
Di kamar sepasang suami-istri sedang bermesraan. Setelah acara mereka semuanya kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Tetapi tidak untuk pasangan yang baru saja tadi berulang tahun serta membuat drama.
"Sayang Daddy jadi penasaran, kenapa Mommy tidak marah sama ketika mengetahui Daddy berselingkuh? hmmm apa Mommy tidak benar-benar mencintai Daddy? padahal kebanyakan istri pada umumnya melakukan hal keji terhadap suaminya jika mengetahui hal itu, tetapi tidak sama Mommy. Apakah selama ini hanya cinta palsu? ataukah semua ini karena kebahagiaan twins?" tanya Cull bertubi sembari mengelus pipi sang istri yang sedang memangku kepalanya.
"Sudah puas? hmmm," jawab Ai dengan singkat tidak sesuai dengan pertanyaan bertubi dari Cull.
"Bagaimana puas? monster mata satu saja belum dikasi roti kenyal," goda Cull.
"Dasar mesum!" Cicit Ai.
"Tapi Mommy menyukainya bukan?" goda Cull kembali sehingga membuat wajah Ai memerah.
"Apa Daddy ingin tau bagaimana perasaan Mommy ketika mendengar pengakuan Daddy tadi?" kata Ai memulai mengungkapkan perasaannya. Cull mengangguk. "Kaget, hancur, sakit, terluka, kecewa serta masih banyak lagi yang Mommy rasakan saat itu. Bahkan dunia ini seakan kiamat sehabis Daddy mengatakan hal itu. Wanita atau istri mana yang akan menerima ketika diselingkuhi? tentu saja tidak karena ia benar-benar mencintai pria itu. Lain halnya jika tidak didasari dengan cinta," ungkap Ai panjang lebar.
"Terima kasih sayang,"
Cup
Cull mengecup punggung tangan Ai dengan penuh kasih sayang.
"Sungguh dari awal Mommy ingin menampar atau melayangkan pukulan dan bahkan ingin mengamuk kepada Daddy." Kata Ai.
"Kenapa tidak Mommy lakukan, malahan memeluk Daddy dengan begitu erat. Hmmm apakah ketika itu Mommy menginginkan si monster ini?" goda Cull sembari menunjuk si monster mata satu yang menonjol dibalik sana.
"Iya," jawab Ai.
"Sangat mesum," Cull tersenyum smirk.
"Ingin memutilasi lalu memberikannya kepada buaya peliharaan tetangga," jawab Ai sehingga membuat Cull bergidik ngeri sembari memegang si monster.
"Sayang," rengek Cull. "Jika si monster kesayangan Mommy dimutilasi siapa lagi yang memuaskan roti kenyal milik Mommy?"
"Masih banyak pria lain bukan? atau tetangga yang memiliki peliharaan buaya," jawab Ai santai lalu bangkit menuju kamar mandi ingin membersihkan wajah.
"Tidak akan Daddy biarkan, sayang." Teriak Cull dengan wajah cemberutnya.
Sedangkan Ai didalam kamar mandi terkekeh. Tidak lama Cull menyusulnya, tanpa bersusah payah karena pintu kamar ternyata tak dikunci.
"Hmmm lagi senang banget," suara bariton itu mengejutkan Ai, ia benar-benar tidak menyadari kedatangan sang suami.
"Sayang kenapa menyusul Mommy?" tanya Ai dengan was-was karena ia sudah dapat membaca sorot mata lapar sang suami, belum lagi melihat si monster dibalik sana sudah ingin menerkam.
"Siapa juga yang menyusul Mommy, Daddy hanya kebelet ingin buang air kecil," jawab Cull dan langsung mengeluarkan si monster dari sarangnya.
Glek
Ai menelan salivanya dan tidak mengalihkan pandangannya, bukan hanya sekali ini ia melihat keperkasaan sang suami bahkan setiap hari tetapi benda itu sangat menghipnotis dirinya.
Cull diam-diam menyunggingkan senyuman, ia tau bahwa istri tercintanya terpesona dengan kepemilikannya.
"Apa Mommy sudah selesai?" tanya Cull sembari merapatkan tubuh Ai ke dinding kamar mandi.
__ADS_1
"Daddy mau apa?" Ai merasakan sebentar lagi akan dilahap.
"Menurut Mommy?"
"Sayang ayo kita segera beristirahat,"
"Malam ini hanya milik kita berdua sebagai hadiah ulang tahun Mommy. Daddy ingin Mommy memimpin serta memuaskan Daddy hmmm," goda Cull dengan mengedipkan mata.
Tidak ingin berlama-lama Cull langsung menggendong Ai ala bridal membawanya keluar karena mandi. Cull mendudukkan tubuh Ai di meja rias.
Cup
Kecupan mendarat di bibir yang membuatnya candu itu. Sungguh ia terbuai dengan hal itu.
Ai mengerang sembari mengigit bibir bawahnya dengan mata terpejam sembari menjambak rambut lurus itu.
"Stop sayang," gumam Ai sembari menjangkau tangan Cull yang masuk kedalam sarang si monster.
"Baiklah sepertinya Mommy tersiksa," untuk saat ini Cull mengalah karena ia tau jika sang istri kelelahan.
Diangkatnya tubuh itu dan dibalik menghadap cermin rias. Si monster mata satu diarahkan ke sarang kesukaan. Tanpa susah payah kini terbenam penuh.
Jepitan demi jepitan yang diciptakan wanita beranak dua itu sehingga membuat sang mantan Casanova melayang-layang. Kedua tangan dengan jari memelintir pucuk bulatan kenyal yang bergerak.
Mommy twins serasa terbang ke awang-awang merasakan sensasi yang luar biasa diciptakan oleh suami tercintanya.
"Ahhhh," racau panjang keduanya menumpahkan lahar panas.
Tok tok tok
"Mommy, Daddy," panggil Max serta Mia, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Mommy, Daddy," panggil Mia entah sudah keberapa kalinya tetapi tetap saja tidak ada sahutan.
"Sayang ada apa?" tanya Oma Lili.
"Daddy sama Mommy sedari tadi kami panggil tetapi tidak ada sahutan Oma," adu Mia dengan wajah cemberutnya karena siang ini kedua orang tuanya sudah berjanji akan jalan-jalan sebelum besok kembali ke Jakarta.
"Mungkin Daddy dan Mommy belum bangun sayang," jawab Oma.
"Iya sayang Daddy dan Mommy kalian kelelahan karena sepanjang malam tadi olah raga," timpal Opa Matheo tiba-tiba datang.
"Papi," lirih Oma Lili.
"Sangat aneh sepanjang malam olah raga, seperti tidak ada siang saja," sungut Mia.
"Jika malam tidak ada yang menganggu sayang, hmmm Opa dan Oma juga tadi malam olah raga sehingga Oma menjerit hebat," ujar Opa Matheo ingin menggoda sang istri.
"Papi," teriak Oma Lili dengan mata melotot.
"Aduh Oma telinga Mia sakit mendengar teriakan Oma," protes Mia sembari membungkam kedua telinganya. "Hmmm apa seperti itu teriakan Oma tadi malam ketika berolah raga Opa?" tanya Mia dengan polos.
__ADS_1
"Hampir begitu sayang cuma irama teriakan Oma sangat menyenangkan bagi Opa," jawab Opa Matheo sembari tersenyum menyeringai.
"Dasar tua bangka," sungut Oma Lili.
"Walaupun sudah tua bangka tetapi jangan diragukan keperka-----,"
Ceklek
"Dasar penggangu," suara bariton itu menyadarkan semuanya. Tanpa mereka sadari ternyata Cull terbangun mendengar keributan diluar pintu kamar.
"Daddy kenapa lama sekali bangun?" cicit Mia dengan wajah cemberutnya.
"Ada apa dengan leher dan dada Daddy? seperti disiksa orang?" tanya Max dengan polosnya.
Mendengar perkataan Max membuat semuanya memperhatikan tubuh Cull yang hanya menggunakan handuk dililitkan di pinggang.
Cull mengikuti arah mata Max.
Deg
Ia menelan ludahnya.
"Hmmm itu, itu kena sengatan lebah boy," jawab Cull.
"Jika kena sengatan lebah bukan begitu bekasnya Dad. Bahkan Daddy bisa mati jika disengat lebah sebanyak itu tetapi malahan Daddy segar bugar," jawab Max.
"Mampus," ejek Opa Matheo terkekeh.
"Tolong kerja samanya Pi," bisik Cull sembari menyenggol bahu sang Papi.
"Mommy mana?" tanya Mia ingin masuk tetapi dihalangi oleh Cull karena di kasur sang Mommy masih tertidur dengan tubuh polosnya. "Princess ingin masuk Dad," cicit Mia berusaha ingin masuk.
"Mommy masih tidur," ujar Cull.
"Apa Mommy juga disengat lebah?" tanya Mia dengan polos.
"Iya Princess malahan sekujur tubuh Mommy disengat sehingga seperti macan tutul," jawab Cull dengan entengnya.
"Apa? Mia ingin membangunkan Mommy," rengek Mia berusaha ingin masuk.
"Bercanda Daddy sungguh terlalu," gerutu Max dan berlalu meninggalkan mereka menuju kamar sang Nenek.
"Boy," gumam Cull dengan kening mengerut.
"Sayang kita dibawah saja, biarkan dulu Daddy sama Mommy bersiap baru kita akan jalan-jalan," rayu Oma Lili.
"Sayang, Daddy sayang. Tubuh Mommy seperti macan tutul, oh tidak!" Teriak Ai didalam kamar, ia tidak mengetahui jika di luar pintu ada drama.
Oma Lili menggelengkan kepala melihat tingkah laku putra dan menantunya.
"Mommy," panggil Mia dengan teriak.
__ADS_1
Bersambung.....