sudah berkenan hadir," sapa Tuan Buana sang Casanova.
"Selamat malam juga Tuan Buana," balas Max.
"Siapa Nona cantik ini?" tanya Tuan Buana sembari memperhatikan Emily dari ujung kaki sampai ujung rambut seakan Emily merasa dikuliti.
Hmmm
Max menyadari apa yang ditelisik oleh Tuan Buana sehingga membuatnya merengkuh pinggang ramping bak biola milik Emily.
"Tentu saja kekasihku," ujar Max tanpa berpikir panjang.
"Selera Tuan Max tidak diragukan lagi," balas Tuan Buana. "Hmmm jika suatu saat Tuan Max bosan, aku siap menampung kau Nona," imbuhnya.
Bukk
Bungkaman tangan Max mendarat di mulut Tuan Buana sehingga mengeluarkan darah dari ujung bibirnya.
"Jaga ucapan anda Tuan Buana. Anda kira dia wanita yang anda pikirkan?" seru Max sehingga menarik perhatian para tamu undangan.
Tuan Buana diam, bagaimana bisa ia membalas. Jika ia lakukan itu harus siap menjadi gelandangan dengan terlilit hutang.
"Mohon maaf Tuan Max atas kejadian yang kurang menyenangkan ini," ujar pemilik pesta blasteran India.
"Tidak masalah Tuan Salman," ujar Max.
Emily sejak tadi memeluk lengan Max dengan sangat eratnya. Ia sendiri kaget melihat apa yang dilakukan Max untuk membela dirinya. Sesaat Emily menatap wajah Max yang kebetulan juga menatapnya. Max tersenyum untuk pertama kalinya bagi Emily. Tersenyum untuk dirinya, sehingga tanpa sadar Emily membalas senyuman itu.
Sepanjang pesta Max tidak melepas genggaman tangan Emily. Dimana ia sedang menyapa para rekan bisnis disitu Emily pasti mengekor.
"Aku akan ke toilet sebentar, apa tidak masalah aku tinggal?" ujar Max kepada Emily karena ia sudah kebelet.
"Tidak masalah Tuan, saya akan tunggu disini," jawab Emily.
"Kau tetap duduk disini, jangan kemana-mana sebelum aku kembali," titah Max.
Emily mengangguk.
__ADS_1
Selepas kepergian Max tiba-tiba seorang wanita perawakan model menghampiri Emily dengan minuman mengandung alkohol di tangannya.
Bersambung.....