Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 93 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

"Tunggu!" Suara bariton cukup meninggi itu membuat semua orang menoleh kebelakang. Begitu juga dengan kedua mempelai.


Deg


Emily tersenyum sembari meneteskan air mata, melihat sosok pria yang sedang berdiri tegap memandang ke arahnya.


"Tu-Tuan," gumam Emily sembari berlari menghambur memeluk pria itu dengan sangat erat sehingga membuat Max mematung. Tidak percaya atas apa yang dilakukan Emily. "Hiks hiks...., gagalkan pernikahan ini, aku tidak ingin menikah dengannya," lirih Emily dalam pelukan Max sembari terisak.


Max memejamkan mata, lalu membalas pelukan itu tidak kalah eratnya.


"Atas dasar apa aku menggagalkan pernikahan ini? sedangkan kita tidak punya hubungan selayaknya sepasang kekasih," ujar Max ingin memancing Emily.


Mendengar perkataan Max yang cukup kuat membuat Emily melepaskan pelukan itu. Kini wajah Emily kembali sendu, apa yang dikatakan Max adalah benar. Atas dasar apa Max membatalkan pernikahan mereka, sedangkan hubungan mereka hanyalah atasan dan bawahan.


"Baiklah," lirih Emily sembari mengusap kedua matanya yang penuh derai air mata dengan bibir melengkung.


Emily tersenyum miris, ingin menertawakan dirinya sendiri. Sedangkan semua orang tercengang, tak kecuali kedua orang tua dari Emily serta keluarga Marvel.


Max mendesis karena melihat keras kepala Emily. Ia tau jika Emily juga menaruh hati kepadanya tetapi ia menyembunyikan hal itu.


Dengan secepat kilat Max melangkah lalu menarik lengan Emily sehingga membuat Emily membalikan tubuh. Lalu Max dekap tubuh itu dengan erat.


Max melepaskan pelukan itu dengan kedua tangan memegang kedua bahu Emily yang dapat Max rasakan bergetar akibat wanita itu terisak.


"Baby!" Suara bariton Marvel memecah keheningan. "Lanjutkan Pak Pendeta," ujar Marvel dengan sorot mata tajamnya.


Melihat apa yang dipertontonkan Emily dengan Max tentu saja membuat darah Marvel mendidih. Walaupun ia tau siapa seorang Max tetapi ia tidak rela memberikan wanita yang sudah lama ia cintai.


Max maupun Emily tak memperdulikan peringatan dari Marvel, bahkan keduanya engan memandang ke arah Marvel.


"Aku datang untuk menggagalkan pernikahan ini," ujar Max menatap intens bola mata Emily. Max menarik nafas dalam-dalam. "Itu karena aku jatuh cinta dan bahkan sangat mencintaimu Emalia Bintara," ungkap Max sungguh-sungguh bahkan matanya berkaca-kaca.


Deg


Mata Emily membulat, tanpa diminta bulir bening itu kembali bergulir mendengar ungkapan hati Max.


Emily memberanikan diri mengusap wajah Max dan tidak lepas tatapan di bola mata tajam itu.


"A-aku juga mencintaimu!" ungkap Emily sangat singkat.


Deg


Mendengar apa yang dikatakan Emily tentu saja membuat Max belum percaya sepenuhnya.


"Katakan sekali lagi," pinta Max sembari menyunggingkan senyuman.


"Aku sangat mencintaimu Max Adelard Sywa," ungkap Emily sekali lagi dengan menyebutkan nama Max.


"Terima kasih sayang," ujar Max sangat bahagia sembari memeluk Emily dan mendaratkan kecupan di keningnya di hadapan banyak orang.


Mendapatkan perlakuan Max diluar dugaannya membuat wajah Emily bersemu merah, serta jantung sejak tadi tidak karuan.


"Hentikan! Brengse*," umpat Marvel tidak terima.


Mendengar umpatan Marvel membuat Max maupun Emily melepaskan pelukan mereka. Kini Max mengandeng mesra tangan Emily, menuntunnya mendekati Marvel.


"Apa maksud anda Tuan Max?" desis Marvel dengan raut wajah murka menatap Max.

__ADS_1


"Apa Tuan Marvel terhormat tuli? bukankah tadi sudah saya jelaskan maksud kedatangan, bahkan menggagalkan pernikahan terkutuk ini!" Seru Max dengan sikap wibawa.


"Breng....,"


"Cukup!"


Max mengangkat jari telunjuknya sehingga membuat Marvel tidak meneruskan umpatannya.


"Ada kejutan untuk Tuan Marvel terhormat," ujar Max dengan bibir melengkung. "Dion bawa dia," titah Max dengan suara meninggi agar sang asisten mendengar dari balik kerumunan para tamu undangan yang siap menyaksikan pemberkatan tadi.


Muncullah Dion sembari menuntun seorang wanita dengan perut membesar menuju ke depan altar pernikahan.


Deg


Mengetahui siapa sosok perempuan itu membuat Marvel maupun kedua orang tuanya membelalakkan mata melihat kehadiran wanita dengan perut membesar.


Plak


Tamparan melayang di wajah tampan Marvel.


"Tega sekali kamu Honey," lirih wanita itu sembari menangis. "Tinggal menghitung hari lagi anak kita akan lahir tetapi dengan senang-senang kamu di sini, bahkan ingin menikah lagi." Imbuhnya. "Dimana hati nuranimu itu? bahkan kita masih sah sebagai suami-istri," ujarnya kembali.


Deg


Semua yang menyaksikan sangat terkejut dengan pengakuan wanita berambut panjang itu. Bisa dipastikan wanita hamil itu adalah wanita dari Marvel.


"Tuan Marvel jelaskan semua ini?" desak Emily.


Marvel tidak bergeming. Ia tidak tau harus mengatakan apapun.


"Nona saya adalah masih istri sah dari Marvel," seru wanita itu.


Deg


"Istri!" Lirih Emily tak percaya, hampir saja dia melangsungkan pernikahan terkutuk itu sama pria masih status suami orang. Tetapi karena kebaikan sang Maha pencipta sehingga hal itu tidak pernah terjadi.


Sang Pencipta telah mengirimkan malaikat untuk menggagalkan pernikahan itu, yaitu pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Dari rasa benci, kesal dan lain sebagainya berubah menjadi sebuah kata cinta.


Emily melirik menatap Max yang berada di sampingnya. Max menyunggingkan senyuman mautnya sehingga membuat Emily meneteskan air mata.


"Simpan air matamu, pria seperti itu tidak perlu kamu tangisi," bisik Max.


"Aku bukan menangisi pria brengse* itu tetapi aku, aku hiks hiks...." Emily tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Max kembali mendekap tubuh Emily kedalam pelukannya. Emanuel mengembangkan senyuman, lain halnya dengan kedua orang tua mereka. Sania terisak karena mengetahui apa yang terjadi, begitu juga dengan Bintara. Hampir saja ia memasukan putri satu-satunya kedalam bencana. Sungguh Bintara tidak tau jika calon menantunya masih sah menyandang status suami orang, yang ia tau adalah Marvel sudah bercerai.


"Dion urus semuanya!" Seru Max dan segera membawa Emily pergi dari tempat neraka itu.


Tanpa pamit Max membawa Emily begitu saja. Ia melakukan itu karena sempat kesal kepada orang tua Emily, yang sudah memaksa wanita yang ia cintai menikah dengan pria lain. Coba saja terlambat sedikit maka wanitanya sudah sah milik orang lain.


Selepas kepergian Max dan Emily. Semua tamu undangan gaduh. Ada yang mengutuk, menyumpahi, marah, kecewa dan lain sebagainya terhadap keluarga calon mempelai pria setelah mengetahui kebenaran tentang status Marvel.


"Dasar suami brengse* dan sia*an, ingin menikah kembali, sedangkan istri sahnya sedang hamil besar." Umpatan hampir seluruh tamu undangan, khususnya kalangan kaum hawa.


Seketika semuanya bubar. Dan kini tinggal kedua belah pihak keluar, terkecuali Dion karena ia ingin mengurus semuanya.


•••••

__ADS_1


Didalam mobil


Max ingin membawa Emily ketempat yang jauh dari keramaian. Sebelumnya Emily sudah bergantian pakaian. Sepanjang jalan Max hanya menggenggam tangan Emily dan sekali-sekali mengecupnya.


Atas perlakuan Max yang so sweet tentu saja membuat Emily malu, bahkan sepanjang jalan raut wajahnya memerah. Ini pertama kalinya ia merasakan hal itu.


Max sengaja tidak mengeluarkan kata sepanjang perjalanan karena nanti ada waktunya mereka bertanya dan berbincang apa saja ditempat yang akan di kunjungi.


Tidak butuh lama akhirnya tempat yang dituju tiba juga.


"Padang bunga," seru Emily ketika melihat mereka memasuki area tumbuhan bunga.


Max mengajaknya turun, lalu mereka melangkah menelusuri padang bunga. Tepat pada puncaknya Max langsung memeluk Emily dari arah belakang. Mereka menghadap kolam berukuran kecil.


Emily menegang mendapatkan pelukan erat dan penuh cinta itu.


"Apa kamu suka sayang?" hanya Max berbisik tepat di telinga Emily. Emily tercengang, kata panggilan sayang itu kembali didengarnya.


"Iya aku suka," jawab Emily.


"Suka apa?" jebak Max ingin mengerjai kekasih hatinya.


"Suka tempat ini," jawabnya kembali.


"Huh," gerutu Max lalu membalikan tubuh Emily sehingga tatapan keduanya bertemu.


"Mulai sekarang panggil aku sayang," titah Max sembari menangkup wajah Emily sehingga membuat Emily malu dan segera menundukkan wajahnya.


Max tidak membiarkan itu terjadi, ia colek dagu Emily dengan jari telunjuknya agar kembali menatap kepada dirinya. Max menaik turunkan mata agar Emily cepat menjawab.


"Iya sa-sayang," kata Emily dengan bibir bergetar.


"Terima kasih sayang. Terima kasih kamu sudah membalas cintaku," ungkap Max dengan mata berkaca-kaca.


"Apakah benar semua yang kamu katakan?" tanya Emily karena ia ingin tau.


"Tatap mataku, apa jika kamu masih ragu," ujar Max.


Emily tatap seluruh wajah Max, mencari kebohongan di sana tetapi sayangnya ia tidak mendapatinya.


Keduanya hening sesaat, sibuk dengan pikiran masing-masing disertai degup jantung yang tidak beraturan.


"Sayang kamu tunggu sebentar," ujar Max de gan lembut.


"Mau kemana? jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin di santap oleh binatang buas," kata Emily.


"Jika aku binatang buasnya, apa kamu mau sayang menjadi santapannya?" goda Max sehingga membuat wajah Emily bersemu merah.


Max menjauh, ia akan memberi kejutan buat Emily yang menjadi momen sekali seumur hidup. Merasa cukup Max diam-diam menghampiri dimana Emily berada.


Tiba-tiba ia berlutut dihadapan Emily dengan setangkai bunga yang ia rangkai.


"Emy mungkin ini terlalu cepat dan bahkan mendadak, tetapi ini murni dari hatiku yang terdalam. Aku serius, apa yang aku katakan itu adalah dari lubuk hatiku yang terdalam,"


"Kata orang, cinta adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan pernikahan. Maukah kamu jadi penyembuh sakitku? taukah kamu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. Karena syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Will you marry me Emy?"


Mendengar kata itu membuat Emily bungkam disertai air mata kebahagiaan. Max tersenyum dengan menadah wajahnya ke atas menatap Emily, sampai-sampai tetesan air mata itu jatuh di wajah Max.

__ADS_1


"Aku....."


Bersambung.....


__ADS_2