
Deg
"Nona," seru Berry cukup kaget ternyata wanita yang menabraknya adalah seseorang yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.
Hmmm
Keduanya terdiam tidak tau harus berkata apa.
"Apa aku terlambat?" akhirnya Mia buka suara.
"Tidak," jawab Berry menyunggingkan senyuman. "Ayo," ajak Berry menuntun Mia menuju meja yang ia tempati tadi.
"Nona ingin pesan apa?" tanya Berry.
"Aku pesan spaghetti saja dengan jus lemon," kata Mia.
"Pelayan," panggil Berry.
Pelayan sayang menghampiri sembari membaca catatan.
"Dua spaghetti dan dua jus lemon," ujar Berry.
"Baik Tuan, Nona harap menunggu," ujar sang pelayan.
Mia sedikit kaget karena Berry memesan makanan yang sama.
"Hmmm apa anda suka spaghetti juga?" tanya Mia.
"Tidak terlalu tetapi ingin mencoba, katanya spaghetti di sini cukup menggelitik lidah," jawab Berry.
"Oh," gumam Mia ber oh ria.
Sembari menunggu pesanan mereka tiba keduanya mulai asik mengobrol.
"Hmmm kita ini lucu belum saling mengenal nama," ujar Berry baru menyadari jika mereka belum saling mengenali nama masing-masing.
"Benar juga," jawab Mia.
"Panggil saja aku Jack," Berry memperkenalkan ujung namanya.
"Aku Angela," Mia menjabat tangan Berry.
"Nama yang indah seperti orangnya," puji Berry. Sungguh ia tidak mengingat nama itu.
Tidak lama pesanan mereka datang. Keduanya mulai menikmati.
"Hmmm enak juga," gumam Mia.
"Apa Nona sangat menyukai spaghetti?" tanya Berry penasaran.
"Anda benar," jawab Mia dengan mulut penuhnya.
"Nona mengingatkanku kepada seseorang bocah imut, dia sangat menyukai spaghetti," ujar Berry.
Tidak kerasa makanan keduanya tanpa tersisa. Tiba-tiba Berry menyentuh ujung bibir Mia.
"Maaf jika aku lancang," ujar Berry setelah mengelap sisa makanan di ujung bibir Mia menggunakan jari jempolnya.
Mia merasa kikuk, sungguh ia malu karena makan belepotan.
"Ada apa?" tanya Mia karena Berry menatapnya intens.
"Nona sangat cantik, mengingatkanku kepada seseorang," jawab Berry tanpa disaring dulu ucapannya.
"Oh berarti orang itu sangat spesial?" lirih Mia sembari mengigit bibir bawahnya. Pengakuan Berry sedikit membuat Mia tidak suka.
"Begitulah," jawab Berry tanpa menyadari jika ucapannya mengenai hati wanita yang berada dihadapannya.
__ADS_1
Mia terdiam, tiba-tiba moodnya hilang.
"Sudah jam 10," ujar Mia melirik arloji di pergelangan tangannya. "Baiklah aku segera kembali ke hotel," imbuhnya.
"Apakah secepat ini?" tanya Berry begitu polos.
"Buat apa aku berlama-lama jika kamu selalu mengingat seseorang dan menyamakan kami," ingin sekali Mia mengatakan hal ini.
"Iya karena besok kami harus kembali ke kota x, tugas kami sudah usai disini," kata Mia.
Berry terdiam dengan wajah tertunduk. Padahal hatinya ingin berlama-lama dengan Mia, bahkan menghabiskan malam ini bersama Mia ditempat itu. Tetapi mendengar penuturan Mia membuatnya mengigit jari.
"Baiklah," ujar Berry tanpa memandangi Mia.
Mia bangkit sehingga membuat Berry menadah wajahnya menatap Mia.
"Tunggu, aku juga akan pulang," ujar Berry sehingga menghentikan langkah Mia.
Akhirnya keduanya sama-sama keluar dari cafe.
"Biar aku antar sampai lobby hotel," ujar Berry tanpa segan mengandeng tangan Mia menyeberangi jalan.
Mia sontak kaget dan matanya fokus ke pergelangan tangannya yang digenggam oleh seseorang.
"Masuklah," ujar Berry menyadarkan Mia ternyata mereka sudah berada di lobby hotel.
"Terima kasih," jawab Mia.
"Hmmm bolehkah aku meminta nomor ponsel Nona?" ujar Berry berusaha menahan malu.
"Mana ponselmu?" Mia meraih ponsel itu lalu mengetik nomor ponsel miliknya.
"Baiklah aku akan masuk," kata Mia.
"Hmmm semoga perjalananmu besok selamat sampai tujuan," ujar Berry sembari mengusap pucuk kepala Mia.
Deg
•••••
3 bulan kemudian
Hubungan Mia dengan Berry cukup berjalan baik. Keduanya berhubungan melalui telepon. Setiap kesempatan Berry pasti menghubungi Mia. Dengan senang hati Mia menerimanya.
Betapa bahagianya Berry ketika Mia mengatakan besok akan ada pekerjaan di kota x, dimana ia menetap. Sungguh pria berumur itu tertarik kepada Mia. Begitu juga dengan Mia. Bahkan Berry akan menjemput Mia di bandara ketika sudah tiba.
Dengan perkiraan waktu tiba di bandara. Berry sudah standby di bandara khususnya di pintu keluar.
Hmmm
Deheman seseorang membuat Berry menoleh dan ternyata itu adalah sosok yang ia tunggu.
"Apa sudah lama menunggu?" tanya Mia sedikit kikuk jika langsung berhadapan seperti ini.
"Tidak, aku juga baru tiba," bohong Berry. "Ayo," Berry langsung meraih begitu saja koper berukuran kecil yang dibawakan Mia.
Didalam mobil
"Apa sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu?" usul Berry karena sekarang adalah waktunya makan siang.
"Baiklah Jack," Mia menyetujui karena kebetulan perutnya minta diisikan.
Berry membawa Mia kesebuah restoran langganannya. Tidak butuh lama roda empat itu sekarang terparkir. Berry membuka pintu mobil untuk Mia.
"Hmmm apa kamu tidak malu jalan bareng aku?" ujar Berry tidak percaya diri dengan usia diantara mereka.
"Buat apa harus malu?" jawab Mia.
__ADS_1
"Secara usia kita jauh selisih, orang pasti mengira kita sebagai Bapak dan anak," sambung Berry.
"Seperti sugar Daddy? hmmm," goda Mia sembari tersenyum.
"Aku tidak percaya diri," ujar Berry.
"Ayo aku sudah lapar," kata Mia tanpa segan refleks me gandeng lengan berotot itu menyeretnya masuk kedalam restoran.
"Sangat manis," batin Berry sembari menatap lengannya digandeng oleh Mia.
•••••
1 minggu berlalu. Mia masih ada pekerjaan di kota itu sehingga disela kesibukannya mereka bisa bertemu sekedar makan siang atau makan malam. Hubungan mereka semakin dekat. Bahkan mereka saling menceritakan kepada kedua orang tua masing-masing.
Mia sangat senang karena tanpa disangka Daddy sama Mommy akan datang ke kota x untuk menghadiri acara pembukaan sebuah hotel rekan bisnis. Karena Max tidak bisa hadir maka diwakili oleh kedua orang tua mereka.
Sama halnya dengan Berry tanpa disangka ternyata kedua orang tuanya juga akan terbang ke kota tersebut dengan tujuan ingin berziarah ke makam Opa, Oma Berry.
Ini kesempatan bagi mereka memperkenalkan kedua orang tua mereka. Sebenarnya Berry sedikit tidak percaya diri karena masalah usia mereka yang sangat terpaut jauh yaitu 20 tahun.
Malam ini Mia dan Berry membuat janji akan makan malam bersama. Keduanya saling menutupi tentang jati diri mereka tidak disebutkan berusia berapa kepada kedua orang tua mereka.
Berry bersama kedua orang tuanya terlebih dahulu tiba di restoran berbintang.
"Sayang Mommy sudah tidak sabar bertemu dengan wanita yang berhasil merebut hatimu," ungkap Mommy Berry.
"Sabar Mom, mungkin mereka masih dalam perjalanan," jawab Berry kepada wanita sudah berumur.
"Semoga pertemuan ini berkesan," timpal pria berambut putih siapa lagi jika bukan sang Daddy.
Dari kejauhan Mia tersenyum memandangi tubuh Berry dari arah belakang. Mia sangat mengenal postur tubuh itu.
"Sayang Z mommy sudah tidak sabar bertemu calon mantu," cicit Aileen sepanjang jalan.
"Tenanglah sayang," ujar Cullen karena bosan mendengar itu, itu saja yang di gumam sejak tadi.
"Ayo Dad, Mom itu mereka," tunjuk Mia.
"Selamat malam," sapa Mia sembari tersenyum manis.
Mendengar suara sapaan wanita yang sangat dihafalnya membuat Berry maupun kedua orang tuanya menoleh kearah suara.
Duarr....
"Berry!"
"Cullen, Aileen,"
"Om, Tante!"
"Mia!"
"Opa, Oma!"
"Paman, Bibi!"
Semua membulatkan mata.
Sekarang kita tinggalkan dulu kisah Mia👉Berry
Part selanjutnya hadir Max👉Emily
Bersambung....
__ADS_1