
Aileen Balas Dendam
•••••
Brakk
" Awww, " teriak Ai diiringi jeritan.
Seketika darah segar merembes bagian kepala samping kiri. Merasa pusing akibat benturan kuat pada trotoar membuat pengelihatan Ai mengelap dan seketika kesadarannya hilang.
Sebelum benar-benar pingsan Ai sempat menyerukan nama kedua anaknya.
Akibat tidak konsentrasi menyebabkan sepeda motor yang dikendarai Ai menabrak trotoar jalan Untung saja ketika saat kejadian kendaraan tidak terlalu padat.
Di RS
Ai dilarikan ke RS oleh bantuan beberapa orang yang mendapatinya terkapar di pinggir jalan. Kebetulan RS hanya berjarak beberapa meter saja.
Ai langsung mendapat penanganan sesampai di RS.
" Dok ada pasien kecelakaan dengan keadaan tidak sadarkan diri di ruang x, " kata suster terengah-engah akibat berlari ke ruang Dokter yang bertugas malam.
" Baiklah! " Dengan cekatan Dokter itu menuju ruang yang dimaksud.
Sesampai didalam kamar rawat.
" Siapkan semuanya, apa semua alat medis sudah steril? "
" Sudah Dok, "
Dokter mendekati brankar, tangannya menyibak rambut yang menutupi hampir keseluruhan wajah korban.
Deg
Seketika matanya membulat dengan tubuh menegang mendapati pasien kecelakaan itu adalah Aileen mantan calon tunangannya.
" Aileen! " Gumam Exsel sontak kaget.
Tidak ingin berlama-lama dan membuang waktu Exsel melakukan tugasnya lebih cepat, ia tidak ingin Mommy kedua keponakannya terlambat mendapat pertolongan.
" Kenapa bisa kamu kecelakaan seperti ini? mau kemana kamu tengah malam begini? " gumam Exsel tanpa mengeluarkan suara.
" Apa Dokter mengenali pasien? " tanya suster karena menyadari perlakuan beda dari Dokter terkenal dingin itu. Suster sadar jika pasien itu berparas sangat cantik, walaupun dibalut kain kasa kecantikan Ai tidaklah luntur. Suster berpikiran bahwa Dokter Exsel tertarik dengan pasien itu karena paras cantiknya.
" Kita harus memindahkan dia ke kamar VVIP sekarang juga sebelum mendapat amukan atau pemecatan, " ujar Exsel dengan tegas.
Dua suster dibuat tercengang dan saling memandang sembari mengendikan bahu. Perkataan Exsel membuat mereka tidak paham karena hanya keluarga Sywa yang menempati kamar yang dimaksudkan.
" Kalian kenal Max Sywa dan Mia Sywa? si anak genius putranya Cullen Sywa? " ungkap Exsel.
" Siapa yang tidak mengenal twins mengemaskan itu Dok. Hmmm keponakan Dokter sendiri, " jawab salah satu suster.
" Wanita ini adalah Mommy mereka! "
" Hah? " kedua suster itu tercengang sampai mulut menganga.
" Tutup mulut kalian jika tidak ingin dimasukin lalat," Exsel merapikan selimut yang menutupi tubuh Ai.
Kini Ai sudah di pindahkan ke kamar VVIP atas anjuran Exsel. Exsel berperan penting di RS milik mertuanya.
" Apa aku harus menghubungi Tante Leni? pasti mereka mengkhawatirkan Ai karena tidak pulang-pulang, " gumam Exsel. " Tapi jika aku kasi tau bahwa Ai di rawat pasti mereka akan lebih khawatir lagi, " imbuh Exsel kembali berpikir.
Exsel menghubungi istrinya Cintaka dengan sambungan videocall. Exsel ingin menceritakan musibah yang menimpa Ai. Sayangnya Ai belum juga sadarkan diri.
Setelah Exsel menghubungi Cinta ia bangkit ingin kembali ke ruangannya. Atas saran Cinta, Exsel tidak memberitahu siapapun dulu termasuk Mama Leni. Mereka akan tunggu Ai sadar.
" Air, air, " lirih Ai dengan mengerjapkan mata.
Mendengar itu membuat Exsel mengurung niatnya melangkahkan kaki, sehingga membuatnya berbalik.
__ADS_1
" Dek kamu sudah sadar? " tanya Exsel mendapati Ai sudah membuka mata dengan pandangan ke penjuru arah. Baginya tempat ini tidak asing, dan seketika ia mengenali tempat ini. Ternyata ia berada di RS. Ai mengira sudah mati.
" Dek apa yang kamu rasakan? " tanya Exsel mendekat dengan tangan menyodorkan gelas berisi air putih.
" Kak Exsel! " Lirih Ai dengan mata melebar.
" Minum dulu, " Exsel membantu mendudukkan Ai sesuai kemauannya.
Ai meneguk minum itu sampai tandas.
" Bagaimana ceritanya kamu kecelakaan ditengah malam begini? " tanya Exsel penasaran sejak tadi.
" Tolong jangan beritahu kepada siapapun terutama Mama dan twins, " bukannya menjawab Ai malah meminta kejadian ini tidak diketahui oleh keluarganya.
" Baiklah aku juga tau Tante dan anak-anak pasti sangat mengkhawatirkan keadaanmu, " Exsel menyetujui permintaan Ai.
" Terima kasih Kak, aku kira sudah mari tadi, " ungkap Ai seketika ingatannya ketika kejadian itu seperti kilatan saja. " Besok akan aku ceritakan, " janji Ai karena sekarang ia masih butuh istirahat.
" Baiklah kamu lanjutkan tidurmu, sekarang sudah subuh. Hmmm besok Cinta akan kesini untuk menjenguk kamu, " ungkap Exsel.
Mendengar Cinta akan kesini membuat raut wajah Ai berubah karena ia pikir keluarga besar itu sudah mengetahui keadaannya.
" Kamu tenang saja, hanya Cinta dan aku yang tau kamu berada disini. " Kata Exsel seakan tau apa yang ada dalam pikiran Ai.
" Baguslah! "
•••••
Keesokan harinya keadaan Ai semakin membaik.
Ceklek
Pintu terbuka muncullah Exsel dan Cinta saling beriringan.
" Bagaimana keadaan kamu? " tanya Cinta sembari meletakan bermacam buah-buahan di atas nakas.
" Semakin membaik Kak, " jawab Ai.
" Sudah Kak, " jawab Ai. " Apa aku sudah boleh pulang Kak Exsel? aku yakin Mama dan anak-anak sudah khawatir sekarang, " ungkap Ai.
" Tidak bisa, kamu butuh perawatan 1 minggu. Bagaimana mau pulang, lukamu saja masih basah." Terang Exsel.
" Apa tidak sebaliknya kita beritahu Cull? " tanya Cinta sembari memotong buah.
" Tidak perlu Kak, " jawab Ai.
" Kenapa? bukankah kalian------, "
" Rey bukan siapa-siapaku, kenapa dia harus tau, " ungkap Ai.
" Apa anak bandel itu bikin ulah? " tanya Cinta tidak mengetahui kerenggangan hubungan Cull dengan Ai. Yang ia tau sang Adik berusaha mendapatkan cinta wanita yang telah memberinya dua keponakan jenius ini.
Ai menceritakan masalahnya kepada Cinta dan Exsel dari awal dan sampai ia bisa berada di sini.
" Kurang aja*! Sampai kapan dia bisa berubah? aku kira dengan kehadiranmu bisa membuatnya tobat tetapi aku salah. Dia tidak sadar jika dia memiliki anak perempuan? " geram serta murka Cinta dengan tangan terkepal erat mendengar cerita Ai. Sebagai sesama wanita ia dapat merasakannya.
" Sudahlah Kak, aku juga sudah menolaknya berkali-kali. " Ungkap Ai.
" Berarti dia tidak benar-benar dan semua itu adalah bualan saja, " jawab Cinta masih dengan amarah.
" Ma jangan main emosian kasian anak kita jika kamu marah-marah, " Exsel menenangkan Cinta.
" Bawa aku sekarang juga bertemu dengan anak bandel itu, biar aku potong benda keramat liarnya itu biar selamanya tidak berfungsi lagi, " ujar Cinta menggebu sehingga lehernya turun naik.
" Hahaha.... " Seketika gelak tawa Exsel memenuhi kamar itu.
Ai dan Cinta saling memandang dengan mimik wajah aneh melihat Exsel seperti menertawakan mereka.
" Apa Papa ingin juga bernasib sama? ayo jika mau? " ujar Cinta dengan mata melotot.
__ADS_1
" Maaf, maaf. Kamu sangat lucu Ma, apa kamu tega Adik ipar tidak bisa mencetak keponakan lagi buat kita? karena Adik ipar menghasilkan bibit unggul, jadi sayang sekali jika benda keramatnya dipotong! " Ujar Exsel masih terkekeh. " Hmmm janganlah Ma nanti tidak ada kawannya si roti tawar, " bicara Exsel sudah kearah intim.
" Papa! " Decak Cinta sembari mencubit lengan Exsel cukup kuat.
Tidak ingin istrinya marah-marah Exsel terpaksa menceritakan semuanya. Tanpa disengaja ia mendengar obrolan Cull dengan Berry ingin mengetes Ai. Sehingga drama yang direncanakan Berry terbongkar sudah. Bahkan Mama Leni dan twins ikut serta dalam drama itu.
" Oh begitu, " senyuman menyungging di bibir Ai.
Jujur saja Ai bisa bernafas lega karena hampir 1 bulan di abaikan oleh Cull.
" Kak aku punya ide, " Ai menyuruh Exsel dan Cinta mendekat lalu membisikan sesuatu sesuai rencana Ai untuk balas dendam karena sudah sempat membuat hatinya terluka, ditambah lagi sampai berakhir terbaring di RS itu akibat pria casanova itu.
" Apa kamu yakin? " tanya Exsel.
" Kakak setuju, " ujar Cinta karena ia juga ingin kasi pelajaran kepada sang Adik karena sudah kelewatan jahil.
•••••
Sesuai rencana Ai. Exsel menghubungi Cull bahwa Ai masuk RS karena mengalami kecelakaan, sampai sekarang belum sadarkan diri. Sedangkan Cinta yang bertugas memberitahu kedua keponakannya.
Mendengar Ai mengalami kecelakaan membuat Cull keluar begitu saja dari ruang rapat. Panik, khawatir, cemas, takut itulah yang dirasakan Cull saat ini. Cull melajukan roda 4 sangat ngebut. Isi kepalanya sudah dipenuhi nama Mommy twins.
Tidak ubahnya dengan Max, Mia serta Mama Leni. Mereka sudah meraung menangisi Ai. Sebenarnya Cinta tidak tega melihat tangisan kedua keponakannya tetapi demi misi ia harus tega.
Semua keluarga menuju RS dengan perasaan cemas, kecuali Cinta.
Ceklek
Rombongan Cinta bersama twins yang terlebih dahulu tiba.
" Mommy hiks hiks, " seketika tangisan Max dan Mia semakin menjadi.
" Mommy bangun, bangun Mom hiks hiks, " tangis Mia sembari menggoncang sambil menciumi Ai dengan mata terpejam.
Cinta beringsut mendekati Exsel dan membisikan sesuatu.
" Tega tidak tega misi harus dijalankan, " bisik Exsel.
Brakk
Daun pintu begitu keras ternyata Cull yang muncul dan tidak lama kedua orang tuanya.
" Sayang....ada apa denganmu? kenapa semua ini bisa terjadi? maafkan aku sayang. Kenapa kamu nekat pergi ke kantor? padahal aku sudah bilang tidak bisa, " ujar Cull sembari mengelus wajah Ai. " Sayang maafkan atas kebodohanku ini, " tanpa disangka Cull meneteskan air mata, semua orang melihat hal itu kecuali Ai.
" Kak ipar bagaimana keadaannya? dia baik-baik saja bukan? " tanya Cull kepada Exsel.
" Sebentar lagi Dokter yang menangani Ai akan kesini. Dokter Arga yang akan menjelaskan, " jawab Exsel.
Huk huk huk
Batuk tiga kali itu berasal dari Ai.
" Mommy, " panggil Max dan Mia yang masih betah duduk di samping sang Mommy.
" Sayang kamu sudah sadar? " tanya Cull dengan lembut sembari menggenggam telapak tangan Ai.
Ai berusaha membuka matanya.
" Aku dimana? " gumam Ai sembari mengedarkan pandangan ke penjuru arah.
" Di RS Kak, " Mama Leni mendekati putrinya.
" Mama, kenapa aku bisa disini? " tanya Ai dengan wajah panik serta meyakinkan.
" Mommy.... Mommy.....! Panggil Max dan Mia serempak.
" Kalian siapa? "
Deg
__ADS_1
Bersambung....