Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 19


__ADS_3

•••••


Max serta Mia tidak mengindahkan seruan wanita paruh baya yang sudah merendahkan mereka. Max tetap membawa sang Adik tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.


" Berhenti! " sekali lagi suara itu menggelegar meninggi tetapi tidak membuat langkah kedua bocah jenius itu berhenti.


Tap tap tap


Buk


" Berhenti, " lirihnya dengan lembut.


Membuat Kakak beradik itu terpaku dengan mata melotot tidak percaya, keduanya saling memandang dengan menunjukan kebawah kaki mereka.


" Nyonya, " seru keduanya karena Mami Lili memeluk mereka dengan posisi berlutut.


" Ngeprank, "


Membuat semua yang menyaksikan itu tersentak kaget.


" Sayang.....Oma minta maaf! Oma hanya bermaksud ingin mengerjai kalian saja, tidak ada maksud apa-apa, " ucap lembut wanita paruh baya semakin membuat si kembar kaget tidak percaya.


" Mami.... tidak lucu! Mami tidak lihat anak didik Cinta menangis? " decak Cintaka sembari menghentakkan kakinya menghampiri.


" Tante..... lelucon Tante bikin jantungku ingin lepas, " sambung Berry tidak kalahnya terkejut.


" Istri Papi memang is the best! " timpal sang suami sembari mengulas senyum.


Sedangkan kedua bocah yang di prank hanya terdiam.


" Sayang apa kalian tidak ingin memaafkan Oma? "


" Sayang....., "


" Seharusnya Mia yang minta maaf Nyonya karena Mia sudah merusak barang Nyonya, " ucap Mia dengan wajah tertunduk.


" Nyonya? panggil saja Oma karena saya bukan majikan kalian, " titahnya tanpa ingin dibantah. " Masalah guci itu Oma sama sekali tidak permasalahkan walaupun itu guci satu-satunya, karena kamu tidak sengaja sayang. Hmmm mungkin usianya sampai hari ini sayang, " atas ucapan itu membuat Max serta Mia saling memandang tidak percaya.


" Baiklah jika begitu kita lanjutkan di meja makan, mungkin bocah-bocah ini sudah lapar, " potong Papi Matheo.


Mereka kembali ke meja makan dengan Mami Lili mengiringi tangan Max dan Mia. Keduanya tidak menolak, jujur saja mereka tidak mengerti maksud dikerjai.


" Sayang buka masker kalian, kita akan makan, " ucap Ibu Cintaka karena sejak tadi keduanya belum melepaskan masker.


Tanpa bantahan keduanya melepaskan masker yang melekat di wajah keduanya.


Deg

__ADS_1


" Cull, "


" Cull, "


Kaget kedua paruh baya ketika melihat wajah Max yang sangat mirip dengan wajah putra mereka.


" Sayang kalian sangat tampan dan cantik sekali, " puji Oma Lili.


" Terima kasih Oma! Oma juga cantik, " balas Mia sembari tersenyum.


" Hidung dan senyumannya milik Cull, " lirih sang Oma masih menatap Max seta Mia bergantian.


" Sayang wajah kalian sangat mirip dengan wajah putra Oma. Apalagi Max 11 12 sangat mirip, " ucap sang Oma. Membuat Max dan Mia saling menatap.


" Kakak coba perhatikan Opa, wajah Opa juga mirip dengan Opa, " atas ucapan Mia membuat semuanya menatap Opa Matheo serta Max, apa yang dikatakan Mia ada benarnya karena Opa Matheo mirip sekali dengan putranya.


" Jaga ucapanmu Dek, apa kamu tidak baca di dunia ini memiliki 7 wajah kembar, mungkin kebetulan saja, " ucap Max dengan wajah datarnya. Atas sikap atau cara bicara Max membuat kedua paruh baya saling melirik dengan bola mata memutar.


" Baiklah sudahi dulu obrolan kita, sebaiknya kita menikmati hidangan ini. Kedua cucu-cucu hebat kita sudah kelaparan, " ucap Opa Matheo karena sudah tau atas kedatangan si kembar yang dijelaskan putri kedua serta keponakannya.


Mereka memulai menyantap hidangan yang sangat mewah bagi Max dan Mia, baru kali ini pertama mereka dihidangkan makanan bermacam menu.


" Ini sangat enak, " ucap Mia disela suapannya.


" Dek kalau lagi makan jangan bicara, " ujar Max seperti bentakan karena sejak kecil mereka dididik tidak boleh saling berbicara saat sedang makan.


" Jika enak dan kalian suka makan semuanya sayang, ini semua untuk menyambut kedatangan kalian, " sahut Oma Lili.


Tiba-tiba Mia menghentikan suapan bahkan kunyahannya. Ia meletakan sendok diatas piring yang masih penuh dengan makanan.


" Cucu Oma kenapa termenung? apa kamu kurang suka dengan masakan ini? " tanya Oma sedikit tidak enak hati karena ia kira Mia tidak menyukai masakan ini.


" Ini sangat enak Oma. Te-tetapi Mia teringat sama Mommy serta Nenek di kampung. Mia dan Kakak makan yang enak bahkan baru kali ini lidah kami mencicipi makanan seperti ini, sedangkan Mommy dan Nenek pasti hanya bisa makan sama tempe dan tahu, " ucap polos Mia tanpa rasa gengsi mengungkapkan keadaan mereka yang sesungguhnya.


Deg


Semua menghentikan suapan atau kunyahan mendengar ucapan Mia yang membuat sesak di dada masing-masing. Ternyata masih banyak orang-orang disekitar mereka yang kekurangan sedangkan mereka sudah menjadi menu sehari-hari makanan seperti ini, tetapi bagi kedua anak kembar ini baru pertama kalinya menikmati makanan ini.


" Hmmm anggap saja ini rezeki kalian sayang.... sekarang lanjutkan lagi makanan Mia, " ucap lembut Oma dengan mata berkaca-kaca.


•••••


Di Spanyol


Ruangan kebesaran itu sangat berantakan penuh dengan kertas.


" Kapan Berry sampai sini? aku sudah sangat pusing, " desisnya sembari menjambak rambut merasa frustasi karena masalah mereka belum kelar sangat sulit untuk dipecahkan.

__ADS_1


" Mungkin sebentar lagi Tuan, " sahut Akas sang Asisten kepercayaannya.


" Kau yakin orang yang dibawanya bisa diandalkan? " tanyanya kurang yakin.


" Entahlah Tuan saya juga belum tau, "


" Apa sih yang kau tau? setidaknya jika aku tidak bisa kau dapat diandalkan, tetapi ini lebih goblo* dariku, " ujarnya dengan seenaknya tanpa memikirkan perasaan Akas. Akas terdiam saja karena baginya itu sudah hal biasa selalu mendapat amukan. Tapi jangan salah menilai, mulut dengan hatinya sangat berbeda.


Tok tok tok


" Siapa lagi itu, " desisnya tanpa membalikan posisi duduknya yang membelakangi pintu sembari melihat bangunan gedung dibawah sana dari kaca besar membentang dalam ruangannya.


Akas menghampiri pintu untuk membukakan pintu.


Ceklek


" Tn. Berry silahkan masuk Tuan, " sapanya ternyata yang mengetuk pintu adalah sepupu sang CEO yang sejak tadi mereka tunggu.


" Ayo Max, " Uncle Berry menarik tangan Max yang berada disampingnya. Kening Akas mengerut melihat Tn. Berry membawa bocah kecil, bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa ia membawa seseorang untuk membantu atasannya.


" Hai Brother, " panggil Berry karena sang sepupu tidak menyambut kedatangannya membuat Cull membalikan kursi kebesarannya.


" Kau sangat lama, " decaknya dengan menautkan alis menyadari ada seorang bocah disamping sepupunya.


" Huh.... kau kira Indonesia-Spanyol hanya 5 langkah seperti lagu pacar lima langkah?, " decak Berry.


" Max bukalah maskermu dan perkenalkan dirimu, " titah Uncle Berry karena sedari tadi Max hanya terdiam tidak lepas tatapannya pada Cull yang juga menatapnya. Bola mata keduanya bertemu, perasaan aneh mereka rasakan.


Deg


Cull bersama Akas sontak kaget mendapati wajah Max sesungguhnya. Akas bergantian menatap keduanya, ternyata wajah bocah itu 11 12 dengan atasannya. Sedangkan Cull tidak berkedip, darahnya berdesir melihat bayangan wajahnya sendiri.


Cull bangkit menghampiri dimana Max berdiri dengan posisi terdiam tetapi pandangannya tidak lepas dari Cull. Ia berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Max, lalu kedua tangannya bertumpu dikedua bahu Max.


" Hmmm nama kamu siapa? " tanyanya yang mampu membuat Berry serta Akas salin memandang, sejak kapan pria casanova ini menyukai bahkan langsung akrab dengan anak-anak kecuali keponakannya sendiri. Tetapi berbeda dengan Max kini.


" Nama saya Max Adelard Tuan, " sahutnya dengan tatapan penuh arti.


" Namanya keren seperti orangnya, " Cull mengulum senyum.


" Terima kasih, " balas Max langsung menyusupkan tubuh kecilnya kedalam dekapan Cull.


Deg


Keduanya merasakan aliran darah seperti disentrum. Max begitu erat menarik baju kemeja yang dikenakan Cull, begitu juga dengan Cull ia bahkan berkali-kali mengecup pucuk kepala Max dengan perasaan aneh seperti ada sesuatu dengan mata terpejam.


Max begitu nyaman diperlakukan oleh pria yang belum ia kenali. Ini pertama kali baginya memeluk pria lain selain Uncle Alfian selama ini. Sedangkan Berry merasa cemburu karena sudah lama mereka saling kenal tetapi bocah jenius ini tidak pernah memperlakukan dia seperti sepupunya ini.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2