
"Hai boleh bergabung?" sapa wanita itu.
"Silahkan," jawab Emily sembari mengulum senyum.
"Apa kau ingin minum?" tawar wanita itu ingin menyodorkan gelas dalam genggamannya.
"Tidak Nona, saya tidak biasa meminum yang mengandung alkohol," tolak Emily dengan halus.
Hmmm
"Apakah Nona kekasih dari Tuan Max?" tanya wanita itu kepo.
Emily tidak menjawab ya atau tidak, ia hanya menyunggingkan senyuman atas pertanyaan yang tidak penting itu.
"Apa Nona tau jika Tuan Max itu seorang playboy?" cicitnya lagi.
"Iya saya tau," jawab Emily bermaksud wanita sok kenal ini akan berhenti untuk bertanya hal yang tidak penting baginya. Tetapi ia salah wanita ini mengorek sampai ke akar-akarnya.
"Nona jangan merasa besar hati, sebentar lagi Nona akan dicampakkan. Dan nasibnya seperti kami-kami ini," sambungnya.
"Saya tidak peduli," balas Emily.
Srup
Wanita itu meneguk minuman mengandung alkohol sehingga membuat Emily tidak tahan mencium aroma itu.
"Demi dolar bukan? semua wanita hanya menginginkan dua hal yaitu kepuasan dan gaya hidup," ujarnya sehingga berhasil membuat Emily naik pitam. Sungguh ia tidak terima dikatai begitu, padahal semua itu tidaklah benar tetapi orang-orang disini memandangnya sebelah mata.
"Jangan asal bicara Nona," seru Emily.
"Sok munafik," setelah melontarkan kata tidak pantas wanita itu berlalu meninggalkan Emily sendirian.
"Jika tau begini aku tidak akan menyetujui permintaanya. Semua orang memandangku sebelah mata. Mereka berpikir aku adalah tidak ubahnya seperti wanita-wanita yang jatuh dalam pelukannya," gumam Emily dengan mata berkaca-kaca sembari menundukkan wajah.
Tiba-tiba
"Nona Emy," panggil seseorang. Sehingga membuat Emily menadah kepalanya.
"Hei dokter Mico," balas Emily sedikit kaget. Seketika ia merasa senang karena ada lawan ngobrolnya, sedangkan Max sampai saat ini belum juga kembali.
"Aku tidak menyangka Nona Emy menghadiri pesta ini," kata dokter Mico.
"Ceritanya panjang dokter," jawab Emily.
"Hmmm jika boleh tau siapa yang membawa Nona?" imbuhnya kembali karena dokter Mico sangat tau jika Emily adalah kalangan bawah.
"Tuan Max Sywa," ujar Emily.
Seketika raut wajah berseri dokter Mico sebelumnya kini berubah 190°.
Hmmm
"Tapi aku tidak melihat Tuan Max,"
__ADS_1
"Tuan lagi ke toilet," jawab Emily.
Mereka saling mengobrol. Yang pastinya dokter Mico yang banyak bertanya
"Kenapa Tuan sangat lama," gumam Emily sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru arah.
"Tuan Max lagi menyapa para rekan bisnisnya," ujar dokter Mico melihat sosok Max di pojokan sana.
"Mana?" tanya Emily.
"Itu," dokter Mico menunjuk kearah dimana sosok Max, dan Emily mengikuti arah telunjuk dokter Mico.
•••••
"Senang bertemu Tuan Max Sywa lagi," ujar seorang pria jangkung sembari berjabat tangan.
"Senang juga bertemu dengan anda Tuan Emanuel Bintara," balas Max.
"Tuan Max mengandeng kekasih? tadi aku sempat dengar kasak-kusuk jika sang raja pebisnis membawa kekasih untuk pertama kalinya di muka publik," ujar Emanuel sedikit penasaran.
Hmmm
"Anda sendiri?" Max balas bertanya.
"Dengan sekretaris," jawab Emanuel.
"Dari berita bisnis perusahaan anda masuk 20 besar. Bagus juga perkembangan di kota x," ujar Max.
"Aku akan ke sana," ujar Max ingin menemui Emily karena sudah cukup lama ia meninggalkan Emily.
"Bolehkah aku ikut bergabung?"
"Silahkan,"
Akhirnya Max melangkah semakin mendekat dengan Emanuel mengikut dari belakangnya. Hanya berjarak beberapa meter Max kembali mendapat sapaan dari rekan bisnis.
Dari meja tempatnya berdiam duduk menunggui Max, tanpa sengaja pandangan Emily tertuju kepada pria yang berada di samping Max.
"Ka-Kakak," gumam Emily dengan mata membulat dan tubuh menegang.
"Tolong aku dokter, bawa aku pergi sekarang juga dari tempat ini," mohon Emily merengek kepada dokter Mico.
"Aku tidak berani Nona Emy. Nona Emy tau sendiri bagaimana Tuan Max," ujar dokter Mico.
"Aku yang menanggung, plis bawa aku pergi sekarang juga. Tetapi tidak melewati Tuan Max, tolong dok," rengek Emily bahkan sambil menangis.
Dari tempatnya mengobrol Max mendapati Emily sedang bersama dokter Mico. Seketika darahnya mendidih, apa lagi melihat Emily menarik-narik tangan dokter Mico dengan wajah memohon.
Dengan tidak sabar Max ingin menghampiri mereka tetapi Emily sama dokter Mico dengan tergesa-gesa berlari meninggalkan tempat pesta.
"Kurang aja* kemana mereka," sungut Max dengan amarah menyelimuti hatinya.
•••••
__ADS_1
Semenjak kejadian yang tidak menyenangkan Max tidak pernah bertemu Emily maupun Jihan lagi. Jihan sungguh merindukan Uncle tampannya.
"Mami kenapa sudah 2 minggu ini Uncle tidak pernah menemui kita?" tanya Jihan setelah selesai mengerjakan tugas sekolah.
"Mungkin Uncle sibuk sayang karena Uncle bukanlah orang sembarangan," jawab Emily sebisa mungkin mencari jawaban yang tepat karena ia sendiri juga tidak tau menahu.
"Jihan rindu Uncle Mami," rengek Jihan sembari merapikan buku-buku di atas meja belajarnya.
Emily tersenyum miris mendengar rengekan Jihan.
"Sayang sekarang saatnya Jihan tidur, supaya esok pagi tidak terlambat bangun," kata Emily dengan lembut sembari mengusap rambut Jihan.
"Baik Mi. Selamat malam," jawab Jihan dan tidak lupa mengecup pipi Emily.
Kini tinggallah Emily sendiri di ruang televisi. Semenjak 2 minggu ini ia tidak tenang dan merasa was-was. Sehingga ia hanya isa berdiam di rumah saja.
"Aku tidak salah lihat, itu benar-benar Kakak. Kenapa Kakak bisa ke kota ini?" gumam Emily. "Beruntung dia tidak melihat kehadiranku di pesta itu, jika hal itu terjadi. Aaakk.... " Teriak Emily sembari menjambak rambutnya.
Seketika ingatan beberapa tahun lalu terngiang dibenaknya.
•••••
Di Mansion
"Sayang tumben malam-malam menemui Mommy sama Daddy," ujar Aileen melihat kedatangan Max.
"Pengen saja Mom, apakah tidak boleh?" Max langsung membaringkan kepalanya di pangkuan sang Mommy.
"Siapa bilang sayang? justru Mommy sangat senang biar tak kesepian," kata Aileen sembari membelai rambut Max dengan jari-jemarinya.
"Daddy mana Mom?" tanya Max karena tumben pasangan ini tidak lengket seperti lem dan perangko.
"Daddy sedang di ruang kerja, ada hal yang ingin dikerjakan," jawab Aileen. "Sayang apa kamu sudah makan malam?" imbuhnya.
"Belum Mom, sebenarnya ingin makan malam bersama," ujar Max.
"Gitu dong, coba setiap hari kayak gini pasti Mommy sama Daddy tidak kesepian. Hmmm Jihan juga sudah jarang main kesini, katanya dilarang oleh Maminya," ungkap Aileen.
Mendengar nama Jihan disebutkan membuat Max bangkit lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
"1 minggu terakhir Jihan bertanya kenapa Uncle tampannya tidak pernah menemui dirinya. Sayang apakah ada masalah? biasanya kalian sangat dekat?" Aileen sedikit heran.
"Tidak ada masalah Mom, akhir-akhir ini Max memang sangat sibuk, sering keluar kota," ujar Max.
Hmmm
"Baiklah tunggu sebentar, Mommy akan panggilkan Daddy dulu untuk turun kebawah. Waktunya makan malam," kata Aileen.
Sedangkan Max berperang dengan pikirannya.
"Buat apa Jihan mencari Uncle, sedangkan sudah ada Uncle yang lain," gumam Max sembari memejamkan matanya.
Bersambung.....
__ADS_1