
Di rumah sederhana anak perempuan cantik sudah bersiap-siap. Siapa lagi kalau bukan Jihan. Jihan mengenakan gaun mahal pemberian Oma yang ia belum ketahui namanya.
"Selesai sayang," kata Emily setelah merias rambut Jihan. "Sayang cantik sekali," kagum Emily.
"Siapa dulu Mami nya? Emily Luisa gitu loh," jawab Jihan.
Seketika membuat Emily terdiam dengan tatapan sendu.
"Mami," panggil Jihan sehingga memudarkan lamunannya.
"Jihan yakin ingin pergi ke pesta itu?" tanya Emily meyakinkan Jihan kembali.
"Tentu Mami, jika Jihan tidak datang Opa sama Oma pasti kecewa. Tidak enaklah Jihan karena sudah dibelikan gaun dan sepatu cantik ini," cicit Jihan dengan polosnya.
"Mami hanya kepikiran saja sayang," kata Emily sembari mengusap pipi Jihan.
"Mami ikut juga ya biar ada teman Jihan," tawar Jihan.
"Tidak sayang Mami tidak bisa ikut, lagian Mami tidak mengenal mereka. Hmmm satu lagi Mami tidak memiliki gaun secantik putri Mami," ungkap Emily.
Tit tit
Bunyi klakson mobil didepan rumah terdengar.
"Mami itu mungkin mobil jemputan Jihan," tebak Jihan.
"Ayo kita lihat," ajak Emily sembari menarik tangan Jihan.
Ceklek
"Selamat malam Nona, saya akan menjemput Jihan," kata wanita seumuran dengan Emily. "Saya diperintahkan Nyonya untuk menjemput Jihan," imbuhnya.
"Baiklah. Sayang ingat pesan Mami jangan bandel dan merepotkan di sana,kata Emily.
"Maaf kenapa Nona tidak ikut?" tanya wanita itu.
"Aku tidak bisa ikut karena ada pekerjaan, tolong titip Jihan Nona," kata Emily.
"Nona tenang saja," balas wanita itu sembari menuntut Jihan masuk kedalam mobil.
"Bay.... Mom," Jihan melambaikan tangan lewat jendela mobil.
Sedangkan Emily berangkat ke toko bunga. Karena sekarang ia bekerja di kantor pagi sampai sore, sehingga ia bisa bekerja sore sampai jam 11 malam.
Sungguh wanita ini pekerja keras demi putri semata wayangnya ia bahkan mengorbankan masalah pribadinya.
Emily menjalankan sepeda motor buntutnya membelah jalanan padat. Toko bunga tempatnya bekerja tidak terlalu jauh dari rumah sehingga mempermudahkan Emily.
"Selamat sore Mbak," sapa Emily seperti biasanya kepada pemilik toko bunga.
"Emy tolong rangkai bunga mawar secantik mungkin. Pesanan ini untuk keluarga terpandang yang akan berulang tahun, sebentar lagi akan dijemput," ujar pemilik toko.
"Baik Mbak, mawar warna apa Mbak?" tanya Emily.
"Warna putih," jawabnya.
__ADS_1
Emily tidak susah payah merangkai dan kini buket bunga mawar putih sudah siap.
"Bagaimana menurut Mbak? apa masih ada yang kurang?" tanya Emily kepada pemilik toko.
"Wah super cantik Emy, sangat cantik," kagum pemilik toko. "Mereka pasti suka," imbuhnya.
"Semoga tidak mengecewakan Mbak," balas Emily sembari menghela nafas.
Emily kembali kebelakang mengerjakan tugasnya. Di sana ada 10 orang pekerja, dan Emily yang termuda.
"Emy kamu sangat cantik, tidak cocok bekerja seperti ini," kata rekan kerjanya.
"Mbak Ati benar, bahkan kamu mengalahkan para model yang wara-wiri di layar televisi," timpal lainnya.
"Kami tidak percaya jika kamu sudah memiliki anak," sambung lainnya.
Hahahah
"Kalian lucu Mbak. Siapa bilang pekerjaan ini tidak pantas buatku? asalkan halal bukan?" jawab Emily. "Kalau Mbak-Mbak tidak percaya suatu saat aku akan kenalkan sama Jihan putriku," imbuhnya tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Oh," seru mereka serempak ber oh ria.
"Emy pemilik buket bunga sudah tiba, ayo kamu serahkan. Ingat Tuan itu bukan sembarangan," kata pemilik toko.
"Baik Mbak," jawab Emily segera bangkit.
Emily dengan wajah berseri membawa buket bunga di tempat pelanggan biasa menunggu. Tanpa sengaja buket bunga menutupi wajah cantik Emily. Dengan langkah semangat ia berjalan.
"Selamat menjelang malam Tuan," sapa Emily.
Emily mendekat.
"Silahkan ini pesanan Tu....."
Deg
Seketika Emily maupun pria itu terkejut.
"Tuan," gumam Emily dengan tangan menggantung memegang buket bunga.
"Kau," ujar Max.
Ternyata pria itu adalah Max, ternyata yang memesan buket bunga itu adalah Max. Emily sungguh tak menyangka jika buket bunga adalah pesanan bosnya.
"Semoga Tuan suka," kata Emily kikuk menyodorkan buket bunga itu.
Max terdiam sembari sorot mata itu memperhatikan buket yang digenggam oleh karyawan kantor perusahan miliknya di bagian kebersihan.
"Sangat mengecewakan, tidak sesuai yang diinginkan." Ujar Max dengan raut wajah tidak suka.
Deg
"Maaf jika menurut Tuan mengecewakan, tetapi ini menurut kami bagus Tuan," kata Emily sedikit emosi.
"Itu menurut kalian, sangat mengecewakan. Sungguh pemilik toko bisa bangkrut jika karyawannya semua seperti ini," ujar Max dengan santainya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, sudah 2 bulan saya bekerja di sini tetapi semua pelanggan puas dengan hasil buket yang saya rangkai. Tuan orang pertama yang tidak puas," jelas Emily berusaha tetap tenang.
"Panggil pemilik toko," bentaknya.
"Baik Tuan," jawab Emily tanpa membantah.
Emily keluar dari ruangan itu, sedangkan Max memandang punggung Emily sampai menghilang.
"Iya Tuan apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pemilik toko yang sudah mengenali Max dan seluruh keluarganya karena toko bunga ini langganan dari keluarga Sywa.
"Aku kurang puas dengan buket yang aku pesan, ini sangat mengecewakan," ujar Max sangat menghujam.
Tentu saja pemilik toko sangat kaget dengan pernyataan Max karena menurut dia pribadi hasil dari rangkaian Emily sangat indah bahkan baru pertama ini dia melihat hal yang beda tetapi tidak dengan penilaian Max. Pria tampan serta playboy ini menolak mentah-mentah buket yang dirangkai Emily.
"Maaf Tuan jika kami mengecewakan dan tidak sesuai keinginan Tuan," kata sang pemilik toko tidak enak hati. Baru kali ini kejadian seperti ini untuk kalangan terpandang.
"Emily tolong rangkai kembali seindah mungkin," titah pemilik toko.
"Aku tidak ingin dia yang merangkai, pasti hasilnya akan seperti ini lagi. Sangat mengecewakan," ujar Max. "Buat apa Mbak Amy memperkerjakan orang yang tidak berkualitas atau tidak memiliki kreasi," imbuhnya.
Sungguh perkataan Max menyayat hati seorang Emily tetapi ia tidak bisa melawan. Emily tidak ingin toko bunga ini menjadi korban jika ia melawan.
"Tidak di kantor tidak disini, pekerjaannya tidak beres. Hanya ingin makan gaji buta," ujar Max dengan lantang.
Emily tidak bisa menahan lagi amarah yang sejak tadi ia tahan.
"Maksud Tuan apa? mengatai saya seperti itu? selama ini saya sudah berusaha," jawab Emily menggebu.
"Kau berani menjawab serta meninggikan suara?" bentak Max dengan sorot mata tajamnya.
"Tuan pikir saya takut karena Tuan adalah orang terpandang, kaya raya, terkenal, yang kata orang pria paling tampan di kota ini," bentak Emily tanpa sadar.
Max maupun pemilik toko mengerutkan kening melihat keberanian seorang Emily. Ternyata wanita yang mereka kira lemah lembut dan penyabar ini telah mengeluarkan taringnya.
"Kau sadar berhadapan dengan siapa?" seru Max sembari bangkit.
"Tentu saja saya sadar berhadapan dengan manusia? tidak mungkin dengan hewan bukan?" jawab Emily dengan santainya sungguh wanita ini kehilangan akal waras.
"Emy," panggil pemilik toko.
"Kau," tunjuk Max dengan sorot mata membunuh. "Aku tidak ingin dia berada di toko ini, jika Mbak Amy mempertahankan dia maka toko ini tinggal nama," ancam Max.
Deg
Mendengar perkataan Max yang tidak main-main membuat Emily menelan ludahnya. Sungguh kesadarannya sudah kembali. Sehingga ia merutuki kecerobohannya termakan emosi.
"Emy mohon maaf Mbak tidak bisa memperkerjakan kamu lagi, mulai saat ini Mbak memecat kamu," kata pemilik toko dengan terpaksa.
Tentu saja Emily tersenyum kecut.
"Tidak apa-apa Mbak, maaf aku telah mengecewakan Mbak," jawab Emily berusaha tersenyum, padahal kedua matanya sudah berkaca-kaca. Sedikit saja berkedip maka bulir bening itu bergulir dari pelupuk matanya.
"Sekali lagi Mbak minta maaf. Mbak akan siapkan gaji bulan ini," kata pemilik toko lalu berlalu meninggalkan Max dan Emily yang baru saja berdebat.
"Di atas langit masih ada langit. Bersyukur terlahir dari keluarga sempurna," kata Emily tanpa sadar menitikkan air mata sebelum meninggalkan Max. Tentu saja Max melihat hal itu.
__ADS_1
Bersambung....