
•••••
Kehamilan Ai sudah memasuki 9 bulan, dimana saat ini tinggal menunggu kelahirannya. Ia belum tau jenis kelamin calon bayinya karena di kecamatan tempatnya tinggal itu tidak menyediakan USG. Tiap bulannya ia hanya memeriksa kandungannya di Puskesmas.
Bidan mengatakan jika ia hamil anak kembar, semua orang juga mengatakan hal yang sama. Ai sendiri juga yakin jika ia mengandung bayi kembar karena ia bisa merasakan dua detak jantung dan tentangan sang buah hati.
Selama kehamilan ia tidak mengalami kesulitan, seakan kedua bayi kembarnya mengerti dengan keadaan sang Mommy. Ai membuka kios kecil untuk menyambung hidup , seperti menjual segala macam aneka kue basah dan gorengan. Ia juga menerima pesanan kue ulang tahun. Kue olahannya seakan membuat para pelanggannya puas.
Bukan semudah itu untuk Mama Leni dan Ai beradaptasi disana, apalagi dengan status Ai. Awal-awalnya keberadaan mereka tidak diterima karena status Ai, tapi karena berkat seorang Guru mereka diberi kesempatan untuk menetap disana.
Pendapatan dari hasil jualan kue itulah buat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, dibagi lagi dengan uang jajan untuk Alvian. Sedangkan Mama Leni hanya bisa membantu Ai membuat kue. Mereka kadang makan seadanya saja. Kadang wanita cantik itu meneteskan mata jika ia makan hanya ditemani kerupuk dan tempe saja. Ia tidak tega anak-anaknya tidak mendapatkan protein.
Sedangkan dengan susu ia tidak perlu khawatir karena dari puskesmas ia mendapatkan stok susu untuk 1 bulan. Masalah makanan selama hamil ia tidak memilih-milih, hanya makanan berupa petai, jengkol dan ikan asin, ketiga macam makanan itu ia menghindarinya. Padahal sebelum hamil itu adalah makanan favoritnya.
Seperti pagi ini ia sudah terbangun dari jam 5 pagi, membawa perut besarnya menyiapkan bahan untuk membuat kue. Kebetulan hari ini dari sekolah memesan kue 50 kotak kepadanya. Kemungkinan pihak guru dari tingkat TK, SD, SMP, SMA rapat bulanan.
Dengan perut besarnya ia semangat 45. Jika orang lain yang berkecukupan mungkin tidak akan sanggup melakukan apa yang dikerjakan Ai. Seharusnya di kehamilan besar hanya menunggu hari ia tidak boleh kelelahan dan bermanja-manja dengan suaminya, tapi tidak pada wanita cantik dan baik hati ini. Ia bahkan mengatakan Ibu hamil harus banyak bergerak, jangan cuma tidur-tiduran saja. Itulah ucapan yang selalu dilontarkan jika sang Mama memperingatinya.
Ai benar-benar mengejar target karena untuk biaya lahiran nanti. Belum lagi ia memiliki bayi kembar, tidak mungkin ia mampu memberikan ASI full pada kedua bayinya nanti. Pasti di dampingi susu formula, maka dari itu ia harus cerdas mencari untuk membeli kebutuhan kedua bayinya nanti.
" Kamu sudah bangun Kak? " Mama Leni baru bangun langsung menuju dapur, melihat putrinya sudah sibuk mengolah tepung.
" Pagi Ma...." ucapnya menyapa sang Mama. Ia sangat bersyukur sang Mama menerima keadaannya seperti saat ini. Sang Mama lah yang menyemangati dan pendorong baginya untuk bertahan dan menerima keadaan ini.
" Apa yang harus Mama bantu? "
" Mama tolong masukan kue-kue ini di kotak. Setiap kotak diisi 5 macam kue " ucapnya menunjukan 5 macam kue yang sudah siap di kemas.
" Kamu memang cekatan Kak, pagi-pagi begini sudah siap " puji sang Mama melihat kinerja Ai cekatan.
" Kejar target Ma.... 3 kue ulang tahun harus siap hari ini. Sore nanti harus diambil " ucapnya. Pesanan hari ini cukup banyak, tapi tidak membuatnya kewalahan karena ia sangat menekuni pekerjaan ini.
Sekitar jam 10 semua pesanan sudah selesai untuk hari ini. Pesanan terus berdatangan untuk hari-harinya berikutnya.
" Selamat pagi Ai.... " sapa Berry kepala yayasan sekolah di Kecamatan tempat Ai tinggal.
" Pagi juga Ber... " balas Ai, keduanya sudah sepakat berbicara tidak formal sehingga lebih nyaman untuk saling memanggil nama saja.
" Kamu mau ambil pesanan kue sekarang? " Ai yakin pria tampan lebih tua 4 tahun darinya itu akan mengambil pesanan kue.
" Hmmm hanya mengecek saja, apa semua sudah siap? " tanyanya dengan tatapan ke perut buncit Ai.
" Sudah " Ai menunjukan tumpukan kotak yang sudah siap dikemas diatas meja.
" Apa kamu tidak kesusahan kerja membawa perut sebesar itu? " tanyanya karena tidak tega melihat wanita cantik itu. Baginya sangat menyiksa, jika ia di posisi Ai. Padahal itu tidak masalah bagi Ai.
" Hahaha.....ini tidak berat biasa-biasa saja. Kedua calon keponakanmu anak yang pintar, sehingga tidak nakal didalam sana " terangnya sembari terkekeh.
" Iya mereka anak yang pintar. Jika sudah lahir nanti akan Uncle didik dengan baik agar menjadi anak genius. Cepat keluar ya.... biar ada teman Uncle " ucapnya seakan berbicara pada kedua bayi tersebut. Jujur ia ingin sekali menempelkan tangannya untuk merasakan tendangan kedua bayi mungil itu, tapi ia sadar diri jika itu tidak pantas. Dari awal melihat Ai ia sangat terpesona akan kecantikan dan lemah lembut wanita ini. Bahkan ia tidak mempermasalahkan status Ai, tapi sekarang belum waktunya.
__ADS_1
" Baiklah Uncle " balasnya meniru suara anak-anak seolah kedua bayinya yang menyahut.
" Baiklah jika begitu, aku akan ke kantor. Nanti pihak bendahara yang akan mengambil pesanan " Berry meninggalkan rumah kecil milik peninggalan Kakek Ai dari pihak alm Papa.
•••••
Malam ini Cull diajak sang Mami makan malam di Restoran berbintang. Seluruh keluarga akan menghadiri acara makan malam tersebut. Mereka akan bertemu dengan keluarga dari sahabat kedua orang tuanya. Cull sendiri sangat malas, apalagi ia tau jika sang Mami mempertemukan dengan putri dari sahabatnya itu. Tapi tenang saja ia punya trik ampuh.
Selama ini ia anti dengan wanita pengoda, bahkan melihat wajah dan sikapnya saja ia langsung mual, bahkan muntah. Selama itu juga ia tidak pernah lagi menjamah para wanita nakal, setelah kejadian waktu itu.
" Apa Tuan sudah siap? " tanya Akas yang selalu mendampinginya.
" Apa kau sudah mempersiapkan yang aku perintahkan? " ia mengabaikan pertanyaan pria yang kewalahan selama 9 bulan ini. Kadang Akas ikut memuntahkan isi perutnya, ketika membantu sang CEO masuk ke kamar mandi. Kadang ia mengumpat dan menggerutu pria tampan itu.
" Sudah Tuan. Ada dalam bagasi mobil " sahutnya tidak ingin membayangkan aroma tidak sedap itu.
" Kenapa kau menyimpannya didalam bagasi? " tanya Cull tidak suka.
" Terus saya harus menyimpannya dimana Tuan? tidak mungkin juga saya simpan di bangku penumpang, itu aromanya membuat saya pusing, bahkan ingin pingsan " ucap Akas panjang lebar tidak menyadari jika pria ini menatapnya begitu tajam, ia melupakan sesuatu yang bisa membuat sang CEO murka.
" Disini bosnya siapa hah? " bentakan itu membuatnya tersadar dengan cepat ia membungkam mulutnya menggunakan tangan.
" Maaf Tuan " ucapnya atas kelancangan ucapannya.
Keduanya keluar dari Apartemen mewah itu.
" Pindahkan dan letakan di samping tempatku duduk " titahnya. Mau tidak mau Akas terpaksa menurut.
" Selamat malam Om, Tante dan semuanya " sapa Akas kepada keluarga yang sudah menunggu. Sedangkan pria yang dibilang ngidam ini nyelonong duduk begitu saja, tanpa menyapa.
" Sayang...... kebiasaan deh " protes sang Mami dengan sikap putra satu-satunya ini.
" Cull, sapa Om Bima dan Tante Tantri. Dan itu putri mereka Friska " ucap sang Papi tidak suka dengan sikap cuek dan kurang sopan putranya.
" Malam Om dan Tante " ia terpaksa menuruti Papinya.
" Hmmm aku tidak disapa? " suara manja wanita itu membuatnya ingin muntah.
" Maaf tadi tidak kelihatan " balas Cull tanpa menatap wajah itu. Ia tadi sempat melirik sekilas sebelum duduk, melihat berpakaiannya saja membuatnya mual. Padahal dulu ia begitu menyukai wanita yang berpakaian seksi. Tapi sekarang ia sangat membencinya.
Semua yang berada disitu menarik nafas dalam-dalam, tidak mungkin juga wanita berprofesi model itu tidak kelihatan olehnya. Sedangkan mereka duduk saling berhadapan.
" Sayang.... Nak Friska ini model internasional loh, sudah banyak penghargaan yang ia raih. Lulusan terbaik lagi " ucap sang Mami pada Cull menyanjung prestasi Friska.
" Hmmm apa dia bisa masak dan nyuci juga? " ucap Cull dengan santainya tanpa menoleh pada Friska.
" Sayang..... tutup mulutmu " ucap sang Mami tidak enak hati karena pertanyaan Cull kearah lain.
" Tidak apa-apa Tante, Friska akan berusaha belajar seperti yang Cullen katakan " ucap Friska dengan suara manjanya.
__ADS_1
" Sudah-sudah sebentar lagi pesanan kita akan datang " ucap sang Papi.
" Dek, bagaimana masa ngidam mu? " bisik Kakak kembarnya Cinta, yang duduk disebelahnya. Si pengantin baru, yang terpaksa di nikahkan orang tuanya dengan seorang Dokter dari kota x karena sebuah kejadian yang tidak diinginkan.
" Apa Kakak tidak lihat, aku sudah mual selama disini " balasnya dengan bisikan. " Apa Kak Exsel juga mengalami apa yang akun alami? " bisiknya kembali.
" Bagaimana mau ngidam, Kakak saja belum hamil " bisiknya dan sengaja menoleh pada sang suami dengan tatapan tidak suka.
" Hmmm terus berusaha Kakak ipar " ucapnya menoleh kepada Exsel yang hanya terdiam saja.
" Kak, Laura mana? kok tidak ikut? " tanyanya pada Cantika Kakak tertua.
" Laura lagi di rumah Opa dan Oma Dek " sahutnya dan diangguki oleh Cull.
Pesanan pun sudah dihidangkan diatas meja. Dimana ini adalah masakan Italia. Cull benar-benar tidak selera melihat hidangan itu, aromanya membuatnya mual.
" Aku permisi ke toilet sebentar " ucapnya dan segera bangkit sembari berlari kecil menuju toilet. Seakan tau Akas segera mengikutinya, ia tidak tega melihat atasannya itu memuntahkan isi perutnya. Ia akan membantu memijit punggung lehernya.
Tidak lama Cull dan Akas bergabung dengan yang lainnya.
" Cull, kamu mau makan yang mana? biar Friska yang ambil" tawar Friska ingin meraih piring untuk Cull.
" Tidak perlu. Aku tidak memakan masakan itu " tolaknya sembari mengeluarkan sesuatu dari kantong yang dibawa Akas tadi. Cull mengeluarkan petai, jengkol dan ikan asin. Tadi Akas sudah memesan nasi untuknya.
Melihat makanan langka itu membuat orang-orang menghentikan mengunyah. Semua mata tertuju pada seorang CEO terkenal akan kesuksesannya, kini menikmati makanan yang mengandung aroma tidak sedap. Bahkan sebagian dari mereka menutup hidung karena tidak mampu mencium aroma tidak sedap itu.
Sedangkan Cull dengan santainya menghabiskan makanannya. Tanpa peduli dengan tatapan semua orang.
" Apa kalian mau? " tawarnya pada suapan terakhir sembari menunjukan jengkol.
Semuanya segera menunduk dan menghabiskan makanan yang tersisa didalam piring.
" Dek, Kakak tidak tahan dengan aroma itu " protes Kak Cinta, karena ia di samping Cull.
" Enak Kak, apa Kakak mau coba? "
" Nyium nya saja Kakak tidak tahan apalagi untuk memakannya " ucapnya kembali menutup hidung, apalagi mencium nafas sang Adik.
" Itu makanan apa sih kok aromanya tidak sedap ucap Friska. Entah benar-benar tidak tau, atau hanya pura-pura tidak tau. Tapi tidak mungkin tidak tau, sang Mami saja bilang ia kelulusan terbaik.
" Katanya lulusan terbaik tapi makanan berupa ini saja tidak tau. Akas tolong jelaskan ini makanan apa? " ucap Cull penuh ejekan.
" Ini namanya petai, ini jengkol dan ini ikan asin Nona " terang Akas sesuai perintah atasannya.
Sedangkan Papi Matheo dan Mami Liliana hanya terdiam, mereka merasa tidak enak hati pada keluarga sahabatnya. Makan malam yang diinginkan berkesan, malah kacau ulah putranya sendiri. Mulai sekarang sang Mami tidak akan mengenalkan atau menjodohkan Cull lagi biarlah dia sendiri yang mencari pendamping hidupnya.
Bersambung....
🌷🌷🌷
__ADS_1
Trims atas vote