Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 37


__ADS_3

•••••


Hari ini di usia hampir menginjak 7 tahun akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut salah satu anaknya. Pertanyaan yang selama ini Ai hindari karena tidak mampu untuk menjawabnya, mereka terlalu kecil untuk mengetahui atau memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Lantai tempat berpijak terasa runtuh yang dirasakan Ai. Hatinya seperti ditusuk ribuan jarum mendengar pertanyaan putrinya.


" Mom tunjukan kesemua orang, agar tidak ada lagi orang yang berani menghina, " ucap Mia masih dengan tangisan dalam dekapan sang Mommy.


Pertanyaan serta desakan Mia menambah kegundahan dan dada sesak Ai. Wanita yang selama ini sabar hanya bisa terisak.


" Kenapa tidak bisa kamu jawab? tinggal kamu pilih saja disini karena orang yang bersangkutan juga berada disini, " suara meninggi Cintaka mengalihkan pandangan semua orang.


Ai bangkit dan melepaskan dekapan pada Mia.


" Apa itu penting bagi kalian? apa masalah pribadi atau privasi seseorang perlu kalian ketahui? bahkan kalian hanya orang asing? " ujar Ai sudah kehabisan kesabaran, selama ini dia diam saja ketika dihina dan direndahkan.


" Kamu tidak bisa menjawabnya bukan? karena anak ini adalah anak hara*, "


Deg


Plak


" Awww, " ringis Cintaka sembari memegang wajah bekas tamparan Ai.


Deg


Satu tamparan keras melayang di wajah Cintaka sehingga menimbulkan bekas memerah. Sehingga membuat semua orang terbelalak melihat hal itu.


" Mommy, " seru Max dan Mia melihat hal yang tidak pernah mereka lihat.


" Jaga ucapanmu! Kamu boleh menghinaku tetapi jangan bawa anak-anakku, " seru Ai tanpa merasa takut, seumur hidup baru kali ini ia mengotori tangannya.


" Kamu berani menaparku! " Cintaka melayangkan tangannya ingin membalas tamparan. " Kamu membelanya Papa? " teriak Cintaka menatap tajam suaminya yang menangkap tangannya yang hampir melayang ke wajah Ai.


" Kimmy tolong bawa Max dan Mia dari sini. Ini tidak pantas ditonton mereka, " perintah Ai karena ia tidak ingin kejiwaan putra-putrinya terganggu atau mengalami trauma.


" Kamu sudah keterlaluan Ma...., " ujar Exsel menyadarkan istrinya. Exsel tidak menyangka jika ia bertemu sang istri disini.


" Keterlaluan kamu bilang! Katakan aku terlaluan apa? katakan aku keterlaluan apa? " teriak Cintaka berurai air mata.


" Bubar semuanya jika kalian masih ingin bekerja disini! " ucap tegas Cull yang sejak tadi terdiam saja menyaksikan itu.


Semua karyawan yang berada disekitar itu bergegas pergi, begitu juga kedua Resepsionis.


" Lepaskan aku, " teriak Cintaka berusaha memberontak dalam pelukan Exsel.


" Ingat Ma kamu lagi mengandung, " Exsel sangat khawatir melihat istrinya seperti kesetanan, baru kali ini ia melihat sisi berbeda Cintaka.


" Ini bukan darah daging, jadi buat apa kamu mengkhwatirkan, " ucap Cintaka tersenyum miris. " Lebih baik kamu khawatirkan dia! " tunjuknya kepada Ai.


Cintaka mendorong kuat Exsel sehingga mengakibatkan ia tersungkur karena kurang keseimbangan.


Plak plak


" Awww, " ringis Ai sehingga salah satu ujung bibirnya mengeluarkan darah.


"Kakak, " teriak Cull.


" Cincin, " teriak Berry.


Cull dan Berry melerai Cintaka yang ingin menghajar Ai.


" Lepaskan! , " teriak Cintaka.

__ADS_1


" Sadar Kakak, " teriak Cull sangat nyaring sehingga membuat Cintaka melemas.


" Kalian semua membelanya hah? kalian semua menyukainya bahkan jatuh cinta padanya? hahah....., " Cintaka persis seperti orang gil* tertawa sendiri sembari terisak.


" Apa salahku pada kalian? sehingga anak-anakku yang tidak tau apa-apa menanggung hinaan ini. Aku menyesal karena sudah mengenal kalian. Kalian tidak tau apa yang terjadi, dan untuk apa kalian harus tau karena kita hanya orang asing, " lirih Ai berusaha kuat.


" Selama ini orang-orang hanya bisa menghakimi salah satu pihak tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku sendiri tidak ingin berada dalam situasi atau keadaan seperti ini, " ungkap Ai sembari menahan sesak di dadanya.


" Nona Cintaka anda hanya salah paham. Singkirkan pikiran negatif Nona. Exsel hanya ma------, "


" Nona Aileen.... Nona.... Mia Nona.... Mia, " tiba-tiba Kimmy berlari dengan wajah pucatnya dengan tubuh bergetar.


" Ada apa Kimmy? " tanya Ai, Cull serta Berry secara bersamaan.


" Mia kenapa? " Ai mendesak Kimmy agar mengatakan secepatnya karena wajah Kimmy sangat ketakutan.


" Mia....Mia kecelakaan! "


Duarr


•••••


" Sayang bangun.....bangun sayang, " tangis histeris Ai sembari memangku Mia yang sudah bersimbah darah. " Sayang bagaimana ini bisa terjadi? " tangis Ai kepada putranya Max yang ikut menangisi Mia.


Cull ikut berjongkok ingin mengambil Mia yang sudah tidak sadarkan diri dalam pangkuan Ai.


" Mau apa kamu? " teriak Ai menatap tajam kepada Cull. " Belum puas kalian? ini semua karena kalian, jika terjadi sesuatu pada pitriku kalian orang pertama yang kubenci seumur hidup, " teriak Ai kembali disertai ia akan histeris.


" Simpan saja tenagamu nanti. Princess harus segera ditangani, " tanpa mendengar jawaban Ai, Cull memapah Mia.


" Siapa kamu? berani-beraninya, " cegah Ai menghentikan niat Cull.


" Aku Daddynya! Apa kau hanya ingin melihatnya terkapar disini? simpan amarahmu untuk nanti, " ujar Cull dengan tegas sembari menatap tajam kepada Ai yang keadaannya rapuh.


Tanpa mendengar lagi Cull kembali merebut Mia. Karena merasa sulit, pria yang raut wajahnya ikut pucat pasi itu mengendong keduanya membawa ke mobil. Semua mata terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh seorang CEO penerus perusahaan SYWA.


" Akas bawa mobil dengan kencang, " titahnya kepada Akas.


" Sayang bertahanlah! Lihat ada Mommy dan Kakak kamu di sampingmu. Mia hiks hiks...., " Ai tidak henti-hentinya menangisi Mia.


" Dek, bertahanlah! " Max ikut terisak.


" Semua salah Mommy sayang hiks hiks hiks, "


Cull merasa sesak melihat wanita yang berhasil merebut hatinya dalam keadaan rapuh tak berdaya.


Butuh beberapa menit mereka tiba di RS dan langsung ditangani.


# Flashback On #


Kimmy terpaksa mbawa Max dan Mia keluar kantor sesuai perintah Ai.


" Aunty, lepaskan Mia, Mia ingin bersama Mommy, " Mia berusaha melepaskan genggaman tangan Kimmy yang sengaja menggenggamnya sangat erat.


" Tidak sayang lebih baik kita pulang duluan, " ucap Kimmy.


" Mia tidak mau Aunty, kasihan Mommy, " rengek Mia kembali seperti memohon.


Kini ketiganya sudah berada di lobby kantor.


" Max jaga Adikmu, Aunty keluarkan mobil dulu, " Aunty Kimmy memberitahukan.


Setelah merasa aman Kimmy melangkah kearah parkiran mobil. Sedangkan Max menggenggam tangan sang Adik sembari membujuknya.

__ADS_1


" Dek kenapa kamu memojokkan Mommy? tidak seharusnya kamu lakukan itu, " ucap Max dengan lembut agar sang Adik mengerti situasinya. " Ini bukan saatnya kita menanyakan itu, apalagi dihadapan banyak orang. Kasihan Mommy Dek, " kini Max tidak bisa menahan tangisnya, bayangan wajah sedih sang Mommy menari-nari di matanya.


" Maafkan atas sikap Mia Kak, " akhirnya Mia menyesali atas apa yang dilakukannya tadi.


Tiba-tiba Mia melepaskan tangannya dari genggaman sang Kakak. Kedua matanya menangkap orang yang sangat ia kenal yaitu Opa Matheo dan Oma Lili. Kedua paruh baya itu berada di seberang jalan ingin menyeberangi menuju arah kantor dengan tergesa-gesa saling bergandengan tangan.


Mia langsung berlari sekencang-kencangnya.


" Opa, Oma awas! " Teriak Mia.


Brak, buk


" Awww, "


" Tidak! " Teriak Max dengan mata melotot serta mulut menganga sembari berlari.


Tubuh kecil Mia terlempar beberapa meter diatas aspal setelah dihantam mobil yang melintas.


Kedua paruh baya terdorong ke tepi jalan atas dorongan serta rasa terkejut. Keduanya belum menyadari. Seketika mata keduanya terbelalak kaget melihat tubuh kecil bersimbah darah tergeletak di aspal.


" Mia! " Teriak keduanya sangat terkejut.


" Opa, Oma atas nama Mommy, Mia minta maaf, " lirih Mia sebelum kesadarannya hilang.


" Tidak sayang hiks hiks hiks, " Oma Lili menangis histeris sembari memangku Mia. Tidak lama ia sendiri tidak sadarkan diri.


# Flashback Off #


Di RS khususnya di ruang operasi.


Ai sejak kedatangan ke RS hanya bisa bersandar di pintu ruang operasi dengan pakaian penuh noda darah putrinya. Ai merasakan dunia kian hancur. Ibu mana yang kuat jika menghadapi kondisi seperti ini. Didalam putrinya melawan maut,mempertaruhkan nyawa. Kondisi Mia kritis.


Semua orang terdiam menunduk, menyesali atas apa yang terjadi. Semuanya merasakan sesak mengetahui musibah yang menimpa Mia. Tak terkecuali Cintaka, wanita tengah mengandung itu menyesali atas perbuatannya.


Ceklek


Dokter keluar semua orang ikut berdiri.


" Dokter, bagaimana kondisi putriku? " tanya Ai dengan tangisan berharap kabar gembira yang disampaikan Dokter yang menangani Mia.


" Jika sesuatu terjadi, kalian semua aku pecat! " Seru Cull sembari mencekik leher pakaian dinas yang dikenakan Dokter.


" Huk huk huk, " sang Dokter terbatuk akibat cekikan Cull.


" Lepas Cull, " ujar Papi Matheo, sehingga membuat Cull melepaskan tangannya.


" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Putri anda kehabisan darah sehingga butuh donor darah. Kebetulan RS disini tidak mempunyai stok darah seperti golongan darah putri anda , " penjelasan sang Dokter.


" Apa tugas kalian selama ini? stok darah saja bisa tidak ada stok, ini RS besar kenapa bisa lalai seperti ini. Akas pecat semua petinggi RS ini! " Seru Cull dengan berapi-api.


Sedangkan tubuh Ai merosot ke lantai, ia tau jika golongan darah putrinya sangat langka. Begitu juga Mama Leni ketika mendengar keterangan Dokter.


" Tolong Dokter berusahalah menyelamatkan putri saya, saya akan mencari pendonor karena golongan darah keluarga kami tidak ada yang sama dengan putri saya, " lirih Ai dengan tubuh tak berdaya.


" Maaf Tuan, golongan darah pasien sangat langka, " terang sang Dokter kembali.


Mendengar penjelasan Dokter semua mata menatap kearah Exsel kecuali Mama Leni dan Max.


" Kenapa kalian memandangku? " ucap Exsel merasa aneh.


" Suamiku golongan darah O positif Dok, " ucap Cintaka begitu saja.


" Maaf Nona Cintaka, pasien memiliki golongan darah AB-, "

__ADS_1


Deg


Bersambung.....


__ADS_2