Anak Genius VS Daddy Casanova

Anak Genius VS Daddy Casanova
Bab. 90 (Season 2 Twins M)


__ADS_3

Di restoran berbintang Emily sudah menunggu di ruang VIP. Dengan wajah cemberut ia menunggu kedatangan Marvel.


"Bosan," gerutu Emily hanya bisa terdiam.


Tidak lama sosok pria itu menampakan batang hidungnya juga.


"Hai baby apa sudah lama menunggu?" tanya Marvel ingin memeluk Emily tetapi dengan cepat kilat dihindari oleh Emily sehingga membuat Marvel mengulum senyum, ternyata wanita yang sangat digilainya masih dingin kepadanya. "Kemana saja selama ini baby? kau semakin cantik saja sehingga tambah membuatku tergila," godanya.


Hmmm


"Baby kau sudah pesan makanan?" tanya Marvel.


"Belum," jawab Emily cuek.


"Pesanlah apa yang kau sukai, bahkan restoran ini jika kau minta dapat aku beli," ujar sombong Marvel sehingga membuat Emily semakin muak.


Hmmm


Keduanya mulai menikmati makanan masing-masing.


"Baby menurut kau kapan pernikahan kita di gelar?" tanya Marvel meminta pendapat dari Emily.


Mendengar pertanyaan Marvel membuat Emily menatap Marvel dengan wajah sendu.


"Aku tidak tau, itu terserah Tuan," kata Emily.


"Baby kok panggil Tuan? sebentar lagi kau akan menjadi istriku jadi biasakan dirimu panggil aku dengan mesra," ujar Marvel sembari mengulum senyum. Emily tidak menjawab ia hanya diam saja.


"Bisakah kita sudahi? aku sedikit lelah," kata Emily.


"Kau lelah baby? apa perlu kita ke salon?" jawab Marvel peduli.


"Tidak perlu, aku hanya ingin beristirahat saja," jawab Emily sembari mengerakkan otot-otot lehernya.


"Minggu depan kita akan menggelar pernikahan kita, besok kita akan ke butik sekalian memilih cincin," ujar Marvel dengan tegas tidak main-main.


Deg


Tentu saja Emily sontak kaget karena waktu itu sangat singkat tetapi ia hanya bisa pasrah. Untuk sekarang ia tidak ingin mengecewakan bahkan membuat malu orang tuanya.


"Apakah secepat itu?" tanya Emily bernegosiasi.


"Lebih cepat lebih bagus, karena aku tidak sabar ingin memilikimu baby," goda Marvel sembari berkesempatan mengelus wajah cantik Emily sehingga membuat Emily meradang didalam hati. "Kau tenang saja aku akan membuatmu sebahagia mungkin, akan aku jadikan kau ratu di istanaku baby," imbuhnya dengan bibir melengkung.


"Tuan bukan mencintaiku tetapi terobsesi," batin Emily.


Emily diantar pulang oleh Marvel.


•••••


Didalam kamar


Emily tiarap di lantai dengan tangan menjulur dibawah ranjang. Ia raih benda yang ingin diambilnya.


Benda itu ia genggam lalu menuju pintu kamar. Ia kunci pintu dengan hati waspada.


"Aku harus menghubungi Tante Aileen," gumamnya ingin mengaktifkan ponsel.


Tok tok tok


"Sayang buka pintunya," panggil Sania dari luar.

__ADS_1


Deg


Dengan tangan bergetar serta jantung berdebar Emily terkejut, apa lagi sang Daddy juga berada disitu.


"Aku harus bagaimana?" imbuhnya dengan gugup.


Tidak ingin berlama-lama Emily kembali menyimpan ponsel itu ditempat semula.


"Sayang," panggil Sania kembali.


"Iya Mom," jawab Emily dengan suara paruhnya persis orang bangun tidur.


Ceklek


"Kamu sudah tidur sayang? maaf jika Mommy sama Daddy telah mengganggumu," kata Sania.


"Siapa bilang putrimu tidur dia malah asik ingin bermain ponsel," suara bariton itu membuat Emily membelalakan mata, bagaimana mungkin sang Daddy dapat mengetahui.


"Maksud Daddy apa?" tanya Sania.


"Tanyakan saja kepada putri kesayangan Mommy," ujar Bintara dengan mata tajamnya menatap Emily. "Sini ponselmu Ema," pinta Bintara dengan tegas.


"Ema tidak bawa ponsel ketika dibawa Kak Nuel. Dad," jawab Emily dengan bibir bergetar.


Bintara tertawa kecil mendengar pengakuan Emily.


"Jangan berbohong Ema, kamu tidak sadar jika di kamar ini ada CCTV," ujar Bintara.


"Hah....Daddy keterlaluan," cecar Emily.


"Daddy," pekik Sania.


"Jangan salah bukan Daddy yang melihat langsung tetapi Daddy perintahkan kepala pelayan yang pegang monitor. Karena diberitahu makanya Daddy mendatangi kamu, mana ponsel itu atau Daddy sendiri yang ambil?" ujar Bintara kembali.


"Jangan kamu ulangi lagi," ujar Bintara dengan tegas. "Dan untuk Mom jangan pernah berani melakukan sesuatu jika tidak ingin Daddy murka, ayo kita kembali ke kamar," imbuhnya sembari menuntun Sania keluar kamar.


Didalam kamar Emily kesal. Mondar-mandir tidak jelas.


"Aku harus bagaimana? aku tidak bisa keluar rumah. Jihan sayang Mami sangat merindukan kamu," gumam Emily dengan terisak.


Keesokan hari


Di meja makan keluarga besar Bintara sedang menikmati sarapan pagi.


"Dad izinkan Ema untuk menemui Jihan, kasihan Jihan," mohon Emily dengan mata berkaca-kaca sehingga membuat mereka menatap Emily dengan perasaan berbeda-beda. "Jihan adalah bagian dari hidup Ema Dad, apapun yang Daddy mau dari Ema. Ema akan lakukan tetapi izinkan Jihan tetap bersama Ema," imbuhnya dengan berurai air mata.


Melihat kerapuhan Emily tentu saja membuat Sania ikut sesak, bagaimanapun ia juga seorang Ibu.


"Apa yang dikatakan Ema benar adanya Dad, kasian Jihan. Bagaimanapun mereka tidak bisa dipisahkan," Sania menimpali.


"Apa aku harus menemui Jihan Dad? untuk membawanya kesini?" akhirnya Emanuel ikut berkomentar karena tidak tega melihat kesedihan sang Adik satu-satunya.


Bintara terdiam sesaat sembari berpikir dalam.


"Jihan kamu titip dimana?" tanya Bintara kepada Emily sehingga membuat Emily mengangkat wajahnya menatap sang Daddy.


"Ema ti-titip kepada Bibi, Bibi yang telah membantu kami selama ini," bohong Emily, tidak mungkin ia bilang yang sejujurnya.


"Jika begitu sekarang juga kamu ke kota x Nuel, bawa Jihan. Kasi tau alamat Bibi yang kamu maksud," ujar Bintara.


Emily kelabakan karena Jihan tidaklah berada di sana.

__ADS_1


"Bagaimana jika Kak Nuel menemui Jihan di sekolahnya saja?" kata Emily sehingga membuat semua memandangnya. "Maksud Ema agar Bibi tidak curiga, bila Kak Nuel menemui Jihan di rumahnya otomatis Bibi akan curiga, apa lagi Kak Nuel orang asing," jelas Emily cukup tepat.


Mereka mencerna perkataan atau usulan Emily.


"Apa yang dikatakan Ema benar juga," ujar Bintara masuk akal dengan usulan Emily.


"Masalahnya aku tidak mengenali Jihan, yang pernah aku lihat ketika dia masih bayi," ujar Emanuel. "Apa kamu memiliki fotonya Dek?" tanya Emanuel.


"Ada Kak tetapi di ponsel, minta saja sama Daddy," kata Emily dengan wajah berseri. Baginya Jihan adalah segala-galanya, demi Jihan ia rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri.


"Waktu itu kamu bilang tidak membawa ponsel?" ujar Emanuel mendesis.


"Kak Nuel juga tau apa alasannya," gerutu Emily.


Bintara memberikan ponsel Emily, kebetulan di casing ponsel terdapat foto Jihan sendiri, sehingga tidak perlu melihat di galeri padahal Emily berharap ponsel itu aktif.


"Jihan sekolah dimana?" tanya Emanuel.


"Di TK. JASLINE GRUP. " Jawab Emily tanpa berpikir terlebih dahulu.


"JASLINE GRUP?" gumam mereka serempak dengan tatapan berpusat kepada Emily.


"Iya," jawab Emily dengan sedikit gugup.


"Kamu mampu menyekolahkan Jihan di sekolah termahal itu Ema?" tanya Bintara tidak percaya karena ia tau bahwa putrinya selama ini banting tulang.


"Iya sayang itu sekolah paling mahal? dan hanya untuk kalangan atas," timpal Sania.


"Itu, itu karena bantuan Bibi yang Ema maksud Dad, Mom." Jawab Emily berusaha tenang.


Semuanya tidak meneruskan karena mereka percaya dengan alasan Emily.


"Baiklah jika begitu Nuel akan berangkat sekarang juga," ujar Emanuel.


"Bawa dia dan Berhati-hatilah karena tidak sembarangan orang bisa masuk ke sekolah itu, l" ingat Bintara. " Agar Jihan percaya, kamu segera menghubungi kami dengan sambungan videocall," imbuhnya.


"Baik Dad," jawab Bintara karena apa yang dikatakan sang Daddy sangat tepat.


"Sayang Mami sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jihan," gumam Emily didalam hati dengan perasaan senang.


•••••


Di kota x


"Hiks hiks hiks.... Mami, Jihan rindu Mami." Tangis Jihan karena sudah hampir seminggu Emily belum juga menjemput dirinya.


"Jihan sayang sudahlah, Mami pasti jemput Jihan nanti," Aileen berusaha menenangkan Jihan.


"Sebenarnya Mami kemana Oma? kenapa meninggalkan Jihan hiks hiks," tangis pilu Jihan memenuhi ruang keluarga.


Cullen sama Aileen tidak tau harus bagaimana mencari Emily, ponsel Emily juga tidak bisa dihubungi.


Dad, Mom," sapa Max.


"Sayang, apa kamu sudah mendapat informasi dimana keberadaan Emy?" tanya Aileen menyambut kedatangan Max.


Max menghela nafas, lalu ikut duduk di samping Jihan yang tengah terisak.


"Belum mendapat titik terang Mom, ponsel Emy juga tidak bisa dihubungi," ujar Max sembari membawa Jihan kedalam pelukannya.


"Uncle tampan tolong cari Mami Jihan," lirih Jihan dalam pelukan Max.

__ADS_1


"Iya Jihan tenanglah, Uncle akan mencari Mami," jawab Max sembari menenangkan Jihan.


Bersambung.....


__ADS_2